
Renata tersenyum lebar begitu melihat sang suami berdiri tegak di ambang pintu.
"Kau!"mata David terlihat tajam menatap Renata yang hanya nyengir kuda.
"Kita makan yuk, kak yang pergi tak perlu ditangisi.Kak Danis sudah pasti..."
"Diam!..tahu apa kau tentang istriku!!"
Suara menggelegar itu mengejutkan Renata, wajahnya langsung pias.Renata tak pernah menyangka David akan membentaknya seperti itu.
"Brraaakkk!"
Suara pintu yang dihempas kasar kembali mengejutkan Renata yang masih terpaku di depan pintu, yang saat ini kembali tertutup rapat.
"Sudah mati pun masih membuat kesal"omel Renata seraya menjauh dari depan ruang kerja suaminya.
Di tempat berbeda di alam yang tak bisa dijangkau manusia, empat sosok kecil yang terkurung dalam ruang yang diselimuti cahaya merah, terlihat begitu lemah.
Mereka yang berencana mencari kakek sakti itu, harus mendekam dalam tawanan kelompok merah.Perjalanan mereka yang rahasia itu sudah tercium oleh sosok penunggu danau.Sosok yang merupakan bagian dari prajurit merah.
"Bintang semakin terlihat lemah, bagaimana ini"panik Doan yang mengelus pelan kening Bintang yang sangat panas.
"Kita tak bisa apa-apa saat ini, bahkan kemampuanku semakin lemah di bawah sihir merah ini!"keluh Awan yang biasanya paling bisa melindungi kawan-kawannya.
Pengaruh sihir merah sangat luar biasa, dan itu dilakukan oleh seorang raja di kelompok merah.Sedang mereka hanya anak kecil, yang sekalipun memiliki kelebihan macam Awan, tetap saja bukan tandingan raja Merah.
"Wan bukankah kau pun berasal dari kelompok merah?"
Doan menatap intens kawannya yang terduduk lemah dengan berselonjor kaki.
"Kau benar aku dari kelompok merah, tapi kami berbeda dengan mereka yang ada di sini.Kelompok merah terpecah menjadi dua ketika terjadi perang saudara, itu yang aku tahu dari orangtuaku"Awan masih duduk berselonjor kaki di lantai yang sangat dingin untuk mereka berempat.
Raga Bintang yang lemah, seakan tak mampu berada di ruang yang diselimuti sihir merah, begitu pun keadaan Restu, bocah itu pun terlihat terus mengigil dan terbaring lemah di samping Bintang, yang raganya hanya diam tanpa gerakan.
"Kita hanya bisa berharap ada pertolongan yang datang"ucap Doan penuh harap.Dan tiba-tiba terdengar suara gemuruh yang membuat gendang telinga bisa pecah karena suaranya di atas 100 desibel.
"Dddrrrrrrrrrrruuuuuuaaaaahhh!!!"
__ADS_1
Tubuh kecil Bintang melayang, dan lihat telinganya mengeluarkan cairan merah.
Doan dan Awan yang masih siaga, segera saling memeluk erat masing-masing dari kedua temannya.Doan memeluk Bintang dan Awan memeluk Restu.
"Ayo cepat keluar!"
Tiba-tiba sosok besar dengan sorot mata tajam keabuan berdiri tegak di antara mereka. Sosok yang meredupkan sihir merah di ruangan yang membuat keempat bocah kecil itu terperangkap.
Entah apa yang ada dipikiran Awan yang biasanya selalu protes, kali ini bocah dengan sorot mata merah itu hanya menurut perintah sosok yang ia tidak kenali.
Hanya dalam hitungan menit, keempat bocah itu ikut melesat menjauhi wilayah kelompok merah tanpa ada perlawanan sama sekali dari prajurit merah yang menawan mereka.Sepertinya sosok yang meryuruh mereka keluar itu, telah melumpuhkan mereka.
Mereka terus melesat jauh dalam lindungan sosok besar bermata keabuan, yang membopong tubuh Bintang dan Restu dengan dua tangannya.
Beberapa waktu berlalu, saat ini Awan dan Doan serta kedua temannya yang tak sadarkan diri, berada di sebuah wilayah yang terlihat begitu indah.
"Silahkan kalian berdua tinggal disini, dan untuk kedua temanmu mereka akan diobati oleh tabib di istana ini!"
Sosok besar itu tersenyum menatap kebingungan Doan dan awan.
"Wahai para prajuritku, jaga dan lindungi mereka!, mereka teman-teman putraku, dan layani mereka dengan baik!"tinta Barca tak lepas dari sorot mata tajamnya.
"Baiiik paduka raja!!"suara para prajutit terdengar riuh mengelegar.
Awan dan Doan terpaku mendengar semua ucapan sosok yang ternyata adalah raja Barca, dan yang membuat mereka heran, sejak kapan Bintang menjadi putra seorang raja Barca yang terhormat.
"Dia raja Biarca, kenapa ia menyatakan sebagai orangtua Bintang?"
Di tempat berbeda, tak terasa waktu terus bergulir, kepergian Danis sudah memasuki satu bulan, dan selama itu pula sikap David mulai berubah pada Renata.Ia begitu yakin jika Renata menjadi pemicu kesakitan Danis, terlebih bibik yang mengurus Danis menceritakan semua keluhan wanita itu tentang sikap Renata padanya.
Namun begitu sikap David pada janin yang dikandung Renata tetapnya baik dan perhatian, lelaki itu kerap memberikan belaian sayang pada janin yang makin terlihat menonjol di perut Renata.
"Kak anakmu merindukan sentuhanmu, sudah lama kau tak mengunjunginya, terhitung semenjak kak Danis pergi!"keluh Renata dengan mata berkaca.
"Aku selalu merindukan bayiku, ia tahu jika aku menyanyanginya, tapi itu hanya dengan sentuhan tanganku pada perutmu.TIDAK LEBIH!"
Tangis Renata tumpah begitu David langsung berlalu, setelah mengucapkan perkataan yang menyakiti hatinya.
__ADS_1
"Ada apa dengan kak David?semenjak kematian wanita pesakitan itu, sikapnya padaku mulai berubah.Apa ia berpikir kematian wanita itu aku yang penyebabnya, Dasar bodoh jika ia berpikir begitu!..sudah tahu wanita itu mendekati ajal masih mau menyalahkan orang, Beeeh!"omel Renata disela isak tangisnya.Beberapa ART yang melihatnya hanya tersenyum samar, sepertinya mereka senang atas nasib Renata saat ini.
Beberapa menit setelah tiba di kantornya, David segera memanggil Emil.
"Permisi pak!"
"Masuklah!"
Emil melangkah mendekati meja David, ia membawa schedule hari ini untuk bosnya.
Dan tanpa diperintah dua kali, Emil menyerahkankan pada sang bos.Terlihat David membaca dengan cermat schedule dari tangan Emil.Kening lelaki itu berkerut.
"Apa maksudnya ini Mil?, pertemuan serah terima Perusahaan Selatan"
"Maaf pak, lebih tiga bulan lalu Perusahaan Selatan mengalami masalah, dan kali ini bukan lagi masalah produk, tapi masalah korupsi oleh para pemegang jabatan.Hingga perusahaan itu pailit dan para pemegang saham melakukan rapat besar, namun bapak saat itu berhalangan hadir, sehingga keputusan final harus bapak terima.Ya itulah..Perusahaan itu terpaksa dialih tangankan ke yang mampu menanganinya"terang Emil panjang lebar.
Mata David terpejam, perusahaan yang ia rintis dengan bantuan dana dari para pemegang saham, akhirnya raib.
"Maaf pak jika saat itu Perusahaan di sini sehat, mungkin saya akan mengajukan pengambil alihan Perusahaan Selatan, tapi kita sama tahu keadaan Perusahaan saat ini"
David terdiam merenungi apa yang terjadi padanya saat ini, musibah seperti tak henti menghampirinya.Tapi ia bisa apa jika semua telah ia usahakan.
"Mil kamu saja yang wakili pertemuan itu saya tak sanggup!"mata David terlihat berkaca.Terus terang ia sangat terpukul atas apa yang terjadi pada Perusahaan Selatan.
"Baik pak"Emil maklum atas keputusan sang bos.Ia segera berpamitan untuk menghadiri pertemuan tersebut.
David tercenung di ruangan kerjanya sendiri, setelah Emil pergi.Lelaki itu merasakan bebannya terasa berat, ia butuh sandaran dan pelepasan.
Haaaiiii pembaca setia๐๐๐
Author akan buat giveaway buat yang rajin menyimak cerita DIA IBUKU.
Akan ada hadiah pulsa @50k untuk 5 orang dengan vote terbanyak sampai akhir tahun (31 Desember 2022)
Ayooo terus tunggu episod selanjutnya yaa...๐๐๐
BERSAMBUNG๐
__ADS_1