
Alena mundur karena pria paruh baya itu terus maju mendekat ke arahnya dengan senyum menyeringai. Tersirat sesuatu dari seringainya tersebut, seperti rencana jahat.
Gadis itu berusaha melepaskan cengkraman si tua agar bisa segera pergi dari tempat tersebut. Namun, pria tua itu tak memberikan Alena celah sedikitpun untuk kabur.
"Maaf, Pak! Aku bukan orang jahat yang berniat mencuri apapun, kok! Jadi, tolong lepaskan tanganku!" Alena meronta berusaha melepaskan cengkraman si tua yang sangat erat itu.
"Mana ada maling ngaku," tudingnya lalu memberikan penawaran kepada gadis tersebut. "Begini saja. Kita ngobrol dulu di ruangan itu biar saya tidak mencurigai Neng cantik lagi! Gimana?" menunjuk ruangan yang terlihat gelap di ujung lorong.
Alena memperhatikan sekeliling dan mendapati seluruh ruangan di lantai tersebut sepi. Kemungkinan para penghuni kamar sedang tak ada di sana hingga semuanya terdengar senyap.
Pria itu mengulurkan tangan dan ingin menyentuh wajah cantik Alena yang masih menatap sekeliling. Tapi, tiba-tiba sebuah tangan terulur dengan menampakan si pemilik tubuh di depan mereka.
Dia lah Zidan, si pemuda dingin yang sulit untuk diajak kompromi. Zidan menahan tangan nakal pria tua yang akan menyentuh wajah Alena. "Mau apa kamu?" nada dingin dan datar terdengar.
Pria tua mesum itu menatap tangannya yang tertahan kemudian menoleh ke arah seseorang yang berkata dengan dingin. "Siapa kamu?" pertanyaan keluar dari mulut si pria mesum itu.
Tak memperdulikan pertanyaan pria tua mesum itu, Zidan tetap bertanya hal yang sama. "Aku tanya, kamu mau apa?" dieratkan cengkraman tangannya sampai si empunya tangan meringis kesakitan.
"Hei, lepaskan." Pria tua itu mencoba melepaskan tangannya dibantu dengan tangan satunya lagi. Namun, si pelaku tidak melepaskannya, ia malah semakin mengencangkan cengkeramannya.
Zidan semakin menatapnya tajam dengan suara dingin mengintimidasi. "Jangan coba-coba menyentuhnya!"
Nyali pria tua itu menciut saat tatapan mata Zidan menusuk kedua bola matanya. "Maafkan aku, Tuan! A-aku tidak akan mengganggunya lagi. Maaf!" Ia menyatukan kedua tangannya.
Zidan langsung menarik tangan Alena dan berlalu begitu saja meninggalkan pria mesum yang sedang menunduk memohon maaf padanya.
Alena mengikuti tarikan tangan Zidan tanpa protes sedikitpun, lalu naik mobil ketika pemuda tersebut membukakan pintunya.
Saat di dalam mobil, Alena tak berkata sedikitpun dan memilih diam tak bersuara.
"Kenapa diem aja? Kamu menyesal karena aku datang kesana?" seperti biasa, nada bicara Zidan tak pernah diubahnya sedikitpun.
__ADS_1
Alena menoleh. "Hah? Enggak kok! Gue cuma lagi berpikir aja!" jawabnya singkat.
"Mikirin apa?" Zidan bertanya tanpa menoleh sedikit pun.
Alena terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan Zidan. Dia menceritakan kerisauan hati tentang pria tua mesum tadi yang berada di tempat kost sahabatnya, Renita.
Gadis itu menjadi takut bila Renita diganggu oleh si pria tua mesum tadi, hingga ia berpikir untuk mengajak Renita pindah rumah kost.
Zidan yang menyimak pernyataan Alena pun mengangguk setuju. Pemuda itu mengerti akan kekhawatiran yang dirasakan gadis di sampingnya tersebut. Ia pun membuka suaranya, "Coba kamu ajak dia bicara. Jelaskan semua yang ada dalam pikiranmu itu tentang pria tua tadi. Ingat! Jangan membuat Iren ketakutan hingga dia berbicara yang tidak-tidak di tempat itu. Nanti takutnya dia celaka," nasihat Zidan.
Alena mengangguk mendengar perkataan Zidan. Ia tersenyum senang sebab pemuda dingin seperti Zidan ini bisa diajak bicara dan memberikan nasihat baik.
●●●●
Sementara di tempat kost tadi.
Pria tua mesum itu termenung sendiri menatap kepergian gadis cantik yang hampir akan menjadi mangsanya, jika saja tak ada yang datang ke sana.
Ibu kost yang terkenal galak dan cerewet itu tak pernah percaya jika ada seseorang mengadukan tingkah nakal suaminya yang suka melecehkan para wanita di tempat itu. Mereka justru diusir dari sana tanpa mengembalikan uang sewa sedikitpun.
Pria mesum itu memiliki tempat khusus untuk menjalankan aksinya, yaitu ruangan di ujung lorong yang ditunjukkan pada Alena tadi.
"Gara-gara pemuda sialan itu, kesenanganku lenyap sudah. Acara untuk menjamah tubuh gadis itu menjadi gagal total," keluhnya sambil meminum kembali bir yang ada di tangannya.
Dia berjalan sempoyongan sambil bergumam tak jelas karena efek minuman beralkohol tersebut.
Tak lama kemudian, seorang wanita datang ke tempat kost besar itu untuk mencari kamar kosong. Ia menemui sang pemilik kost namun si ibu kost ternyata tak ada di tempatnya.
Seperti mendapat keberuntungan. Satu hilang datang yang lain, pikir si pria mesum itu. Kesempatan tersebut tak disia-siakannya. Bergegas si tua mesum itu menyambut calon penyewa kamar kost dengan suka cita penuh kebahagiaan.
Bukan karena hanya uang yang akan didapatnya, melainkan kesenangan juga akan dinikmatinya.
__ADS_1
Saat itu juga, wanita tersebut resmi menyewa salah satu kamar kost yang ada di sana.
Penampilannya yang seksi sangat menggoda si tua mesum tersebut hingga pria itu merencanakan sesuatu untuk bisa menyentuh wanita seksi tersebut.
Emang dasar tuh si tua bangka, kagak tahu namanya kepunyaan atau bukan, pengennya maen embat aja.
Akhirnya, si tua mesum itu mendekati wanita seksi yang sedang beres-beres di kamarnya.
Didekapnya tubuh seksi itu dari belakang dan ia membungkam mulut wanita tersebut dengan tangannya.
Wanita tersebut meronta berusaha melepaskan diri. Tapi, si mesum malah semakin tergoda untuk mencicipi manisnya tubuh montok wanita itu.
"Ssssttt. Kalau kamu mau selamat, turuti semua keinginanku." Si tua mesum berbisik di telinganya wanita tersebut. Dengan mengangguk ia berusaha supaya dirinya bisa lepas.
Dekapannya pun dilepas, namun dirinya tak dibiarkan begitu saja. Ia ditarik untuk duduk di pangkuan si mesum yang sudah memposisikan tubuhnya senyaman mungkin.
Wanita itu tak langsung menuruti permintaan si mesum, apalagi melihat tingkah suami ibu kost itu yang terlihat menjijikan. "Bapak mau apa? Tolong jangan lakukan apapun padaku?" Ia menangis sambil memohon untuk di biarkan pergi.
"Heh, sayang sekali aku membiarkanmu pergi begitu saja. Aku hanya ingin merasakan tubuh seksimu saja," Pria itu berkata sambil mengelap ujung bibirnya yang basah karena air liur sudah menetes.
Bau alkohol tercium dari mulut pria itu membuat si wanita semakin ketakutan.
"Tolong Pak, lepaskan aku. Aku mohon!" Ia terus memohon sembari mundur berharap bisa keluar dari kamar tersebut.
Tapi, si mesum tak membiarkannya begitu saja. Ia segera beranjak dan menarik paksa wanita tersebut untuk segera dilahapnya.
Wanita itu semakin meronta untuk melepaskan diri, sambil berteriak meminta tolong. Tapi, suaranya tak didengar siapapun karena kost tersebut dalam keadaan sepi.
"Hahaha. Ayo gadis cantik, jangan menolak! Kita akan berdenang-senang," ucapnya dengan seringai penuh nafsu.
"Tolooooooooooong!"
__ADS_1
...Bersambung ......