Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 10~Mengantar Alya


__ADS_3

Alena mengajukan diri untuk mengantar Alya ke kampungnya setelah gadis kecil itu sedikit pulih.


Sebenarnya, mereka tak mengizinkan Alya pulang, apalagi dalam keadaan seperti itu. Namun, gadis kecil itu memaksa pulang karena sangat merindukan keluarganya di kampung.


Mobil Dika melaju dengan cepat menuju rumah Alena. Setelah Alena menceritakan kejadian yang menimpa Alya itu, mereka sepakat untuk mengantarkan gadis kecil tersebut ke kampung halamannya.


Sementara Aldrian bersama beberapa Polisi mendatangi rumah ayah tirinya Alya untuk menangkap pria jahat tersebut. Ia juga membawa bukti lain yang bisa menjebloskan pria jahat itu ke dalam penjara, agar dirinya tak bisa mengelak lagi dari jeratan hukum.


Ternyata, selain kasus penganiayaan kepada putri tirinya, pria itu juga diketahui sebagai pengedar obat terlarang dan menjual minum-minuman keras. Ia juga mengurung banyak anak yang diculiknya di gudang dan menjadikannya sebagai pengemis. Hingga Kepolisian dengan mudah menangkap pria itu dengan surat penangkapan dan bukti yang kuat.


Dengan petunjuk dari Alya, barang bukti yang menguatkan tuduhan bisa didapatkan. Bukan hanya ayah tirinya Alya, beberapa temannya pun ditangkap. Serta, anak-anak yang dikurung di gudang bisa dibebaskan dan dikembalikan kepada keluarga masing-masing.



Setelah menempuh perjalanan seharian, Alena dan kawan-kawan sudah sampai di kampung halaman Alya. Mereka bergegas turun untuk mengantarkan Alya ke rumahnya.


Betapa terkejut dan sedihnya Ibu Alya melihat kondisi putri keduanya itu. Dia tidak menyangka bahwa anak keduanya tersebut akan pulang dalam keadaan terluka parah seperti sekarang, setelah dinyatakan hilang dua bulan lalu.


Pada saat itu, Alya pulang dari sekolah dan Ibu Gurunya bilang kalau ia dijemput seorang wanita suruhan ibunya. Padahal, ibunya tak pernah menyuruh siapapun untuk menjemput anaknya. Mengingat, banyak kasus penculikan yang terjadi saat ini.


Ibu Alya pun menangis tersedu sembari memeluk tubuh putrinya. Ia bersyukur karena putri keduanya itu selamat dari kejahatan suami barunya.


Ibu Alya mengucapkan terima kasih kepada Alena dan keluarganya, serta kawan-kawannya yang dengan suka rela menolong dan mengantarkan putrinya sampai ke rumah.


"Sungguh, Ibu sangat berterima kasih untuk kebaikan kalian semua. Entah apa yang terjadi kepada Alya, jika dia tak bertemu dengan kalian. Kami benar-benar bersyukur kepada Tuhan, karena mempertemukan Alya dengan orang baik seperti kalian di kota besar itu."


Alena tersenyum sambil mengangguk. "Tidak masalah, Bu. Kita harus saling tolong menolong dengan sesama," ujarnya ramah.


Setelah berbincang cukup lama, mereka memutuskan untuk berpamitan pulang kembali ke kota.

__ADS_1


Alena juga memberikan amplop titipan ayahnya yang berisikan sejumlah uang untuk membantu biaya hidup keluarga Alya.


Awalnya Ibu Alya menolak karena merasa tak enak. Dengan pulangnya Alya saja, ia sangat berterima kasih. Namun, Alena bersikeras agar Ibu Alya menerima titipan ayahnya itu dengan alasan sebagai biaya pengobatan.


Dengan terpaksa, wanita paruh baya itu menerima pemberian dari Alena. "Terima kasih banyak, Nak. Ibu tidak tahu lagi harus berkata apa selain mengucapkan kata terima kasih," desisnya tak enak hati.


"Jangan sungkan, Bu. Ya sudah, kami pamit pulang ya!" Alena dan kawan-kawan pun pergi dari rumah Alya.




Sepanjang perjalanan pulang, kelima sekawan itu berbincang dan bercanda ria. Segala macam mereka bicarakan, termasuk kejadian-kejadian lucu atau menegangkan yang pernah mereka alami sendiri.


Dika melirik Alena yang duduk di sampingnya. "Beb. Waktu lu merosot jatuh ke tebing itu, lu ketemu wanita gila?" tanya Dika.


"Hooh. Dan kalian tahu apa yang dia omongin ke gue? Dia nyuruh gue pergi!" seru Alena menatap semua temannya.


Karena Renita tidak juga bangun, Alena memilih keluar sendiri untuk mencari sumber suara hingga ke batu besar. Di sana lah ia melihat seorang wanita duduk dengan menundukkan wajah serta menangis pilu.


Alena berniat membantu, namun wanita itu bereaksi diluar dugaannya. Dia berteriak hingga mengejutkan Alena.


Karena ketakutan, Alena berlari sekencang mungkin tanpa melihat apapun di depannya. Karena tak fokus menatap jalan yang dipijak, akhirnya ia menginjak batu kerikil yang membuatnya terpeleset dan jatuh berguling ke bawah tebing.


Alena tak sadar jika sepanjang tanah tebing tersebut terdapat berbagai batu yang menempel di tanah dan dahan serta ranting yang patah. Hingga terciptalah luka di sekujur tubuhnya.


Ia merintih kesakitan dan berteriak minta tolong, tapi tak ada yang datang menolong sebab keadaan yang sepi karena waktu menunjukan tengah malam. Sampai akhirnya Alena pingsan dan sadar kembali saat hari sudah terang.


Memang, waktu kejadian Alena hilang di gunung itu, mereka tidak sempat bertanya apapun kepadanya sebab tak ingin membebani mental Alena. Setelah mengantar pulang, mereka langsung pulang ke rumah masing-masing tanpa membicarakan kejadian itu.

__ADS_1


"Tapi dia kan ngomong pake bahasa sunda! Emang lu ngerti artinya?" sambar Indra diikuti ketiga lainnya yang penasaran.


Alena menggelengkan kepala. "Emang gue kagak ngarti yang diomongin dia itu apaan. Gue cuma menebak dari cara dia berekspresi dan sikap yang ditunjukan, bahwa dia ingin gue pergi.


"Pasti waktu itu lu sangat ketakutan. Maafin gue ya, Beb!" Renita menunduk sedih.


Alena berbalik menghadap belakang. "Apaan sih, Ren. Gak apa kali," selorohnya terkekeh. "Gue yang ceroboh dan bersikap semau gue tanpa meminta bantuan kalian. Harusnya gue itu nurut sama perkataan lu untuk tidur, jadinya gue gak bakalan celaka." tambahnya kemudian.


"Iya, pokoknya apapun itu kita patut besyukur karena Tuhan masih menjaga keselamatan kita semua," timpal Dika.


"Iya, Dik. Udah bisa selamat dari sana aja udah bersyukur banget gue mah," sahut Alena. Mereka mengangguk setuju dengan perkataan Alena.


Renita kembali bergidik mengingat wanita gila yang mengejar mereka di gunung waktu itu. "Jujur, waktu orang gila itu ngejar kita, gue takut banget tahu. Gue berasa mau mati ketika melihat amukan orang gila," cetusnya seraya menggelengkan kepala.


"Yaelah, Ren. Kalau elu takut, peluk gue apa Indra gitu. Yakin, kita kagak bakal nolak!" Geri berkata sambil merentangkan tangan.


Iren melotot mendengar ucapan Geri. "Najis, lo. Ogah banget kalau harus peluk elu berdua. Bisa kena rabies, gue." cibirnya dengan menepis keras tangan Geri.


"Asyem, sakit banget dodol. Elu cewek, tenaganya kek samson wati. Ucap Geri sambil mengelus tangannya. "Lama-lama, gue cium juga lu!" lanjutnya kemudian.


Bukan cuma Iren, Indra ikut membulatkan matanya. "Sebelum elu nyium dia, cium dulu tinju gue nih!" Indra mengepalkan tangan ke arah Geri.


Geri cengengesan sambil memundurkan sedikit tubuhnya. "Weits, santai Bro. Gue cuma bercanda doang kali," elak Geri.


Melihat keduanya ribut, Dika ikut meledeknya sambil terkekeh. "Wadidaw, ada Babang yang bakal melindungi Iren dari kejahilan kita, Ger!"


"Ho'oh, Dik."


Dan ... terjadilah keributan di kursi belakang yang melibatkan tiga sahabatnya itu.

__ADS_1


Alena ikutan tertawa karena ia juga tau, kalo Indra sebenarnya suka sama Iren. Tapi, ia tidak berani mengungkapkan perasaannya itu.


...Bersambung ......


__ADS_2