
Berjam-jam lamanya Dokter maupun Suster tak kunjung keluar dari ruang IGD itu. And the genk menunggu dengan harap-harap cemas di luar, takut terjadi sesuatu kepada Geri.
Menurut Indra, kondisi Geri sesaat sebelum dilarikan ke rumah sakit sangatlah parah. Darah mengucur dari bagian kepala akibat benturan keras.
Kini, Dokter sedang berusaha menyelamatkan nyawa Geri sebisa mungkin sesuai kemampuannya.
Setelah cukup lama, akhirnya Dokter pun keluar ruangan menemui mereka yang berada di sana menunggu dengan harap-harap cemas.
"Di mana keluarga pasien?" Dokter keluar dengan wajah cemas.
Semua serempak berdiri dan menjawab. "Kami, Dok!"
Dokter menatap mereka dengan serius. "Pasien kehabisan banyak darah karena benturan keras di kepalanya tersebut. Tapi, di bank darah kami saat ini sedang kehabisan stok. Apa salah satu di antara kalian ada yang memiliki golongan darah yang sama?"
"Kalau boleh tahu, apa golongan darahnya Dok?" tanya mereka lagi.
"Pasien memiliki golongan darah langka, yaitu AB. Jika di antara kalian ada yang memiliki golongan darah yang sama, kalian bisa membantu menyelamatkannya." tutur Dokter menjelaskan.
"Tapi, di antara kami tak ada yang memiliki golongan darah yang sama, Dok. Kebetulan, kedua orang tuanya juga belum datang dari kampung. Bagaimana kalau ..."
"Jika sampai telat, maka pasien bisa mengalami koma atau lebih buruk dari itu." pungkas Dokter.
"Ya tuhan..cobaan apa ini? kenapa harus dia yang mengalaminya?" Keempat anak muda itu menangisi keadaan sahabatnya tersebut.
Mereka saling berpelukkan satu sama lain untuk saling menguatkan.
Dokter pun kembali ke dalam ruangan untuk mengambil tindakan kepada Geri.
Tangis mereka pecah lagi saat melihat kehadiran ibunya Geri yang datang dan berteriak histeris sambil menangis.
"Anak Ma'e kenapa, Neng? Apa yang sebenarnya terjadi sama Geri? Tadi siang dia menelpon Ma'e terlihat baik-baik saja!" Ibunya bertanya sambil menangis.
__ADS_1
Indra maju sambil memeluk tubuh ibunya Geri yang terisak bertanya tentang kondisi anaknya. "Maafkan Indra, Ma'e!" Indra bersimpuh di bawah kaki ibunya Geri. Dia menangis tersedu dan memeluk kaki ibunya Geri.
Ibunya Geri merasa aneh dengan kelakuan Indra, lalu ia mengangkat tubuh Indra yang sedang bersimpuh di kakinya. "Kenapa Nak Indra? Apa yang sebenarnya terjadi sama anak Ma'e?"
"Ini semua salah aku, Ma'e." Indra menggenggam tangan ibunya Geri dengan erat. "Geri tertabrak mobil gara-gara menyelamatkan Indra," lanjutnya lagi sembari menangis.
"Apa?" Ibunya Geri terlihat syok atas pernyataan yang Indra lontarkan. Bahkan, tubuhnya langsung ambruk karena tak kuasa menahan rasa sesak di dada. Ibunya Geri pingsan seketika.
"Ma'e!" teriak semuanya dan langsung berhamburan menghampiri. "Ma'e kenapa?" Alena dan Renita menepuk pipi ibunya Geri dan mengusap keningnya yang telah banjir oleh keringat.
"Angkat dia ke bangku!" Dika dan Indra langsung membopongnya untuk dibaringkan di atas bangku koridor.
Semua terlihat khawatir dan cemas karena ibunya Geri tiba-tiba pingsan_tak kuat menahan beban atas kabar kecelakaan anaknya tersebut. Sedangkan ayahnya Geri tak bisa ikut pergi karena sedang sakit.
Begitu berat cobaan yang diterima ibunya Geri saat ini. Di saat suaminya sedang sakit parah, ia juga harus mendapat kabar kecelakaan putra pertamanya yang menjadi tumpuan hidup, tulang punggung keluarga.
Dokter kembali keluar untuk bertanya pada mereka. Apakah donor darah untuk Geri sudah ada? Namun, mereka menggelengkan kepalanya.
Dokter pun menghela nafas pasrah dengan keadaan Geri tanpa bisa melakukan apapun lagi, sebab donor darah untuk pasien belum didapatkan.
Kedua pria itu diperintahkan orang tua mereka untuk mendampingi ibunya Geri_takut terjadi sesuatu dengannya.
Para orang tua Alena, Dika, Renita, dan Indra sudah pulang karena ada urusan mendadak. Mereka hanya berpesan agar menghubungi secepatnya bila ada kabar terbaru dari Dokter tentang kondisi Geri.
"Gimana nasib anaknya Ma'e, Neng?!" ibunya Geri memeluk Alena dan Renita sembari menangis.
"Sabar, Ma'e. Kami yakin akan ada keajaiban dari Tuhan untuk Geri," tutur keduanya menenangkan.
"Tapi Dokter bilang tak ada yang bisa dilakukan lagi,"
"Tidak! Jangan berkata begitu, Ma'e. Dokter bisa mengatakan apapun, namun Tuhan yang memiliki kehendak. Kita yakin saja pada keajaiban-Nya," tukas keduanya lagi.
__ADS_1
Tiba-tiba dari arah belakang suara seorang pemuda menginterupsi. "Saya bisa mendonorkan darah untuknya,"
Semua mata serempak menoleh ke arah sumber suara. "Zidan!" desis Alena lirih.
Zidan bersama Dokter Rian melangkah menghampiri. Keduanya membungkuk sedikit dengan sopan kepada mereka yang lebih tua darinya_Ibunya Geri serta Aldrian dan Romi.
"Tuan Muda Prasetyo. Apa Anda yakin untuk mendonorkan darah Anda kepada pasien?" Dokter bertanya dengan menautkan alisnya_terkejut.
"Kenapa? Apa saya tidak bisa mendonorkan darah?" Zidan berkata santai.
Dokter lekas menggelengkan kepala. "Tidak! Bukan begitu maksud saya, Tuan. Tapi, Anda adalah pemilik rumah sakit ini." Dokter terlihat tak enak hati padanya, takut disangka tidak bekerja dengan baik.
Semua orang termasuk Alena terkejut mendengar perkataan Dokter barusan. Ternyata, si Tuan Muda itu adalah pemilik rumah sakit besar tersebut. Pantas saja jika dirinya bisa keluar masuk rumah sakit dengan bebas tanpa diketahui orang lain.
Zidan kembali berucap. "Kenapa? Apa ada aturan untuk itu?" Dokter menunduk tak berani menatap. "Lagipula saya memiliki golongan darah yang sama dengannya," cetusnya lagi membuat semua orang lagi-lagi menatapnya serius.
Dokter Rian segera mendekat. "Dokter Adi. Saya akan mengurus semuanya jika kamu tak berani melakukannya,"
Dokter Adi segera mendongak, menatap lekat wajah pria muda di hadapannya tersebut. "Dokter Rian. Saya ... Baiklah! Untuk urusan Tuan Muda saya serahkan pada Anda. Jujur, saya tidak berani." ungkapnya.
Rian mengerti dengan ketakutan Dokter Adi yang tak berani menyentuh Zidan_lebih tepatnya takut melakukan kesalahan.
"Baiklah! Mulai dari sini saya ambil alih tugasmu. Dokter Adi bisa mengurus pasien yang lain," Rian berkata yang membuat Adi tersenyum senang sekaligus canggung.
"Ba-baiklah, Dokter Rian. Saya akan memberikan laporan terkini tentang kondisi pasien yang bernama Geri ini. Suster juga akan menerangkannya pada Anda," cetusnya gugup.
Rian mengangguk, kemudian masuk mengikuti Adi ke dalam ruangan Geri diikuti Zidan yang akan memberikan transfusi darah untuk Geri.
Sebelum masuk ke ruangan, Rian menoleh ke arah Alena dengan senyum ramahnya. "Kakak Ipar tenang ya. Temanmu itu pasti baik-baik saja setelah mendapat perawatan dariku," cicitnya.
Semua pasang mata menatap Alena setelah kepergian Rian. Apa yang dimaksud Dokter muda tadi dengan memanggil Alena sebagai kakak ipar? pikir semua orang.
__ADS_1
Alena yang tahu akan maksud tatapan semua orang kepadanya hanya bisa cengengesan menanggapi. "Hehehe. Dia gila," selorohnya.
......Bersambung .........