Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 21~Kematian Alena


__ADS_3

Hendri dan Geri yang kembali ke hutan sebelumnya, dibuat kebingungan dengan tak menemukan sosok yang dicari mereka.


Alena tak ada di sana, begitupun para penjahat itu. Para polisi berdatangan mengikuti langkah keduanya setelah dihubungi oleh Hendri sebelumnya.


Tak ada satupun dari mereka yang menemukan keberadaan Alena di sana. Mereka hanya menemukan jaket yang dikenakan Alena sudah koyak serta berlumuran darah.


Penemuan tersebut seketika mengejutkan Geri dan Hendri. Keduanya panik hingga berlarian tak jelas, mencari keberadaan Alena.


Saat berlarian ke tepi hutan, tak sengaja salah satu polisi melihat sesosok tubuh manusia tergeletak di dasar jurang paling dalam dengan bersimbah darah.


Tak ada jalan ke dasar jurang tersebut, hingga mereka pun tak bisa memeriksa atau mengangkat tubuh tersebut.


Siapakah sosok itu? Mereka tak bisa melihat dengan jelas karena tak ada jalan menuju ke sana. Namun, bukti kuat menyatakan jika sosok tersebut kemungkinan adalah Alena.


Geri menangis meraung sembari memeluk jaket Alena. Ia merasa sangat bersalah atas kematian sahabatnya tersebut. Andai saja ia tak meninggalkan Alena di belakang, mungkin gadis itu tak kan mati di sana, pikir Geri.


Begitupun Hendri yang merasa bersalah karena tak bisa melindungi Alena dari para penjahat itu. Sebagai seorang Polisi Intel, seharusnya ia berani melawan para penjahat tanpa pergi dari tempat tersebut, apalagi sampai meninggalkan seorang gadis yang ada bersamanya. Sungguh, Hendri merasa dirinya sebagai pengecut.


Kesedihan yang teramat sangat, serta penyesalan yang luar biasa, Geri pulang dengan lesu mendatangi rumah kediaman Bramasta. Dia menceritakan semua kejadian yang menimpa mereka, dimulai dari Dika dan Indra yang celaka, sampai Alena yang terjatuh ke jurang.


Mendengar hal itu, Nyonya Yulia sangat terpukul, begitupun Tuan Yoga. Keduanya saling berpelukan meratapi nasib putrinya yang mati di dasar jurang.


Aldrian syok mendengar kabar yang disampaikan oleh Hendri lewat sambungan telpon. Ia bergegas pulang ke rumah untuk menenangkan kedua orang tuanya. Aldrian pun sangat menyesal telah menyuruh adik dan kawan-kawannya untuk menyelidiki seorang Agus yang jelas-jelas adalah penjahat kelas kakap.


Beruntung ia belum menandatangani kontrak dengan orang jahat itu, hingga perusahaannya selamat. Tapi, ia harus menukarnya dengan keselamatan sang adik. Sungguh miris.


Aldrian memaksa untuk mendatangi tempat tersebut. Ia meminta sebuah helikopter diturunkan dengan dirinya yang ikut serta turun ke dasar jurang, untuk memeriksa kebenaran itu.


Apa benar itu adalah tubuh adik tercintanya? Rasanya, Aldrian tak percaya jika belum melihat dengan mata kepala sendiri.


Ketika sampai di bawah, ia segera melompat untuk memeriksanya sendiri. Ciri-ciri fisiknya sama, memiliki rambut panjang sepinggang, tubuh ramping dengan tinggi seratus enam puluh senti, serta memakai pakaian yang sama dengan yang terakhir kali Alena kenakan. Hanya saja, wajahnya rusak sulit untuk dikenali dengan seluruh tulang yang remuk.

__ADS_1


Tubuh itu segera diangkat ke atas, kemudian dibawa ke rumah duka. Mereka segera menyiapkan semua untuk mengurus jenazah seorang gadis yang diduga Alena.


Kesedihan menyelimuti keluarga serta para sahabatnya. Alena yang dikenal sebagai sosok periang, manja, namun sopan dalam bertutur kata, meninggalkan luka yang teramat dalam bagi semua yang menyayanginya.



Sementara di tempat berbeda.


Setelah diobati di rumah Zidane, Alena meminta izin pulang pagi ini. Walaupun Zidan tak perduli, tapi Alena masih punya rasa sopan santun untuk mengucapkan kata terima kasih dan berpamitan pada si Tuan muda dingin itu.


Dengan diantarkan oleh supir pribadi Zidan, Alena pulang menuju rumah kediaman Bramasta. Dia tidak tahu kejutan apa yang akan ia dapatkan saat pulang nanti.


Sesampainya di depan rumahnya, Alena bergegas turun dan melangkahkan kaki menuju gerbang rumahnya setelah berterimakasih kepada supir yang mengantarkannya pulang.


Alena melambaikan tangan dengan berdadah ria pada Pak supir, hingga membuat pria paruh baya itu tersenyum dibalik kaca mobil hitamnya.


"Gadis yang lucu dan sopan. Walaupun Tuan berkata gadis itu menyebalkan dan manja, tapi dia sangat menyenangkan." puji Pak supir.


Pemandangan yang pasti membuat dirinya terus bertanya-tanya dalam hati. Di halaman rumahnya terdapat banyak orang serta terdengar suara tangisan.


Beruntung Alena tak melihat bendera kuning di depan rumahnya. Mungkin karena dia terlalu fokus kepada supir yang mengantarnya tadi dan hatinya sudah sangat merindukan keluarga dan juga rumahnya.


"Wah, ramai sekali. Ada kejadian apa di rumah?" Alena terlihat kebingungan ketika melihat suasana rumahnya yang ramai.


Dua satpam yang menjaga rumah kediaman Bramasta pun terkejut melihat sosok yang tengah berjalan melewati pos jaga. Keduanya sampai menahan nafas karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Apa itu hantu?"


Alena menoleh ke arah dua satpam tersebut, kemudian melambaikan tangan sembari tersenyum. Ia mengangguk ramah lalu melanjutkan kembali langkahnya menuju ke arah rumah.


Sesampainya di halaman, ia menyapa orang-orang yang menatapnya aneh. Alena mengerutkan kening melihat ekspresi ketakutan mereka semua, tapi ia tak bertanya apapun.


Semua mata menatap takut ke arahnya, seperti sedang melihat setan. Mereka terlihat mundur saat Alena berjalan melewatinya.

__ADS_1


Alena mengedikan kedua bahunya sebelum melangkah masuk ke dalam rumah. "Mom, Dad. Ada apa sih di rumah? Rame bener," Ia berteriak setelah sampai di pintu.


Semua orang terkejut mendapati sosok yang sedang ditangisi itu tengah berdiri di ambang pintu dalam keadaan utuh dan sehat.


Mereka semua terdiam dengan saling pandang satu sama lain, antara bingung dan tak percaya.


Alena melangkahkan kaki ke dalam rumah. "Wah, senangnya dikasih surprise upacara penyambutan Tuan Putri nih!" Ia cengengesan memperlihatkan deretan gigi putihnya. "Hai, gaes! Kalian di sini juga," cetusnya kepada keempat sahabatnya. "Eh, Kak Hendri juga ada di sini?!" Alena tersenyum sembari mengangguk kecil.


Sedetik kemudian semua orang menjerit histeris sembari berteriak, "Setan!"


"Apa? Setan? Di mana ... di mana?" Alena melompat ke arah Aldrian, serta memeluk erat leher kakaknya itu. "Mana setannya?" tanya Alena kemudian.


Aldrian terkejut dengan tingkah gadis yang berada dalam gendongannya. "Siapa kamu?" tanya Al.


"Aku adikmu, Kak. Masa kek gitu aja tanya," sahut Alena masih dalamgendongan Al.


Al berusaha menurunkan gadis itu dengan paksa. "Bohong! Jawab pertanyaanku dengan jujur. Kalau enggak? Polisi akan menangkap dan mengurungmu di penjara," ancam Al kemudian.


Alena berdecak kesal, kemudian turun dari gendongan kakaknya. "Yaelah, gak percaya! Memangnya ada gadis yang cantik selain diriku?" suara cemprengnya menyadarkan semua orang.


"Jadi, kamu itu Alena?" tanya Aldrian diikuti tatapan penasaran semua orang, terutama kedua orang tuanya.


"Ya iya lah, siapa lagi?!" sahutnya kesal.


"Lalu, mayat siapa itu?" Alena pun seketika mengikuti arah tunjukan kakanya.


"Heh!"


Di sana terbujur kaku jasad dengan berbalut kain kafan. Semua orang yang berkumpul di sana sedang mengaji untuk menghantar kepergian gadis itu terakhir kalinya sebelum dibawa ke pemakaman.


"Jadi, siapa yang meninggal?"

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2