
Renita pulang ke rumah kostnya tanpa diantarkan oleh Indra, karena sang kekasih sedang sibuk di bengkel.
Semenjak Geri sakit, Indra menjadi lebih sibuk tiga kali lipat. Biasanya semua pekerjaan selalu diselesaikan dengan mudah oleh Geri. Namun kini, ia harus mengerjakannya sendirian.
Sore itu tepat jam lima, Iren melangkahkan kakinya ke atas lantai dua menuju kamar kostnya. Dengan santainya, Iren melenggang menuju kamarnya yang berada di ujung lorong lantai dua.
Dari kejauhan, Iren melihat kedua pemilik kost nya itu tengah berbincang di luar dekat tangga.
"Eh, si Neng udah pulang!" sapa ibu pemilik kost saat melihat Iren melewati mereka.
Renita mengangguk sembari tersenyum ramah. "Iya, Bu. Umm, Ibu dan Bapak sedang apa?"
"Ini, kami sedang beres-beresin kamar yang kosong. Besok mau ada yang nempatin," tutur si ibu kost. Sedangkan si suami hanya menatap ke arah Iren dengan tatapan nakalnya.
Iren bergidik takut melihat tatapan nakal suami ibu kost itu. Ia pun melangkah dan ingin berpamitan untuk segera ke kamarnya. Namun, si ibu kost membuat Iren berbalik lagi. "Enggak diantar pacarnya?" tanya si ibu kost.
"Ah, dia lagi sibuk, Bu. Banyak kerjaan di bengkelnya. Lagi pula, ini kan masih siang. Jadi, aku pulang sendiri saja!" sahut Iren.
Penjelasan Iren membuat si bapak itu senang dalam hati. Pria tua itu memikirkan suatu rencana untuk ia kerjakan setelah sepi.
"Oh, lagi sibuk ya? Berarti, dia gak bakal kesini dong!" si bapak kegirangan, namun ia sembunyikan dalam hati.
"Mungkin begitu, Pak. Ya sudah, Pak, Bu, aku permisi pamit masuk kamar dulu!" Iren mengucapkan dengan ramah.
"Silahkan!" ucap keduanya serempak.
Lirikan mata si bapak itu tak lepas dari tubuh Iren, apalagi melihat bokong dan kaki jenjang Iren karena ia memakai rok span selutut, membuat gejolak hasrat si pria mesum itu membara.
Iren yang merasa risih di tatap terus menerus oleh pria tua itu pun menjadi semakin mempercepat langkah kakinya.
Ditutupnya pintu kamar rapat-rapat dan dikunci segera agar tak ada yang masuk ke dalam kamarnya.
Setelah memastikan semua aman, ia pun segera melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri agar kembali segar.
Usai mandi, Iren merebahkan tubuhnya untuk mengistirahatkan otot-otot yang tegang, dan tak lama kemudian ia pun menutup mata menuju alam mimpi.
Malam pun tiba, Iren terbangun karena perutnya keroncongan. Diliriknya jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia pun keluar kamar setelah membasuh wajahnya.
Iren bermaksud turun ke bawah dan membeli makanan di sebrang jalan, karena di sana masih banyak yang berjualan makanan.
__ADS_1
Perut yang keroncongan membuat Iren semakin bersemangat untuk ke bawah dan membeli sesuatu yang bisa dimakannya.
"Kayaknya, nasi goreng enak nih!" dengan bersemangat, Iren melangkah ke bawah menuruni satu persatu anak tangga.
Tanpa Iren ketahui, di balik sebuah jendela kamar yang menghadap ke luar, sepasang mata memperhatikan gerak-geriknya sambil tersenyum.
"Cantik dan seksi!" gumam si mesum ketika melihat Iren yang menggunakan daster.
Matanya semakin lebar saat melihat Iren jongkok karena membetulkan sendalnya yang lepas.
Ia terus memperhatikannya dari kejauhan, sampai Iren kembali dari sebrang jalan setelah membeli nasi goreng.
Pria itu buru-buru turun ke bawah saat melihat Iren memasuki gerbang rumah kostnya.
"Malem, Neng! Habis dari mana?" Ia menyapa Iren yang sedang menenteng bungkusan nasi goreng.
Tatapan nakal itu ia tunjukkan pada Iren karena sekarang tak ada siapapun yang melihatnya.
"A-aku habis beli nasi goreng, Pak!" sahut Iren mulai ketakutan.
Pria tua itu mendekati Iren dengan mengulurkan tangannya_berharap bisa meraihnya tangan mulus itu. "Kenapa gugup begitu?.Bapak cuma nanya saja, kok!"
"Maaf, aku permisi!" Iren buru-buru melangkah pergi dan menaiki tangga.
Iren meronta dan berteriak minta tolong, tapi sepertinya tak ada yang mendengar.
"Lepaskan aku! Lepaskan," Ia terus memukul lengan si pria itu dengan nasi bungkus yang di bawanya membuat semuanya tumpah berceceran di tanah.
"Ayo lah, manis! Aku akan memberikanmu kenikmatan yang tak pernah pacarmu berikan," si tua mesum terus menyeret Iren ke dalam sebuah kamar kost kosong yang berada di lantai paling bawah serta paling ujung.
Si mesum segera mengangkat tubuh Iren karena Iren terus berpegangan ke sebuah tiang.
"Tidak! Ku mohon, lepaskan aku!" Iren terus meronta ingin membebaskan diri dan memukul punggung si mesum sambil menangis.
Tanpa menghiraukan rengekan atau pukulan Renita, si mesum tertawa kegirangan. "Aku semakin bersemangat dengan gadis galak sepertimu ini. Hahaha...!"
Di lemparnya tubuh Iren ke dalam kamar kosong dan ia pun langsung menguncinya, hingga membuat Iren semakin takut dan menangis dengan kencang.
Renita menangis sambil terus berteriak memohon untuk dilepaskan. "Tolong jangan lakukan apapun padaku. Aku mohon, Pak!"
__ADS_1
"Berteriak lah sesuka hatimu, gadis cantik. Tak kan ada yang datang kemari, karena tempat ini jauh dari keramaian." tuturnya membuat Iren semakin ketakutan.
"Huhu ... Indra, tolong aku!" Iren menangis sambil memanggil nama sang kekasih.
Si tua mesum tertawa mengejek. "Panggil lah pacarmu itu, kalau suaramu sampai padanya." cibir pria itu yang terus maju untuk mendekati Iren.
"Tiidaaaaak!" Iren berteriak karena bajunya di robek paksa oleh si tua mesum.
"Hahaha ... Berteriak lah sekencang mungkin, gadis cantik. Suara teriakan mu itu bagaikan nyanyian penghantar tidur." Ia terus menarik baju Iren sambil tertawa.
"Jangan, kumohon! Huhuhuuuu." tangisan Iren tak di hiraukan pria mesum itu.
Ia semakin gencar merobek baju Iren sampai terlihat tubuh bagian dadanya.
"Aaaaaaaaaaa ... Jangan!" jeritan Iren melengking saat tangan kotor itu menyentuh paha mulusnya.
•
•
•
Di bengkel, Indra sangat gelisah. Ia cuma bertemu kekasihnya itu saat pagi hari saja, dan itupun hanya mengantarnya ke kantor. Siang sampai sore, bahkan malam, jangankan bertemu, sekedar menelpon saja ia tak bisa sebab pekerjaan di bengkel yang sangat banyak.
Para pelanggan meminta Indra untuk segera memodifikasi mobil mereka dengan cepat dengan alasan ingin memakainya.
Indra pun terpaksa mengiyakan permintaan mereka karena pembayaran di muka yang dilakukan mereka kemaren.
Mau tak mau, ia pun mengerjakannya secara lembur.
Namun, hati dan pikirannya tak tenang karena kepikiran terus dengan kekasihnya.
"Ada apa dengan hati gue? Kenapa perasaan gue gak enak gini?" gumamnya lirih. Dadanya terasa deg-degan seperti mau ngambil hasil kelulusan.
Karena hatinya yang tak tenang, Indra pun bergegas mengambil kunci motor dan menyambar jaket kulitnya.
Tapi, para karyawannya menghentikan langkah Indra karena sebentar lagi pelanggan akan mengambil motor yang sedang di modifikasinya. "Haish," Indra pun tak jadi pergi dan mengurungkan niatnya, kemudian melanjutkan pekerjaan.
Sebelum mulai bekerja lagi, ia pun menghubungi nomor ponsel Renita untuk memastikan jika kekasihnya itu baik-baik saja. Namun, setelah berulang kali mencoba, Renita tetap tak mengangkat panggilannya.
__ADS_1
"Ya Allah. Apa yang sebenarnya terjadi?Kenapa gue sangat gelisah," Indra terus memegang dadanya yang terasa sesak dan hanya mondar-mandir di bengkel.
...Bersambung ......