Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 42~Pergi makan


__ADS_3

BIP


Notifikasi pesan masuk ke ponsel Alena.


"Cepat dateng ke butik sekarang juga! Kalau enggak? Aku tuntut ke Mommy kamu!" ancaman ini bukan berasal dari kakak iparnya, melainkan Zidan.


"Cih, dia ngancem gue." desis Alena membaca pesan singkat itu. Namun, ia segera termenung memikirkan sesuatu. "Eh bentar! Kok dia bisa di butik sih?!" Ia pun berpikir sambil menyalakan mesin mobil kembali dan melaju dengan cepat menuju butik kakak iparnya.


Sesampainya di sana, Alena buru-buru masuk ke dalam.


"Maria. Kak Aisyah di mana?" tanya Alena pada pegawai kakak iparnya.


"Ibu di kantor Mbak, sama tamunya!" jelas Maria.


"Oke!" Alena pun berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.


Tok ... tok ... tok


"Masuk!" ucap orang yang ada di dalam.


"Kak, kenapa kakak nyuruh aku ke ... Eh, ngapain lu disini?" tanya Alena kebingungan saat melihat Zidan yang ada di kantor kakaknya.


Bukannya menjawab, Zidan justru balik bertanya. "Kenapa kamu gak pernah tepat waktu? Aku udah meluangkan waktu berhargaku hanya untuk nunggu kamu di sini. Ckk, dasar karet!" cibir Zidan kesal.


Alena mengerutkan keningnya, berpikir tentang apa yang Zidan katakan. "Emangnya kita ada janji pake harus tepat waktu segala,"


Lagi-lagi Zidan berdecak kesal. Pemuda tampan itu sangat geram karena ternyata Alena melupakan apa yang diminta darinya. Kaki jenjangnya melangkah menghampiri gadis yang menatapnya heran, kemudian ia berbisik tepat di telinganya. "Heh? Siapa yang datang ke kantorku dan membuat keributan di sana? Siapa yang memohon padaku dengan naik di pangkuanku dan melingkarkan tangannya di leherku? Siapa yang kemarin menikmati ciuman dariku?"


Mata Alena membulat seketika dengan wajah bersemu merah. Ia menoleh seraya menjauh dari si King Ice, "A-apa yang ..."


"Aku cuma mengingatkan aja!" Zidan menyeringai penuh kemenangan karena berhasil membungkam gadis berisik yang selalu mengusik hidupnya. Pemuda itu kembali menampilkan wajah datarnya ketika Alena menatapnya lekat.


Dengan wajah tertunduk Alena berkata, "Maaf!"

__ADS_1


Imut sekali sih dia, batin Zidan.


Zidane menghela nafas panjang, kemudian melangkah ke arah pintu. "Aku lapar," ucapnya singkat.


Alena mendongak. "Hah??"


Pemuda itu kembali menoleh. "Traktir aku makan!"


Alena mendadak semakin gugup ketika beradu pandang dengan Zidan. "O-oke!"


Zidane tersenyum melihat wajah Alena yang menurutnya menggemaskan. Tanpa berkata lagi, pemuda itu melangkahkan kaki keluar ruangan diikuti Alena yang setia mengekor di belakangnya.


Sesampainya di bawah, Alena pun lekas menghampiri asisten kakak iparnya untuk bertanya perihal keberadaan Aisyah. Namun, Maria tetap menjawab di ruangannya hingga Alena pun geram karena tak mendapati keberadaan kakak iparnya tersebut.


Sedetik kemudian Maria mengingat jika Aisyah berpesan padanya akan kembali setelah makan siang, karena ada hal penting yang harus diselesaikan lebih dahulu bersama kliennya. Aisyah juga berpesan jika ada tamu atau adiknya datang, mereka di suruh kembali setelah jam makan siang.


Betapa marahnya Alena setelah mendengar pengakuan Maria barusan. Karena Maria melupakan pesan Aisyah hingga Alena harus berhadapan dengan Zidan di ruangan kakak iparnya itu sendirian. Alena juga marah kepada Aisyah karena sedari tadi terus mengganggu tidurnya, namun ternyata dirinya malah tak ada di ruangannya. "Menyebalkan dia. Dasar Kakak Ipar durjana tukang nyusahin orang aja. Bisa-bisanya pergi ninggalin tamu sendirian. Awas lu ya," celotehnya kesal.


Tanpa sadar Alena menghentakkan kaki sampai menginjak kaki Zidan yang berdiri di belakangnya. Injakannya yang kencang membuat Zidan mengaduh seketika."Aduh. Beraninya kamu ..."


"Dasar gadis manja yang menyebalkan!" ketus Zidan geram.


Alena melotot sembari bertolak pinggang. "Gue emang manja. Terserah lu mau terima atau enggak, ya begini adanya. Dari pada elu, pemuda dingin yang kejam!" balasnya dengan nada mencibir.


Zidan mendesah pelan. "Terserah kamu menilai diriku seperti apa. Yang pasti, jangan pernah mencoba untuk menggangguku!" tersirat nada ancaman dari ucapan Zidan. Tapi, Alena cuek dan memilih mengabaikannya.


"Yuk ah, kita pergi makan!" Gadis itu sudah berjalan ke luar butik sembari menoleh sekilas.


Kembali helaan nafas terdengar dari mulut Zidan. Pemuda itu berjalan dengan ekspresi datarnya.


Alena juga berpesan pada Maria jika akan kembali setelah makan siang. Dia tahu kakak iparnya pasti mencari ketika dirinya pergi.


Keduanya melangkah menuju parkiran. Zidan meminta Alena yang membawa kendaraan sebab dirinya datang diantar supir.

__ADS_1


"Buka!" perintahnya singkat.


"Heh, apaan yang dibuka?" Alena bingung dengan perkataan Zidan barusan. Otaknya mendadak jongkok ketika dirinya gugup karena ditatap tajam oleh Zidan.


Zidan melangkah lebih dekat. "Kamu pengennya apa yang dibuka? Atas atau bawah?" kata pemuda itu dengan menyeringai. Senyum culasnya tergambar jelas mengejek Alena.


Alena melotot. "Eh, elu songong ya. Walaupun kita udah kenal lama, elu pikir gue mau buat__"


Zidan berdecak sembari menggelengkan kepalanya. "Pintu mobilnya,"


Alena pun gelagapan karena ternyata dirinya salah paham. "Ah, hehehe." Ia menjadi salah tingkah.


Zidan kembali mendekat sampai Alena mundur ke belakang dan punggungnya menyentuh badan mobil. "Kalau kamu mau membuka yang lain, silahkan! Aku tak keberatan," Ia berbisik tepat di telinga Alena.


Alena segera mendorong tubuh jangkung Zidan, lalu ia membuka pintu mobilnya.


"A-ayo kita pergi!" ajaknya dengan gugup.


'Bisa-bisanya dia ngomong seperti itu? Haish, gue salah mengerti akan ucapannya sampai dia jadi meledek gue terus. Haduh, Alena.' batinnya bermonolog.


Sementara Zidan tersenyum sambil berjalan memutar ke bangku samping kemudi. Pemuda itu menyembunyikan senyumnya sambil berkata dengan dingin. "Antar aku ke restoran yang mewah. Aku ingin makan enak hari ini," cetusnya.


"O-oke!" Alena menjadi gugup dan tak karuan.


Senengnya bisa mengerjai gadis berisik ini, batin Zidan. Tanpa disadari, ia tersenyum lebar namun Alena tak melihatnya.


Alena yang fokus menatap jalanan tak menghiraukan senyum manis yang terukir di bibir si King Ice. Hatinya mendadak tak karuan jika berdampingan dengan pemuda di sampingnya itu. Ada sesuatu dari Zidan yang selalu membuat jantungnya berdebar dan Alena tak tahu perasaan apa itu.


Sementara Zidan pun sama saja. Dia tak mudah tersentuh oleh wanita, tapi pemuda tersebut senang sekali mendekat bahkan menggoda gadis yang tengah fokus menyetir itu. Senyumnya selalu mengembang dengan hati yang tenang bila sedang bersama Alena. Pikirannya hanya tertuju pada gadis berisik itu , walaupun mereka sedang berjauhan.


Mobil melesat membelah jalanan ibukota yang padat akan kendaraan. Tujuan utamanya hanya satu, restoran.


Zidan meminta untuk mencari restoran mewah karena ingin mengalihkan perhatian Alena akan senyumnya.

__ADS_1


Padahal, dirinya tak bermasalah jika makan di manapun asalkan itu bersama Alena, gadis berisik yang mengganggu pikirannya.


...Bersambung ......


__ADS_2