
Sore itu, Aldrian bersama Aisyah datang ke rumah orang tuanya. Tak lupa mereka membawa si kecil Reihan untuk bertemu dengan Opa dan Omanya.
Sesampainya di sana, mereka segera berkumpul dan bersenda-gurau di ruang keluarga. Tapi, Reihan memilih bermain di halaman depan dengan Alena.
Bocah itu sedang asyik bermain lempar bola bersama tante cantiknya. Ketika akan mengambil bola yang terlempar ke pagar, Reihan mundur beberapa langkah karena terkejut.
Reihan berteriak kepada Alena dan memanggilnya untuk segera menghampiri. "Aunty Alle, sini deh!" panggil Reihan dengan melambaikan tangan.
Alena yang melihat wajah tegang keponakannya segera berlari menghampiri. "Ada apa, sayang?" tanya Alena lembut.
"Aunty. Di sana ada Kakak kecil yang duduk kesakitan. Kepalanya berdarah," ucapnya dengan suara cadel seraya menunjuk ke sebrang rumah. "Kasihan deh!" lanjutnya lagi.
Alena mengernyitkan kening menatap keponakannya. "Dia habis jatuh kali, Rei." tebak Alena. "Ayo, kita samperin dia! Siapa tahu dia butuh bantuan kita," ajak Alena kepada keponakannya.
Setelah keluar dari gerbang, Alena celingukan mencari keberadaan anak kecil yang dibilang Reihan itu. Ia pun bertanya pada Reihan dan keponakannya itupun langsung menunjukan posisi anak kecil yang tengah duduk di bawah pohon tak jauh dari rumahnya. Mereka pun lekas menghampiri.
Namun saat mendekat, Alena dibuat terkejut dengan keadaan anak kecil berjenis kelamin perempuan itu. Kondisinya sangat memprihatikan dengan berbagai luka di sekujur tubuhnya.
"Dek, kamu kenapa?" tanya Alena dengan khawatir. Melihat kondisi anak itu, hati Alena sungguh sakit.
Anak itu berbalik dan menatap Alena serta Rei dengan tatapan datarnya. Darah segar yang menetes dari kepala, serta tangan dan kaki yang terluka parah. Gadis kecil itu berjalan terpincang ke arah Alena sambil mengulurkan tangannya yang terluka.
"Tolong aku, kak!" ucapnya dengan suara bergetar membuat Reihan ketakutan sampai mundur ke belakang.
"Aunty, Rei takut!" Reihan bersembunyi di balik tubuh tantenya.
Melihat keponakannya ketakutan, Alena mengelus kepalanya dengan lembut. "Jangan takut, Rei. Enggak apa-apa, kok!" tatapannya beralih kembali kepada anak di hadapannya. "Kamu kenapa, Dek? Apa yang terjadi sama kamu sampai seperti ini?" tanya Alena lagi.
__ADS_1
Namun bukannya menjawab, anak itu malah semakin terisak. "Hiks ... Hiks!"
Alena menjadi kebingungan karena anak itu tak menjawab pertanyaannya. "Gimana ini, Rei? Aunty jadi bingung," Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Alena memikirkan cara supaya anak itu membuka suaranya. "Ya sudah. Kalau kamu gak mau bicara, kita pulang saja. Yuk, Rei!" berbalik badan meraih tangan Rei, kemudian melangkah pergi.
Ternyata, rencananya berhasil. Anak itu segera menghentikan langkah Alena dan Reihan. "Tunggu!" keduanya berhenti tak melanjutkan langkahnya lagi.
Sebelum menjawab, anak itu menangis lagi dengan terisak. "Hiks. Aku ingin pulang ke rumah, Kak! Aku kangen sama ibu," ujarnya dengan tatapan menyedihkan.
Alena mengerutkan keningnya. "Ingin pulang? Kemana? Bukankah kamu tinggal di sekitaran sini?" Anak itu menggeleng cepat. Alena kembali menghela nafas, kemudian mengajak gadis kecil itu ke rumahnya. "Sebaiknya kamu ikut Kakak ke rumah untuk mengobati lukamu itu. Jika dibiarkan terus takutnya infeksi," Anak itu mengangguk walaupun terlihat ragu.
Dengan segera Alena memapah tubuh mungil tersebut ke arah rumahnya.
Melihat Alena membawa seorang anak yang terluka, seketika keluarganya terkejut seraya bertanya. Namun, Alena belum menjawab pertanyaan penasaran dari keluarganya.
Kak Aldrian menelpon Dokter pribadinya untuk datang ke rumah. Tak lama kemudian, Dokter David datang dengan tergesa-gesa karena nada bicara Aldrian yang membuatnya cemas. Dokter muda itu takut terjadi sesuatu dengan salah satu keluarga Bramasta.
Mungkin dia mengalami trauma, pikir semuanya.
"Nak. Sebenarnya, kamu itu siapa dan dari mana? Kakak belum pernah melihat kamu di area perumahan ini sebelumnya," kata Aldrian lembut.
Sekilas ia menunduk sedih, kemudian anak itu menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjang sebelum bercerita. "Namaku Alya. Aku diculik oleh ayah tiri ku, dan dibawa ke kota ini. Ibuku tak tahu jika aku ada di kota ini," tuturnya sedih.
"Lalu, kenapa kondisimu seperti ini? Siapa yang melakukannya padamu? Apa ini ulah Ayah tiri kamu?" Aldrian bertanya lagi.
"Jangan takut, Nak! Kami akan melindungi kamu dari ayah tiri kamu itu," tutur Tuan Yoga menenangkan.
__ADS_1
Alya menundukkan kepala, kemudian mengangguk ragu. Ia menceritakan semua kejadian yang dialaminya selama ini. Dimulai dari penyiksaan kecil hingga penyiksaan berat.
Alya yang malang itu disuruh mengemis di lampu merah untuk mendapatkan uang, yang hasilnya langsung diterima oleh ayah tirinya itu. Jika gadis kecil itu tak membawa uang, maka ayah tirinya pun memukul tubuh Alya dengan sangat kejam.
Seperti pada kejadian hari ini. Saat Alya pulang tak membawa uang, ia disiksa oleh ayahnya dengan dipukul menggunakan tongkat kayu. Tubuhnya ditendang begitu keras hingga terbentur meja, serta kepalanya dilempar botol bekas minuman keras hingga robek dan mengeluarkan darah.
Alya dikurung di gudang dan tak diberikan makan. Setelah mengurung Alya, pria jahat itu pergi bersama teman-temannya untuk bermabuk-mabukan. Melihat keadaan sepi, Alya pun kabur dan bersembunyi di area perumahan ini sampai bertemu Alena.
"Rasanya sangat sakit, Kak." lirih Alya sembari menangis tersedu.
Mendengar ceritanya, semua orang bersimpati kepada gadis malang tersebut. Mereka mengutuk perbuatan jahat ayah tirinya itu dan memastikan jika pria itu akan masuk penjara.
"Kakak berjanji akan melindungi kamu dan memasukan ayah tiri kamu itu ke dalam penjara. Dia harus mempertanggung jawabkan semua perbuatan buruknya terhadapmu," Aldrian berkata.
"Bagaimana kalau pria jahat itu kabur?" Alya bertanya.
"Tidak akan. Polisi akan mengurusnya dan Om akan menyewa Jaksa penuntut agar dia mendekam di penjara," ujar Tuan Yoga.
"Kamu bisa tinggal di sini atau di rumah Kakak agar aman. Kami semua akan merawat kamu dengan baik," timpal Aldrian.
"Tapi, aku ingin pulang ke rumah Ibu, Kak. Aku rindu dengan keluargaku di kampung," ujar Alya sedih.
Semua orang saling pandang, kemudian mengangguk. " Baiklah! Kami akan mengantarkan kamu kembali kepada ibumu,"
Alya tersenyum senang mendengar perkataan lembut keluarga Alena. Ia tahu jika keluarga ini benar-benar orang baik. "Terima kasih karena Om dan keluarga sangat baik kepadaku. Aku tidak tahu harus membalasnya dengan apa,"
"Tidak usah sungkan begitu. Itu sudah menjadi tugas kita sebagai sesama untuk saling tolong-menolong. Kami juga tak tega jika melihat anak sepertimu disiksa sedemikian sadisnya oleh seorang ayah tiri,"
__ADS_1
Sekali lagi, Alya berterima kasih seraya menyunggingkan senyum manisnya. Dia bersyukur dalam hati karena bertemu dengan orang-orang baik seperti mereka. Walaupun tubuhnya merasa kesakitan, tapi setidaknya nyawa Alya saat ini sudah cukup aman dengan berada di rumah Alena.
...Bersambung ......