Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 31~Kecelakaan Geri


__ADS_3

And the genk yang sedang menunggu kedatangan Geri dan Indra di cafe sudah tak sabar. Mereka melirik jam tangan yang melingkar sambil menggerutu kesal.


"Ih. Si Indra ama si Geri ke mana sih? Ini udah jam delapan malam, tapi mereka gak dateng-dateng. Masa kita nongkrong terus di sini tanpa kepastian? Gak jelas," gerutu Alena.


"Iya, ih. Tumben bener Indra dan Geri ngaret. Biasanya kan kalau soal makan mereka paling cepet! Kok sekarang telat?!" Iren menimpali.


Dika mendongak menatap kedua gadis cantik tersebut, berusaha menenangkannya. "Sabar dong, All, Ren. Siapa tahu tuh anak pada kejebak macet. Jadinya rada telat dikit,"


"Telat dikit gimana? Kita nunggu dari jam empat dan sekarang sudah jam delapan. Sebenarnya dia mau kesini kagak sih?!" gerutu Alena sembari terus melirik jam tangannya.


Renita menimpali lagi sambil cemberut. "Hooh. Kesel tau, Dik. Indra kan janji habis ini mau pergi berdua ama gue. Masa ingkar lagi sih!"


Dika menggelengkan kepala melihat tingkah kedua gadis di hadapannya tersebut. Dia tak tahu harus menjelaskan apa lagi kepada keduanya, sebab dia sendiri tak tahu pasti apa yang terjadi kepada Indra dan Geri sekarang.


Melihat Dika yang terdiam, kedua gadis itu beralih pandang menatap ke arah Dika dengan tatapan yang sulit di artikan.


Merasa diperhatikan, Dika pun menatap keduanya secara bergantian. "Apa?" ketusnya.


Alena dan Renita menghela nafas panjang sebelum berkata. "Lu sadar gak sih kalau mereka itu sengaja mempermainkan kita!"


"Kagak! Mereka gak bermaksud gitu, kok. Gue yakin pasti ada sesuatu," bela Dika.


Ketika kedua gadis itu akan membuka suara cemprengnya lagi, sebuah notif panggilan masuk di handphone Dika mengganggu mereka untuk mengalihkan pandangan ke arahnya. Si empunya pun menerima panggilan yang ternyata di layar menunjukan nama Indra.


"Guys, si Indra telpon nih. Gue angkat dulu ya," Dika menunjukkan layar ponsel ke arah keduanya yang mengangguk cepat. "Hallo, Ndra. Kalian di mana sih?" tanya Dika langsung saat panggilan tersambung.


Suara Indra terdengar memburu dengan nafas berat dari sebrang sana. "Hallo, Dika. Tolongin gue!"


Dika seketika membulatkan mata mendengar suara Indra yang terdengar panik dan cemas. "Lu kenapa, Jalu?"


Kedua gadis di hadapan Dika langsung berdiri saat melihat wajah tegang pemuda itu. Sontak saja keduanya mendekat ke arahnya.


Dika segera menyalakan pengeras suara agar kedua teman di sampingnya bisa mendengarnya juga.


"Dika. Gue sekarang lagi di jalan menuju ke rumah sakit. Geri ... Geri dia ..." Indra tak bisa melanjutkan ucapannya karena panik.

__ADS_1


"Geri kenapa, Bro? Elu kalo ngomong yang jelas!" teriak Dika mengundang tatapan semua orang yang berada di dalam cafe tersebut.


Melihat semua mata tertuju pada mereka, Alena dan Renita segera menarik tangan Dika untuk keluar dari sana, sebelum dihampiri manager cafe tersebut sambil meminta maaf kepada semua orang.


Alena merebut ponsel Dika. "Geri kenapa, Ndra?"


"Dia ... dia tertabrak mobil, All." sahut Indra di sebrang sana masih dengan nada panik.


"Kok bisa!"


"Ceritanya panjang. Lu bertiga susul gue ke rumah sakit kota. Kondisinya sangat parah," jelas Indra yang membuat ketiganya terdiam.


Tanpa bertanya lagi, ketiganya berlari memasuki mobil dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi. Yang ada dipikiran mereka saat ini ialah keselamatan Geri, sahabat mereka.


Menurut penuturan Indra, kondisi Geri terluka parah dan kehilangan banyak darah akibat benturan keras di kepalanya.


Indra juga mengatakan bahwa motornya di rampas oleh perampok yang membegal mereka di jalan komplek perumahan.


Dika segera menelpon Hendri untuk meminta bantuannya agar kasus ini segera ditangani. Dika juga memberikan gambar motor Indra dan alamat terjadinya perampokan sesuai petunjuk yang diberikan Indra.


Mobil melaju sangat kencang membelah jalanan malam ibukota. Mereka buru-buru mendatangi rumah sakit kota, tempat di mana Geri dirawat.


Nafas mereka tak beraturan karena berlari sangat kencang dari parkiran hingga ke dalam rumah sakit.


"Suster. Korban kecelakaan yang tadi dibawa ke sini, di mana ya sus?" mereka segera bertanya pada suster yang berjaga di depan.


"Korban yang mana ya, Mas, Mbak? Soalnya barusan ada tiga korban kecelakaan ," kata suster tersebut.


"Geri, atas nama Geriyanto." sahut ketiganya serempak.


"Sebentar ya, saya cek dulu!" ketiganya mengangguk. "Korban kecelakaan atas nama Geriyanto ada di ruang IGD sebelah sana!" jawab Suster seraya menunjuk lorong sebelah kiri.


Setelah mengucapkan kata terima kasih, ketiganya lekas mencari ruang IGD yang dimaksud Suster tadi. Kembali ketiganya berlarian di lorong rumah sakit itu hingga suara Indra terdengar memanggil.


"Gaes!" Mereka pun menoleh ke arah sumber suara.

__ADS_1


"Indra. Bagaimana keadaan Geri?" todong ketiganya.


"Gue gak tau! Dokter ama Suster itu ngelarang gue ikut masuk. Gue takut terjadi sesuatu ama dia," Indra berkata dengan gugup.


Dika menepuk bahu Indra, berusaha memberikan semangat dan dukungan. "Kita doakan dia baik-baik aja. Sekarang, lu bisa ceritain ama kita kejadian sebelumnya, kenapa Geri jadi kek gini!"


Indra mengangguk, kemudian mengikuti tarikan Renita untuk duduk di bangku agar bisa rileks. Sejenak ia termenung, lalu mulai larut ke dalam lamunan, mengingat kejadian naas yang menimpa mereka sebelumnya.


Ketika akan pulang, Geri dan Indra dihadang para perampok yang meneror perumahan tempat pelanggan bengkel Indra. Keduanya berusaha melawan dengan cara memacu laju motor untuk menabrak mereka supaya bisa kabur. Ternyata, komplotan para perampok tersebut ada yang bersembunyi di pengkolan.


Saat motor Indra melintas, mereka menurunkan palang hingga motor yang tengah melaju kencang itu seketika ambruk terguling di jalanan bersama tubuh keduanya.


Indra dan Geri berusaha melawan ketika perampok itu mengayunkan tongkat kayu dan samurai ke arah mereka. Beruntung keduanya menghindar tepat waktu dan berlari menyelamatkan diri keluar area perumahan.


Motor Indra yang tergeletak di jalanan diambil oleh mereka, beserta ponsel Geri yang terjatuh akibat terguling tadi.


Tak memikirkan hal tersebut, yang penting keselamatan. Itulah yang dipikirkan Indra dan Geri saat ini. Keduanya berlari sekencang mungkin untuk menghindari kejaran mereka yang berada tepat di belakang.


Saat sudah di luar area perumahan, Indra dan Geri segera berlari menyebrang jalan tanpa melihat ke kiri dan kanan karena fokus ke belakang. Ketika keduanya melintas, dari arah kiri mobil minibus melaju dengan kecepatan tinggi dan siap menghantam tubuh Indra yang berada di depan.


Mobil itu sedikit lagi menabrak tubuh Indra. Namun, Geri berlari mendorong tubuh Indra hingga terpental ke pinggir jalan, dan membiarkan dirinya yang tertabrak mobil minibus tersebut.


Darah mengalir deras ketika tubuh Geri terpental beberapa meter ke depan setelah tertabrak mobil itu. Benturan keras di kepalanya membuat ia kehilangan kesadaran serta kehabisan banyak darah.


Indra yang panik segera berlari menghampiri. Warga sekitar pun berbondong-bondong membantu korban kecelakaan tersebut. Mobil ambulan segera datang ketika mendapat laporan kecelakaan, serta para polisi langsung mengusut kasus tersebut.


"Ini semua salah gue," kata Indra lirih. Ia terlihat syok atas kejadian yang menimpa Geri tepat di depan matanya.


"Jangan nyalahin diri lu, Ndra. Ini murni kecelakaan," ucap ketiganya.


Indra mengusap wajahnya kasar. "Kalau bukan karena nolongin gue, Geri gak bakal ketabrak."


"Ini takdir Tuhan. Kita harus sabar menerimanya,"


Indra memeluk ketiga temannya yang terus memberikan semangat dan dukungan untuknya, karena memang itu yang saat ini dibutuhkan Indra.

__ADS_1


"Thanks, gaes!"


...Bersambung ......


__ADS_2