
"Berhenti main wanita, kau akan menyesal jika wanita yang kau cintai datang suatu saat nanti"saran Emil tanpa menatap David.
David menghela nafasnya dalam, ia tahu ucapan Emil adalah bentuk dari kepedulian pemuda itu padanya, ia ingin tapi begitu sulit melepas kebiasaannya. Sehari tak menyentuh Susi ia bisa sakit kepala, apa lagi menolak rayuan maut Susi yang begitu lembut padanya.David belum mampu.
"Naf su digedein!"gerutu Emil kembali, dan David hanya tersenyum mendengarnya.
Hari beranjak siang saatnya untuk makan siang, jika dulu David kerap pulang ke rumah untuk makan siang ditambah menikmati sajian khusus, sejak kebangkrutannya ia mulai rutin menikmati makan siang di kantin perusahaan.Tentu saja bersama Emil yang sekarang menjadi sahabat baginya.
"Ada apa?, ramai sekali kantin"suara Emil membuat David ikut mengamati suasana kantin.
"Ada apa mbak?"tanya Emil pada salah satu karyawati yang kebetulan berpapasan dengannya.
"Itu mas, hari ini makan di kantin digratisin oleh bos besar dan akan dirutini disetiap hari jumat!"wanita muda itu tersenyum seraya berlalu mencari tempat duduk.
"Wah baik banget bos kita pak"Emil mengedipkan mata pada David.
"Apa kau mau meledekku karena aku tak pernah memberi gratisan pada karyawanku sewaktu sku jadi bosnya"Emil mengedikan bahunya seraya mendahului David.Ia sudah sangat lapar dan tak mau kehabisan menu favoritnya jika harus debat kusir dengan mantan bosnya.Biasa jika gratisan pasti pada nggak tahu diri meminta makanan, maka ia harus bergerak cepat ke kantin favoritnya.
David tersenyum masam melihat sikap Emil, ia akui dulu ia tak begitu memperhatikan karyawannya sampai seperti ini.Yang ia tahu hanya berusaha untuk mendapatkan banyak investor dan mengumpulkan duit untuk Danis dan Renata.Tak pernah ia memikirkan hal sepele seperti ini.Tapi sekarang yang ia kumpulkan sudah raib, mungkin karena ia kurang sedekah dan hanya mengumbar naf su saja.
Emil makan dengan lahap, berbeda dengan David yang santai ketika menikmati makanannya.
"Saya makin penasaran sama bos besar kita pak"suara Emil membuat David menoleh.
"Selesaikan makanmu, sebentar lagi kita harus kembali ke ruangan!"David tak mengubris ucapan Emil yang terlalu sering ia dengar.
Selesai bersantap mereka kembali ke ruangan kerja dan mulai menghempaskan diri dengan pekerjaan yang menunggu untuk segera diselesaikan.
David merenggangkan tubuhnya setelah beberapa jam berkutat di depan laptop.Bunyi persendian yang diakibatkan ketegangan otot dan membuat kaku itu membuat Emil tersenyum.
"Gue salut dengan sifat bapak, yang iklas dan sabar menerima takdir bagai roda berputar ini, semoga suatu saat nanti bapak bisa kembali berada di atas"batin Emil.
"Ayo pak bersiap, saya mau duluan nih ada urusan penting"Emil gegas merapikan mejanya dan setelahnya meraih tas kerjanya berupa tas punggung yang multi guna, karena isinya bukan hanya keperluan kerja namun juga keperluan pribadi.
"Duluan saja Mil! saya masih menyelesaikan laporan ini dulu"balas David tanpa melepaskan pandangannya dari layar laptopnya.
Emil beranjak meninggalkan ruangan, dan setelahnya ruangan itu terasa sunyi.David memang meminta satu ruangan khusus hanya dengan Emil sedang beberapa karyawannya berada di ruangan berbeda, dimana ruangannya dibatasi partisi tertutup.
__ADS_1
Satu jam berlalu dan pekerjaan David sudah selesai, lelaki itu bergerak meninggalkan ruangannya setelah membereskan meja kerjanya.
Saat keluar dari ruangan suasana di ruangan karyawan sudah sepi, tak ada karyawan lembur hari ini.Jantung David mendadak berdebar ketika sampai di ambang pintu keluar dari divisinya.
Lelaki gagah itu serasa mencium aroma yang ia rindukan, mendadak ia teringat wanita yang ia cintai.David menghela nafasnya kasar ada sesak di dadanya mengigat ia pernah menyakiti hati wanitanya.
"Kenapa perasaanku mengatakan jika kau ada disini, tapi ini pasti karena rasa rinduku saja"guman David pilu seraya keluar kantor.
Seperginya David muncul sosok cantik dari balik pilar menuju ruangannya, sungguh jantungnya berdebar kencang ketika melihat sosok pria yang pernah sangat dekat dengannya dulu.Ia nyaris ketangkap basah jika tak segera bersembunyi ketika melihat David keluar dari ruangannya.
"Perasaan ini hanya karena ketakutanku bertemu dia, bukan karena aku masih mencintainya.Semua rasaku padanya sudah kuhempas jauh.Tak ada lagi namanya disini".Sukma menekan dadanya menyakinkan bahwa debaran itu bukan untuk lelaki yang pernah menabur perih di hatinya.
"Ayo mbak".ajakan Gayatri menyadarkan pikiran wanita cantik itu.
"Apakah mbak mengenal lelaki itu?"Sukma menoleh ke sebelah kanannya, dimana Giyatri berada, diacaknya rambut gadis mungil itu dengan gemas hingga Gayatri memekik kesal.
"Mbaaak hancur tatanan rambutku!"
"Sudah nggak usah rapi-rapi, kalau cantik mah cantik saja biar nggak dandan"ejek Sukma sembari terkekeh.Gayatri cemberut mendengar bosnya menjahilinya.
"Mbak mah enak tidak dandan juga sudah cantik, banyak yang naksir.Nah saya sudah dandan habis-habisan juga belum juga ada yang ngelirik!"Sukma tertawa lepas mendengar keluhan Gayatri yang terdengar lucu.
"Serius mbak"Gayatri tersenyum senang, membuat Sukma kembali mengusilinya.
"Serius tapiiii..nggak tahu mau nggak tuh cowok sama cewek genit kayak kamu"
"Mbak mah, dibantu lobilah ..pakai puji-puji gitu biar naik daya jualnya, jangan malah dijatuhkan lah!"
"Emang barang pakai daya jual"
Sukma dan Gayatri memasuki ruangan CEO, namun di depan ruangan mereka melihat asisten Sukma yang memiliki dedikasi kerja yang luar biasa.
"Dif belum pulang!"
"Belum bu, ini saya mengantar berkas yang harus ibu tanda tangani"
"Ayo masuk, saya mau membicarakan tentang investor yang mau bekerjasama dengan kita"
__ADS_1
Mereka serentak masuk ke ruangan CEO dengan Sukma berada di barisan depan.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara tawa dari ketiganya.
"Hebat bu, saya dukung keberanian ibu!"
"Tapi ya gitu, orang itu tanam saham karena melihat kecantikan bu bos!"gerutu Gayatri.
"Eh itu bonus Tri, wajarlah menyukai wanita cantik, apa lagi hanya ingin lihat, lu bawaan iri mulu!"ejek Nadif.
"Bukan iri, hanya nggak suka saja jika ada udang dibalik rempeyek!"
Sukma hanya tersenyum melihat perdebatan asisten pribadinya yang sudah ia anggap adik itu dengan asiaten di kantornya.
"Kalian ini debat terus nanti jodoh loh!"
Nadif dan Gayatri sama-sama terdiam mendengar ucapan bosnya.
"Saya keluar bu, nggak minat sama cendol dawet!"Sukma terkekeh mendengar ucapan Nadif yang membuat Gayatri cemberut.
"Sombong, gue doain lu bucin entar sama gue!"
Gayatri menatap Sukma yang masih tertawa dengan wajah memelas.
"Kenapa?"Sukma menghentikan tawanya melihat tatapan mengharap dari Gayatri.
"Coba berbagi sedikit bu, jangan pelit-pelit gitu sama saya yang sudah seperti kutil sama ibu".
Sukma mengeryitkan keningnya atas ucapan Gayatri.
"Pelit apa?"
"Bagi sedikit cantiknya, biar nggak kontras begitu saya sama ibu".Sukma tersedak mendengar ucapan Gayatri yang makin nggak jelas.
"Adai bisa Tri, luh kutil bakal saya jadikan tahi lalat biar sedikit manis".ejek Sukma sembari tertawa renyah.
Seperti itulah keseharian Sukma bila urusan kantor yang serius selesai ditangani.Ia akan bercanda bersama Gayatri atau Nadif yang sudah ia anggap seperti keluarga.
__ADS_1
BERSAMBUNG😊