
Aldrian mendatangi butik istrinya bersama Renita, untuk menemui sang adik. Dia menceritakan semua tentang Reno dan Agus dari perusahaan yang akan menjalin kontrak dengannya.
Menurut Reno, Agus itu adalah orang jahat yang berniat menipu Aldrian, serta ingin mengambil alih perusahaan yang dipimpin Aldrian.
Mendengar hal itu, membuat Alena lantas geram. Ia bertekad akan membantu kakaknya untuk mengungkap kebenaran tentang mereka.
Antara percaya dan tidak, tapi Aldrian tetap menugaskan Alena untuk mencari bukti kebenaran dari perkataan Reno. karena, jauh di lubuk hatinya, Aldrian merasa simpati dan prihatin dengan kondisi fisik Reno.
Hari ini, Alena dan kawan-kawan ditugaskan kak Aldrian untuk menyelidiki tentang Agus Subagja, Presdir PT Antareksa.
Dengan dibantu kawan-kawannya, Alena pergi mencari bukti kejahatan Agus yang ungkapkan Reno, agar kakaknya tidak tertipu.
"Jadi, kita perlu pergi ke tempat pemasok barang?" Dika dan Indra serempak bertanya.
"Heemh. Kita harus selidiki dulu semua, mulai dari pemasok barang hingga bagian pemasaran." sahut Alena. "Gudangnya berada di daerah S, dekat peternakan sapi. Tapi, di mana ya tempat itu?!" lanjut Alena kebingungan.
"Lah, elu yang ngajakin, elu juga yang nanya! Kita mana tau, Beb!" seru Geri.
Saat mereka sedang bingung memikirkan tempat yang di maksud, tiba-tiba suara seseorang mengejutkan mereka.
"Saya tahu di mana tempat itu," seorang pria dewasa berusia sekitar tiga puluh dua tahun, memakai jaket kulit berwarna hitam dan topi senada, tak lupa kaca mata hitamnya. Lelaki itu berjalan dengan gagah menghampiri mereka. Tampak aura ketampanannya, membuat Alena terpesona.
Dika, Indra, dan Geri menatap serius lelaki tersebut. "Maaf, anda siapa ya?" tanya Dika sembari melirik Alena yang terlihat berbinar.
Pria tersebut menghampiri seraya mengulurkan tangan. "Perkenalkan. Nama saya Kapten Hendri Prakoso. Polisi Intel pusat!"
Mereka serempak berseru. "Oh, seorang polisi intel!"
"Nama saya, Mahardika dan ini teman-teman saya!" ucap Dika memperkenalkan diri sembari menunjuk teman-temannya satu-persatu.
Indra bertanya. "Maaf, kalo boleh tau ada keperluan apa ya kapten kemari?"
Hendri tersenyum ramah. "Saya dimintai tolong oleh Pak Aldrian untuk mengurus sebuah kasus, dan membantu adiknya." sahutnya.
Mereka membulatkan mulutnya sembari saling mengangguk. "Oh, jadi Kapten Hendri akan membantu kami?!" kata Indra.
__ADS_1
Hendri hanya mengangguk sembari tersenyum. Dan senyumannya itu membuat Alena tak berkedip, tanpa memalingkan wajahnya. Gadis itu terlihat sumringah menatap pria tampan tersebut.
"Kamu pasti adiknya Pak Aldrian?!"
"Kok tahu,"
"Karena wajah kamu mirip dengannya," sahut Hendri terkekeh.
Alena ikut terkekeh. "Masa, sih? Padahal, kebanyakan orang bilang jika aku itu tak mirip dengan Kak Al." cetusnya.
Seketika Hendri tersedak mendengar perkataan Alena. Padahal, wajahnya dengan wajah Aldrian sangat mirip, persis dengan ayahnya, Yoga Bramasta.
Hendri berdehem, kemudian tersenyum canggung. Ia pun mengalihkan pembicaraan kembali ke rencana awal. "Jadi intinya, saya akan menjaga dan mengawasi kalian, agar keselamatan kalian juga terjamin,"
Setelah menyetujui perkataan Hendri, mereka berlima pergi menuju ke tempat yang diusulkan Hendri. Menurutnya, ada tempat yang kemungkinan besar dipakai oleh Agus untuk mengelabui pihak kepolisian.
Biasanya, orang-orang licik seperti Agus akan menggunakan gudang bekas pabrik yang sudah terbengkalai dan tak terjamah lagi.
Menurut Hendri juga, gudang bekas pabrik biasanya tak kan diperhatikan banyak orang dan itu pasti akan dilirik pihak-pihak yang licik dan curang seperti Agus.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya mereka pun sampai di tempat tujuan.
Tempat yang sangat jauh dari keramaian, serta sudah hampir ambruk. Gudang bekas pabrik itu nyatanya menyimpan banyak sekali rahasia di dalamnya.
Mereka berlima mengendap seperti pencuri, masuk ke dalam dengan sembunyi-sembunyi agar tak tertangkap oleh para preman yang berjaga di luar gudang.
Dika dan Indra memasang kamera kecil di kancing jaket mereka, menghubungkannya ke ponsel Aldrian. Dengan begitu, Aldrian bisa melihat apa saja yang terjadi di tempat tersebut.
Tak lupa, Geri dan Alena mengambil Vidio kegiatan orang-orang yang berada di tempat itu untuk dijadikan bukti. Sedangkan Hendri terus mengawasi sekitar untuk menjaga keamanan mereka, dengan senjata di tangan. Takutnya tindakan mereka diketahui oleh preman itu dan melaporkannya kepada sang bos. Jika seperti itu maka Hendri bisa langsung menembaknya saat itu juga.
Setelah selesai, mereka pun lekas kembali ke kendaraannya. Sungguh, itu sangat menegangkan sekaligus menyenangkan.
Alena bersorak karena mereka berhasil mendapatkan bukti kejahatan Agus dan melaporkannya pada Aldrian. Ia berharap jika kakaknya itu segera memutuskan kontrak kerja dengan Agus dan membantu Reno untuk mengambil kembali perusahaannya.
Hendri yang berada di depan kemudi, segera menoleh ke belakang. "Oh iya, apa kalian lapar? Gimana kalau kita makan dulu di restoran sebelum pulang?" tanya Hendri.
__ADS_1
"Sebenarnya kita laper, Kak. Tapi, mending pulang aja deh! Kasian Kakak pasti capek," ujar Dika yang berada di jok samping kemudi.
"Tidak! Saya tidak capek, kok! Justru saya senang jika bisa makan bersama kalian. Anggap saja ini perayaan keberhasilan kita," Hendri berkata sembari melirik Alena dari spion tengah.
Yang sedang ditatap tentu tidak sadar jika dirinya menjadi pusat perhatian. Ia hanya melirik ke kiri dan kanannya, bertanya pada Indra dan Geri, serta Dika yang berada di depan. "Gimana gaes? Kalo gue sih terserah kalian aja," cetusnya.
Hendri sangat berharap jika Alena mau menerima tawarannya untuk makan bersama. Padahal, dirinya sangat penasaran kepada gadis cantik yang terlihat cuek itu.
Dika, Indra dan Geri pun mengiyakan saja ajakan Hendri karena tak enak hati. Mereka bertiga hanya mengangguk sebagai jawaban untuk pertanyaan Alena tadi.
Akhirnya, Hendri pun menghentikan mobilnya di parkiran restoran yang cukup mewah di area Ibukota.
Restoran yang mewah dan tentunya dengan harga setiap makanan yang cukup mahal, menjadi tempat makan malam mereka. Hendri tak sungkan memesankan semua jenis hidangan yang terkenal disana, membuat keempat remaja itu tak enak hati.
Makan malam pun telah usai, kini mereka berpamitan pulang ke rumah masing-masing.
"Kak, Hen. Terimakasih atas traktirannya!" ucap mereka serempak.
"Sama-sama! Ya sudah, ayo saya antar kalian pulang ke rumah masing-masing biar aman dan selamat!" Hendri menawarkan.
Mereka menggelengkan kepala dengan cepat sambil melambaikan tangan. "Gak usah, kak! Kita gak mau ngerepotin Kakak lagi. Kita naik taksi aja deh! Lagipula, dari sini kita mau pergi ke suatu tempat. Iya kan, gaes?!"
Hendri terlihat kecewa. "Owh, gitu ya! Emh, ya sudah, hati-hati di jalan!" ucapnya.
Keempat remaja itu pun menghentikan taksi yang lewat untuk mereka tumpangi. Namun, sebelum naik taksi, langkah Alena dihentikan oleh Hendri lagi.
"Alena!" si pemilik nama menoleh. Hendri mendekat sembari berkata," Bisa minta nomor handphone kamu? Umm, saya cuma ingin memastikan jika kamu nanti sudah sampai di rumah. Saya ... hanya khawatir saja!" ucapnya sedikit menjeda.
Sebenarnya, itu hanya akal-akalan Hendri agar mendapat nomor telpon Alena. Tapi Alena tetap memberikan nomor ponselnya kepada Hendri. "Jika ada apa-apa, Kakak bisa hubungi aku lewat nomor ini!"
Hendri tersenyum sumringah mendapatkan nomor ponsel gadis tersebut. Ia mengangguk seraya melambaikan tangan, "Hati-hati di jalan!"
Alena mengangguk sembari tersenyum, membuat hati Hendri berbunga-bunga.
...Bersambung .......
__ADS_1