Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 17~Tertinggal


__ADS_3

Geri dan Alena menemui Hendri untuk meminta bantuannya, tentang kasus yang menimpa mereka kemarin.


Keduanya yakin jika seseorang ada di balik penyergapan begal kemarin. Orang itu pasti menginginkan mereka celaka dan ... menginginkan Alena untuk ikut bersamanya. Mungkin juga.


"Jadi menurut kalian, ada seseorang di balik semua kejadian kemarin?" tanya Hendri.


"Iya. Aku yakin jika mereka menginginkan nyawa kita. Tapi anehnya, mereka membiarkanku selamat dan tak terluka. Menutut Kak Hendri bagaimana? Pasti Kakak juga akan berpikir sama denganku, bukan!" sahut Alena menjelaskan.


Hendri manggut-manggut mendengar pernyataan Alena barusan. Ia paham situasinya sekarang, jika seseorang pasti mengincar Alena untuk dibawa mereka hidup-hidup. Tapi pertanyaannya, siapa mereka?


"Apa mungkin anak buahnya Agus Subagja? Mungkin saja mereka melihat kita waktu menyusup ke pabrik terbengkalai itu!" tebak Hendri.


Alena dan Geri tampak berpikir, memikirkan pernyataan Hendri. Mungkin juga seperti itu? pikir keduanya.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan, Kak? Mereka sudah keterlaluan dengan berusaha mencelakai kami," cetus Geri.


Hendri terdiam, nampak berpikir. Tak lama kemudian ia menatap Geri dan Alena secara bergantian. "Sebaiknya kalian tidak ikut campur urusan PT Antareksa lagi. Saya tahu, Kakakmu yang menjadi calon korban mereka. Tapi setidaknya, biarkan kami dari pihak kepolisian yang menanganinya!" tegasnya kemudian.


Alena menunduk, kemudian ia mendongakkan wajah. "Berikan satu kesempatan lagi untuk membuktikan kejahatan mereka! Aku janji tak kan mengacaukan pekerjaan Kak Hendri setelah ini," cetusnya memohon kepada Hendri.


"Enggak! Gue gak setuju jika kita bertindak yang membahayakan nyawa lagi. Sudah cukup Dika dan Indra menjadi korban,dan gue gak mau elu kenapa-napa, Beb!" Geri menolak keras yang dibenarkan oleh Hendri.


"Betul. Itu bahaya dan saya tak mau kamu terluka," cetus Hendri ikut menolak.


Namun, Alena tetap Alena. Gadis manja yang tak pernah mau dibantah atau dilarang apapun keinginannya.


Dengan terpaksa, Geri dan Hendri menuruti permintaan Alena untuk pergi mencari bukti kejahatan tentang keterlibatan Agus dengan kejadian pembegalan yang dialami mereka.


Alena, Geri, dan Hendri mengikuti jejak para penjahat hingga hutan, tak jauh dari area pembegalan sebelumnya. Mereka yakin jika para penjahat itu kabur ke hutan untuk sampai ke pabrik terbengkalai itu.


Walaupun polisi mengejar sampai kesana, tapi mereka tak bisa menemukan para penjahat itu. Alena yakin mereka pasti bersembunyi di tempat aman yang jauh dari jangkauan polisi, yaitu hutan sebrang danau.


Ketika ketiganya melangkah, terdengar suara gaduh dari sebuah gua yang berada di hutan tersebut. Itu pasti suara para penjahat itu, batin ketiganya.


Dengan langkah pelan, Alena, Geri dan Hendri mengintip untuk memastikan. Dan ternyata, dugaan mereka benar bahwa para penjahat itu atas kiriman Agus Subagja untuk mencelakai Alena dan kawan-kawan.


Setelah mengumpulkan bukti, ketiganya bergegas pergi. Namun, belum sempat keluar dari hutan itu, para penjahat melihat mereka sedang mengintip.

__ADS_1


Tanpa banyak kata, para penjahat suruhan Agus itu langsung mengejar ketiganya hingga mereka bertiga lari terbirit-birit.


Hendri yang memegang sebuah senjata pun harus berlari untuk menyelamatkan diri dan melindungi kedua anak muda itu, sebab para penjahat pun membawa senjata tajam dan pistol.


Sesekali ia menembak ke arah penjahat dan menjatuhkan mereka satu persatu.


Dor ... dor


Tembakan demi tembakan terdengar saling bersahutan. Hendri dan Geri berlari dengan kencang, dan tak sadar jika Alena berada di belakang. Gadis itu tertinggal jauh karena langkah kakinya yang pendek_berbeda dengan para pria.


Nafas keduanya memburu. Keduanya segera masuk ke dalam mobil dan menarik nafas dalam, kemudian menyalakan mesin mobil lalu pergi dari tempat itu karena para penjahat yang terus mengejarnya.


Hendri memacu kendaraannya lebih cepat dari sebelumnya, hingga terasa jauh dari tempat para penjahat itu.


"Gila. Mereka banyak banget ya, Beb!" Geri bermaksud berkata pada Alena yang sebenarnya tak ada di jok belakang.


"Iya. Hampir aja kita tertangkap," timpal Hendri.


"Hooh. Kalo tidak, kita pasti celaka!" Geri menyahut kembali.


Merasa tak ada yang merespon, Geri dan Hendri pun menoleh ke belakang serempak.


"Alena!"


Seru keduanya bersamaan.


Seketika keduanya terdiam dengan saling pandang. "Sial," desis keduanya.


Hendri memutar laju mobil, berbalik arah kembali ke tempat tadi untuk menjemput Alena yang tertinggal.


Walaupun jaraknya sudah jauh, tapi mereka harus melakukannya demi menolong Alena dari kejaran para penjahat. Hendri dan Geri pun rela kembali walau harus mengantar nyawa, asalkan Alena selamat.


Di tempat Alena berada.


Alena yang lari dikejar para penjahat, berbelok ke arah yang salah karena tak melihat keberadaan Hendri dan Geri.


Dia asal berlari untuk menghindari para penjahat, karena merasa tak mungkin untuk melawan.

__ADS_1


Ketika sudah jauh masuk ke hutan, baru ia tersadar bahwa dirinya salah mengambil jalan dan kini tersesat.


"Sial. Ke mana mereka lari?!" gumam Alena panik sembari mencari tempat bersembunyi.


Tak disangka, di belakangnya sudah berdiri beberapa pria yang bersiap menyerangnya.


Ketika Alena berbalik, ia terkejut dibuatnya. Para penjahat itu menyeringai dengan tatapan lapar, serta tertawa girang. Membuat Alena bergidik juga muak melihatnya.


Alena yang merasa terancam pun melawan para penjahat yang berjumlah lima orang itu seorang diri, tanpa bantuan Hendri dan Geri.


Tapi, tenaganya tetap tenaga wanita. Sekuat apapun ia melawan, tetap kalah oleh kekuatan lima pria berbadan besar tersebut.


"Aaaarrrgghhh!" pekiknya ketika tubuhnya terbanting ke tanah. "Sialan. Kurang ajar, kalian!" umpatnya sembari mencoba menendang kembali.


Namun, pergerakannya bisa dihentikan oleh mereka dan membuat Alena tak berkutik lagi. Gadis itu hanya meronta berusaha melepaskan diri. "Tolong ... tolong!"


Tatapan lapar mereka seolah menyiratkan sebuah ancaman sangat besar untuk Alena. Tangan dan kakinya dipegangi beberapa pria agar ia tak bisa bergerak lagi.


Ketika tangan nakal mereka akan menyentuh bagian tubuh Alena, gadis itu sontak menutup matanya. Ia tak bisa berbuat apapun lagi karena sudah tak berdaya, sebab tenaganya sudah terkuras habis dengan pertarungan serta berlarian tadi.


Sedikit lagi tangan nakal itu akan menyentuh bagian tubuh Alena, tiba-tiba dari belakang ada sebuah tangan menghadiahkan pukulan keras hingga membuat para penjahat itu kesakitan.


Baku hantam tak terelakan. Kelima pria berbadan tegap itu ternyata kalah oleh pemuda yang datangnya entah dari mana.


Alena yang terus menutup matanya tidak tahu jika ada seseorang yang menyelamatkan nyawanya dari para penjahat itu.


Seorang pemuda yang tampan dan tinggi, muncul tiba-tiba ketika mendengar teriakan Alena. Pemuda tampan itu berdecak melihat Alena yang terus memejamkan mata, tak sadar jika dirinya sudah terbebas dari para penjahat tadi.


"Cckk. Mau sampai kapan berdiam diri dan memejamkan mata seperti itu? Apa kamu sudah siap mati di tangan mereka?" ketus si pria tampan membuat gadis itu terhenyak.


Alena yang terkejut sontak saja membuka matanya. Ia menautkan kedua alis, menatap lekat pemuda tampan tersebut. "Ka-kamu teman mereka?!" bertanya dengan penasaran.


Pemuda itu kembali berdecak kesal. "Jangan pernah berpikir seperti itu! Aku bukan orang yang jahat seperti mereka," ketusnya kemudian berbalik dan melangkah.


Alena masih belum percaya atas perkataan sang penyelamat nyawanya tersebut, hingga suara pemuda itu menginterupsi. "Mau pulang atau enggak?" tanya si tampan tanpa menoleh ke arahnya.


Alena yang masih terdiam tanpa merespon, membuat pemuda tersebut geram. "Dasar gadis bodoh! Memang kata yang tepat jika aku memanggilmu si bodoh," ucapnya lagi sembari melangkah pergi, meninggalkan

__ADS_1


"Hei, gue itu gak bodoh! Elu nya aja yang kurang menjelaskan. Dasar pemuda aneh," teriak Alena.


...Bersambung ......


__ADS_2