Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 38~Sidang


__ADS_3

Renita menjelaskan perasaannya tentang perihal kasus yang menimpanya tersebut. Rasanya sungguh memalukan apabila Indra harus mengetahuinya. Tapi, berbeda pikiran dengan Dika yang tak setuju dengan pikiran Iren. Justru kasus tersebut harus dibawa ke jalur hukum untuk memberikan efek jera bagi si pelaku.


"Gue takut Indra merasa bersalah, Dik. Dia gak boleh tau apapun tentang kejadian malam ini," ujar Iren dengan nada sedih.


Dika mengangguk paham. "Ya sudah! Kalau gitu kita pulang ke rumah gue aja ya," ajaknya kemudian.


Iren pun mengangguk, namun ia menatap Dika lagi. "Tapi, gimana kalau Enyak dan Babeh tanya? Apa yang harus gue jawab?"


Dika pun tersenyum, "Kenapa elu mikirin tentang Enyak dan Babeh gue? Mereka kan sudah kenal elu dari bayi, jadi gak usah khawatir tentang pertanyaan mereka!" Dika meyakinkannya.


Iren mengangguk dan tersenyum.


"Jadi, kita pulang sekarang?" tanya Dika.


"Iya, ayo kita pulang!" Iren mengiyakannya.


Dika menyalakan mesin vespanya dan mulai menjalankan di jalan beraspal menuju rumahnya.


Ketika laju vespa sedang berjalan santai, Renita tiba-tiba melingkarkan tangannya di perut Dika dengan kepala bersandar di punggung, hingga si empunya terhenyak. "Dika, makasih ya. Disaat gue membutuhkan seseorang untuk menolong, ternyata Tuhan malah ngirim lu kesini buat bantuin gue!" desisnya lirih.


Dika terkejut dengan tingkah Iren, namun ia menganggap semua itu hanyalah perlakuan terhadap sesama sahabat. "Elu harus berterima kasih pada Indra, karena dia yang nyuruh gue buat dateng ke sini!" sahut Dika.


Iren terdiam sejenak sebelum berkata lagi. "Terima kasih juga karna elu bawa motor vespa, bukan motor gede itu." Iren terkekeh.


"Hemmm, kenapa? Bukannya cewek itu seneng duduk mepet ke depan?!" Dika menoleh sedikit terkekeh mengatakannya.


Iren pun menepuk bahunya dari belakang.


"Gue bisa duduk miring kaya gini kalau pake vespa. Coba kalau pake motor gede? Enak di elu dong," cibirnya berpura-pura marah.


"Hahaha!" Keduanya tertawa sepanjang jalan menuju rumah Dika.


Sesampainya di depan rumah, Dika pun menghentikan motor vespa tepat di halaman rumahnya. Dia mengajak Iren masuk ke dalam rumahnya. "Yuk, masuk!" ajaknya.


Iren tampak ragu. "Ta-tapi gue?"


Dika menarik tangan Iren pelan. "Ini udah malem, Ren. Lihat nih! Jam dua belas malem," Dika menunjukkan angka pada jam tangan. "Hayu masuk! Gak enak dilihatin tetangga," ajak Dika lagi sembari melangkah.


"I-iya, Dik." Iren pun mengikuti langkah Dika.


Tok tok tok.


Dika mengetuk pintu rumahnya sembari berteriak memanggil orang tua dan kakaknya.


Lama tak ada yang menjawab, ia pun mengetuk lagi dengan keras sambil berteriak. "Nyak, Babeh, Romi, buka pintunye!"


Renita melotot sambil menepuk bahu Dika. "Ssttt, Dika. Elu mau semua orang tahu kalau elu bawa cewek ke rumah? Tengah malem lagi," protes Iren.

__ADS_1


"Oh iya, gue lupa!" sahut Dika berbisik.


Karena tak mendapat jawaban dari orang dalam rumah, akhirnya ia memutar otaknya untuk menemukan ide.


"Aha. Kita tidur di belakang saja yuk!" Dika kembali menarik tangan Iren dan membawanya ke belakang tokonya Babeh.


Di sana ada sebuah gazebo atau saung kecil yang biasa dipakai untuk nongkrong.


"Tidur di sini gak apa-apa kan?" bertanya sambil membereskan bale-bale tersebut.


"Gak apa, Dik! Walaupun di sini dingin, yang penting gue selamat dan gak ada bahaya." sahut Iren.


Dika tersadar dengan perkataan Iren, kemudian ia berlari mengambil kain yang ada di jemuran.


Ia tak menjawab ketika Iren bertanya dan buru-buru berlari lalu kembali dengan membawa sebuah kain.


"Nih buat selimutan lu," Dika menyerahkan kain itu pada Iren.


"Eh, dapet nyolong di mana lu?" Iren menatap kain di tangan Dika.


"Ckk, gue ngambil di jemuran Enyak gue. Udah pake saja," Ia melemparkan kain itu ke wajah Iren.


"Songong lu," sembur Iren menatap sengit, tapi Dika tak memperdulikannya.


Dika pun duduk lalu merebahkan tubuhnya. "Aaahhh, nyamannya." desisnya sengaja mengalihkan perhatian Iren setelah melihat raut wajah sedihnya kembali lagi.


Iren duduk di pojokkan dengan berselimut kain yang diberikan Dika. "Dika. Gimana kelanjutan elu sama Alena?" Iren bertanya sambil memejamkan matanya.


"Hemh. Emang ada apa gue sama dia?" Dia malah balik bertanya.


Iren berdecak sembari membuka matanya menatap Dika. "Ckk. Gue tahu kalau elu mencintai dia. Kenapa elu gak jujur saja sih sama Alena?"


Dika malah menunduk dan menenggelamkan wajahnya di tumpukkan kedua tangannya. "Gue gak tahu, Ren. Udah berkali-kali gue menyatakannya, tapi dia selalu menganggap itu sebuah lelucon!"


"Elu jangan pantang menyerah dong, Dik. Justru elu harus lebih bersemangat untuk mendapatkan cintanya Alena." nasihat Iren.


"Gak ada harapan buat gue bisa mendapatkan cintanya, Ren. Dulu si Hendri yang selalu mengganggunya, sekarang si Zidan. Haaaahh, gue cape!" Dika menghela nafas panjang.


Iren menatap simpati pada sahabatnya itu. "Hemh. Di mana Mahardika yang gue kenal dulu, yang selalu optimis dalam segala?"


Dika tersenyum. "Gue udah nyerah, Ren."


"Haish. Dika ... Dika!"



__ADS_1


Mentari pagi menyinari Bumi hingga menyilaukan mata. Suara ayam berkokok terdengar begitu nyaring di telinga.


Dika membalikan tubuh menjadi tengkurap, berusaha menghalangi silaunya sang Surya. "Emh. Sape sih yang pagi-pagi udah bukain jendela kamar gue?" suara serak ciri khas orang bangun tidur terdengar menggerutu. "Nyak, tutup jendelanye! Aye masih ngantuk," lanjutnya sambil memiringkan tubuh.


Ditambah suara ayam yang berkokok sangat nyaring, membuat Dika kesal. "Babeh, itu si jago kandangin nape? Brisik banget sih,"


Sebuah tangan terulur dan menepuk wajah tampannya. "Ish. Berisik banget sih lu?" Renita menggerutu kesal.


Saat matanya terbuka sedikit, ia melihat wajah seorang gadis cantik yang tertidur di sampingnya. Dika terlonjak kaget dengan membulatkan matanya. "Lho ... Lho ... Kok elu disini sih?!"


"Ish, apaan sih lu? Gue ngantuk," rengek Renita dengan membuka mata secara perlahan.


Merasa seperti ada yang merhatiin, Dika dan Iren pun menoleh ke arah luar gazebo dan ternyata ...


Jeng ... jeng ... jeng


"Haaaaaaaa!" keduanya berteriak serempak.


Enam pasang mata sedang memperhatikan mereka berdua yang tertidur bersama di tempat itu. Babeh, Enyak, dan Romi menggelengkan kepala sembari menutup telinga mendengar teriakan keduanya.


Sidang di mulai pagi itu juga.


"Apa yang semalam terjadi sama kalian berdua?" Babeh berperan jadi jaksa penuntut, sedangkan Enyak jadi hakimnya sambil duduk di kursi rotan dan memegang centong nasi.


"Kami gak ngapa-ngain, Beh. Suer," ucap Dika membela diri dengan mengangkat kedua jari di depan.


"Lalu, apa maksud dari pakaiannya yang sobek-sobek kaya gitu?"Jaksa penuntut bertanya lagi pada si tertuduh.


"Aye abis nolongin die, Beh. Semalem si Iren ..." Dia tak bisa melanjutkan kata-katanya.


"Ape? Elu kagak useh alesan dah. Enyak tahu, elu pasti maksain die kan?" tuduh Enyak menunjuk dengan centong nasinya.


"Set dah, Nyak. Entong kagak pernah maksain die. Tanye aje ame orangnye," sanggah Dika.


Mereka tak mudah percaya dengan pernyataan putranya. Enyak berdiri dan menghampiri si korban dengan mode on nya. "Neng. Ngomong sejujurnye ape yang dilakukan si Entong ame elu. Ape die nyakitin elu?"


Iren menggelengkan kepala namun tidak berbicara sepatah katapun karena takut.


"Elu kagak useh takut! Ade Enyak ame Babeh. Kalau die nga-ngapain elu, bilang aje ame kite.." kata Enyak sambil memegang bahu si korban membuat dirinya semakin gugup.


"Semalem elu disakitin?" tanya sang Hakim dan ia pun mengangguk. "Jadi, die yang ngelakuin enih?" tanyanya lagi dan korban pun menggeleng. "Sebernarnye, elu ngangguk apa nggeleng sih?" Hakim dan Jaksa penuntut pun bingung.


Melihat reaksi yang ditunjukan Iren dan Dika yang membela diri, Romi pun mengerti keadaan yang sesungguhnya.


"Menurut aye, Iren di jahatin ame orang dan Dika dateng buat nolongin. Lah terus Iren dibawa kemari karena sudah kemalaman," Tutur Romi menatap pada keduanya yang mengangguk serempak.


"Aah, Enyak kagak percaye! Pokoknye Enyak udeh mutusin, elu kudu tanggung jawab ame Neng Iren, titik kagak pake koma!"

__ADS_1


"Apa??"


...Bersambung ......


__ADS_2