
Pemuda itu mencoba memejamkan mata, namun tiba-tiba saja Alena menggigit dadanya hingga Zidan berteriak. "Aarrrgghh! Apa yang kamu lakukan?" Ia mendorong kepala Alena untuk menjauh, tapi pelukan tangannya begitu erat tak mau lepas.
Bukan hanya dada saja, leher dan lengan Zidan pun merasakan gigitan Alena yang entah sedang bermimpi apa. Alhasil, tubuh mulus dan putih Zidan terdapat banyak jejak merah bekas gigitan.
"Ya Tuhan. Dia ini seorang gadis atau kucing galak, sih!" keluh Zidan sembari mengusap bekas gigitan Alena di bagian tubuhnya.
• • •
Pagi menjelang. Sang surya sudah merangkak keluar dari persembunyiannya, menampakan diri dengan sinarnya yang menghangatkan. Udara sejuk terasa di kulit, dengan bau harum semerbak bunga yang baru saja mekar setelah embun turun dari daun.
Seorang gadis membuka mata perlahan seiring terbukanya mulut lebar-lebar. "Hoaamhh! Jam berapa ini? Tumben bener gak denger toa surga," Ia berkata sambil mengucek mata.
"Ini udah pukul enam lewat lima belas menit," Suara seseorang mengejutkannya hingga Alena sontak menoleh ke samping. "Astaga! E-elu lagi ngapain di sini?" tanya Alena yang sempat terperanjat karena kaget.
Zidan berdecak sebelum menjawab. "Ckk. Kamu lupa dengan apa yang kamu lakukan sama aku?" tukasnya sembari menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. "Nih lihat! Semua ini ulah kamu tau," Zidan pura-pura sedih tak berdaya.
Alena semakin terkejut dengan pemandangan di depan mata. "Ta-tanda apaan itu?" matanya membulat sempurna seiring rasa penasarannya.
Dengan memasang wajah memelas, Zidan berkata. "Ini semua gigitan kamu, Pusy. Kamu yang telah melakukan itu semalem," sahutnya bernada sedih. Bahkan, wajah Zidan menunduk seperti tak berdaya_tak berani menatap Alena.
"Pusy? Hei! Siapa yang elu panggil Pusy?" Alena melotot menatap tajam ke arah Zidan.
"Tentu aja kamu," sahut Zidan enteng.
Alena membulatkan mata mendengar jawaban Zidan yang menurutnya menyebalkan. Enak saja dia disamakan dengan Pusy, si kucing betina miliknya.
Gadis itu sontak memukul dada bidang Zidan yang masih terekspos di depan matanya. "Iiihh, menyebalkan!" rengeknya sembari terus memukul dada bidang Zidan secara berulang.
Zidan menangkap kedua tangan Alena, lalu mendorongnya hingga gadis itu berada tepat di bawah kungkungan nya. "Jangan memancingku saat di pagi hari, Pusy! Kalau tidak? Kamu akan tahu akibatnya!" ancamnya dengan suara lirih.
__ADS_1
Alena yang masih belum mengerti akan perkataan Zidan barusan tetap saja melakukan pergerakan yang membuat suasana menjadi canggung. Wajah Zidan merona saat kaki Alena bergerak-gerak meronta_berusaha melepaskan diri. "Ngapain gue mancing elu? Mending mancing ikan," ketusnya.
Tapi, pergerakannya itu justru membangunkan sang singa yang tengah menahan auman sedari tadi.
Tanpa disangka, Zidan langsung membungkam mulut cerewet Alena dengan tangan mencekal kedua tangan gadis itu, dan lututnya mengapit kedua kaki Alena agar tak bisa bergerak.
Ciuman Zidan terlihat menuntut dan rakus, hingga Alena kewalahan mengimbangi permainannya. Namun, lambat laun Alena pun mengikuti ritme yang diciptakan Zidan hingga tak disadari tangannya merem@s rambut lurus Zidan. Gadis itu menikmati kecupan yang diberikan Zidan pagi hari ini.
Gairah semakin memuncak, dengan si junior berkedut menangkap sinyal kuat dari parabola. Tangan Zidan bergerak mengusap pipi, lalu bibir Alena yang basah akibat ulahnya. "I love you, Alena!" suaranya semakin berat.
Alena gelagapan atas pernyataan Zidan. "A-apa yang elu katakan!"
Netra elang itu meneduh saat menatap wajah cantik gadis di bawah kungkungan nya tersebut. Ketika gairah semakin menyelimuti, Zidan berusaha menahan kendali dengan berkata perkataan yang menyebalkan untuk didengar Alena. Membuat Alena marah merupakan jalan satu-satunya agar dirinya bisa mengontrol emosi.
Pemuda itu merengek sembari memperlihatkan bekas gigitan Alena di sekujur tubuhnya. "Lihatlah! Ini tanda cinta yang kamu berikan semalam, karena merasakan sesuatu yang begitu nikmat." bisik Zidan sambil menopang tubuhnya di atas tubuh Alena dengan kedua tangannya, dan juga memasang wajah menyebalkan.
"A-apa maksud lu tanda cinta? Jangan katakan kalau kita sudah ...??" Alena menatap Zidan yang mengangguk pasrah.
"Menurutmu!"
"Gue tetep yakin gak melakukan perbuatan itu," elak Alena terus.
Zidan kembali berucap. "Aku mau tanya, baju kamu di kemana kan?" pertanyaan Zidan sontak membuat Alena menunduk.
Matanya kembali membulat sempurna mendapati tubuhnya yang hanya terbalut tank top saja. Lalu, dimanakah jaket kulit yang semalam ia kenakan? Gadis itu berpikir keras sembari menyibak selimut untuk memeriksa bagian bawah.
Huh, untung celananya masih menempel sempurna.
Alena melirik sinis Zidan yang terkekeh dengan wajah menyebalkan. "Sialan," umpatnya geram.
__ADS_1
"Hahaha!" Pemuda itu tertawa terbahak setelah berhasil mengerjai Alena yang cemberut menekuk wajahnya geram.
•
•
Di sebuah pelataran luas yang dijadikan tempat untuk senam di salah satu pusat kebugaran terkenal. Terlihat beberapa wanita muda tengah menggerakkan tubuh mengikuti irama musik sesuai gerakan instruktur senam mereka.
Teriakan instruksi dari instruktur senam terdengar nyaring sampai ke luar parkiran hingga anggota senam takkan salah mengikuti gerakannya.
Dari arah luar, Alena and the genk baru saja turun dari kendaraannya. Langkah kaki mereka terayun memasuki pelataran senam tersebut, dengan berjalan sesuai gaya mereka. So cool.
Di tempat ini, Devi keponakan Bi Murni menjadi instruktur senam. Tapi, pekerjaannya kini diambil alih oleh temannya yang iri akan kemampuan serta rezeki yang didapat Devi, hingga mereka memfitnahnya dengan kejam.
Devi sudah tak bisa bekerja di tempat ini lagi, sebab mereka membuktikan jika Devi bersalah. Dia pun dikejar pembunuh bayaran seminggu lalu, karena tak mau diajak berdamai oleh mereka yang sudah menudingnya curang.
Alena and the genk dimintai tolong untuk membantunya menyelidiki kasus tersebut, karena Devi selalu diteror oleh orang tak dikenal. Keselamatannya terancam, sebelum para penjahat itu ditangkap. Maka dari itu, Alena sengaja memancing para tersangka agar menampakkan diri dengan sendirinya tanpa harus susah payah dicari.
Kelima anak muda itu berjalan dengan wajah berseri, memperlihatkan senyuman ramah terhadap semua orang yang ada di sana. Hanya satu yang wajahnya tanpa ekspresi. Zidan Prasetyo, si Tuan Muda dingin yang selalu membuat hati Alena dongkol setiap hari.
"Permisi. Boleh kami tanya sesuatu?" Dika mewakili mereka bertanya kepada salah satu penjaga di sana.
Seorang pria setengah baya yang berprofesi sebagai satpam itu memperhatikan kelimanya secara bergantian, kemudian mengangguk perlahan. "Iya, ada apa?"
"Begini, Pak. Kami ke sini mencari seseorang yang bernama Diana. Apa Bapak tahu dimana Diana berada?" Dika berkata dengan serius.
Terlihat satpam tersebut menautkan kedua alisnya_ragu untuk menjawab. Dika tahu pasti perkara ini tak mudah. Maka dari itu, ia pun berkata lagi. "Kami adalah temannya,"
"Oh, temannya. Baiklah, ikuti saya!" ujar satpam dan kelima orang tersebut tersenyum penuh arti.
__ADS_1
"Akhirnya," gumam kelimanya.
...Bersambung ......