Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 30~Perampok


__ADS_3

Happy reading gaes ...


"Gaes. Ada cafe baru dekat Grand mall. Katanya, tempat itu cukup nyaman lho. kita nongkrong sana, yuk!" ajak Alena pada semua sahabatnya.


Renita cemberut. "Gue kan belum gajian, Beb! Kasihanilah gue yang cuma karyawan," rengeknya.


"Kan ada aku, Yang. Tenang aja," kata Indra yang melingkarkan lengannya di leher Iren.


Dika dan Geri bertanya serempak. "Kalau kita, siapa yang traktir?"


"Dia!" tunjuk Indra dan Iren kompak ke arah Alena, seketika membuatnya terbatuk-batuk.


"Oh, bagus ya. Nih dua sejoli kompakan?" cibir Alena pada keduanya.


"Iya lah. Kita 'kan satu hati," cetus Indra dan Iren saling melempar senyuman.


"Idih, mengesalkan!" seru Alena sebal.


Geri sejenak terdiam mengingat sesuatu. "Eh, Ndra. Bukankah kita harus nganterin mobil pelanggan ke tempatnya? Cus ah, mumpung masih siang!" ajak Geri pada Indra yang terlihat malas menanggapi.


"Emang udah beres?" Indra bertanya.


"Udah. Yuk, anterin!" ajak Geri pada Indra.


Indra menyandarkan punggungnya di kursi dengan tangan melingkar di bahu sang kekasih. "Elu aja yang nganterin! Gue kasih bonus deh," bujuknya pada Geri.


Geri melempar bungkus rokok ke meja. "Wah, kampret lu. Masa gue mulu yang nganterin? Kali-kali barengan kek. Entar gue balik pake apa kalo elu gak mau nemenin?"


"Gue kasih ongkos, Bedul." Indra membuka dompetnya.


Geri mendelik sebal. "Bukan masalah ongkosnya. Gue males ke daerah sono sendirian," cetusnya merengek.


"Idih, elu mah manja bener sih? Napa sih gak mau ke sono sendirian? Takut nyasar?" Dika ikut menimpali.


"Bukan gitu, Dik! Pokoknya ogah lah kalo berangkat sendirian. Berasa ada yang kurang," kilah Geri. "Ayolah, Indra! Masa elu tega sih ama gue," Geri tetap merajuk.

__ADS_1


Entah kenapa siang itu Geri tampak manja kepada and the genk, seperti akan ada sesuatu yang terjadi. Wajahnya tampak murung tak bersemangat.


"Menurut gue, lu gak usah pergi deh, Ger. Hati gue merasa gak tenang," Alena memberikan usul.


"Kalo bisa. Masalah yang punya udah nelpon puluhan kali ke ponsel gue," jelas Geri.


"Ya udah, gue temenin deh!" Indra mengalah.


Indra dan Geri pun pergi dari basecamp untuk mengantarkan mobil pelanggan yang terus meminta diantarkan. Geri mengendarai mobil pelanggan, sedangkan Indra mengendarai motor miliknya.


Sepeninggalan kedua pemuda itu, Alena, Renita, dan Dika pergi ke cafe yang tadi mereka bicarakan. Kelima anak muda itu setuju untuk berkumpul di tempat itu setelah Indra dan Geri menyelesaikan pekerjaan mereka.


Geri bekerja di bengkel milik Indra_warisan dari kakeknya. Bengkel besar itu sengaja tak dijual oleh kakeknya Indra untuk dikelola cucunya kelak, dan ternyata keinginannya tersampaikan. Indra memiliki keahlian di bidang mesin, sehingga ia bisa mengelola bengkel peninggalan kakeknya yang meninggal tiga tahun yang lalu.


Dengan bakat yang dimiliki Indra, bengkel peninggalan kakeknya itu berkembang sangat pesat dan semakin besar. Indra memiliki karyawan sebanyak dua puluh orang, termasuk montir dan tukang cuci.


Tibalah keduanya di tempat pelanggan. Keduanya tidak tahu jika di area komplek perumahan itu sedang terjadi kerusuhan akibat teror perampok.


"Apa ini alamatnya?" Geri melihat kertas yang bertuliskan alamat si pelanggan. Lekas ia membuka aplikasi google maps dengan handphonenya dan ternyata memang benar alamatnya berada di sana. "Ndra, ini alamatnya!" teriak Geri sembari turun dari mobil.


Indra menepikan motor sportnya di belakang mobil yang dikendarai Geri. "Serius? Kok sepi sih, kek kuburan!"


Tak ada aktivitas yang terlihat di dalam rumah si pelanggan pemilik mobil, begitupun dengan keadaan sekitaran. Rasanya sungguh aneh hingga Indra dan Geri penasaran dibuatnya.


Kedua pemuda itu melangkah masuk ke halaman rumah. "Permisi, Pak, Bu!" Geri mengetuk pintu berulang kali, namun si pemilik rumah tidak ada yang membukakan pintu.


Indra pun melakukan hal yang sama, dengan terus memanggil nama pelanggannya itu. "Pak Beno ... Pak!"


Karena kesal, Indra pun menelpon ke nomer telpon si pemilik dan ternyata ia berada di rumahnya.


Pemilik pun mengintip dari balik gorden sebelum membukakan pintu rumahnya. Ia bergegas menyuruh keduanya masuk untuk berbicara di dalam rumah.


Ada yang aneh menurut Indra dan Geri. Tapi, keduanya memilih diam_tak mau bertanya terlebih dulu sampai dia sendiri yang menjelaskan.


"Maaf, Mas! Kami takut yang mengetuk pintu adalah orang jahat," tutur si pemilik rumah dengan raut wajah serius.

__ADS_1


"Orang jahat? Sebenarnya ada apa sih, Pak? Kami perhatikan disepanjang perjalanan kemari tak ada satupun warga terlihat," Indra dan Geri penasaran.


Sejenak orang itu terdiam, kemudian menggelengkan kepalanya sambil memaksakan tersenyum.


Melihat gelagat aneh orang tersebut, Geri dan Indra yakin jika cerita itu tak boleh diketahuinya. Keduanya pun memutuskan segera pulang karena ada janji dengan ketiga temannya. "Ya sudah, Pak! Kami pamit pulang aja, soalnya lagi ditunggu. Ini kunci mobilnya. Semuanya sudah beres tinggal sisa pembayaran saja,"


"Iya, Mas. Silahkan diminum dulu tehnya, biar saya ambil uang sisa pembayarannya." kata orang itu seraya beranjak dari duduknya.


Didalam rumah pelanggan itu, Geri dan Indra seperti diawasi oleh istri dan anak pemilik rumah. Keduanya merasa terus diperhatikan gerak-geriknya oleh mereka.


Keduanya setuju untuk segera pergi dari tempat ini setelah pembayaran terakhir diterima. Mereka tak nyaman dengan keadaan di tempat tersebut, apalagi dengan orang-orangnya.


Tak lama kemudian, si pemilik rumah kembali dengan membawa uang di tangannya. "Mas. Ini sisa uang pembayarannya berikut tips buat kalian karena telah mengantarkan mobil saya kemari. Terima kasih untuk pelayanan terbaiknya, Mas!" ucap Bapak tersebut.


Geri dan Indra mengangguk. "Iya Pak, sama-sama. Baiklah, kami permisi!" ucap keduanya sopan.


Indra berbalik sebelum pergi. "Oh iya, Pak. Kalau misalnya ada apa-apa dengan mobilnya, silahkan hubungi saya atau langsung ke bengkel. Saya siap melayani," kata Indra ramah.


Orang tersebut mengangguk sembari tersenyum canggung. Ada sesuatu yang disembunyikannya. Tapi, apa dan kenapa? Indra dan Geri tak tahu dan tak mau tahu tentang apapun yang bukan urusan mereka. Ke sana pun karena urusan pekerjaan, bukan hal lain.


Indra dan Geri segera menaiki motor sportnya, kemudian melaju dengan kecepatan sedang. Di sepanjang jalan komplek perumahan itu, banyak yang memperhatikan mereka dari balik gorden.


Sekilas Geri melihat bayangan yang tengah berdiri di jendela kaca, mengintip ke jalanan ketika motor mereka melewati rumah-rumah tersebut.


Komplek perumahan ini bukan komplek perumahan yang dijaga oleh satpam di gerbang utama, sehingga keamanannya terjamin. Tapi, komplek perumahan ini komplek perumahan biasa yang hanya dibatasi oleh tikungan antara blok A dan blok B misalnya.


Perumahan tersebut juga terbilang masih sepi karena rumah-rumahnya masih banyak yang kosong serta ada juga yang sengaja ditinggalkan penghuninya karena suatu sebab.


Di komplek perumahan itu telah terjadi pembantaian satu keluarga oleh orang tak dikenal. Bukan hanya keluarga tersebut, namun orang yang tak sengaja melihat kejadian itupun tak luput dari kekejaman para penjahat itu.


Pantas saja ketika Indra dan Geri memasuki area perumahan tersebut, semua orang tak berani keluar rumah atau sekedar beraktivitas di teras rumah.


Ketika kedua pemuda itu berbelok menuju arah pulang, segerombolan pria dengan membawa senjata tajam muncul dari rumah kosong di ujung blok.


Para pria itu menghadang kendaraan Indra dan Geri. "Serahkan motor dan barang berharga lainnya!" pinta mereka.

__ADS_1


Indra dan Geri saling pandang sambil berbisik. "Siang hari pun ada perampok?!"


...Bersambung .......


__ADS_2