
Seorang gadis memasuki sebuah mall besar. Tubuh yang seksi bagaikan gitar spanyol, memakai gaun yang pertontonkan paha mulusnya. Ia berjalan tanpa melihat ke arah depan.
Dari arah berlawanan, terlihat tiga pemuda yang tampannya tak kalah dengan artis korea. Mereka adalah Dika, Indra, dan Geri.
Karena posisi Indra yang paling belakang, tanpa sengaja ia tertabrak oleh cewek seksi tadi dan membuatnya hampir terjatuh.
Bukan Indra yang terjatuh, tapi gadis itu. Karena Indra terbilang cowok gagah dengan dada bidang, ia pun tak mudah tumbang hanya dengan sedikit senggolan saja Tangannya melingkar di pinggang gadis tersebut. Mata indah, hidung mancung dan bibir tipisnya mampu membuat Indra tak berkedip.
Cinta pada pandangan pertama. Mungkin itu yang terjadi pada saat ini. Pipi merah merona seperti kepiting rebus, nampak di wajah keduanya.
Bukit kembar yang cukup besar menonjol, menampakan belahannya. Seketika, membuat si tampan susah untuk menelan saliva-nya.
"Ekhem. Terima kasih, karena Mas udah nolongin aku." ucap gadis tersebut membuyarkan lamunan Indra yang pasti dengan pikiran liarnya.
Indra tersentak, kemudian melepaskan tangannya dari pinggang gadis itu. "Eh, oh, ya, maaf!"
Gadis itu malah tersenyum melihat kecanggungan Indra. "Maaf ya, tadi aku gak liat jalan dengan benar. Jadi, aku nabrak kamu deh. Tahunya, malah aku yang jatuh. Untung kamu nolongin aku," cetusnya terkekeh.
"Gak apa-apa, kok! Lain kali, hati-hati ya!" sahut Indra.
Gadis itu mengulurkan tangannya ke arah Indra. "Kenalin, namaku Rara!"
Indra menjabat tangan Rara dengan tersenyum. "Namaku Indra. Emh... Ya udah deh, karena kamu gak apa-apa, aku pergi dulu. Teman-temanku udah nunggu, tuh!" menunjuk ke arah kedua sahabatnya.
Rara menoleh ke arah tunjukan tangan Indra. "Oh, mereka temanmu ya. Kenalin, dong!" pinta Rara pada Indra.
Indra pun mengiyakannya dan membawa Rara pada kedua sahabatnya. "Gaess ... Kenalin, ini Rara dan ini Dika sama Geri." memperkenalkan mereka dengan menunjuk satu persatu.
"Hai, Rara!" ucap keduanya barengan. "Rara cantik banget, ya!" puji mereka kepada gadis itu yang pasti membuatnya tersipu.
"Makasih!" ucap Rara dengan wajah merona.
"kalian ada waktu gak? Aku mau traktir kalian, sebagai ucapan terimakasih!" lanjutnya kemudian.
Mendengar kata traktiran, mata Geri langsung berbinar. "Wah traktiran, boleh tuh!"
__ADS_1
Melihat Geri yang berantusias, Dika menjadi gemas. Tangannya melayang dan berakhir mendarat di kepala sahabatnya.
Plak
"Makanan aja nyamber." ketus Dika kepada Geri. "Maaf, kita ada keperluan penting. Lain kali aja ya," tolaknya secara halus.
Geri menarik tangan Dika geram. "Elu kebiasaan, Tong! Pala gue maen teplak aja,"
Dika menyahut kembali. "Lagian sih, elu. Udah tahu kalo kita itu lagi buru-buru. Lu mau Alena ngamuk?!"
"Oh iya, gue lupa kalo tuh anak nungguin di markas. Ya udah deh, Ra. Kamu ajak Indra aja, karena dia kan yang nolongin kamu. Kita lagi buru-buru," Geri berkata.
Indra pun mengerutkan dahinya. "Kok, gue?! Maaf Rara, aku gak bisa. Lain kali aja deh! Soalnya kita ..." ucapan Indra langsung di potong oleh Rara.
"Yah, kok gitu sih! Padahal, aku udah tulus hati nih mau traktir kalian, sebagai tanda terimakasih aja!" pungkasnya dengan nada sedih.
"Eh, bukan gitu! Tapi ... ya udah deh, aku ikut kamu." ucap Indra tak enak yang disambut girang oleh Rara.
Dika dan Geri menepuk bahu Indra. "Semangat jalu, semoga bisa menunjukan karisma mu!" ledek keduanya.
Setelah Dika dan Geri meninggalkan mereka, Indra pergi ke rumah Rara yang tak jauh dari pusat perbelanjaan tersebut. Rumah yang sederhana, terletak di pinggiran kota dan melewati gang sempit. Rumah satu-satunya yang terdapat di area itu, tampak sepi tak berpenghuni.
"Kok sepi sih, Ra! Ke mana orang tua kamu?" tanya Indra memperhatikan.
"Iya, di sini sepi dan cuma ada aku aja. Orang tuaku udah meninggal sejak lama," sahut Rara dengan menundukan kepalanya.
Indra menatap Rara dengan tak enak hati. "Maaf, aku tidak tahu kalau ... Maaf ya, membuat kamu sedih!"
"Gak apa apa, kok! Lagian, kamu juga kan gak tau kalau aku tinggal sendirian." sahut Rara sedikit tersenyum, namun senyum itu digantikan tangisan setelahnya. "Aku kesepian dan juga ketakutan tinggal sendirian, Ndra! Hiks ... hiks," buliran air mata menetes membasahi pipi gadis cantik itu.
Tangan Indra terulur untuk menyeka pipi Rara dengan lembut. "Kamu jangan sedih gitu. Aku dan keempat kawanku mau kok berteman sama kamu," Indra berusaha menghibur.
Rara terlihat ceria lagi setelah mendengar ucapan Indra. "Makasih ya, Ndra. Walaupun kita baru kenal, ternyata kamu baik hati." kata Rara. "Oh iya, kamu mau minum apa? Teh, kopi, apa ... Susu?" ucapannya sambil tertawa genit ke arah Indra.
"Aa-apa aja deh!" Indra menjadi salah tingkah.
__ADS_1
Rara melangkah ke dapur, kemudian kembali dengan secangkir kopi. "Ini, silahkan diminum!" menyodorkan gelas berisi kopi.
Indra menerimanya sambil tersenyum. "Terima kasih!"
"Ya udah, kamu minum dulu deh! Aku ganti baju dulu ya," ucap Rara sambil berlalu ke arah kamar.
"Oke!"
Belum sempat bibir Indra menyentuh cangkir berisikan kopi, Indra sudah dikejutkan oleh suara teriakan minta tolong dari arah kamar Rara. Dia berlari tergesa-gesa untuk melihat keadaan Rara.
Tapi saat dia masuk, ternyata Rara terjatuh di lantai hanya dengan memakai handuk yang melilit cuma sebatas menutupi bagian atas dan bawah sensitifnya. Ia meringis menahan sakit di kaki kerena terpeleset, membuat Indra kebingungan.
"Maaf, tadi aku mendengar teriakanmu! Jadi aku buru-buru kesini," ucap Indra tak enak dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Rara menoleh ke arah Indra. "Enggak apa kok, Ndra. Tadi aku kurang hati-hati, jadinya kepeleset. Awww, sakit banget Ndra!" Rara meringis dan menjatuhkan tubuhnya kembali saat mencoba berdiri. "Bisa bantu aku, gak?!" pintanya pada Indra kemudian.
"Mm, bentar ya!" Indra melirik kesana-kemari mencari sesuatu.
Indra adalah lelaki normal. Hal seperti ini membuatnya tak nyaman, sehingga ia mengambil sebuah selimut untuk menutupi tubuh Rara. Kemudian, tubuh gadis itu di gendong lalu diturunkan di tepian ranjang
"Apa kaki kamu terluka?" tanya Indra yang hanya dijawab oleh anggukan kepala. "Ya udah, sini biar aku pijitin! Mana yang sakit?" tanya Indra lagi.
"Yang ini!" tunjuk Rara sambil mengangkat selimutnya sedikit ke atas.
"Yang ini?" Indra memegang mata kaki Rara dan memijatnya.
"Bukan! Tapi yang ini!" ucap Rara lagi dengan terus mengangkat selimut sampai ke atas, membuat Indra menurutinya terus menerus. Sampai akhirnya, selimut itu sudah terbuka dengan memperlihatkan paha mulusnya.
Indra menelan ludahnya dengan kesusahan, karena dengan tak sengaja menuruti permintaan Rara sampai sejauh ini. "Maaf!" bergegas ia melepaskan tangannya dan berdiri dengan cepat.
Tapi, Rara menahan tangan Indra dan mendekatkan tubuhnya, serta memiringkan kepalanya sedikit untuk berusaha menggapai bibir Indra.
"Kamu milikku malam ini," desis Rara menyeringai penuh arti.
...Bersambung ......
__ADS_1