
Pagi itu, Alena mendapat pesanan baju untuk kaum muda seperti dirinya. Mereka ingin rancangan itu dilihat banyak orang.
Maka dari itu, kak Aisyah meminta Alena untuk mengiklankan rancangannya tersebut di media suara atau pun cetak.
Awalnya Alena bersemangat dan berniat akan meminta bantuan dari And the genk untuk jadi model iklan nya. Namun, tak ada satu pun dari mereka yang menyanggupi permintaannya itu, dikarenakan kesibukan masing-masing.
Alena bingung harus berbuat apa. Siapa lagi yang bisa membantu agar mau dijadikan model dadakan olehnya?
Gadis itu berjalan gontai keluar butik dengan semangat yang menurun, kemudian membuka kontak panggilan di ponselnya. Tanpa sengaja netra mutiara itu melihat panggilan keluar paling terakhir yaitu KING ICE.
Sepertinya, Tuhan memang tahu apa yang sedang dicarinya. Dengan tersenyum kegirangan seperti orang gila, Alena berjalan cepat menuju parkiran. Ia sudah tak memperdulikan apapun selain model dadakan yang akan ditampilkannya. Apalagi, model tersebut tinggi, gagah, dan tampan.
Waaaah, bisa laku banyak itu! Hahaha.
Sesuai informasi dari kak Aldrian, gadis itu melajukan kendaraan menuju ke kantor Zidan, khusus untuk meminta bantuan pria dingin tersebut.
Sesampainya di sana, ia menatap lekat gedung pencakar langit yang tinggi menjulang di hadapannya. Dengan percaya diri yang tinggi, Alena melangkahkan kaki masuk kedalam perusahan besar itu.
"Permisi. Saya mau bertemu dengan si King Ice!" kata Alena sambil membuka kaca matanya.
Dua wanita resepsionis itu saling menautkan alisnya. "Maaf, di sini tidak ada nama yang anda sebutkan tadi!"
Alena tersadar kemudian cengengesan. "Oh ya ampun, gue lupa!" desisnya lirih. "Maksud saya Zidan, iya Zidan. Hehehe!" Dia malah cengengesan.
Diperhatikan gadis di depan mereka oleh kedua wanita cantik dan seksi itu. "Siapa dia?Berani benar menyebut nama CEO dengan panggilan namanya langsung?!" batin keduanya. Mereka saling menatap satu sama lain, kemudian menoleh lagi ke arah Alena lagi. "Adek ini siapanya Tuan Muda?" bertanya dengan penasaran.
Melihat cara mereka bertanya dan sikap jutek keduanya, ide gila pun muncul di pikiran Alena. Dia pun mengatakan jika dirinya adalah istri dari Zidan Prasetyo, CEO di perusahaan besar tersebut.
Kedua wanita itu terbahak-bahak sampai mengeluarkan air mata. Mungkin pernyataan Alena tersebut terdengar konyol di telinga mereka, sehingga keduanya pun mengejek Alena dengan menyebutkan bahwa keduanya juga adalah istri dari Zidan.
__ADS_1
Dua orang satpam datang menghampiri setelah dipanggil oleh kedua wanita tersebut untuk mengusir Alena yang dianggap tidak waras karena mengaku-ngaku sebagai istri Zidan.
"Ayo Nyonya Muda, kita pulang! Hahaha," Mereka ikut menertawakannya.
"Hei, stop! Jangan berani menyentuh gue!" Alena menepis tangan kedua satpam tersebut seraya berteriak keras.
Kedua wanita resepsionis malah semakin mengejeknya. "Ayo Nyonya muda, silahkan keluar! Ikuti kedua satpam itu," keduanya cekikikan.
Satpam itu pun menarik tangan Alena untuk menyeretnya keluar.
Alena terus meronta. "Lepasin gue! Sakit tahu," namun kedua satpam itu tak menggubrisnya.
Semua orang memperhatikan gadis itu dan menertawakannya, hingga aura dingin menyelimuti ruangan tersebut.
"Ada keributan apa ini?" suara dingin itu menghentikan satpam untuk menarik tangan Alena.
Semuanya langsung menunduk saat melihat si pemilik suara. Dua orang pria tampan dengan setelan formal, terlihat menghampiri diikuti beberapa pria berbadan besar dengan pakaian serba hitam.
"Kakak Ipar? Ya Tuhan, mati lah kita. Ternyata gadis itu memang benar istri Tuan Muda," batin kedua wanita itu dengan saling pandang.
Melihat tangan Alena yang ditarik secara paksa membuat Zidan marah. "Lepaskan tangannya!" Satpam pun langsung melepaskan tangan gadis cantik itu.
Zidan langsung menghampiri untuk melihat pergelangan tangan Alena yang merah akibat tarikan paksa kedua satpam itu.
Pandangannya lurus menatap mata gadis di hadapannya. "Besok kalian tidak usah masuk lagi! Ambil gaji kalian berdua di bagian keuangan," Zidan melirik sekilas pada satpam kemudian menarik tangan Alena dan membawanya masuk dalam lift khusus Presdir.
Satpam itu pun terkejut dengan perkataan bosnya. Keduanya tertunduk takut sembari meratapi nasib sial karena melakukan apa yang diminta kedua wanita bagian resepsionis tadi.
Zidan menoleh ke arah Rian. "Ikut denganku untuk memeriksa tangannya!" katanya sebelum melangkah masuk, lalu berbalik lagi. "Satu lagi. Kalian berdua juga ambil gaji kalian dan besok tidak usah masuk!" lanjut Zidan sebelum benar-benar pergi dari sana.
__ADS_1
Kedua wanita itu pun langsung mendongakkan kepalanya menatap tak percaya. Mereka saling pandang, lalu menunduk lesu.
Rian menatap semua orang yang ada di sana. "Ini berlaku bagi semua. Jika Kakak Ipar datang kemari, tolong perlakukan dia dengan baik! Ingat-ingat lah wajah cantiknya. Kalian mengerti!" Rian memperingatkan mereka sambil tersenyum. "Dasar Tuan Muda. Bilangnya tak perduli, tapi apapun dilakukan jika ada yang menyakiti gadis itu." Rian mencibirnya dalam hati sebelum berlari dan mengekor di belakang untuk masuk ke dalam lift.
Zidan berhenti dan berbalik. "Kamu naik tangga ke atas. Jangan naik lift ini!"
"Hei! Kamu jangan mempermalukan diriku di depan seluruh karyawan mu." protes Rian, namun Zidan tak perduli dan memilih mengabaikannya. "Haish, sial deh!" keluhnya sembari menunggu lift khusus karyawan.
Di dalam lift, Alena terlihat canggung. Ia tak mengira jika Zidan akan melakukan hal tersebut untuk membelanya di depan seluruh karyawannya. "Emh. Thanks ya, elu udah bantuin gue!"
Zidane mendekat ke arahnya dan mengurung Alena di dinding lift membuat ia semakin gugup. "A-a-apa yang ...?" Alena mundur saat wajah Zidan maju dan mendekat ke arahnya, membuat ia memejamkan mata sambil melipat bibirnya.
Tapi siapa sangka, Zidan malah mendekatkan bibirnya ke telinga Alena hingga gadis itu merinding karena geli. "Lawan lah mereka yang menyakitimu. Jangan biarkan mereka berbuat seenaknya kepadamu," bisik Zidan lirih.
Alena segera membuka matanya sambil melirik Zidan. Gadis itu mengira jika Zidan akan menciumnya, hingga membuat wajahnya merona karena malu.
Melihat tingkah Alena, Zidan pun seketika menyunggingkan bibirnya. "Kenapa kamu memejamkan mata? Apa kamu menunggu bibirku menyentuh bibirmu?" ledeknya kemudian.
Alena langsung mendorong tubuh Zidan, namun tak cukup tenaga karena kedua pergelangan tangannya terluka. Akibatnya, bukannya mendorong tubuh Zidan, melainkan tubuhnya jatuh ke dalam pelukan si tampan.
Zidan terkekeh geli. "Segitu inginnya kamu memelukku?" ledeknya.
Alena berusaha menegakkan tubuhnya, tapi ia kesulitan. Ia terus berusaha dengan memegang lengan Zidan sambil membantah perkataan barusan. "Apaan sih lu? Gue gak bermaksud untuk ... mmmm," ucapannya tak tersampaikan sebab Zidan sudah membungkam bibir Alena hingga ia tak bisa bersuara lagi.
Zidan sedikit menggigit bibir gadis itu, sehingga terbukalah mulutnya untuk Zidan telusuri lebih dalam.
Permainan lidah Zidan menghanyutkan Alena hingga gadis itu terbawa suasana, sampai keduanya tak sadar jika pintu lift sudah terbuka lebar.
Semua orang yang berada di luar bisa menyaksikan kemesraan kedua pasangan yang tengah saling mengecap rasa tersebut.
__ADS_1
...Bersambung ......