Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 24~Menjenguk


__ADS_3

Kondisi Zidan saat ini sudah stabil, setelah Dokter mengeluarkan beberapa peluru dari perutnya. Begitupun dengan Feri yang mendapat luka tusukan di bagian perut serta pinggangnya. Setelah dua hari di rawat intensif, kini keduanya bisa dijenguk.


Kak Aldrian berpikir bahwa orang tua Zidan akan khawatir mengenai putranya. Maka dari itu, ia pun mencari nomor telpon yang bisa dihubungi. Tapi, harus bertanya pada siapa? Aldrian baru mengenal Zidan_itupun karena adiknya.


Dua hari ini. Alena dan Aldrian serta kawan-kawannya bergantian menjaga Zidan dan Feri di rumah sakit. Walaupun keempat kawan Alena keberatan sebab mereka tak mengenal Zidan sebelumnya. Tapi, karena permintaan Alena, maka mau tak mau mereka pun bergiliran menjaga Zidan.


Hanya Alena yang tak mau meninggalkan Zidan sedetikpun, hingga ia meminta kakaknya untuk membawakan pakaian ganti komplit dengan perlengkapan mandinya.


Ketika sedang menunggu Zidan siuman, Alena dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang mereka kenali.


Terlihat Hendri datang dengan raut wajah cemas serta panik. "Lho, kalian di sini?!" tanya Hendri terkejut dengan kehadiran mereka.


Alena, Aldrian, dan kawan-kawan pun sama terkejutnya dengan Hendri. "Kak Hendri sedang apa di sini?"


"Saya kemari karena mendapat kabar bahwa keponakan saya masuk rumah sakit," sahutnya seraya melirik ranjang perawatan.


Semua mata mengikuti arah pandang Hendri yang tertuju ke arah Zidan yang tengah terbaring masih memejamkan mata. "Dia ... keponakanmu?" Hendri hanya mengangguk sebagai jawaban. "Lalu, kenapa kemarin kamu tak mengikuti kami ke rumah sakit?" cerca Aldrian lagi.


Semua penasaran dengan alasan Hendri dan menunggu jawaban darinya. Padahal, kemarin tahu bahwa Aldrian meminta tolong padanya bahwa ada pengeroyokan di jalan yang dilalui mereka dua hari lalu itu.


Tapi, Hendri bahkan tak perduli saat tubuh lemah Zidan digotong mereka ke dalam mobil untuk dilarikan ke rumah sakit.


"Iya, dia keponakan saya. Kemarin itu saya tidak tahu jika yang terluka adalah Zidan, keponakan saya. Saya tidak memperhatikan dengan jelas dan mobil yang dipakainya bukan mobil Zidan," Hendri beralasan dengan menunduk sedih.


"Jadi, Kak Hen ini adalah paman si King Ice?" Alena mengulang pertanyaan tadi, sebelum melanjutkan bertanya. "Lalu, Kakak tahu dari siapa jika si King Ice ada di sini?"


Hendri terlihat gelagapan. Ia tak bisa menjelaskan apapun kepada mereka, sebab yang memberitahunya adalah anak buahnya sendiri, para pembunuh bayaran itu.


"Sebenarnya dari kemarin kami mau menghubungi keluarganya. Tapi, kami tak tahu nomor telpon ataupun alamatnya!" jelas Aldrian yang melihat Hendri hanya beralasan terus.


Entah apa yang disembunyikan orang itu, pikir Aldrian curiga.

__ADS_1


Hendri pun berkata yang sebenarnya, jika Zidan sudah tak memiliki orang tua. Sejak kecil, Zidan dititipkan kepadanya oleh kedua orang tuanya untuk dirawat dan dibesarkan. Kedua orang tua Zidan mengalami kecelakaan ketika melakukan perjalanan bisnis ke luar negri. Sebelum pergi, mereka menitipkan Zidan kepada Hendri.


Ternyata, itu adalah pertanda dari Tuhan, bahwa keduanya tak kan selamat dari kecelakaan pesawat yang ditumpanginya. Pesawat yang mereka tumpangi jatuh ke laut setelah badan samping pesawat mengalami kebakaran.


"Jadi, dia sudah tak punya orang tua?" Hendri hanya mengangguk perlahan. "Kasihan sekali!" semua mata sontak menoleh ke arah ranjang perawatan Zidan.


Setelah cukup lama mengobrol, mereka semua pergi ke ruang perawatan Feri sebab asisten pribadi Zidan itu sudah siuman.


Feri yang tidak mengenal mereka semua pun merasa terkejut atas kehadiran mereka. Namun, dengan cepat Aldrian menjelaskan bahwa mereka lah yang menolong Feri dan Zidan serta membawa keduanya ke rumah sakit.


Pemuda itupun mengucapkan terima kasih kepada Aldrian dan yang lainnya karena telah sudi menolongnya. Ia pun segera bertanya kondisi tuannya yang terakhir kali dilihatnya sedang kesakitan karena beberapa luka tembak.


Alena yang menjelaskan kepada Feri bahwa kondisi Zidan saat ini baik-baik saja. "Tidak perlu khawatir! Dia sudah melewati masa kritisnya. Fokus kepada kesembuhan mu saja,"


Feri mengangguk lemah sembari tersenyum. "Terima kasih atas pertolongannya!"


"Tidak perlu sungkan!"


Setelah dari ruangan Feri, mereka pun kembali ke ruangan Zidan untuk melihat kondisinya. Suster yang menghampiri mereka tadi berkata bahwa Zidan saat ini sudah siuman. Mereka pun masuk untuk melihat kondisi Zidan.


Zidan menoleh sebelum menjawab. "Kamu di sini?" Alena mengangguk sembari tersenyum manis. "Aku baik-baik saja," sahutnya lirih. "Umm, siapa mereka?" tanyanya kemudian.


Alena melirik ke belakang dan memperkenalkan semuanya. "Kenalin, ini kakak gue, dan mereka berempat itu teman-teman gue."


Zidan tersenyum ramah menyapa mereka semua. Namun, senyumnya memudar ketika mendengar suara seseorang dari balik tubuh Aldrian.


"Kamu sudah mendingan 'kan?"


Zidan berubah dingin kembali. "Untuk apa kamu kemari?"


Semua sontak mengerutkan kening mendengar nada ketus Zidan. "Hei, King Ice! Kenapa elu bicara seperti itu? Kak Hendri sedang mengkhawatirkan keadaan lu, tahu!" Alena berkata pada Zidan.

__ADS_1


Hendri tersenyum kecut "Tidak apa-apa, All. Lagipula, saya yang salah karena kurang memperhatikannya!" tuturnya dengan nada sedih.


"Heh! Gak usah berpura-pura baik di depan semua orang! Aku tak butuh perhatian darimu," ketus Zidan lagi.


Alena pun membela Hendri. "Hei, King Ice! Elu gimana sih? Gak sopan banget deh! Dia kan Paman lu," Namun Zidan tak memperdulikan perkataan Alena yang membela Hendri. Wajahnya berpaling menghadap tembok tanpa memperdulikan semua mata yang menatapnya dengan bertanya.


Mereka terdiam, tak tahu harus berkata apa. Mungkin mereka ada masalah, atau ... Ah, yang pasti bukan urusan mereka juga.


Suasana mendadak hening seketika atas jawaban dari Zidan barusan. Hendri pun tak berkata apapun, dan memilih diam tanpa bersuara.


Aldrian berinisiatif untuk keluar dari keadaan canggung ini. Dia mengajak adik dan teman-temannya untuk pulang dengan alasan terlalu lama di sana. Mungkin, orang tua mereka akan mencari.


Zidan menatap ke arah mereka satu persatu dan mengucapkan terima kasih. Wajahnya terlihat ramah kepada mereka, tapi berbeda ketika berhadapan dengan Hendri.


"Ayo, sayang!" ajak Aldrian sembari merangkul bahu adiknya.


Yang diajak malah menatap serius wajah Zidan tanpa mendengar ucapan kakaknya. Ia terus berpikir apa yang menjadikan sikap Zidan kasar terhadap pamannya sendiri. Padahal, menurut Alena, Hendri orang yang baik dan perhatian.


"Dek, ayo!" Aldrian sedikit menarik rangkulan di bahu adiknya itu hingga Alena menoleh.


Alena tersentak kaget. "Ah, iya Kak!" Lalu, ia menoleh kembali kepada Zidan untuk berpamitan. "Cepet sembuh ya," Zidan mengangguk.


Kemudian, mereka berpamitan kepada Hendri. "Duluan ya, Kak!" ucap mereka yang dibalas senyuman ramah Hendri.


Sepeninggalan semuanya. Hendri menghampiri Zidan yang terbaring lemah di ranjangnya. "Heh, ku pikir kamu akan mati setelah mendapat beberapa tembakan. Ternyata, nyawamu banyak juga ya!" cibirnya.


Zidan berdecak kemudian tertawa mengejek. "Ternyata, kamu itu aktor hebat yang bisa berperan ganda!" balasnya.


"Aku memang hebat. Apa kamu mau lihat bagaimana kehebatanku?" Hendri menyombongkan diri.


Zidan menghela nafas sebelum berkata lagi. "Aku tidak perlu melihat apapun darimu, karena aku tahu sifat busukmu dari dalam maupun luar." nada bicaranya penuh penekanan. Zidan bahkan menatap tajam ke arah Hendri yang terlihat mengeram kesal.

__ADS_1


Saat Hendri akan membalas perkataannya, Suster datang untuk memeriksa kondisi Zidan. Hendri pun mengurungkan niatnya dan memilih pergi dengan penuh kekesalan.


...Bersambung ... ...


__ADS_2