
Hari ini adalah hari yang membahagiakan untuk semua sahabat Geri terutama keluarganya, sebab Geri sudah siuman.
Saking senangnya, mereka pun berjingkrak-jingkrak di kamar perawatan Geri dan melupakan othor yang sedang menulis di pojok kamar.
Indra mendekat ke ranjang Geri. "Yeeeaah, akhirnya elu bangun juga. Gue kesepian tahu dari kemaren ditinggal tidur terus sama elu," celotehnya.
"Iya, Ger. Gue juga kesepian tanpa lu, dunia terasa hampa." timpal Dika berlebihan.
"Alah. Elu mah lebai, Dik. Kaya ama pacar saja," Iren mencibirnya.
Geri tersenyum menanggapinya celotehan mereka. Dia mengulurkan tangan yang langsung disambut ketiga sahabatnya itu. "Thanks ya, gaes! Kalian selalu ada buat gue," cicitnya yang disambut pelukan hangat ketiganya. Mereka tersenyum bahagia atas kesembuhan Geri.
Selama hampir seminggu Geri tak sadarkan diri dan mendapat perawatan intensif yang dilakukan oleh Rian atas permintaan Zidan.
Dokter muda itu tak bisa mengabaikan permintaan si Tuan Muda tersebut, sebab tak ingin mendapat masalah dikemudian hari. Zidan memiliki kekuasaan besar di negara ini, khususnya rumah sakit kota.
Sebagai pemilik, Zidan memiliki wewenang atas semua yang bekerja di rumah sakit kota bagian pusat maupun cabang.
Rumah sakit tersebut peninggalan kedua orang tuanya Zidan. Namun, kakek Zidan yaitu ayah dari Hendri sangat menginginkan kekuasaan yang dimiliki Zidan hingga mereka berniat mencelakainya.
Beruntung Tuhan menyayanginya hingga dia selalu mendapatkan pertolongan, termasuk dari Alena and the genk waktu itu hingga nyawa Zidan selamat dari bahaya.
"Di mana Alena? Apa dia sibuk sampe lupa ama gue?" Geri bertanya sembari menatap ketiganya.
"Dia lagi ngurus administrasi," sahut Renita.
"Kok dia, sih? Apa Ma'e gue belom dateng dari kampung?" Geri terlihat tak enak hati.
"Udah. Tapi Alena yang pengen ngurus semua biaya perawatan, ditemani Ma'e kok!" Dika dan Indra saling pandang sebelum berucap kembali. "Lu jangan mikirin apa-apa, Ger! Biarkan Alena ngelakuin apa yang diinginkannya termasuk ngurus semua biaya pengobatan lu. Dia menganggap kita semua sahabatnya, dan kita pun harus begitu padanya. Hargai pemberiannya," ujar keduanya yang mengerti akan perasaan Geri.
"Thank ya, Ger. Karena lu, nyawa gue selamat. Tapi elu yang celaka," cicit Indra.
__ADS_1
Geri menepuk bahu Indra. "Lu bilang barusan kalo kita harus saling menghargai! Tapi, kenapa lu gak hargai perbuatan gue?!"
Indra pun tersenyum langsung memeluk tubuh Geri dan dibalas olehnya.
Ketika mereka sedang berpelukan, Rian ditemani Zidan masuk ke ruang perawatan tersebut. Keduanya menyaksikan keharuan yang tercipta dari keempat sahabat itu.
"Selamat sore semuanya!" sapa Dokter Rian kepada mereka dengan ramah, sedangkan Zidan hanya mengangguk sedikit dengan gayanya yang dingin dan datar.
"Sore, Dokter!" ucap mereka serempak seperti anak TK yang disapa Gurunya.
"Gimana Geri, sudah siap untuk pulang?" tanya Rian.
Geri mengangguk senang atas pertanyaan Rian. "Tentu, Dok!" sahutnya antusias.
"Baiklah! Tapi, tunggu beberapa pemeriksaan lagi untuk memastikan bahwa kondisi tubuhmu sudah normal sepenuhnya!" kata Rian lagi yang diangguki Geri.
Rian pun menjalankan tugasnya untuk memeriksa keadaan Geri agar tak ada kesalahan, sebab hari ini ia diperbolehkan pulang. Hanya menjalani beberapa tes saja.
Tak berselang lama, Alena masuk bersama ibu dan ayahnya Geri. Dia langsung menggenggam tangan Geri dan merangkul bahunya. Geri memeluk Alena dari samping, membuat seseorang merasa kepanasan.
Rian menjadi tak enak hati, seraya tersenyum kecut memandangi Zidan yang terlihat kesal. Dia tahu jika pria dingin itu menaruh hati pada gadis yang sedang merangkul sahabatnya tersebut. Walaupun Rian baru mengenal Alena baru-baru ini, tapi ia merasa jika suatu saat nanti gadis itu akan menjadi pasangan Zidan.
Gadis itu akan merubah gunung es menjadi taman bunga jika menjadi kekasih bahkan istrinya Zidan. Rian yakin Alena pasti akan membawa kebahagiaan untuk sahabat sekaligus saudara angkatnya tersebut.
"Kakak Ipar. Tolong minggir sebentar, karena aku akan memeriksa temanmu ini!" Rian berusaha menyingkirkan Alena dari samping Geri, agar Zidan tak kesal lagi.
Rian menarik sedikit tangan Alena, kemudian berbisik di telinganya. "Jangan membuat Zidan marah! Dia kalo cemburu bisa makan orang,"
Alena menautkan kedua alis mendengar bisikan Rian di telinganya. Ia menatap Rian, kemudian menoleh ke arah Zidan lalu kembali menatap Rian lagi sambil berkata. "Apa maksudnya?!"
Tapi, Rian mengedikan kedua bahunya sambil tersenyum meledek, membuat Alena semakin berpikir keras tentang apa yang dikatakannya barusan.
__ADS_1
Beruntung semua orang tak memperhatikannya karena fokus kepada Geri yang tengah bahagia atas kesembuhannya. Namun, tidak dengan Zidan. Pemuda tersebut memperhatikan gerak-gerik yang ditunjukan Rian yang tengah menggoda Alena. Dia yakin jika sahabatnya itu mengatakan sesuatu yang membuat gadis itu menatapnya serius.
Raut wajah Zidan langsung berubah seketika. Pantas jika Alena menjulukinya sebagai King Ice, sebab dia sangat dingin dalam bersikap. Hawa dingin mulai menyeruak kala Zidan menyentuh pundak Rian membuatnya merinding seketika.
Zidan yang menjadi kesal karena ulah Rian itu, seketika berbalik dan melangkah pergi sambil berkata dengan datar. "Setelah ini temui aku di tempat biasa," cicitnya lirih. Tapi Rian menangkap sinyal berbahaya yang bisa membunuhnya.
Nada dingin mengintimidasi Rian yang sedang memeriksa kondisi Geri, seketika berbalik menatap punggung lebar yang perlahan hilang di balik pintu. "Alamak! Apa dia cemburu karena aku berbisik kepada Kakak Ipar? Oh, Ya Tuhan. Rian bodoh ... bodoh ... bodoh!" rutuknya dalam hati.
Lamunan Rian buyar saat mendengar suara semua orang yang mengucapkan terima kasih kepadanya atas bantuan Rian merawat Geri dengan baik. Dokter muda itu tersenyum kikuk seraya mengangguk perlahan, kemudian berpamitan keluar untuk membiarkan mereka leluasa berbincang.
Setelah dari ruangan Geri, Rian segera menemui Zidan di ruangan khususnya yang ada di lantai tiga. Dengan perasaan tak takut, ia segera melangkah masuk ke dalam dan tak lupa menutup pintu.
Rian berdiri di depan meja, dengan Zidan yang membelakanginya. Tubuhnya gemetaran setelah merasakan aura yang dingin menyelimutinya.
Zidan menoleh padanya dengan tatapan datar. "Apa dia udah bisa pulang sekarang?"
"Udah," sahutnya pelan.
"Kalo begitu, cepat urus kepulangannya." Rian pun mengangguk. Tangan Zidan ke atas untuk menghentikan langkah Rian ketika Dokter muda itu akan melangkah pergi.
"Ada apa lagi?" tanya Rian yang mengerti akan arti kode tersebut.
Tapi, Zidan lekas menggeleng, kemudian melambaikan tangan menyuruh Rian segera pergi. Terlihat dari sikapnya, bahwa dia ragu untuk mengatakan sesuatu. Tapi, Rian sangat peka terhadap apa yang ada dalam pikiran sahabatnya tersebut. Pasti pemuda dingin itu ingin menyampaikan sesuatu tentang Alena, pikir Rian.
"Hemh, dasar payah!" ejek Rian namun hanya sebatas dalam hati, sebab ia tak sampai mengatakannya pada Zidan. Kalau sampai ia merutuki Zidan, bisa dipastikan dirinya akan ditendang ke Benua Artik. "Hemh!"
...∆ ∆ ∆ ∆ ∆ ∆...
Ke sawah membawa tali,
Tali diikat di kain bersih.
__ADS_1
Bagi yang sudah mampir ke mari,
Ku ucapkan terima kasih!