
"Alena!" teriakan Indra mengundang semua orang untuk menoleh ke arah mereka.
"Hiks ... hiks ... huuaaa ... huhuuuu," ketiganya saling berpelukkan dan menangis tersedu.
"Kenapa kalian aneh sekali?" tanya dokter kepada mereka.
Ketiga pemuda itu lantas menoleh. "Apa maksud Dokter dengan bertanya seperti itu?kami sangat sedih tahu," sahut mereka lalu melanjutkan ucapan lagi. "Asal dokter tahu. Dia itu kesayangan kami, kebanggaan kami, cinta kami, Dokter. Huhu,"
"Tapi dia sudah tidak apa-apa!" jelas dokter.
"Kami tahu Dokter," mereka tetap tak mendengarkan ucapan dokter dengan jelas.
"Eeh, bentar. Maksud Dokter apa barusan bilang dia sudah tidak apa-apa?" Indra tersadar dengan ucapan dokter.
"Iya, dia sudah tidak apa-apa! Memang tadi kondisinya sempat down, tapi sekarang dia kembali membaik. Namun karena kondisinya parah, dia tidur untuk sementara." jelas dokter.
"Tidur sementara? Maksud Dokter dia koma?" Dika menatap dokter dengan serius.
"Iya, dia koma sementara. Jika kalian terus mengajaknya berinteraksi, kemungkinan dia bisa cepat bangun. Jadi, saya sarankan untuk selalu berinteraksi bersamanya karena pendengarannya tetap berfungsi dengan semestinya walaupun dia memejamkan mata!" Jelas dokter kepada mereka.
"Kenapa gak ngomong dari tadi, dokter?" Geri kesal kepada penjelasan dokter yang menurutnya kurang jelas.
"Saya belum menyelesaikan ucapan, tapi kalian sudah menyela." elak dokter.
"Oh, gitu ya, Dok. Maaf deh!" ketiganya pun cengengesan.
"Syukur lah Alena nggak kenapa-napa. Tapi, kenapa dia sedih?" Mereka melirik Zidan yang terlihat sangat murung.
"Gak tahu juga! Mungkin dia syok saat alat pendeteksi itu menunjukkan garis lurus di monitor," bisik suster. "Dia sangat mengkhawatirkan Nona Muda," lanjutnya lagi.
Mereka pun saling pandang kemudian menoleh ke arah Zidan yang sedang duduk dengan keadaan yang tak bisa diungkapkan.
Penampilan Zidan sangat berantakan. Sepertinya kondisi Alena membuat jiwanya terguncang.
Apa dia sangat mencintai Alena? batin ketiganya menatap haru.
Zidan tetap diam sambil memejamkan matanya.
Suara langkah kaki berlarian ke arah mereka membuat semuanya menoleh. Orang-orang itu datang dengan tergesa dan juga penuh kekhawatiran.
__ADS_1
"Dika. Bagaimana keadaan Alena?" tanya keluarga Alena saat sudah sampai di hadapan mereka.
Keluarga Alena mendapatkan kabar dari Geri yang menghubunginya lewat ponsel.
"Tante, maafin Dika ya! Dika nggak bisa menjaga Alena dengan baik," Dika tertunduk lesu di hadapan nyonya Fransisca.
Aldrian maju mendekati mereka yang masih tertunduk bingung. "Dia sebenarnya kenapa?Jangan bikin kami bingung," Kak Al menarik kerah baju Dika.
Mereka pun terkejut dengan perlakuan kak Al kepada Dika.
"Kak Al, ini bukan salah Dika! ini salah kami juga," Indra memegang tangan Aldrian.
Kak Al melirik mereka satu persatu, kemudian melirik Zidan yang duduk dengan keadaan yang tidak pernah mereka lihat. "Bagaimana kondisinya?" Kak Al menghampiri Zidan dan bertanya padanya.
Zidan tak perduli dengan pertanyaan orang yang ada di hadapannya. Ia tetap memejamkan matanya. "Hei, Tuan Muda! Jawab pertanyaanku," Kak Al berteriak kepada Zidan yang masih tidak menghiraukannya.
"Pasien sudah tidak apa-apa, Tuan! Hanya saja saat ini dia koma untuk beberapa waktu," Dokter mendekat dan menjawab pertanyaan Aldrian.
Mereka pun menoleh kepada dokter itu.
"Kondisinya sangat parah sampai dia sempat down. Tapi, saat Tuan Muda menempelkan keningnya di kening Nona Muda, monitor menunjukkan denyut nadi Nona kembali dan jantungnya kembali berdetak lagi. Bukan kah itu suatu keajaiban, Tuan, Nyonya?" pungkas dokter.
Mereka pun saling tatap dan kemudian memandangi Zidan yang terlihat sangat terpuruk. "Lalu, kenapa dia seperti itu?" tanya mereka serempak.
Ucapan Rian membuat mereka jadi tak enak hati, karena menuding Zidan yang bukan-bukan. Mereka pun jadi menatap iba pada pria tampan tersebut.
Mereka memang keluarga dan teman dekat Alena, tapi Zidane lah yang merasa sangat terpukul dengan kondisi Alena saat ini.
Entah dia merasa bersalah atau dia takut kehilangan, kedua pernyataan itu benar adanya.
Zidan selalu ketus dan dingin kepada Alena. Tapi, jauh di lubuk hatinya dia sangat mencintai gadis itu lebih dari apapun.
Dalam hati Zidan berjanji untuk selalu mendampingi serta melindungi gadis itu apapun yang terjadi. Tapi kini, melihat kondisi Alena yang terluka parah membuat ia merasa sangat bersalah.
Zidan bangkit dan pergi tanpa berkata sepatah kata pun kepada mereka yang menatapnya dengan berbagai pertanyaan. Dia langsung pergi begitu saja tanpa menoleh ke arah siapa pun membuat semuanya terheran.
"Tadi dia nangis, sekarang dia pergi gitu aja." Dika melirik Geri dan Indra.
"Dia sangat sedih, Dik. Mungkin dia mencintai si Bos!" tanpa sadar Geri mengucapkan kata yang membuat Dika sakit hati dan cemburu hingga pemuda itu menatap tak suka kepada Geri.
__ADS_1
Indra menyikut lengan Geri. "Sssttt, elu ngomong apa? Kenapa elu ngomongin itu sama si Entong?" bisiknya tepat di telinga Geri.
Geri pun tersadar seketika. "Oh ya ampun, gue lupa!"
Keduanya pun saling pandang melihat Dika terdiam dan tak bereaksi apapun.
Sementara keluarga Alena sudah masuk untuk melihat kondisi putri bungsunya.
"Sayang, kenapa jadi begini!" Semua keluarga terlihat sedih dengan melihat kondisi putri bungsunya itu.
Alena terbaring tanpa bisa merespon ucapan mereka semua. Dia tidak bisa melihat ekspresi semua keluarganya yang sangat mencintainya.
Sampai berhari-hari bahkan berminggu-minggu, gadis itu terbaring di rumah sakit dengan kondisi yang sama seperti hari sebelumnya.
Sudah dua bulan gadis itu belum juga bangun dari tidurnya. Entah kenapa ia seperti sengaja ingin tidur lebih lama dan membuat And the genk atau pun keluarganya bahkan Zidan sedih.
Hari ini, Geri, Dika, dan Indra kembali untuk menengoknya. Mereka berusaha terus mengajak Alena untuk berinteraksi agar kesadaran gadis itu segera kembali.
"Bos, kenapa elu gak bangun sih? Elu masih marah sama kita karena kita gak bisa melindungi elu?" Geri mengelus kepala Alena.
Dika maju ke depan dan menggenggam erat tangan Alena. "Hai, Beb! Apa kabar?Kayaknya udah lama deh gue gak denger ocehan lu. Lu nggak kangen sama gue, hmm?" Mata Dika berkaca sebelum mencium kening Alena sedikit lama.
Indra dan Geri menepuk bahu Dika karena keduanya tahu apa yang dirasakan sahabatnya saat ini.
Dika mencintai Alena sejak lama, tapi ia tak pernah mendapat balasan dari perasaannya sebab Alena selalu menganggapnya sebuah candaan karena mereka berteman sejak kecil. Jadi, perasaan Dika pun hanya dianggap sebuah kasih sayang sebagai sahabat saja.
Dika menitikkan air mata, tak kuasa melihat gadis yang dicintainya terbaring di ranjang perawatan. "Kenapa elu tega sama gue? kenapa?" Dika bersimpuh di bawah ranjang perawatan Alena membuat Geri dan Indra menjadi tak tega.
Keduanya menepuk bahu Dika lalu mengangkatnya perlahan. "Elu jangan gini, Dik! Kasihan dia," tutur Geri sambil mengusap air mata di ujung kelopak menggunakan jarinya.
"Iya Dik, bener kata Geri. Gimana Alena bisa kembali kalau elu gak semangat gini. Kemana si Entong yang suka bikin suasana menjadi ceria?" timpal Indra dengan mata berkaca. "Dia butuh dukungan kita, Dik." lanjutnya lagi.
Dika menepis tangan kedua temannya. "Dia yang nggak kasihan sama gue. Dia lebih memilih tidur terus dan nggak mau bangun untuk memeluk gue. Gue kangen," Air mata Dika lolos dari pelupuk mata membuat Geri dan Indra ikut menangis.
Setelah berlama-lamaan di rumah sakit untuk menemani Alena, mereka pun pulang karena jam besuk sudah habis.
"Kita balik ya, Bos. Jaga diri lu!" Geri mengelus kepala Alena dengan sayang.
Indra pun melakukan hal yang sama. "Gue juga balik ya, All. Kita bakal balik lagi nanti," pamitnya sembari mengecup kening Alena.
__ADS_1
Kini giliran Dika berpamitan. "Kalau besok gue balik ke sini dan elu masih nggak bangun, gue cium bibir lu!" ancam Dika sebelum dirinya melangkah keluar.
...Bersambung .......