Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 49~Kejadian


__ADS_3

Dika menggeliat merentangkan ototnya yang terasa kaku. "Uhh, perasaan cape banget sih, kek abis ngapain aja!" gumamnya lirih.


Saat ia menggeliat ke samping, tiba-tiba matanya melebar seketika. "Astagfirullah. Kok elu disini sih, Ren?" tanya Dika kebingungan.


Nampak Iren duduk menyandar di sandaran ranjang sambil menutupi seluruh tubuhnya sampai batas leher. Iren sedang menangis lirih.


"Ren, kok elu ada di sini?" ulang Dika lagi, namun Iren tak menjawab apapun kecuali tangisan. Dika pun menegakkan tubuhnya sambil bertanya lagi. "Elu kenapa? Apa yang terjadi? Bilang ama gue, siapa yang nyakitin elu?" tapi Iren tak menjawab apapun kecuali terisak. "Ren," Dika mencoba menyentuh lengan Iren yang terbungkus selimut, namun dengan cepat Iren menyingkir sambil menangis kencang membuat Dika semakin bingung.


"Ren, jangan bikin gue bingung dong! Elu belum jawab pertanyaan gue yang tadi, sekarang udah bikin gue tambah bingung." Dika mengacak rambutnya frustasi sambil menjulurkan kaki akan turun dari ranjang.


Saat tangan Dika menyibakkan selimut yang menutupi tubuh dan siap untuk menapakkan kakinya, ia semakin terkejut dengan penampilannya sendiri.


"Astagfirullah! Kok gue bugi£ sih!" Dika langsung berjongkok di bawah ranjang untuk menyembunyikan tubuh polosnya.


Ia pun menatap diri sendiri lalu beralih ke arah Iren. Otaknya berpikir sejenak sambil menebak apa yang telah terjadi. "Jangan bilang kalau kita ...????" Ia menatap Iren yang sedang menangis tersedu. "Gak mungkin!"


Dika meraup wajahnya kasar seiring hembusan nafas berat. Dia menjambak kasar rambut lurusnya itu, lalu berlari ke kamar mandi dengan keadaan polos.


Saat di kamar mandi, ia menatap dirinya di cermin. Terlihat bekas cakaran kuku dan gigitan gigi seseorang di bahunya. Dia pun yakin kalau itu milik Iren setelah melihat kondisi Iren yang berantakan.


"Ya Tuhan. Apa yang udah gue lakuin ini?" Dika menundukkan kepalanya sambil meneteskan air mata. "Gak mungkin kan kalau gue ...?" Ia melihat entong junior yang ternyata ada noda darah sisa semalam. "Ya ampun!" Dika menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Aaaaarrrggghhh!" teriaknya kencang sambil mengguyur tubuhnya di bawah shower.


Sementara itu, Iren terus menangisi nasibnya yang harus berakhir dengan keadaan seperti ini. Dengan terisak, ia memeluk dirinya yang tertutup selimut tebal sambil menangis tersedu.




Alena pulang dengan menggunakan taksi, karena mobilnya tertinggal entah di mana.

__ADS_1


sesampainya di rumah, ia menghampiri seluruh keluarga dan juga kakaknya untuk meminta mengambilkan mobil di jalan saat ia diculik.


Alena merengek kepada kakak tercintanya dengan nada manja. Ia melaporkan kepada semua keluarga jika dirinya diculik para preman atas suruhan seseorang.


Tapi, keinginan tidak sesuai ekspektasi. Bukannya dibela, ia malah menjadi bahan ejekan keluarganya. "Apa? Siapa yang berani nyulik adek gue?" Kak Al dengan emosinya menggebrak meja membuat semua terkejut.


"Sekaya apa sih mereka? Apa mereka kagak tahu kalau elu makannya banyak? Bisa bangkrut mereka kalau nyulik elu," lanjut kak Al sambil berdiri.


"Lah, ku kira bakal bersimpati, tahunya malah ngomong gitu. Apa Kakak gak sayang aku?!" rengek Alena layaknya anak kecil.


"Eh dodol. Kalo elu diculik, kenapa elu disini?Seharusnya tuh penculik nelpon kita minta tebusan. lha elu aja udah di sini! Gue yakin kalo mereka ngebebasin lu karena elu nyusahin mereka. Iya kan?" cerocos kak Al.


"Tahu ah," Alena cemberut sambil duduk di samping ayahnya. Ia pun mulai merengek kepada sang ayah agar mendapat pembelaan. Tapi, tetap saja ayah dan kakaknya sebelas-dua belas. Sama-sama cuek karena sudah tahu watak Alena.


Gadis itu pun merengek manja kembali karena tak ditanggapi oleh keluarganya.


Aldrian menebak alasan penculikan Alena. "Paling masalah cowok,"


"Gosah ngelak! Kakak tahu, elu lagi berhubungan sama Paman dan Ponakan itu pan?!" tukas Aldrian seketika Alena menoleh. "Nih lihat! Instagram Hendri foto elu semua lho, Dek!" Kak Al menunjukkan layar ponselnya.


Alena pun menatap layar ponsel yang menampakan gambar dirinya memenuhi galeri instagram Hendri. "Kapan kak Hendri mengambil fotoku, ya?" Ia pun berpikir keras.


"Udah lupain itu. Gimana elu bisa berhubungan dengan keponakannya sementara pamannya mengagumi lu juga?!" pungkas kak Al lagi.


"Aku gak ada hubungan apapun sama keduanya! Kita cuma temen biasa kok," sahutnya serius.


"Ckk, gue gak percaya. Buktinya tadi si Tuan Muda itu menelpon kemari nanyain elu. Katanya hape elu tertinggal di tempat Iren." tukas Aldrian.


Alena mengerutkan kening sejenak mengingat. "Oh iya? Pantesan gue nyariin hape kagak ada. Ternyata di tempat si Iren," gumamnya seraya meraba kantong celana.


Aldrian pun menjelaskan bahwa Zidan sudah menunggunya di basecamp. Katanya, dia dihubungi Alena untuk membahas sesuatu.

__ADS_1


Setelah mendengar penjelasan Aldrian, Alena tersadar jika mereka janji bertemu tepat pukul tujuh malam. Namun, karena insiden penculikan tadi, ia pun melupakan janjinya untuk bertemu and the genk dan juga Zidan di basecamp.


Alena melajukan motor sportnya dengan kecepatan penuh, lalu berhenti di halaman basecamp. Dia celingukan mencari keberadaan teman-temannya, namun tak ada satupun yang terlihat di sana.


Atensinya beralih ke arah mobil yang terparkir di sana. Dia yakin jika si pemilik mobil adalah pemuda yang sering mengajaknya berantem jika bertemu. Kaki Alena melangkah memasuki basecamp, mencari keberadaan si pemilik mobil. Ia pun menyerukan nama Zidan agar pemuda itu mengetahui kedatangannya.


Tapi, ketika masuk ke dalam, ia berhenti di ruang depan setelah melihat dua kaleng minuman dingin yang tersaji di atas meja.


Rasa penasaran segera menyerangnya hingga ia mencari pemilik dua kaleng minuman dingin tersebut. Kira-kira, siapa yang dibawa Zidan ke basecamp mereka? itulah yang ada dipikiran Alena saat ini.


Kakinya melangkah semakin cepat ketika mendengar sesuatu terjatuh sangat keras hingga menimbulkan suara klontang. "Apaan itu?" Alena berlari ke arah kamar mandi.


Saat pintu kamar mandi terbuka, terlihat Zidan tergeletak di lantai dengan keringat dingin membasahi tubuh yang gemetaran.


Wajah Alena mendadak panik. "Astaga, King Ice! Elu kenapa?" ia segera menghampiri untuk memeriksa kondisi Zidan.


"Panas banget sih?" Ia merasakan suhu tubuh Zidan yang meninggi saat menyentuh keningnya.


"Jangan ... jangan ... Aku mohon!" tetesan bulir air bening keluar dari ujung mata Zidan yang terpejam. Sepertinya dia sedang mengigau, batin Alena.


Gadis itu terus memperhatikan raut wajah ketakutan dari Zidan hingga membuatnya bersimpati. Karena tak tega melihat kondisi Zidan yang seperti itu, Alena segera mengangkat tubuh jangkung itu perlahan dan memapahnya ke kamar.


Tersedia dua kamar Basecamp dan Alena bergegas membawa tubuh lemah Zidan ke kamar dengan susah payah. Walaupun pemuda itu selalu dingin padanya, tapi Alena tak sampai hati untuk membiarkannya begitu saja.


Nafasnya terengah dengan keringat bercucuran. Tubuh Zidan tidak besar, tapi tinggi. Itu sama saja membuat Alena kesusahan sekaligus kelelahan walaupun hanya memapahnya saja.


Huh, merepotkan!


Tubuh jangkung Zidan di turunkan secara kasar dari rangkulan lengannya. Bukan niat Alena bersikap kasar seperti itu, tapi memang dia sudah tak kuat menopangnya.


"Argh, melelahkan!" gerutunya sambil duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2