Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 41~Siraman kalbu


__ADS_3

Kriiiiing ... kriiiiing


Suara notifikasi panggilan masuk terdengar kencang, membuat si pemilik ponsel terganggu.


"Berisik! Gue masih ngantuk," Ia menutup telinganya dengan bantal dan tak menghiraukan ponsel yang terus berbunyi.


Suara itu terus terdengar dan tak mau diam, hingga sang pemimpi itu harus beranjak sambil menggerutu. "Haaaaaa! Tidur aja di gangguin. Kesel gue," gerutunya sembari menyambar ponsel yang ada di atas nakas samping tempat tidur.


Dengan mata masih terpejam, Alena menggeser icon warna hijau. "Hemh," gumamnya.


"Dek, kamu di mana sih? Cepet dateng ke butik Kakak sekarang juga!" terdengar suara mengomel dari sebrang sana.


Alena sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya. "Ada apa sih, Kak Aisyah? Baru juga gue bangun,"


"Kamu lupa?" tanya Aisyah.


Alena sejenak mengusap wajah sambil berpikir, namun tak ada satupun yang diingatnya. Ketika dia akan berucap, Aisyah sudah menutup panggilan sambil berkata. "Se-ka-rang!" tekannya.


Setelah menghela nafas, Alena segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dengan malas. "Hoamh. Masih ngantuk juga,"


Belum jauh melangkah, suara ketukan di pintu terdengar nyaring hingga gadis itu pun tak jadi ke kamar mandi.


Tok ... tok ... tok


Alena kembali berbalik menuju pintu. Ia membukanya sambil menggerutu kesal, "Ada apaan sih? Berisik banget deh!"


Tuk


Keningnya diketuk oleh orang yang mengetuk pintu kamar, hingga Alena tambah kesal. Sebelum ia mengoceh, orang yang mengetuk keningnya itu malah menyemburnya. "Anak perawan jam segini baru bangun. Mau jadi apa kamu? Tiap hari bangun tidur keduluan sama ayam tetangga,"


"Ya jadi orang lah, Mom. Masa jadi ayam," sahutnya menggerutu sembari membuka mulut lebar-lebar "Hoaamhh. Masih pagi Mommy udah ribut aja sih!"

__ADS_1


Mommy melotot. "Pagi katanya! Hei, coba kamu melek dan lihat keluar. Matahari sudah terang benderang gitu dikata masih pagi," Ibunya menyibakkan gorden kamar Alena.


"Tuh lihat! Orang sudah berlalu lalang di jalan, supir angkot udah bolak balik tujuh balikkan, sedangkan kamu baru bangun tidur. Bekas iler aja masih nempel di pipi," cerocos sang Ibu masih berlanjut.


Alena memegang pipi dan mengelap ujung bibirnya. "Ish mommy, aku gak ngiler ya!" sanggahnya.


"Sudah sana mandi. Kak Aisyah nelpon terus dari tadi, nyuruh kamu cepet ke butiknya!" tutur Mommy.


"Ada apa sih? Bikin rusuh aja pagi-pagi," Ia melangkah malas dan duduk kembali di sofa kamarnya.


Mommy pun dibuat kesal dan geleng kepala, Ia melangkah dan menarik tangan anaknya supaya berdiri. "Ini sudah jam sepuluh. Kak Aisyah butuh kamu sekarang juga. Cepet, sana mandi!"


"Ish mommy, aku masih ngantuk." rengeknya.


"Ya Tuhan. Ampunilah dosa hamba!" tangan Mommy menengadah ke atas. "Kamu bangun jam segini masih ngantuk? Kak Al saja dulu suka bangun jam empat subuh, tapi gak bilang ngantuk padahal dia gak pernah tidur siang. Lah kamu bangun jam sepuluh bilangnya masih ngantuk," Mommy menggerutu sembari bertolak pinggang di hadapan putrinya.


"Itu kan Kak Al, kalau aku beda." elaknya.


Karena terus-menerus mendapatkan siraman qolbu, Alena pun mengalah dengan bergegas ke kamar mandi. Ia tak mau mendengar ocehan ibunya dan memilih bersiap untuk ke butiknya kakak ipar.


Beberapa menit kemudian.


Alena telah rapih berpakaian, lalu ia turun ke bawah menemui ibunya untuk berpamitan. Langkah kakinya terayun menuruni satu persatu anak tangga, kemudian mendarat di lantai bawah rumah besar tersebut.


Setelah di lantai bawah, Alena menemui ibunya dan berpamitan pergi. Tak lupa kunci mobil ia sambar dari gantungan kunci dekat pintu ruang tengah. "Mom, aku berangkat ya!" Ia berpamitan setelah meminum jus jeruk di meja makan.


"Sayang, kamu gak makan dulu?" Nyonya Yulia berlari dari dapur ke ruang makan untuk mengejar putrinya.


"Enggak,Mom! Kak Aisyah udah nelpon lagi nyuruh cepet dateng katanya," sahut Alena seraya pergi setelah menutup pintu rapat-rapat.


Sang ibu mengejar putrinya itu sampai ke luar rumah. "Hei, kamu belum mencium Mommy," cicitnya.

__ADS_1


Alena berbalik lagi setelah membuka pintu mobil untuk mencium pipi ibunya.


Setelah mencium pipi ibunya, bergegas ia pun pergi. Lambaian tangannya masih melambai di udara sampai mobilnya keluar dari halaman rumah.


"Hati-hati di jalan!" Mommy pun ikut melambaikan tangan sambil berteriak. Helaan nafas panjang terdengar diiringi senyum manisnya. "Dasar anak nakal! Dia itu seorang gadis tapi tingkahnya seperti anak lelaki," desisnya di hadapan asisten rumah tangganya.


"Dia putri kecilmu, Nyonya." ucap kepala pelayan sambil tersenyum.


"Kamu benar, Mbok. Hahh, gak terasa ya mereka sudah besar dan aku sekarang sudah jadi Nenek dari anaknya Aldrian. Sebentar lagi Alena pun akan memberiku cucu setelah nikah nanti," ucap sang majikan kepada kepala pelayan, lalu mereka tersenyum senang.


Alena yang mengendarai mobil sportnya dengan kecepatan penuh di jalan beraspal. Ia harus buru-buru karena suara ponsel yang mengganggu dan terus berbunyi.


Gadis itu memilih mengabaikan panggilan yang masuk sebab sudah tahu bahwa si penelpon pasti adalah sang kakak ipar yang terus menanyakan kabar keberadaannya saat ini. Ia malas mendengar ocehan kakak iparnya setelah mendapat siraman kalbu tadi di rumah.


Bodoh amat lah dengan amukan Aisyah nanti, toh sekarang ia berada di jalan menuju ke sana.


Ketika sedang asyik mengemudi, netra mutiara itu menangkap sosok yang dikenalinya sedang duduk bersama seseorang di cafe tempat biasa anak muda pada nongkrong.


Alena melihat dengan seksama dan lebih teliti, jika orang yang dilihatnya benar-benar adalah orang yang dikenali. Pasalnya penampilan dan juga karakter orang itu terlihat berbeda.


Hendri yang biasa berpakaian rapih dan formal, kini terlihat seperti anak berandal yang suka malak di pasar. Dia duduk bersama seorang gadis yang usianya hampir sama dengan Alena, hanya saja penampilannya lebih dewasa dibanding usianya.


Awalnya Alena berniat menghampiri, namun segera ia urungkan setelah melihat pesan dari Aisyah.


Segera ia pacu laju kendaraan kembali di jalanan beraspal agar cepat tiba di butik kakak iparnya.


Jalan yang macet membuatnya susah untuk memacu laju kendaraan hingga Alena terpaksa harus memperlambat laju kendaraannya.


Namun, ketika asyik bergelut dalam kemacetan, tiba-tiba sebuah panggilan masuk di ponselnya. Alena mengabaikan panggilan itu karena mengira jika yang menghubunginya adalah Aisyah, hingga membuat si penelpon menjadi sangat geram.


Di sebrang sana, Zidan menggerutu kesal karena panggilannya diabaikan Alena. Bolak-balik memanggil, tapi gadis itu tetap tak menjawab panggilannya. "Dasar gadis nakal!"

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2