
Alena sampai di mension Zidan tepat pukul lima sore. Sesampainya di sana, rumah mewah itu terlihat sepi membuat Alena berpikir ragu untuk masuk ke dalam.
Ditatapnya gerbang tinggi itu dengan tatapan dongkol. Ia kesal sebab keadaan di rumah Zidan pun ternyata sepi seperti tak berpenghuni. "Ke mana para penjaga?" gumamnya seraya memperhatikan sekitaran.
Ting ... Nong
Bel di depan gerbang menjadi sasaran kekesalan Alena karena tak ada satupun para penjaga yang biasa berjejer di pos jaga.
Karena kesal menunggu, jiwa tomboinya pun keluar. Alena melompat menaiki pagar besi yang tingginya menjulang tersebut. Ia merayap di tembok, kemudian melompat ke dahan pohon mangga dekat benteng.
Alena tersenyum penuh kemenangan setelah menaklukan ketinggian benteng mension Zidan.
Hahaha.
Gadis itu celingukan seperti maling, mengendap dengan senyap saat memasuki halaman rumah mewah Zidan. Dia sampai cekikikan sendiri menyadari tingkah lakunya yang barbar tanpa ada kesopanan sedikitpun.
Hadeuh.
Wajahnya mendongak ke lantai dua, dan menemukan pintu balkon salah satu kamar terbuka. Ide gila pun terlintas dipikirannya.
"Manjat lagi ah!" Alena cekikikan kembali memikirkan jika ada yang melihatnya memanjat ke atas sana. Mungkin orang berkata dia adalah maling yang berusaha membobol rumah orang.
Haish, sudahlah!
Tangannya mulai meraih apapun yang bisa dijadikan pegangan kuat olehnya. Kakinya berpijak di sela-sela tembok dan pilar rumah agar bisa naik ke atas. Setelah hampir sampai, tangannya menggapai teralis besi pagar balkon dan ia pun selamat sampai lantai dua.
Astaga!
Setelah sampai di atas, Alena pun melangkah masuk ke dalam kamar dan melihat sekeliling ruangan yang ternyata adalah kamar Zidan.
"Wah, kamar si King Ice!" gumamnya sembari menilik satu persatu pajangan di ruangan tersebut.
Tak ada foto dirinya ataupun foto keluarga_yang ada hanya gambar lukisan pemandangan serta benda-benda unik koleksinya.
Alena kembali melangkah menuju pintu hendak keluar kamar. Namun, suara gemericik air terdengar dari kamar mandi. Dia yakin jika di sana ada orang tengah mandi.
__ADS_1
"Owh, dia sedang mandi." gumam Alena berbalik badan kembali dan melanjut langkah menuju pintu.
Belum sempat tangannya meraih handle pintu, Zidan sudah membuka pintu kamar mandi terlebih dahulu, membuat Alena tersentak hingga berbalik menghadapnya.
"Kamu? Sedang apa kamu di sini?!" Zidan menatap Alena dengan tajam. Bahkan, tatapannya bisa membunuh burung yang sedang terbang melewatinya.
Alena cengengesan sembari mundur. "Ah, hehehe. Gue ... gue ...!" Ia tak bisa berkata apapun untuk menjawab pertanyaan Zidan.
Zidan melangkah maju menghampiri gadis di hadapannya yang terus mundur hingga membentur dinding. "Gadis manja ini ternyata nakal dan berani ya. Masuk ke rumah orang tanpa seizin Tuan rumah. Apa ini kebiasaan mu?!" cerca Zidan dengan nada ketus.
"Tidak! Gue gak pernah melakukan ini sebelumnya," sanggahnya. Alena terus mundur karena Zidan yang maju dengan tatapan tajamnya. Bahkan gadis itu memalingkan wajah karena melihat penampilan Zidan yang seksi.
Tubuh tinggi tegap serta putih bersih, dengan dada bidang yang memperlihatkan otot bisep di lengan yang menonjol. Tubuh indah itu hanya berbalut handuk sebatas menutupi bagian intim saja.
"Stop!" tangan Alena terulur ke depan untuk menghentikan langkah Zidan. Tapi, pemuda itu terus maju mengabaikan seruan Alena hingga dada bidang berbentuk petakan sawah Mang Udin pun tak luput dari sentuhan tangan Alena.
Seketika tubuhnya menegang seiring mata yang membelalak sempurna. Wajah Alena menoleh, tak lama kemudian berpaling kembali dengan bersemu merah. "Umm, be-berhenti gue bilang!" Alena mendadak gugup.
"Kenapa? Masuk rumahku saja kamu berani. Kenapa sekarang mendadak gugup? Apa urat malu kamu menyatu lagi," hardiknya terus.
Helaan nafas terdengar panjang dari mulut Zidan. Pemuda itu berbalik melangkah menuju lemari untuk mengambil pakaiannya. "Bukan urusanmu!" ketusnya.
Alena melotot, tapi ia bisa bernafas lega setelah Zidan membalikan tubuh menuju tempat lain. Setidaknya jantung gadis itu terselamatkan kali ini. Tadi, rasanya jantung Alena seperti terhimpit sesuatu dan berdebar sangat kencang setelah melihat pemandangan indah tepat depan matanya.
Haish.
Zidan kembali menoleh ke arah Alena membuat gadis itu gelagapan. "Kamu sudah lihat, aku baik-baik saja! Jika tidak ada urusan lagi, sebaiknya pergi sana!" usir Zidan.
Gadis itu memberengus sebal. "Dasar King Ice! Dinginnya gak ketulungan," desisnya dengan menghentakkan kaki. Mulutnya mencebik seiring gerakan tubuh mengejek.
Kaki Alena melangkah hendak keluar, namun kali ini ia keduluan oleh seseorang yang mendorong pintu kamar Zidan hingga terbuka lebar. "Astaga!" Alena mundur kembali ke belakang.
"Lho, Kakak Ipar! Kamu di sini?" Rian muncul dari balik pintu yang terbuka lebar itu. Ia tersenyum penuh arti melihat kehadiran Alena di kamar Zidan dengan si pemilik kamar yang tengah berpenampilan seksi. "Aww. Apa aku ketinggalan sesuatu?" cibirnya.
Alena dan Zidan saling pandang, kemudian menoleh kembali ke arah Rian. "Apa maksudnya?!" keduanya serempak bertanya.
__ADS_1
Rian menggelengkan kepala perlahan sembari tersenyum mengejek. "Hemh, aku memang polos. Baiklah! Aku tidak akan mengganggu waktu kalian berdua," ucapnya kemudian menutup kembali pintu kamar tersebut.
Sejenak Alena dan Zidan saling pandang kembali, kemudian menatap pintu yang tertutup rapat. Keduanya serempak berteriak, "Hei, Dokter gila! Kamu salah paham,"
•
•
Suasana di ruang tengah hening untuk beberapa saat sebelum Zidan membuka suara kembali. "Terima kasih atas kunjungan mu! Aku baik-baik saja," ucapnya tanpa menoleh.
Rian menggelengkan kepala dengan mencemooh. "Haish, My Brother. Bukan begitu cara memperlakukan seorang gadis cantik seperti Kakak Ipar! Perlakukan dia dengan baik, bertutur lembut, dan juga berikan dia minuman serta cemilan biar dia merasa rileks dan nyaman berada di sini." kata Rian.
"Siapa yang kamu panggil Kakak Ipar?" ketus Zidan.
"Ya tentu dia lah. Siapa lagi?!"
Zidan kembali berucap. "Memangnya kamu punya Kakak?"
"Kan kamu,"
"Gak sudi aku," sahut Zidan ketus.
"Ckk, Tuan Muda. Kamu jangan mempermalukan ku di hadapannya! Bukankah kah kita ini bersaudara?!"
"Saudara? Disaat seperti ini baru kamu anggap aku saudara. Cih," cibir Zidan.
Rian cemberut, sedangkan Alena terkekeh geli menanggapi keributan keduanya. Untuk pertama kalinya ia melihat pemuda dingin seperti Zidan, bisa meributkan sesuatu yang sepele.
"Kenapa kamu tertawa?" sentak Zidan kepada Alena yang langsung menggeleng seraya melipat bibirnya.
Tangannya melambai di depan, "Gue gak tertawa! Suer!" kedua jari diangkat di depan wajah.
"Ckk, kamu dan dia sama saja. Sama-sama gila," ejek Zidan sambil berlalu.
Alena dan Rian saling pandang, kemudian tertawa lepas. "Hahaha!"
__ADS_1
...Bersambung ......