Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 25~Tak ada


__ADS_3

Malam hari saat di ruang perawatan Zidan.


Saat Zidan sedang tertidur pulas karena efek samping dari obat yang ia konsumsi, seseorang masuk tanpa sepengetahuannya.


Seorang suster masuk dengan membawa suntikan tanpa seizin Dokter. Suster itu melirik sembari tersenyum menyeringai ke arah Zidan yang tak sedikitpun bergerak. Obat yang berbahaya di tangannya itu akan disuntikan melalui infusan agar tak ada yang curiga jika Zidan mati tiba-tiba.


"Sebenarnya aku tak tega membunuh pria tampan sepertimu. Tapi, karena ini tugas dari Big Bos, ya terpaksa deh!" desisnya sembari menyeringai. "Selamat jalan tampan," cetusnya lalu menancapkan jarum suntik ke labu infusan.


Zidan yang tengah terlelap tak tahu menahu jika ada orang yang mencoba membunuhnya. Namun beruntung, sebelum obatnya masuk ke tubuh Zidan, dengan cepat seseorang menarik jarum infus dari tangan Zidan hingga darah menetes dari bekas jarum infusnya.


"Hei! Siapa kamu?" Suster tersentak langsung menoleh ke samping. Dia menatap ke arah orang yang menarik tangannya dengan kasar.


Di sana Rian sudah berdiri dengan tatapan tajamnya. Dia menarik leher Suster tersebut sedikit mencengkeramnya. "Seharusnya aku yang bertanya. Siapa kamu dan untuk siapa kamu bekerja?" cerca Rian.


"Aku tidak tahu! Aku tidak tahu!" sahutnya gugup ketakutan.


"Cepat mengaku atau ... Hei!" ancaman Rian tak tersampaikan karena orang yang menyamar sebagai Suster itu ternyata mencoba bunuh diri dengan meminum racun setelah mendorong keras tangan Rian.


"Bangsat," umpat Rian kesal membanting tubuh Suster tersebut.


Racun tersebut tak tertelan olehnya, sebab Rian keburu membantingnya ke lantai hingga cairan berbahaya itu tumpah. "Sialan!" Suster menoleh dengan tatapan sinis. "Hei, kenapa kamu menghalangi pekerjaanku?"


"Karena orang yang ingin kamu bunuh adalah saudaraku," hardik Rian


Karena terdengar keributan, Zidan terbangun dari tidurnya. "Ada apa ini?" tanya Zidan kebingungan saat melihat seorang Sister tengah bersimpuh di lantai dan Rian yang akan menendangnya.


"Hei! Apa-apaan kamu?!" Zidan beranjak dari ranjang untuk menghentikan aksi Rian.


Rian menjawab serius. "Dia ingin membunuhmu, Brother!"


"Maksudnya?" Zidan tak mengerti perkataan Rian.


Rian pun langsung menjelaskan bahwa Suster tersebut adalah suruhan seseorang untuk membunuh Zidan. Dia berniat menyuntikan racun ke dalam cairan infus, agar kematian Zidan tidak disadari orang lain.


Zidan pun menatap serius wanita yang menyamar jadi Suster itu dan sudah jelas ia tahu bahwa yang menyuruh orang itu melakukannya adalah kakek dan pamannya sendiri.


"Biarkan saja dia pergi! Aku sudah tahu siapa pelakunya," kata Zidan kepada Rian. "Bilang pada si tua bangka dan putra kesayangannya itu. Jangan bermain licik jika ingin menjatuhkan ku! Lawan aku secara jantan," ujarnya dingin.


Wanita tersebut segera berlari keluar karena ketakutan. Dia bersyukur jika Zidan tak membiarkan Rian menyakitinya dan membiarkan dirinya pergi dari kamar perawatan Zidan.

__ADS_1


Atas bantuan Rian, Zidan keluar dari rumah sakit tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Dia tak ingin jika kakek dan pamannya tahu tentang kepulangannya.


Bukan cuma Zidan, Feri pun dibawa keluar oleh Rian agar asisten pribadi Zidan itu selamat dari bahaya.




Sore hari, Alena dan kawan-kawan pergi ke rumah sakit berniat untuk menjenguk Zidan yang masih dirawat di sana.


Mereka membawa buah tangan untuk Zidan serta Feri, karena orang tua Alena sendiri yang memaksa untuk membawanya sebagai tanda terima kasih atas pertolongan Zidan pada Alena.


Ketika sampai di sana, mereka malah terkejut atas hilangnya Zidan serta Feri dari kamar perawatannya.


Pihak rumah sakit menyampaikan bahwa tak ada pasien atas nama Zidan Prasetyo atau Feri Ferdinan di sana. Padahal, mereka sendiri yang mengantarkannya ke rumah sakit tersebut dan menungguinya di ruang IGD hingga ruang perawatan.


"Apa kita salah rumah sakit? Perasaan gue kemaren kita ke sini 'kan!" seru Alena kebingungan.


"Iya. Gue rasa ada sesuatu yang mereka sembunyikan," Dika mulai curiga.


"Benar! Pasti Zidan itu adalah orang penting atau mungkin ... ketua mafia, hingga disembunyikan anak buahnya karena takut ada yang mengincar nyawanya lagi kek kemaren itu!" Geri berpendapat.


Alena terlihat kesal. "Heleh, mau kasih surprise malah kita yang terkejut gegara dia gak ada! Dasar King Ice," gerutunya kesal.


"Setuju!" Indra dan Geri mengacungkan tangannya.


"Dih, kompak bener perasaan." cibir Dika yang diabaikan keduanya.


Kelimanya pun kembali menaiki mobil yang dikendarai Indra menuju ke Basecamp.


Ketika diperjalanan, Alena melamun hingga tak mendengar perkataan keempat kawannya. Dia terus memikirkan alasan hilangnya Zidan dan Feri dari rumah sakit, serta siapa yang membawanya keluar. Pertanyaan-pertanyaan terus menari dipikiran Alena.


"All. Elu lagi melamun apa sih? Serius banget keknya," Renita yang duduk di samping kemudi menoleh ke arahnya yang berada tepat di belakang. "All ... Alena!"


Yang ditanya tak menjawab sedikitpun dan hanya fokus ke dalam lamunannya, tanpa terganggu oleh teriakan Renita.


Dika yang berada di sampingnya pun lantas menepuk pundak Alena. "Elu kenapa sih, Beb? Mikirin apaan? Sampe suara cempreng si Iren gak bisa menarik perhatian lu,"


"Hah? Kenapa?" wajah Alena menoleh pada Dika, kemudian kepada Renita. Semua pasang mata menatap aneh padanya.

__ADS_1


Saat Geri akan membuka suara untuk mengulang perkataan Renita dan Dika, Alena segera meminta Indra untuk menghentikan mobil. Dia teringat sesuatu tentang rumah kediaman Zidan yang jauh dari keramaian. Apa mungkin dia disembunyikan di sana? pikir Alena.


"Elu mau ke mana? Kita anterin aja," kata Indra masih tak menghentikan laju kendaraan.


"Enggak! Gue bisa sendiri," tolak Alena.


"Tapi, Beb. Keselamatanelu itu tanggung jawab kita. Gimana kalau Kak Aldrian atau orang tua lu tanya? Kita mau jawab apa?" Dika menimpali.


"Pokoknya gue turun di sini," Alena keukeuh dengan permintaannya.


"All. Kita gak mau lu kena_"


"Gue bilang berhenti, Indra!" teriaknya sembari membuka pintu mobil.


"Alena!" bentak Dika sembari menarik tangan Alena. "Itu bahaya tau,"


"Lagian, elu mau ke mana sih?" Geri ikut membentak.


"Gue ... gue!"


"Stop, Ndra! Biarin dia pergi," kata Dika dengan memalingkan wajah


"Tapi ..."


"Biarin aja!" Dika tak mau menoleh sedikitpun.


Alena menggenggam tangan Dika. "Dika. Gue minta maaf!" namun Dika tak merespon apapun dan memilih mengabaikannya.


Ketiga kawannya pun terdiam tanpa berniat mengatakan sepatah katapun kepada Alena maupun Dika. Bagi mereka, baik Alena maupun Dika sama saja. Sama-sama sahabat mereka. Lebih baik memberikan keduanya ruang kebebasan untuk melakukan apa yang mereka inginkan asalkan tak membahayakan nyawa.


Alena pun turun dari mobil. "Gue pergi dulu, gaes. Kalian langsung pulang aja," ujarnya sebelum berlari menghentikan taksi.


Dika menatap kepergian Alena dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Hatinya terasa sakit jika memikirkan apa yang sedang dipikirkan Alena tadi.


"Dia pasti mikirin Zidan," tebak Geri yang berucap tanpa melihat ekspresi Dika.


"Ssstttt," Renita dan Indra menoleh ke arah Geri untuk menyuruhnya diam, sebab Dika terlihat sedih. Geri tersadar akan perkataannya dan langsung menutup mulutnya rapat-rapat.


Bukan mereka tak tahu tentang perasaan Dika kepada Alena. Tapi, mereka tak ingin ikut campur urusan pribadi sahabatnya itu.

__ADS_1


Dika menatap ke luar jendela dengan pikiran hampa. "Kenapa elu tega banget ama gue, Beb?!" batin Dika.


...Bersambung ......


__ADS_2