
Alena mengikuti langkah si pria tampan penyelamatnya itu yang bernama Zidan Prasetyo. Dia terus mengikutinya sampai keluar hutan, dengan ocehan yang tak jelas membuat si pemuda terganggu.
Mulut terus berbicara, namun langkah kaki tak diperhatikan hingga Alena pun terjatuh karena tersandung batu.
Deblug
"Aduh!" ringisan kecil keluar dari mulut Alena ketika bokongnya menyentuh tanah. Ia mencoba berdiri namun tak bisa, karena kaki dan pinggangnya terkilir hingga membuatnya tak bisa berdiri."Sialan, sakit banget!" gerutu Alena sambil memegang bagian yang sakit.
Zidan menghentikan langkahnya, dan ia berbicara tanpa menoleh. "Makanya fungsi mata dipake yang bener buat lihatin jalan, bukan pecicilan gak jelas!" ketusnya dingin.
Alena yang tak terima dengan ucapan lelaki di depannya pun protes. "Memang mata yang dipake buat liat, tapi kan kaki yang dipake buat jalan. Kaki gue juga sakit gegara berlarian dari tadi. Makanya ...!" lanjutnya kemudian, namun disela Zidan.
"Aku gak perduli! Bukan urusanku," ucapnya dengan mengedikan kedua bahu cuek.
Alena melotot. "Memang bukan urusan lu! Gue lari sebab ingin selamat dari mereka. Menurut lu, gue harus nyerahin diri sama penjahat itu!" Ia membentak si tampan dengan nada tinggi.
Penjelasan Alena hanya ditanggapi malas oleh pemuda tampan tersebut. Ia memutar bola matanya jengah sembari memasukan kedua tangannya ke dalam kantong celana jeans.
"Hish, elu itu pria yang kejam! Gue ngelakuin itu semua karena gue ingin selamat. Lagi pula, ngapain elu nolongin gue kalau ternyata lu gak mau denger penjelasan gue." Alena kesal sekali dengan pemuda tampan namun dingin tersebut.
Zidan cuma mendengarkan dan bersidakep di depan Alena sebelum ia berbicara dan melangkah pergi. "Kalau begitu nikmati saja penderitaan mu sendiri, gadis berisik! Aku mau pergi,"
Alena menggerutu dalam hati. Ia kesal sebab pemuda tampan itu sangatlah dingin sekaligus menyebalkan. Tanpa sadar, ia melempar sebelah sepatunya ke arah Zidan, membuat dia terhenti.
Tatapan tajam terlihat jelas menakutkan. Alena sampai terkejut seketika, kemudian cengengesan untuk menghilangkan rasa tegang. "Ah, hahaha. Gue gak sengaja. Sorry ya! Tadi gue mau lempar ... tikus, ya tikus. Hehehe. Sorry ya!" ucapnya berbohong karena melihat ekspresi menyeramkan tersebut.
Zidan pun berbalik lagi dan melangkahkan kakinya tanpa memperdulikan Alena.
"Hei ... hei, King ice! Eh, Kakak, Mas, Abang woi. Jangan tinggalin gue!" seru Alena berteriak memanggil pemuda tampan itu.
"Bang ... Woi, Bang!" teriak Alena terus.
Si tampan menoleh dengan mengeram kesal. "Berhenti panggil aku, Abang! Aku bukan Abang somay, atau Abang bakso." ketusnya.
"Lagian, dipanggil gak nengok-nengok!" sahut Alena dengan menundukkan kepalanya takut.
Helaan nafas pendek keluar dari mulutnya. "Bisa 'kan kamu minta tolong!" kata Zidan.
__ADS_1
Alena mendongakkan kepala kemudian mengangguk."Tolong!" ucapnya memelas.
Melihat tingkah Alena yang manja seperti itu, membuat hati Zidan menjadi luluh. Dia mendesis kemudian berbalik menghampiri Alena yang masih terduduk di tanah. Pemuda itu lalu berjongkok di depan Alena. "Naik lah!" titahnya singkat.
Alena kebingungan untuk berdiri, karena kaki dan pinggangnya yang sakit. "Aduh, gimana naiknya?" bertanya kebingungan.
Si tampan kembali mengeram kesal. Dia menarik tangan Alena perlahan, lalu meletakan tangan gadis itu di pundaknya sebelum ia berdiri. "Huh, bisanya nyusahin doang!" gerutunya.
Alena tersenyum sembari berusaha berdiri dan melingkarkan tangan di leher pemuda tersebut. Tapi, ia ingat jika sepatunya sebelah kanan dilemparkan hingga ia pun meminta untuk diambilkan.
Zidan kesal karena Alena meminta dirinya mengambilkan sepatu yang dilemparkan tadi, sekaligus menyuruhnya untuk memakaikan di kakinya. Tentu saja permintaan Alena mengundang rasa kesal Zidan.
Pemuda itu terdiam, tak bergerak sedikitpun dari tempatnya dan hanya memberikan tatapan tajam ke arah Alena.
"Oke ... oke, gue pake sendiri!" ucap Alena mengalah dari pada di tinggal sendiri di hutan.
Zidan tersenyum sedikit nyaris tak terlihat, melihat tingkah Alena yang menurutnya lucu.
Setelah melihat Alena selesai memakai sepatunya, Zidan pun berjongkok kembali dan mengulurkan tangannya ke belakang untuk menyambut tangan Alena. Dengan perlahan ia berdiri dan melangkahkan kakinya.
Sungguh nyaman rasanya berada di gendongan Zidan yang memiliki punggung lebar. Alena sampai menyandarkan kepala saking nyamannya.
Lama keduanya menunggu di pinggir jalan, sampai tak terasa waktu sudah menunjukan waktu senja. Tak ada tanda-tanda kendaraan yang akan melintas, membuat Alena kesal.
Gadis itu terus mengoceh, namun Zidan tetap diam tak menanggapi.
Tak lama kemudian, sebuah truk pengangkut hewan ternak melintasi jalur tersebut. Zidan segera menghentikan truk tersebut untuk meminta tumpangan kepada sang supir.
Zidan pun memberikan sejumlah uang sebagai bayaran tumpangan mereka.
"Ayo, naik!" kata Zidan setelah membukakan pintu depan.
Alena yang melihat dua orang pengemudi truk itu pun bergidik ngeri. Mereka terlihat menyeramkan dengan mata jelalatan. Jika harus duduk di depan dengan mereka, dia takut nanti dilecehkan.
"Elu sendiri dimana?" tanya Alena kepada Zidan.
"Aku di belakang," sahutnya singkat. "Sudah cepet naik, keburu malam!" lanjut Zidan kemudian.
__ADS_1
Alena menggelengkan kepala. "Engak, ah! Gue sama lu aja," kata Alena ragu.
"Dibelakang ada kambing sama sapi, Neng. Emang mau duduk di sana?" tanya salah satu pengemudi truk itu. "Mending di sini saja sama kami, Neng!" lanjutnya kemudian.
"Mending gue sama kambing dari pada sama elu. Dasar mata keranjang," batin Alena.
Tanpa menoleh kepada kedua pengemudi itu, Alena berkata pada Zidan. "Gue sama elu aja ya, please!" ucapnya memohon.
Zidan kebingungan. Apa harus mengajaknya duduk di belakang dengan hewan ternak, atau harus meninggalkan Alena duduk dengan lelaki tua yang matanya jelalatan.
Dia pun berpikir sejenak sebelum berbicara.
"Baiklah, Bang! Aku dan dia akan duduk bersama kalian di depan," ucapnya.
"Hei, Nak! Bagaimana caranya kalian berdua duduk disini? Sedangkan tempatnya hanya muat satu orang lagi," kata si pengemudi.
Zidane berkata dengan tegas. "Aku bisa duduk dan memangku nya di sini," cetusnya membuat Alena menoleh ke arahnya dengan mata melotot, begitu juga dengan kedua pengemudi itu.
Zidane tahu jika perkataannya membuat Alena marah dan siap protes. Namun, sebelum gadis berisik itu berkata, Zidane segera menyela. "Aku tak akan meninggalkan istriku sendiri bersama kalian," ucapnya yang sengaja menekankan kata istri membuat Alena dan kedua pria itu bungkam.
Alena tak dapat berkata lagi, dan hanya bisa menatap Zidan dengan tatapan yang sulit diartikan. Mereka pun duduk di depan dengan Alena yang duduk di pangkuan Zidan.
Perjalanan yang memakan waktu berjam-jam, membuat mereka lelah dan Alena yang tak nyaman duduk di atas pangkuan Zidan. Ia terus bergerak dan tak mau diam, membuat Zidan kesal.
Perlahan, Zidane memajukan wajah mengarahkan bibirnya tepat di telinga Alena. "Jangan bergerak terus, gadis bodoh! Kamu membangunkan dia yang tertidur," berbisik lirih.
Alena tak mengerti akan ucapan Zidan. "Siapa?"
"Dia yang berada tepat di bawah bokong mu," sahut Zidan masih berbisik lirih, diikuti tatapan Alena ke bawah.
"Ya ampun!" Alena terlonjak dan langsung diam tak bergerak lagi.
Zidan terkekeh. "Bagus! Lebih baik seperti itu," cetusnya.
Akhirnya, Alena duduk dengan anteng di pangkuan Zidan. Karena lelah, Alena tertidur dengan menyandarkan kepala di dada bidang si King Ice.
Tanpa sadar, Zidan menyunggingkan senyumnya sembari terkekeh. "Dasar, gadis bodoh!"
__ADS_1
...Bersambung ......