Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 37~Menyelamatkan Iren


__ADS_3

Dika yang bosen di rumah terus karena tak ada kegiatan, setelah bergantian jaga dengan keluarganya Geri untuk menjaganya. Demi mengusir rasa bosan itu, Dika memutuskan untuk datang ke bengkel Indra hanya sekedar melihat-lihat saja.


Sesampainya di sana, Dika bergegas menemui sahabatnya tersebut yang sedang sibuk. "Hai, Ndra! Sibuk lu?" tubuhnya langsung direbahkan di bangku panjang depan kantor Indra.


Indra yang tengah fokus dengan pekerjaannya seketika menoleh ke arah sumber suara. Wajahnya mendadak sumringah melihat kehadiran Dika di sana. "Kebetulan elu kesini, Bro. Bantuin gue dong!" pintanya kemudian sembari menarik lengan Dika untuk mengikutinya ke ruangan khusus miliknya.


"Whoaa .. whoaa. Santei Mamen! Elu minta tolong kaya mau ngajak ribut dah," sembur Dika sebab tubuhnya terseret dengan kencang.


"Sorry, sengaja. Hehe," Indra melepaskan tarikan di lengan Dika sambil cengengesan.


Dika menegakkan tubuhnya sebelum bertanya. "Tolongin apa sih? Kalo nyuruh gue buat memodifikasi mobil atau motor, gue langsung nyerah. Tapi kalo nyuruh ngitung duit gue paling pinter," guraunya.


"Urusan duit gak usah minta bantuan lu, gue bisa sendiri." ujar Indra. "Langsung aja deh pada intinya," Indra menatap Dika dengan serius. "Perasaan gue gak enak banget, Tong. Dari tadi gue telpon Iren gak diangkat-angkat. Gue khawatir dia kenapa-napa," Indra menjelaskan kerisauan hatinya.


"Mungkin tuh anak lagi di kamar mandi atau bisa juga ketiduran." kata Dika.


"Gue telpon dia dari sore, dodol. Bukan cuma sekali, tapi ratus ribu kali" sembur Indra membentak Dika. "Makanya gue khawatir terjadi sesuatu sama dia!" lanjutnya.


Bukannya menanggapi, Dika malah tertawa mengejek, mengira jika Indra terlalu posesif.


"Bercanda mulu, ah. Gue serius nih," hardik Indra kesal sebab Dika malah terus menggodanya. Ia pun menjelaskan bahwa dirinya tak bisa pergi sebab pelanggan akan segera mengambil kendaraan miliknya.


"Ya elah, elu yang punya pacar gue yang repot sih." cibir Dika kemudian menyetujui permintaan sahabatnya tersebut.


Indra bersorak kegirangan karena Dika menyetujui permintaannya untuk melihat keadaan kekasihnya, Renita. "Yeeeaah. Terima kasih Bang Entong nya aku. Eemmuuaach," Indra mencium pipi Dika dengan gembira.


"Iiih, najong lu. Pipi gue udah gak suci lagi dong!" Dika mengusap pipinya yang di cium Indra.


"Masih perjaka tuh pipi? Ckk, sini gue cium lagi." Indra memonyongkan bibirnya ke arah Dika.


Melihat Indra akan mendaratkan kecupan lagi, dengan segera Dika kabur dan terjadilah aksi kejar-kejaran keduanya layaknya anak kecil.


Para karyawan menertawakan kelakuan kedua sahabat itu. "Hahaha!"

__ADS_1


Setelah merasa lelah karena bercanda dengan Indra, Dika pun melajukan vespanya ke arah tempat kost Iren.


Sesampainya di sana, ia melihat banyak nasi yang berceceran di tanah seperti tak sengaja dibuang.


"Siapa sih nih yang buang-buang nasi di mari? Bikin kotor aja deh," gerutu Dika yang tak sengaja menginjak ceceran nasi tersebut.


"Tapi aneh, kenapa tumpahnya kek gini ya?!" Dia mengikuti jejak ceceran nasi ke arah lantai bawah.


Saat ia mengikuti ceceran nasi itu, ia melihat suatu benda yang tak asing baginya.


"Keknya gue kenal ini sandal? Mirip punya si Iren deh!" Dika memungut sendal yang berinisial I&I, yang artinya Indra & Iren.


"Tolong!" samar suara teriakan minta tolong dari arah kamar yang berada di ujung sana.


Dika mendongak, melirik ke kanan dan kiri. "Kek ada yang minta tolong? Siapa ya? Di sini kan gak ada yang ngekost?" matanya terus memperhatikan tempat sepi itu.


Ia berjalan dan menemukan sendal satunya lagi yang sudah putus. "Ini beneran punya si Iren. Mungkin dibuang karena sudah rusak kali," kira Dika.


"Indra, tolong aku! Huhuhuuu," teriakan kembali terdengar diiringi isak tangis.


Langkahnya terhenti ketika melihat samar bayangan pria tua yang akan melecehkan seorang gadis yang diduga Renita.


Tanpa aba-aba, Dika menendang pintu yang terkunci dari dalam tersebut hingga daun pintu lepas dari engselnya.


Diliriknya gadis cantik yang sedang menangis sambil memeluk tubuhnya sendiri dengan penampilan yang sudah berantakan.


Piyama tidur Renita koyak akibat tarikan paksa si tua mesum itu, membuat darah mendidih.


Tanpa berkata-kata, Dika langsung memberikan hadiah perkenalan pada si pria mesum yang akan melakukan perbuatan tak baik pada pacar Indra sekaligus sahabat kecilnya itu.


Pria itu memohon ampun di hadapannya, tapi Dika tak memperdulikannya. Emosinya semakin terpancing melihat keadaan Iren yang menyedihkan dengan tubuh setengah terbuka.


Dika melayangkan pukulan ke wajah dan tubuh si tua mesum hingga babak belur, kemudian menendangnya dengan kuat sampai terpental ke luar ruangan.

__ADS_1


Setelah itu, Dika mendekati Iren yang sedang menangis sambil memeluk tubuhnya sendiri. Ia mengulurkan tangan menyentuh bahu Iren, namun gadis itu malah ketakutan.


"Jangan dekati aku! Aku mohon, Pak! Hiks ... huhuhu!" Renita menangis masih dengan menunduk sambil memeluk tubuhnya sendiri_ketakutan.


Dika pun menyebutkan nama gadis dengan lantang membuat si pemilik nama mendongakkan kepalanya. "Renita!"


Merasa mengenali suara yang memanggil namanya, Iren pun segera mendongak menatap si pemilik suara. Tangisnya pecah diiringi gerakan tubuh memeluk pemuda di hadapannya. "Dika!"


"Tenang ... tenang! Ada gue disini," dielusnya kepala Iren dengan lembut.


"Gue takut, Dik. Di-dia ... dia ... hiks!" Renita tak bisa melanjutkan kata-katanya lagi.


Dika langsung membuka jaketnya, kemudian menutup tubuh Iren bagian atas yang sudah terbuka. "Udah, jangan nangis lagi! Kita pergi, yuk!" Dika memapah Iren untuk berjalan.


Tubuh gadis itu gemetaran sampai tak bisa berjalan dengan benar karena ketakutan, hingga Dika pun tak tega dan memilih berjongkok. "Naiklah!"


"A-apa maksud lu?" Iren bertanya bingung.


Tanpa menjawab apapun lagi, tangannya segera meraih tangan Iren sampai si empunya terkejut. Dika lekas berdiri setelah tubuh Iren tepat berada di punggungnya.


Dika berjalan menggendong tubuh Iren di punggungnya sampai parkiran kost untuk mengambil motornya.


Diturunkannya perlahan tubuh Iren di atas motor vespanya. "Lu gak gengsi 'kan naik motor vespa?" tanya Dika terkekeh.


Iren pun perlahan tersenyum. "Apaan sih lu, Dik?"


"Takutnya elu gengsi. Gue cuma bawa vespa, sedangkan cowok lu bawa mobil." sahut Dika terkekeh geli.


Iren menunduk dengan wajah murung, membuat Dika tak enak hati. Namun, sebelum Dika mengucapkan kata maaf, Iren telah lebih dulu menyela. "Terima kasih, Dika! Kalau bukan karena lu, gue gak tahu apa yang akan terjadi sama gue. Hiks," ucapnya diiringi isak tangisnya.


Dika kembali mengulurkan tangan untuk mengusap air mata di pipi Iren, dan berusaha menenangkannya. Dia juga berkata akan melaporkannya pada Polisi agar mengusut tuntas kasus pelecehan itu sesuai apa yang dillakukan si tua mesum.


Tapi, Iren segera mencegahnya karena tak ingin mereka sibuk mengurus masalahnya. Kecelakaan Geri saja sudah menyita perhatian keempat kawannya. Jika ditambah kasusnya, yakin kawan-kawannya akan sangat kerepotan. "Gak usah, Dik!" tolaknya.

__ADS_1


"Kenapa? Orang seperti itu wajib mendapatkan hukuman," cetus Dika emosi.


...Bersambung ......


__ADS_2