
Geri tersenyum senang disambut tawa riang semua temannya. "Thanks ya, guys. Kalian selalu mendampingi gue di saat suka dan duka,"
"Udah ah, jangan sedih-sedih lagi! Kita harus tetap semangat dalam menghadapi semua ujian ini," ucap mereka serempak.
Mereka saling menggenggam tangan satu sama lain sembari tersenyum senang. Kini, ujian untuk Geri telah selesai dengan kesembuhannya.
Geri pun mengucapkan banyak terima kasih kepada Zidan karena telah mendonorkan darah untuknya di saat dirinya sedang membutuhkan pertolongan. Walaupun Zidan adalah pemuda dingin yang irit bicara, tapi hatinya sangat baik. Ia mau mendonorkan darahnya untuk menyelamatkan nyawa Geri, sahabat Alena tanpa imbalan apapun.
Renita menoleh kepada Alena yang tengah duduk di ranjang Geri. "Oh iya, All. Lu bisa tolongin gue gak?" bertanya dengan tatapan penuh memohon.
Alena menoleh sembari bertanya. "Tolongin apaan sih?" .
"Gue mau ke kantor sekarang, karena hari ini ada rapat Dewan Direksi. File yang gue kerjain semalam ketinggalan di rumah. Umm, jadi .. lu bisa 'kan tolong ambil di kostan gue," Iren berkata dengan wajah imutnya agar Alena luluh.
"Kok gue? Kenapa gak Indra aja? Dia 'kan pacar lu!" cicit Alena menatap ke arah Renita dan Indra bergantian.
Renita menjawab. "Indra mau nganterin gue ke kantor, soalnya takut terlambat! Kalau kesiangan, bisa habis gue diomelin kak Al" selorohnya beralasan. "Please!" lanjutnya kemudian dengan tatapan memohon.
Alena berdecak sebal menanggapi permintaan Renita. "Ckk, iya ... iya. Dasar, lu. Ya udah lah, gue pergi." Alena bangun dari duduknya. "Eh, Ger. Elu gak apa-apa kan kalo kita tinggalin?!"
Geri mengangguk sambil tersenyum. "Santai aja, gaes. Kan masih ada Bang Entong," cicitnya melirik Dika yang anteng dengan ponsel barunya.
Tiga pasang mata menatap Dika sambil menyeringai. Merasa diperhatikan, Dika pun mendongakkan wajahnya. "Ada apa?"
"Kagak ada ape-ape, Bang! Kita mau pergi. Titip Geri ya. Jagain baek-baek," cetus Indra.
"Tolong suapi dia kalo mau makan," timpal Renita.
"Jangan tinggalin dia sendirian!" Alena ikut menimpali.
"Lah? Kalian mau ke mana? Kok jadi gue yang jagain Geri sendirian?!" Dika tak mendengar ketika mereka berbincang tadi, sebab dirinya fokus kepada ponsel baru yang tengah dimainkannya. Ia sibuk mengurus masalah ini dan itu karena ponsel lamanya tercebur sungai waktu itu.
"Ya cuma elu yang santai," sahut mereka kompak.
"Gue juga sibuk kali," elak Dika.
"Kita lebih sibuk!"
"Tapi ...!"
Geri membuka suara ketika Dika ingin berucap kembali. "Kalo elu sibuk, lu juga bisa pergi, Tong. Gue gak apa-apa kok sendirian! Lagi pula, Ma'e bentar lagi balik dari pasar."
__ADS_1
Alena cemberut. "Lu tega?"
Semua menatap ke arah Dika yang hanya bisa menghela nafas panjang. "Haish. Oke deh, elu bertiga boleh pergi! Gue bakal di sini sampe Ma'e balik," pungkasnya.
Mereka bersorak karena Dika mengalah. "Oke, deh! Kita pergi sekarang, ya." Ketiganya pun berpamitan, meninggalkan Dika yang menjaga Geri.
Setelah keluar dari rumah Geri, Renita naik di mobil Indra dan Alena hanya melongo menatap mereka. "Woi, gue naik apa?"
"Naik taksi aja. Nih kunci kostnya," cicit Renita seraya menyerahkan kunci Kost kepada Alena.
Sedangkan Alena menatap datar kepergian pasangan kompak tersebut sampai menghilang dari pandangannya. Dia merutuki nasib karena menerima permintaan Renita, mana jauh lagi tempatnya.
Alena menggerutu kesal karena harus berjalan dulu ke depan agar mendapatkan taksi, sebab di area rumah Geri tak ada taksi yang lewat ke sana.
Tiba-tiba dari arah kanan, ada mobil yang melaju dengan kencang hampir menabrak tubuhnya. Beruntung gadis itu melihatnya karena sedang mencari taksi. Sontak Alena mundur sambil berteriak kesal. "Woi! Bisa bawa mobil gak sih?!"
Pengendara mobil tersebut tak menghiraukan teguran Alena dan memilih mengabaikan dengan pergi begitu saja.
Tak lama kemudian, sebuah mobil sport hitam berhenti tepat di depan Alena ketika gadis itu masih berteriak kepada pengemudi tadi.
Jendela kaca itu perlahan turun, menampakkan wajah tampan yang sering dilihat Alena akhir-akhir ini. "Zidan!" serunya menatap tak percaya.
Pemuda tersebut menurunkan kacamata hitamnya, kemudian berkata dengan nada datar. "Naiklah!" ucapnya singkat.
Sebelum Alena melanjutkan ucapannya, Zidan lekas menyela. "Aku antar," cicitnya tanpa menoleh sedikitpun.
Huh, kulkas!
Mau tak mau Alena pun naik ke mobil pemuda dingin itu. Terdengar helaan nafas berat sebelum ia duduk di samping kemudi.
"Mata dipake buat liat jalan, bukan buat pajangan!" cibir Zidan ketika Alena sudah duduk di sampingnya.
Alena menoleh seketika. "Maksud lu?! Heh, gue jalan bener ya, gak meleng! Orang itu aja yang bawa mobilnya rada gila," ketus Alena dengan nada tinggi.
Zidan menggelengkan kepala menanggapi kemarahan Alena. Dia segera menyalakan mesin mobil lalu melaju dengan kecepatan sedang. Percuma untuk ngomong, batin Zidan.
Keheningan tercipta di dalam mobil tersebut, dengan Zidan yang terus diam tanpa mengajaknya berbicara, dan Alena merasa bosan dengan suasana seperti ini. Tidak seperti gayanya, batin Alena menjerit kesal.
Biasanya dia banyak bicara dan tak mau diam jika dalam perjalan. Entah itu dengan siapa saja, yang pasti dirinya akan mengoceh sepanjang jalan. Tapi ini ... apa?
Haish, membosankan!
__ADS_1
"Hei, King Ice! Elu gak tanya ke mana tujuan gue?!" tegur Alena karena Zidan terus fokus menyetir dengan pandangan menatap jalanan di depan.
Zidan mengedikan bahu menanggapi pertanyaan Alena barusan. Sepertinya ia tak perduli ke mana tujuan gadis itu, asalkan mereka terus bersama dalam mobil. Keliling Ibukota juga boleh, pikirnya.
"Iiihh sebel. Dasar King Ice, menyebalkan!" cetus Alena berteriak karena Zidan cuek kembali. "Untung ganteng!" ucapnya lirih dengan wajah berpaling ke samping.
Zidan tersenyum mendengar perkataan Alena barusan. Tanpa berkata, ia mengulurkan tangannya ke arah Alena membuat gadis itu menoleh padanya.
"Apa?" Alena berubah menjadi galak.
Zidan terlalu malas untuk berkata, ia langsung menarik tangan Alena hingga wajah gadis itu mendekat ke arahnya.
Wajah keduanya saling berhadapan dengan jarak sangat dekat, kemudian Zidan mendekatkan bibirnya ke telinga Alena. "Pasang sabuk pengaman, agar kamu tidak terluka!" berbisik dengan nada yang sangat lirih, membuat Alena tersipu geli.
Zidan mengangkat sudut bibirnya tanpa diperhatikan Alena, sebab gadis itu masih menunduk malu. Mobil sudah meluncur setelah sempat berhenti sejenak.
Zidan pun membuka suaranya lagi. "Dimana?" tanya Zidan singkat.
"Hah? A-apanya?" Alena mendadak lemot seketika.
Zidan berdecak kesal. "Ckk. Alamatnya Nona," ucapnya kemudian.
"Ooh, alamat! Blang dong dari ta-di." nyali Alena menciut setelah melihat tatapan dingin dari Zidan. "Terus saja, nanti di depan sana belok kiri lalu belok kanan" tuturnya kemudian.
Zidan lagi-lagi menyunggingkan senyumnya saat melihat wajah ketakutan Alena karena tatapan tajamnya. Pemuda itu puas sekali jika mengerjai gadis seperti Alena.
Mereka pun sampai di tempat tujuan, yaitu rumah kostnya Iren.
Zidan berdiri di depan gerbang kost dengan menatap ke arah Alena yang sedang berjalan ke atas. Ia bersandar di pagar tembok dengan santainya. Sedangkan Alena berjalan ke atas untuk mengambil file di kamar Iren.
Rumah kost yang tampak sepi penghuni bila di jam segini. Kebanyakan penghuni kost pergi untuk sekolah dan bekerja.
Kakinya melangkah menuju kamar Renita sesuai petunjuknya. Setelah mengambil file, ia bergegas pergi dari sana. Namun, sesuatu membuatnya berbalik lagi.
"Siapa kamu?" suara seorang pria paruh baya menginterupsi.
Alena mengerutkan kening ketika menatap pria paruh baya tersebut yang terlihat seperti sedang mabuk. "Saya temannya Renita," sahutnya.
"Mau apa kemari? Renita kan sedang pergi bekerja!"
"Saya ke sini untuk mengambil barangnya yang tertinggal. Umm, permisi." Alena bergegas pergi setelah membungkuk sopan. Ia terlalu takut ketika melihat tatapan nakal pria paruh baya tersebut.
__ADS_1
Namun, sebelum gadis itu pergi, tangannya dicekal hingga ia berbalik badan. "Mau ke mana, Neng! Buru-buru amat,"
...Bersambung ......