
Barca menikmati kegiatan erotis dari sosok Malini, setelah puas melakukan hidangan pembuka barca mulai mengangkat sosok Malini yang selama ini menjadi salah satu penyaluran hasrat liarnya.
Cara penyatuan yang mereka lakukan sangat mengerikan, suara menggeram dan jeritan terdengar memenuhi ruangan yang biasa mereka gunakan untuk melakukan penyatuan.Sosok Barca seketika berubah kewujud aslinya, tinggi besar hitam dan bersisik, begitu pula wajah dan tubuh cantik Malini berubah mengerikan dengan buah dada mengantung panjang dan jangan lupa lendir kuning membasahi wajah dan bagian atas tubuh mereka, sangat menjijikan dan membuat
mual jika manusia yang melihatnya, hingga diakhir penyatuan itu Barca menarik miliknya dan mengeluarkan cairan kehijauan disekujur tubuh Malini.
"Aahhh kenapa kau selalu mengeluarkan!, aku siap mengandung benihmu tuanku!"keluh Malini kesal.Selalu saja Barca tak pernah mau menyimpan benihnya di dalam rahim miliknya, pernah suatu saat lelaki itu terlupa hingga benih itu bersemayam di dalam rahimnya, tapi dengan kesaktian sosok lelaki itu benih itu mati sebelum berkembang dalam rahim Malini.
"Hanya satu wanita yang pantas melahirkan keturunanku!"batin Barca sembari tersenyum membayangkan Sukma.
Malini nampak garang melihat sikap tak acuh Barca, ia merasa lebih pantas dibanding golongan manusia yang lemah dan bodoh.Ia merasa derajatnya lebih tinggi dari pada manusia seperti Sukma.
"Pergilah dari istanaku!, jika kau ingin lebih dari ini.Ingat banyak yang menginginkan tempatmu saat ini!!!"
Malini langsung merubah sikap, wajahnya mendadak terlihat lembut dengan senyum mautnya.Makhluk yang sudah berubah sosoknya menjadi sangat cantik itu mendekat ke arah Barca yang masih bersandar di kepala ranjang yang terbuat dari emas yang diukir dengan sangat mewah.
"Maafkan aku tuanku, kau tahu aku begitu menghormatimu, aku melayanimu dengan segenap rasa cintaku bukan semata hasrat.Aku memujamu hingga aku rela menjadi debu jika kau murka, jangan jauhkan aku dari tubuh gagahmu, aku lebih baik musnah jika tak bisa memuaskan hasratmu tuanku!"rayu Malini yang sudah bergelayut diatas tubuh Barca.Sosok itu kembali memuja tubuh tuannya, sentuhan erotis yang melenakan kembali membuat hasrat Barca membara, hingga ia kembali menga gahi sosok Malini dengan lebih buas dan menjijikan.
"Kau tak akan bisa lepas dari tubuhku tuanku, hanya aku yang bisa memberikan pelayanan untuk jiwa liarmu, tak ada manusia yang sanggup.Mereka terlalu lemah untuk menjadi budak naf su mu!"
guman Malini dalam pikirannya.
__ADS_1
Hari terus berganti namun Zain belum bisa mendekati Sukma, sang istri.Seperti ada yang menghalangi pertemuan mereka namun Zain tak tahu siapa.Setiap lelaki itu datang ke rumah almarhum mak Nah, rumah itu seperti tak berpenghuni.Sangat sepi.
Zain berpikir apakah sang istri sengaja menghindarinya, atau memang kesibukan Sukma semakin banyak.Hingga sulit untuk ditemui.
"Kemana dia, ini sudah cukup larut jika ia masih di kantor.Dan lagi aku rasa tak ada tugas lembur di bagian uji produk saat ini, mengingat David sedang sibuk dengan istri barunya"
Apa yang dipikirkan Zain benar adanya, David sudah cukup sering meninggalkan kantor untuk urusan pribadi, sekalipun ia datang ke kantor akhir-akhir ini hanya sekedarnya, banyak urusan kantor yang terbengkalai.Biasanya Zain akan diminta menyelesaikan urusan perusahaan jika David sibuk tapi entah kenapa sekarang tidak lagi.
Tapi Zain pun tak peduli dengan urusan David, karena masalahnya sendiri sudah membuatnya lelah, jadi ia tak peduli dengan urusan saudara jauhnya itu.
Hari makin larut, sudah lebih tiga jam Zain berada di teras rumah, lelaki itu akhirnya beranjak pergi dari rumah Sukma, yang sebenarnya wanita cantik itu ada di dalam rumah, tapi sungguh ia tak mendengar suara panggilan Zain.Entah apa karena rasa lelah karna pekerjaannya, atau karena sosok yang terus menatap Zain dengan tajam, seperti tak suka melihat kehadiran lelaki itu.Sayangnya hanya pembaca yang tahu kehadiran sosok astral, karena apa nalar pembaca lebih tinggi di banding Zain.Kkwwwkk.
Suasana yang tenang membuat Sukma akhirnya terlelap, dan baru terbangun saat menjelang pagi.Malam ini ia tak bermimpi tentang pria blasteran itu.Dan semalam ia pun tak merasakan rindu pada sosok lelaki di bawah alam sadarnya.
Beberapa jam kemudian Sukma sudah tetlihat rapi dengan setelan kerjanya.Seperti biasa befitu ia keluar tumah sebuah mobil mewah sudah menunggunya untuk diantar ke kantor.
Sukma meyakini jika semua itu merupakan perhatian sosok blasteran, yang ia ingat memiliki nama, namun Sukma tidak ingat siapa nama sosok lelaki itu.Tapi yang ia ingat sosok lelaki itu berpakaian ala raja bahari.Raja pada jaman dahulu.
"Siapa nama lelaki itu kenapa aku bisa lupa?"batin Sukma sembari menatap lekat lelaki di belakang kemudi, yang saat ini memunggunginya.
"Siapa nama tuanmu?"suara Sukma cukup mengejutkan sosok supir yang terlalu pendiam itu.
__ADS_1
Sukma hanya melengos, begitu melihat reaksi supir di depannya.Lelaki itu hanya diam, bahkan tak ada gerak tubuh yang merespon pertanyaannya.
Akhirnya seperti biasa, tak ada percakapan selama mobil itu menuju tempat Sukma bekerja.
Sukma terdiam melihat lelaki di hadapannya, lelaki yang sepertinya sudah menunggunya cukup lama.Dan kali ini lelaki itu menunggunya di dalam ruang kerjanya.
"Kau sudah datang?"Sukma tak menyahuti ucapan suaminya yang memang tak perlu ia jawab.
"Kemarin mas menunggu lama di rumah emak, tapi adek sepertinya tak di rumah, karena sampai lelah mas memanggil adek tak menyahuti "
sukma terdiam mendengarkan ucapan lelaki yang masih berstatus suami sirihnya itu.Pikirannya seperti mengulang waktu sore lalu, sepulang bekerja.Ia tak sama sekali mendengar suara orang memanggilnya, padahal jika ada suara yang memanggilnya atau ketukan pintu, ia selalu mendengar, karena rumahnya semi permanen, bagian bawahnya kira-kira satu meter dari lantai mengunakan batako dan setelahnya ke atas berdinding kayu.
"Maaf aku tak mendengar!"sahut Sukma tak acuh.
"Jadi kemarin adek ada di rumah, Ya Tuhan!aku bahkan mengelilingi rumah memanggilmu, kau tidak dengar?.Atau kau sengaja membuatku kesal?"guman Zain menatap sendu pada istri sirihnya.
Sukma melotot mendengar tuduhan Zain, tapi hanya sebentar, setelahnya wanita itu kembali pada berkas yang harus ia cek pagi ini.
"Aku tidak mendengar panggilanmu" Sukma tersenyum samar.Ia tahu perbuatan siapa itu, ia mulai jeli jika sosok blasteran itu seperti menutup akses dirinya untuk lelaki yang mendekatinya.
BERSAMBUNG
__ADS_1