Dia Ibuku

Dia Ibuku
Kemana Sukma?


__ADS_3

Sukma melotot mendengar tuduhan Zain, tapi hanya sebentar, setelahnya wanita itu kembali pada berkas yang harus ia cek pagi ini.


"Aku tidak mendengar panggilanmu" Sukma tersenyum samar.Ia tahu perbuatan siapa itu, ia mulai jeli jika sosok blasteran itu seperti menutup akses dirinya untuk lelaki yang mendekatinya.


"Sepertinya dia memang nyata, buktinya ia mengirim orang-orangnya untuk menjagaku, dan pasti ia tahu siapa saja yang dekat denganku"guman Sukma membatin.


Zain menatap wanita yang semakin terlihat memancarkan aura kecantikannya, wanita yang masih berstatus istri sirihnya.Tapi entah dengan Sukma apakah ia pun berpikir jika Zain masih berstatus suami sirihnya, sedangkan lelaki itu jelas sudah menduakannya dengan sangat sadar tanpa tekanan apapun.


"Dek bagaimana kabar Arum.Di mana putri kita sekarang?"


Sukma tersenyum miris mendengar tanya lelaki dihadapannya.Jika saja pertanyaan itu diucapkan Zain sebelum semua terjadi, pasti Sukma sangat tersentuh akan perhatian lelaki yang sudah menikahi dirinya secara sirih ini.


Zain menghela nafasnya dalam, ia tahu jika Sukma sudah tak menganggap dirinya lagi.Wanita yang masih bersemayam dalam pikirannya itu terlihat tak acuh atas pertanyaannya tentang Arum, gadis kecil yang sudah ia anggap sebagai putrinya sendiri.


Zain harus sadar jika ia lah yang memulai semua kerumitan ini, terlebih ia lah pemicu meninggalnya emak Nah.Tapi lelaki tampan itu seakan kehilangan ingatan untuk sikapnya yang zalim pada keluarga Sukma.


"Maaf mas aku harus bekerja, jika aku masih mau bertemu denganmu, karena aku menunggu kata talak darimu!"


"DEG!"


Zain menatap wanita cantik dihadapannya dengan wajah sendu, sungguh ia menyesali sikapnya dahulu pada Sukma dan mak Nah, saat itu ia tak bermaksud membuat segalanya jadi rumit, apalagi membuat mak Nah meninggal karena mendengar keputusannya.


"Pergilah dan jangan lupa kau masih punya tanggung jawab padaku, UCAPAN TALAKMU!"Sukma beranjak dari duduknya, ia menarik berkas di mejanya dan juga tas kerjanya.Wanita cantik itu pergi tanpa permisi, meninggalkan Zain yang termanggu di ruangan kerjanya.


Di tempat berbeda David masih disibukan oleh sikap manja Renata, wanita itu enggan memakan sarapannya di ruang makan saat ini.Danis yang memandang sikap adik sepupunya itu terlihat muak.


"Kak aku mau sarapan di kamar bersamamu saja, aku tak bisa menelan makanan jika disini.Entah rasa makanan itu seperti hambar saja jika makan disini!"

__ADS_1


David menghela nafasnya kasar, ia merasa tak enak melihat istri pertama yang menatapnya sinis.David menjadi serba salah jika sudah begini.Tapi semua ini kan maunya Danis, yang memaksanya untuk menikahi Renata dan harus satu atap, kalau saat ini Renata manja karena kehamilannya, David rasa wajar saja, karena ia sering mendengar keluhan teman-trmannya yang istrinya ngidam dan bertingkah aneh selama kehamilan.


"Baiklah sayang, kita sarapan di kamar saja"akhirnya David menuntun Renata ke kamarnya.Ia tentu saja tak mau sesuatu terjadi pada anaknya.


Danis menghamburkan apapun yang ada di meja riasnya, hatinya sakit atas sikap sang suami yang pilih kasih.Tadi setelah David dan Renata masuk ke kamar, Danis meminta bibi mengantarnya ke kamarnya, wanita ringkih itu bahkan hanya memakan sesuap sarapannya.Ia kehilangan selera makannya mendengar suara adik sepupunya yang manja dan terdengar menjijikan.


"Kenapa jadi begini?"keluhan dengan hati yang terasa sakit.Danis merasakan pandangannya mendadak samar, dan menit berikutnya wanita ringkih itu terkulai di kursi rodanya, dengan mata yang mengatup erat.


Tak ada yang tahu apa yang terjadi dengan wanita pesakitan itu, karena setelah bibi mengantarnya ke kamar ia mengunci pintu kamarnya.Dan saat ini ia tak sadarkan diri.


Di kamar yang berbeda di dalam rumah mewah David, lelaki yang memiliki dua istri itu terlihat telaten menyuapi istri mudanya.Sarapan yang ia suapkan dengan perasaan senang dan kehati-hatian itu habis dimakan Renata.Ia senang karena Renata mau menghabiskan sarapannya, karena ia tak mau bayinya kenapa-napa jika Renata tak mau makan.Atau mabuk seperti biasanya, jika mencium bau makanan wanita hamil itu akan langsung memuntahkan isi perutnya.


Seperti anjuran dokter padanya saat ia menemani Renata periksa rutin kandungan, dokter mengingatkan jika ibu hamil harus terpenuhi kebutuhan gizinya, dan juga harus selalu bahagia.Tentu saja agar sang bayi tumbuh sehat.


"Yang..habis ini mandikan ya"rengek Renata manja, David tersenyum smirk mendengar permintaan sang istri.Karena bukan hanya ia yang akan memandikan Renata, tapi juniornya juga akan dimandikan oleh sang istri.


Cukup lama mereka bercengkramah di dalam kamar mandi, karena tau saja kelanjutan dari mandi bersama itu ada kegiatan apa.


David gegas mengenakan pakaian kerjanya, seperti biasa akhir-akhir ini ia sering berangkat siang ke kantor, bahkan baru beberapa jam Renata atau Danis menghubunginya.Entah ada saja keinginan mereka yang membuat konsentrasi David pada pekerjaan makin berantakan.Bahkan semenjak pernikahannya dengan Renata ia tak lagi bertemu dengan Sukma, wanita yang pernah mengoyahkan kesetianya pada sosok Danis.


Bicara soal Sukma, tiba-tiba saja lelaki gagah itu merindukan sosok cantik yang selalu mengetarkan hatinya.Hari ini ia berharap bisa bertemu dengan wanita cantik itu.


"Mil..coba panggil Sukma kemari!"suara David yang tiba-tiba mengejutkan pria lajang yang terlihat serius dengan tumpukan berkas di mejanya.


"Baik pak!"Emil beranjak dari duduknya setelah selesai dengan berkas yang terakhir ia selesaikan, ia harus segera mencari Sukma karna berkas yang menumpuk masih banyak, dan harus segera ia periksa sebelum sampai di tangan sang bos.


Sudah cukup lama Emil mencari Sukma semenjak ia diperintah sang bos, tapi wanita cantik itu tak ia lihat disekitar kantor.

__ADS_1


"Kemana dia, setahuku tidak ada uji produk hari ini?"


"Kalau presentasi harusnya ia ada di ruangan meeting kantor, tapi ini malah tak ada"


"Sesulit ini menemui kepala operator produksi, huuufff..aneh sekali"keluh Emil sembari melangkah ke ruangan sang bos.


"Tok...tok...toook, permisi pak!"


"Masuk saja Mil!"


David menaikan pandangannya, melihat sosok Emil yang terlihat menundukan kepala, jika sudah begitu sikap sang asisten, ia tahu apa yang terjadi.


"Kau tak menanyakan pada yang lain?"


"Sudah bos,:tapi tetap saja tak ada yang tahu"


Ditempat berbeda wanita cantik itu tampak sedang asik memeriksa berkas yang baru dikirim Boby padanya.Setelah tadi pagi ia meninggalkan Zain sendiri, wanita cantik itu sebenarnya pergi menemui Boby.Ia meminta Boby membuat laporan uji produk bulan lalu karna sudah harus diperiksa oleh bos.


"Kau dari mana Bob?"


Boby tersenyum simpul dan menundukan kepala, ia menatap sang asisten dengan teduh.Walau ia tak sering bertemu Emil, ia tahu jika Emil tangan kanan bos besar, karna begitu cerita Sukma.


"Maaf pak, saya dari ruang Bu Sukma mengantar berkas"aku Boby dengan suara tenang.


"Oohh..."Emil mengangguk dan gegas melangkah menuju pintu keluar kantor, tapi tiba-tiba ia teringat sesuatu...


"Eehh..Bob..wah kemana orang tadi?, ia mengantar berkas ke ruang Sukma?apa ia bertemu Sukma?"guman Emil membatin.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2