Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 12~Gagal


__ADS_3

Hari senin adalah hari pertama di setiap minggu, katanya. Setiap orang lebih sibuk di hari senin. Yang sekolah, yang kerja, bahkan yang pengangguran sekalipun.


Hari senin itu sering di jadikan hari upacara bendera bagi mereka yang berada di sekolah atau pun di kantor.


Tak jauh beda dengan rutinitas di rumahnya si Entong, yang suka menaikan sesuatu ke tiang dan terus di pandangi sambil mendongakkan kepala ke atas.


Depan toko kelontongnya, seorang pria tua terlihat menaikan sangkar burung ke atas dan sesampainya di atas, ia mendongakkan kepala sambil menaruh telapak tangan. Persis seperti sedang menghormat, karena sinar matahari yang menyilaukan, dan ia sedikit bergumam_terlihat seperti sedang bernyanyi lagu kebangsaan.


Seorang wanita muda dengan pakaian seksi dan bergaya genit, menghampiri pria tua yang tengah asyik memandangi burungnya di atas. "Wah, Babeh. Mentang-mentang hari senin, kaya anak sekolahan aja. Di luar panas-panasan sambil hormat ke atas. Lagi ikutan upacara ya, Beh?" goda si janda kembang. "hebat ya, Babeh. Enggak kalah sama anak sekolahan," lanjutnya sambil tersenyum dan mengedipkan mata genitnya.


Babeh Sabeni menoleh sembari tersenyum nakal, "Eh, dek Nia. Iya dong, kan Abang Beni masih mude, masih strong. Kagak boleh kalah ame jiwa muda!"


Nia cekikikan. "Ih, makin seksi aja si Babeh kalo gitu!" ucapnya dengan nada manja.


Babeh Sabeni mendekat sambil berbisik. "Jangan panggil Babeh, dong! Abang aje, ye. Kan, Bang Beni ini masih mude. Liat, nih!" Ia membuka peci kebanggaannya dan memperlihatkan rambut yang beruban.


"Iiihhh ... Abang Beni lucu deh! Rambutnya ini sedikit beruban, jadi makin macho!" Nia berkata dengan meliuk-liukan tubuhnya kecentilan.


Babeh menyanggah. "Mane ade uban? Ini sengaja Abang cat putih, biar kaya anak mude yang laen nye." ucapnya sambil menaik turunkan alis dan mencubit sedikit pipi si janda muda.


Nia makin cekikikan. "Iiiihh ... Bang Ben nakal!" Ia memukul pelan lengan Babeh dengan tersenyum manja.


Saat si tua keladi sedang beraksi, tiba-tiba datang seseorang yang mengejutkan mereka. Dengan suara yang lantang, si Entong menegur Babeh.


"Oh, bagus ye. Di rumah, si Enyak sedang masak makanan kesukaan Babeh, sedangkan di sini Babeh lagi suka-suka ame cewek." tegur Dika lantang membuat Babeh gelagapan.


Seketika Babeh menoleh. "Sssttt, jangan kenceng ngomongnye! Pelanan dikit, nape. Entar Enyak lu denger," Babeh menggeplak Dika dengan kopiahnya sambil berbisik.


Dika mengelus kepalanya. "Salah sendiri, Babeh genit. Kalo Enyak tau, entar Babeh di sleding loh di jalan beraspal sambil koprol!" Dika menakut-nakuti ayahnya.

__ADS_1


Babeh menarik tangan Dika menjauh. "Ya elu nye jangan ngomong, biar Enyak elu kagak tau!" bisik babeh.


Si janda muda itu hanya bisa menggerutu kesal melihat keduanya. "Kok aku dicuekin, sih! Kalian malah pada asik ngobrol berdua," rengek Nia.


Si babeh menoleh ke arah Nia. "Eh Dek, ade urusan dikit ame si Entong. Jadi dicuekin deh! maaf ye!" ucapnya cengengesan.


"Ya udah deh, Bang Ben. Aku kesini mau beli sembako, sekalian mau bayar uang kontrakan. Ini uangnya," Nia menyodorkan lembaran uang merah ke arah si Babeh.


Babeh Sabeni menahan tangan Nia yang menyodorkan uang ke arahnya sambil berkata. "Eh, gak useh Dek Nia! Buat Adek mah gratis aje, gak useh bayar yeh." tolak si Babeh modus sembari memegang tangan Nia dan nyengir memperlihatkan gigi ompongnya dua di samping.


Nia kegirangan mendengar itu. "Aih ... Bang Ben baik bener sih! Jadi makin ganteng, deh!" ucapnya sembari tersenyuman dan yang pasti membuat hati Babeh berbunga-bunga.


Melihat uangnya tak diterima, si Entong langsung bertindak. "Eh, maaf nih Mbak Nia. Uang kontrakan yang megang Enyak. Kalo gak nyampe Enyak, nanti nagih lagi ke Mbak. Biar Dika yang terima aje, yeh. Demi keselamatan bersama. Hehehe." Dika langsung menyambar uang itu sebelum dimasukan kembali ke tas Nia.


Babeh melotot. "Tong, elu jangan bikin malu Babeh dong! Masa uangnya diambil lagi, sih?" bisik Babeh merasa tak enak.


Dika tersenyum penuh kemenangan, Babeh Sabeni cemberut menatap tak enak ke arah Nia bergantian menatap sebal putranya. Sedangkan Nia terlihat cemberut sembari menggerutu dalam hati.




Renita yang berada di kantor, terlihat sangat sibuk. Ia menjadi sekretaris di perusahaan yang Aldrian pimpin.


Bukan karena dirinya adalah sahabat dari Alena, tapi ia masuk ke perusahaan besar itu atas kerja kerasnya.


Saat ini, ia tengah menerima panggilan dari salah satu klien. Dengan ramah, Renita menjawab semua pertanyaan dari klien bosnya tersebut.


Mereka meminta bertemu dengan sang Bos di Cafe sore ini, untuk membicarakan bisnis. Dan Iren pun segera memasuki ruangan bosnya untuk menyampaikan pesan dari klien tadi.

__ADS_1


Tok..tok..tok..


Terdengar suara ketukan dari luar, yang di persilahkan masuk oleh si empunya ruangan.


Terlihat, lelaki tampan dibalik kursi kebesarannya dan di atas meja bertuliskan PRESDIR.


Renita menyampaikan kepada bosnya, persis seperti perkataan yang tadi diucapkan kliennya.


Wajah Aldrian terlihat serius mendengar penuturan Renita, kemudian ia mengangguk setuju. "Baik! Persiapkan semuanya dan kita akan pergi sesuai jadwal," kata Aldrian.


Renita mengangguk, kemudian ia undur diri untuk kembali ke meja kerjanya. Di meja kerjanya, Renita berkirim pesan kepada kekasihnya yaitu Indra. Ia mengatakan tidak bisa bertemu siang ini, sebab dirinya akan pergi menemani bosnya untuk bertemu klien.


Di sebrang sana, Indra yang membaca pesan singkat yang dikirimkan pacarnya tentu merasa kecewa. Padahal, siang ini ia ingin mengajak Renita pergi makan siang bersama di cafe yang sedang hits dikalangan anak muda.


"Maafin aku, Ndra! Serius, aku gak bohong. Siang ini ada klien minta bertemu di luar kantor dan Pak Bos mengajakku pergi. Sebagai sekretarisnya, masa iya aku menolak. Ini kan pekerjaanku, Ndra!" jelas Iren kepada Indra melalui sambungan telpon.


Tadi Indra langsung melakukan panggilan suara setelah membaca pesan dari Renita.


"Yah, gagal dong!" terdengar nada bicara kecewa dari mulut Indra.


Renita mencoba menjelaskan. "Gimana lagi. Ini udah menjadi pekerjaanku,"


Indra terdiam sejenak setelah menghela nafas panjang, kemudian berbicara. "Ya udah, kamu hati-hati!" ucapnya mengalah. Dia segera melanjutkan ucapan lagi. "Umm, karena siang ini aku terlanjur tutup bengkel lebih awal, aku minta izin ke tempat Dika ya. Ada yang harus kami bicarakan,"


"Iya, gak apa-apa! Kamu juga hati-hati di jalan dan jangan ngebut kalo bawa motor!" peringat Iren.


Memang setelah pacaran, Indra dan Renita mengubah panggilan mereka dari lo dan gue menjadi aku dan kamu. Awalnya mereka geli mengucapkannya. Namun, seiring waktu berjalan, keduanya pun menjadi terbiasa. Tapi, mereka mendapat ledekan dari ketiga kawan yang lain yang merasa geli mendengarkannya. Hahaha.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2