
Kabar kemurungan Dika pun terdengar di telinga para sahabatnya.
Mereka pun datang untuk menengoknya.
"Hai, Dik! Apa kabar lu? Kata Enyak elu gak mau keluar kamar dan gak mau makan apapun," Renita langsung duduk di ujung ranjang Dika.
"Elu sakit apa sih Tong? Kok sampe berhari-hari gak keluar kamar?" Indra mengikuti pacarnya dan duduk di samping Dika yang berbaring di ranjang.
Dika menoleh dengan malas, kemudian menyandarkan punggungnya di bantalan ranjang. "Gue gak kenapa-napa kok! Enyak aja yang terlalu berlebihan,"
Dari arah pintu Geri berlari, lalu melompat ke ranjang. "Dika, gue kangen elu!" ia memeluk tubuh Dika sembari memonyongkan bibirnya hendak menciumnya.
Dengan segera Dika menyingkir karena geli melihat tingkah Geri. "Apaan sih lu, Wir? Jijik gue,"
"Gue kangen elu, anjir!"
"Tapi gosah kek gini juga, kampret!" Dika terus mengelak.
Indra dan Iren hanya tertawa melihat keduanya seperti Tom&Jerry.
Dari arah pintu datang Alena menenteng buah-buahan serta cake kesukaan Dika. "Hai, Dik! Gimana kabar lu?"
Seketika Dika terdiam melihat Alena berdiri menatapnya, hingga Geri pun dengan mudah mengecup pipi Dika.
"Anjir lu, pipi gue gak perjaka lagi!" Dika memberengus sebal.
"Dikit aje, Tong!" Geri cengengesan.
Dika berdecih sebal dengan mata berputar jengah. Dia mendorong tubuh Geri hingga jatuh terlentang di kasurnya. Setelah itu ia beranjak dari ranjang menuju jendela yang terbuka untuk menghirup udara segar pagi ini. "Gosah khawatir ma gue! Gue kagak bakal mati sebelum liat kalean semua bahagia,"
Semua mata menatap ke arahnya dengan kedua alis menyatu. "Ngomong apa sih lu, Tong?!"
Si Entong pun menoleh, "Gue mo nyari kerja ah!" ia mengalihkan pembicaraan ketika melihat tatapan keempat kawannya.
"Kerja? Kerja apa? Bukannya selama ini elu sibuk terus di toko sembako ma toko material Babeh?!" serempak keempatnya bertanya. "Itu juga termasuk kerja, Tong!" lanjut mereka lagi.
__ADS_1
"Beda," sanggah Dika. "Gue pengen ngasilin duit sendiri dari hasil kerja keras gue," lanjutnya kemudian.
Tiba-tiba Enyak masuk ke kamar anaknya. "Elu mau kerja di mana, Tong? Elu kagak kesian ame Babeh ame Enyak kalau elu kerja di luar sana? Kalau bukan elu ame Romi yang ngurus toko kite, terus sape lagi?!"
Kelima anak muda itu terkesiap atas kehadiran Enyak yang tiba-tiba itu. Mereka saling pandang dengan suasana canggung ini. Memang, itu urusan Dika dan keluarganya. Tapi, setidaknya Alena and the genk bisa kasih solusi terbaik untuknya.
"Enyak masuk kagak ketuk pintu,maen nyelonong aja!" Dika berkata tanpa berpikir.
Plak
Pukulan mendarat di kepala bocah itu karena tangan Enyak melayang di atasnya. "Aduh!"
"Elu ye, ame Enyak sendiri ngomongnya begitu! Enyak masuk gegara pintunya kebuka. Emang salah?!" Enyak berkacak pinggang.
"Kagak, Nyak!"
"Ya udeh, Enyak mau denger ucapan lu tadi. Beneran elu mau kerja di luar? Kagak bakal bantuin Enyak ame Babeh lagi?" ketusnya.
Dika gelagapan dengan pertanyaan ibunya, kemudian ia mengalihkan pembicaraan. "Udeh lah, Nyak. Sono keluar gih! Dika mau ngobrol ame temen-temen,"
"Elu ngusir Enyak, Tong?" Enyak berkata dengan mode garang, melupakan pertanyaan tadi.
"Hemh, bilang aje kalau elu kagak mau Enyak ikutan nimbrung!" Enyak keluar dari kamar anaknya.
Dika cengengesan. "Itu maksud Dika, Nyak." gumamnya lirih, kemudian berteriak. "Tutup pintunya, Nyak." teriakan Dika mengundang ibunya untuk berbalik dengan sinis. Buru-buru ia berkata agar ibunya tak marah. "Terima kasih! Hehehe,"
"Huuh," cibir ibunya seraya menutup pintu.
Setelah kepergian ibunya Dika, and the genk berkumpul membentuk lingkaran. "Sebenarnya elu kenapa sih, Dik? Tumben bener elu mau kerja di luar?"
"Iya. Ada apa sih?"
"Jujur deh ama kita!"
Dika menatap satu persatu wajah sahabatnya, kemudian menghela nafas panjang sebelum bercerita. Ia pun menceritakan semua kejadian yang menimpanya waktu itu tanpa ada yang ditutupi.
__ADS_1
"Jadi waktu malam itu, elu ke rumah gue dan elu liat kalo di sana ada Kak Hendri?" tanya Alena dan Dika mengangguk. Sejenak ia berpikir, kemudian ia bertanya lagi untuk memastikan. "Elu ke sana pas Kak Hendri ..."
"Iya. Gue udah tahu semuanya, kok!" sahutnya datar. Tiga pasang mata menatap ke arah keduanya dengan pertanyaan yang siap dilontarkan.
"Bentar. Ini maksudnya apa? Kita gak ngerti deh!" kata Indra.
"Hooh. Gue gak paham maksud kalian ngomongin Kak Hendri. Emang apa urusannya ama dia?" Geri ikut penasaran.
"Gak ada apa-apa!" sahut Dika dan Alena serempak.
"Tapi ..."
"Udah ah, gue mau ke butik Kak Aisyah. Rancangan gue mau dipajang besok di Mall. Gue duluan ya," Alen segera berpamitan untuk menghindari pertanyaan dari ketiga sahabatnya. Dia merasa tak harus menjelaskan apapun tentang Hendri dan tetap membuat Dika salah paham.
"Lah, dia pergi. All, elu kagak mau bantuin Dika buat nyari ganti duit kontrakan ama material?" Geri menghentikan langkahnya.
Alena menoleh sekilas, kemudian berlalu. "Gue udah punya ide. Nanti gue hubungi lagi kalian ya," sahutnya seraya melanjutkan langkah. "Demi kesejahteraan bersama, gue lebih baik menghindari dulu mereka. Takutnya mereka nanya soal Kak Hendri," batin Alena.
Keempatnya menatap kepergian Alena dari kamar Dika dengan tatapan penasaran. Ada apa dengannya? Kenapa dia bertingkah aneh? Jangan-jangan Alena ...
Tapi, mereka lekas menepis pikiran buruk tentang sahabatnya itu. Keempatnya pun melanjutkan obrolan ringan agar suasana tak tegang. Apalagi Dika yang baru saja kena musibah.
Sebisa mungkin ketiganya harus bisa menghibur serta membujuk Dika agar tak merasa sedih serta tak berpikir untuk mencari pekerjaan di luar sana. Mereka kasihan kepada kedua orang tua Dika yang harus sibuk mengurus toko-tokonya, jika ditinggalkan Dika kerja.
"Makasih ya, gaes. Kalian tetep kasih dukungan ama gue, walopun keadaan gue lagi kek gini." tutur Dika.
"Justru keadaan lo lagi kek gini harus kita bantu, Dik. Kita gak mau sahabat kita sedih sendirian. Kita kan satu genk," ucap Geri.
"Bener, Dik. Lu tuh gak boleh merasa sungkan ama kita. Elu juga pan suka bantuin kita yang kesusahan, masa kita kagak bantuin lu sih?!" timpal Indra.
"Gue bersyukur punya elu semua. Thanks ya," Keempatnya pun berpelukan.
•>
Di tempat lain.
__ADS_1
"Sial. Dia ternyata susah untuk di luluhkan. Aku harus mencari cara agar dia mau jadi istriku. Kalau tidak? Nanti Zidan pasti merebut perhatiannya dariku. Alena terlihat dekat dengan bocah sialan itu. Tidak menutup kemungkinan jika mereka akan bersatu suatu saat nanti," tukasnya dengan tangan terkepal.
...Bersambung ......