Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 50~Tidur bersama


__ADS_3

Ada dua kamar di rumah yang di jadikan basecamp itu. Dulunya rumah itu bekas keluarga Alena saat ayahnya masih belum sesukses sekarang.


Rumah sederhana bernuansa asri dengan halaman ditumbuhi berbagai macam tanaman, sehingga rumah tersebut tampak indah dan nyaman untuk ditinggali.


Zidan dipapah ke salah satu kamar yang ada di basecamp dengan susah payah. Tubuh jangkung tersebut diturunkan perlahan di atas ranjang salah satu kamar, kemudian Alena duduk di tepian ranjang dengan nafas terengah.


"Argh, melelahkan!" gerutunya kesal.


Gadis itu melirik Zidan yang tergeletak dengan mata terpejam. "Bajunya basah karena keringat," desisnya sembari mengelap wajah tampan Zidan.


Ketika Alena mengusap kepala Zidan, terdengar pemuda itu bergumam. "Jangan ... ku mohon hentikan!" bibirnya bahkan bergetar seperti sedang menangis.


Alena menyentuh pipi Zidan sedikit menepuknya. "Hei, King Ice! Elu kenapa?" tak ada respon apapun dari pemuda yang tengah asyik memejamkan mata tersebut.


Wajahnya semakin pucat dengan keringat bercucuran membasahi pelipis hingga sekujur tubuhnya. Alena semakin tak tega melihat kondisi Zidan saat terbaring lemah seperti ini.


"Sebenarnya dia kenapa sih? Kenapa bisa tiba-tiba pingsan begitu?" gumamnya lirih. "Bajunya basah banget. Apa gue lepasin aja bajunya? Tapi, gimana kalau gue disangka mau ngapa-ngapain dia? Oh ya ampun, gue bingung ini!" Alena terus mondar-mandir di dalam kamar sambil memperhatikan wajah Zidan yang sudah pucat.


Kembali Alena menghampiri ranjang sembari mengulurkan tangan_bersiap untuk membuka pakaian Zidan.


Dari pada terjadi sesuatu kepada si Tuan Muda itu, lebih baik Alena segera bertindak. Bodoh amat lah mau dibilang apa, yang terpenting bisa menyelamatkan nyawanya.


Alena pun memberanikan diri melepaskan pakaian Zidan mulai dari jaketnya, lanjut lagi ke kaosnya. Namun, pergerakannya terhenti ketika mendapati sesuatu yang tertangkap netra mutiaranya. Alena menelan Saliva nya dengan kasar saat perut kotak Zidan terpampang depan mata.


"Asyeeem. Kenapa ini terjadi sama gue?!" Dia memejamkan mata saat tubuh atletis Zidan terekspos depan matanya. "Lanjut kagak ya?!" Alena bimbang antara berhenti atau melanjutkan aksinya untuk membuka pakaian Zidan.

__ADS_1


Setelah bergelut cukup lama dengan hati dan pikirannya, ia pun memutuskan untuk membuka pakaian Zidan dengan alasan menolong nyawanya_tidak lebih.


Setelah itu, Alena berlari ke dapur untuk mengambil air panas guna mengompres kening Zidan. Ia berharap apa yang dilakukannya itu bisa membantu Zidan agar sembuh.


"Elu harus sembuh, gue kagak mau elu mati di tempat gue. Gue kagak mau jadi tersangka pembunuhan elu, King Ice." Ditempelkannya kain yang sudah dicelupkan air hangat di kening Zidan sambil bergumam lirih.


Alena terus melakukan itu sampai demamnya turun. "Syukur lah!" Ia mengelus dada saat kondisi Zidan mulai stabil, lalu menyelimuti tubuh Zidan dengan selimut tebal agar menghangat. "Sebenarnya elu kenapa sih, King Ice?"


Ketika Alena menutupi tubuh jangkung itu dengan selimut dari leher sampai sebatas kaki, terdengar si empunya tubuh bergumam lirih. "Mama ... Papa ... Aku takut. Kembali lah!"


Seketika hatinya tercubit mendengar gumaman Zidan tentang permintaan kembali kepada kedua orang tuanya. "Kasihan dia, harus kehilangan orang tua disaat masih kecil. Mungkin itu yang menjadi penyebab elu menjadi dingin sama siapa pun," Alena berspekulasi.


Cukup lama mengamati wajah Zidan, Alena terkekeh dengan senyum yang mengembang. "Kalau lagi tidur kek gini imut juga ya," desisnya.


Tak tega dengan kondisi si Tuan Muda dingin, Alena berinisiatif naik ke ranjang, membaringkan tubuh di samping Zidan dengan tangan memeluk tubuh jangkung tersebut. Cukup erat Alena memeluk tubuh Zidan agar si pemilik tubuh kembali menghangat. Ia terjaga sepanjang malam hanya demi menjaga si King Ice yang sedang sakit.


Mulutnya terbuka lebar seiring mata yang terasa perih. Alena menguap berkali-kali dengan kepala terkantuk-kantuk. Selang berapa menit, Alena pun menyusul tidur sambil memeluk Zidan.


Menjelang dini hari, Zidan terbangun karena merasakan tubuhnya tertindih. Netra elang itu melirik ke samping yang ternyata menangkap wajah cantik tepat depannya dengan mata terpejam serta tangan yang melingkar di dadanya.


Ia juga merasakan keningnya ditempeli sesuatu hingga tangan Zidan terulur menyentuh lalu mengambilnya. "Apa ini?"


Zidan melirik seseorang yang tidur di sampingnya sambil memeluk tubuhnya. Ia tersenyum karena tahu bahwa Alena melakukan semua itu demi menolongnya.


"Imut juga ya saat dia tidur," desisnya.

__ADS_1


Tangannya mengusap kepala Alena dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajahnya, lalu menyelipkan di telinga gadis yang sedang tertidur pulas itu.


Dengan perlahan, Zidan menurunkan tangan Alena yang terus memeluk tubuhnya. Ia beranjak dari tidur sambil menyibak selimut karena kepanasan. Tapi, Zidan terkejut setelah mendapati dirinya bertelanjang dada. "Astagfirullah!"


Rasa terkejutnya masih belum hilang, namun Zidan tetap tersenyum. "Sebenarnya kamu itu baik, cuma sedikit berisik dan galak saja!" cetusnya diiringi kekehan kecil. Tak mungkin ia tersenyum bila Alena tengah menatapnya. Beruntung gadis itu sedang tertidur karena kelelahan.


Terselip senyum manis di wajah tampan Zidan. Pemuda itu menatap lekat, kemudian mencium kening gadis itu dengan cukup lama sebelum menatapnya kembali.


Karena masih mengantuk, Zidan pun kembali merebahkan tubuh di samping Alena dan menyelimuti tubuh gadis itu. Tapi, tak disangka jika gadis tersebut malah meronta menendang selimut sambil membuka pakaiannya sendiri.


Zidane terkejut dengan apa yang dilakukan Alena hingga ia memalingkan wajah dengan tubuh bergerak menjauh. Tapi, bukan Alena jika tidur saja tidak rusuh. Gadis itu menindih tubuh Zidan, menjadikan lengan sebagai bantalan, menyusup ke dada bidang Zidan, serta memeluk tubuhnya dengan erat.


Kulit keduanya saling bersentuhan_menempel satu sama lain membuat wajah Zidan merona sampai hati dan pikirannya tak karuan.


Telinga dan wajahnya sudah memerah, dengan kaki menegang berusaha menahan sesuatu, sebab tangan Alena mengusap dan meraba bagian tubuhnya dengan lembut.


"Cobaan apa ini?!" Ia tak percaya dengan tingkah gadis itu, walaupun dia sendiri tak sadar karena sedang tertidur pulas. Namun tingkahnya itu memancing sesuatu dalam diri Zidan. Sebagai pria normal, wajar saja Zidan kejang-kejang menahan sentuhan yang memancing gairahnya tersebut.


Pemuda itu mencoba memejamkan mata, namun tiba-tiba saja Alena menggigit dadanya hingga Zidan berteriak. "Aarrrgghh! Apa yang kamu lakukan?" Ia mendorong kepala Alena untuk menjauh, tapi pelukan tangannya begitu erat tak mau lepas.


Bukan hanya dada saja, leher dan lengan Zidan pun merasakan gigitan Alena yang entah sedang bermimpi apa. Alhasil, tubuh mulus dan putih Zidan terdapat banyak jejak merah bekas gigitan.


"Ya Tuhan. Dia ini seorang gadis atau kucing galak, sih!" keluh Zidan sembari mengusap bekas gigitan Alena di bagian tubuhnya.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2