Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 52~Penjahat sesungguhnya


__ADS_3

Kelima anak muda itu mengikuti langkah satpam yang menuntunnya ke dalam untuk menemui orang-orang yang katanya penjahat bagi Devi.


Diana, wanita berusia lebih muda dari Devi. Dia dalang dibalik semua kejadian yang menimpa Devi akhir-akhir ini.


Katanya, Diana yang menyewa pembunuh bayaran untuk melenyapkan nyawa Devi hingga wanita muda tersebut nyaris kehilangan nyawa dan menyebabkan Devi berhenti dari pekerjaannya.


Devi kabur ke rumah Alena untuk mendapat perlindungan dari bibinya, bi Murni. Ia berharap bisa bersembunyi dari para penjahat jika tinggal di kediaman Bramasta.


Satpam menunjuk salah satu ruangan yang berada di pojok tempat senam, bertuliskan ruangan khusus instruktur.


"Itu ruangannya. Kalian bisa ke sana untuk menemui Nona Diana," kata satpam lalu pergi meninggalkan mereka.


Tok ... tok ... tok


"Permisi. Maaf, mengganggu! Bisa bertemu dengan Diana?!" Alena masuk mewakili yang lain setelah mendorong pintu ruangan tersebut.


Ada beberapa orang di sana dan mereka semua serempak menoleh ke arah pintu. Seorang gadis yang di duga bernama Diana lekas beranjak dari duduknya, lalu melangkah menghampiri. "Iya, ada apa? Saya yang bernama Diana," ujarnya menatap Alena.


Sungguh. Wajah polosnya itu seketika menepis semua prasangka buruk yang dikatakan oleh Devi. Mana mungkin gadis muda yang usianya diperkirakan sama dengan Alena itu bisa berbuat jahat kepada orang lain, apalagi sampai menyewa pembunuh bayaran hanya untuk menyingkirkan saingan dalam pekerjaannya.


Tidak ... tidak! Apapun bisa terjadi. Namanya kejahatan, siapapun akan melakukannya karena diliputi rasa benci serta iri dengki. Itu pasti.


Alena mengulurkan tangan. "Perkenalkan. Gue Alena dan mereka teman-teman gue." ujarnya seraya menoleh ke belakang. Diana terlihat mengangguk sembari tersenyum. "Kedatangan gue dan teman-teman ke sini hanya untuk ngobrol sama lu. Bisa gak minta waktu sebentar?"


Terlihat Diana menoleh ke belakang ke arah teman-temannya yang mengangguk, lalu ia pun mengangguk. "Bisa. Mari masuk!"


"Umm, kita ngobrol tempat lain aja. Kebetulan, yang mau kita omongin ini sifatnya pribadi!" tolak Alena ketika Diana mempersilahkannya masuk ke dalam ruangan.


"Oh, baiklah! Kak, aku ikut mereka dulu ya!" pamitnya pada teman-temannya yang berada dalam ruangan. Sepertinya mereka senior Diana.


Gadis itu melangkah di depan diikuti kelima and the genk. Mereka berjalan menuju halaman belakang, tempat yang pas untuk bersantai bahkan mengobrol sebab di sana terdapat pohon rindang dengan beberapa bangku panjang di bawahnya.


Diana terlihat tak takut atau curiga terhadap kelima and the genk. Bahkan, ia terlihat santai serta ramah dan sopan dalam bertutur. Gadis itu juga menunjuk setiap area dan menyebutkan nama area tersebut.

__ADS_1


"Nah di sana itu tempat latihan para instruktur. Kami memilih tempat yang terbuka karena selain bisa menghirup udara segar, juga karena instruktur senam yang sekarang semakin banyak. Kalau di ruangan pasti pengap, hehehe." Diana cengengesan. Gadis itu terlihat natural ketika berekspresi_tak kaku seperti seorang yang punya masalah dengan orang lain.


Apa benar dia penjahatnya? batin kelimanya menatap bingung.


"Kami ingin bertanya. Apa ada instruktur senam yang bernama ... Devi?" pancing Dika mulai menyelidik.


Mendengar nama Devi disebutkan, seketika ekspresi Diana mendadak takut. Wajahnya terlihat pucat seiring tubuh yang bergetar. Ia meremat jari-jemari menetralkan rasa takutnya. "De-Devi?"


Kelimanya saling pandang melihat ekspresi ketakutan dari Diana. Sesekali gadis itu mengusap wajahnya gusar yang dipenuhi keringat dingin. Bahkan, Diana terlihat berusaha menahan tangis dengan senyum yang dipaksakan.


Ada sesuatu yang tak beres dari gadis itu. Tapi, apa dan kenapa, hal itu yang harus dicari tahu oleh mereka. Apakah gadis itu bersikap seperti itu karena merasa bersalah atas perbuatannya? Ataukah dia memang tidak bersalah?


Oh My God!


Argh ... rasanya ini membingungkan.


Setelah dibujuk terus menerus, akhirnya Diana pun mengakui semua dan berkata jujur kepada kelima and the genk.


Devi bersikap kejam terhadap wanita yang lebih muda darinya hingga gadis itu mengalami trauma. Beruntung, psikiater dengan cepat menyembuhkan Diana dari trauma yang dialami akibat ulah Devi.


"Brengsek," umpat Dika kesal.


"Jadi, kita udah dikibuli sama ponakan Bi Murni dong, Beb." ujar Indra pada Alena.


Alena sendiri terlihat menghela nafas panjang lalu mengangguk. Ia merasa dirinya paling bodoh karena percaya gitu aja kepada keponakan asisten rumah tangganya.


Setelah berpamitan dan meminta maaf kepada Diana, kelima anak muda itu pun pulang. Tapi, di perjalanan tak sengaja mereka menemukan Devi dengan beberapa pria dewasa tengah mengobrol sambil tertawa.


Wajahnya tak seperti orang ketakutan. Justru wanita itu terlihat akrab dengan para pria dewasa tersebut. Itu pasti komplotannya, batin kelimanya sependapat.


Ketika ditelusuri ternyata benar bahwa Devi lah yang berbuat jahat terhadap Diana dan menuding wanita itu yang telah berbuat jahat padanya.


Tak tinggal diam. Para and the genk segera bertindak untuk menegur Devi dan meminta penjelasannya. Tapi tak disangka, Devi yang sudah ketahuan justru menyuruh para pria itu menyerang and the genk. Akibatnya, mereka berlima terlibat perkelahian sengit melawan para pria komplotan Devi.

__ADS_1


Dari perkelahian itu kelimanya terluka, terlebih Alena yang mendapat luka parah. Gadis itu bahkan tak sadarkan diri akibat benturan keras di kepalanya akibat dipukul oleh para penjahat itu.


And the genk lebih memilih pergi dari pada mengabaikan keselamatan Alena. Mereka berlari meninggalkan tempat itu dan juga kendaraan yang terparkir di dekat markas para penjahat tadi.


Zidan menggendong tubuh lemah Alena yang terluka dengan sangat hati-hati. Darah terus menetes dari luka akibat benturan tersebut hingga Alena tak sadarkan diri membuat keempat pemuda itu cemas dan ketakutan.


Ketiga sahabat Alena hanya mengikuti langkah Zidan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Dalam pikiran mereka saat ini adalah ketakutan akan kondisi buruk yang dialami sahabatnya tersebut.


Para penjahat itu masih mengejar dan mereka harus segera pergi secepat mungkin ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawa Alena. Jika saja Alena tidak terluka, Zidan dan yang lainnya pasti bisa mengalahkan para penjahat itu.


Mereka menghentikan taksi untuk pergi ke rumah sakit. Akan tetapi, tak ada taksi yang mau berhenti untuk mengantarkan mereka. Terlebih, melihat penampilan mereka seperti gelandangan.


"Sial," gerutu ketiga teman Alena saat tak satupun dari mereka bisa menghentikan taksi atau kendaraan lain.


Kondisi Alena makin memburuk. Ia bahkan tak bergerak sedikit pun walau guncangan yang dilakukan Zidan saat membawanya berlari.


"Ya Allah, hamba mohon bantu kami. Kondisinya sangat parah, dia harus segera di tolong. Aku gak mau kehilangan dia," gumam Zidan sambil memeluk tubuh lemah Alena.


"Sial. Kenapa semua kendaraan gak ada yang mau berhenti?" Dika marah ketika semua kendaraan berlalu begitu saja.


"Sabar Dik, kita coba terus." Geri menepuk bahu Dika. Mereka pun mencoba lagi dan lagi, namun semua sia-sia.


Seluruh tubuh Alena sudah terasa dingin membuat keempat pemuda itu menjadi khawatir sekaligus cemas dengan keadaannya.


"Ya Tuhan, apa yang harus kita lakukan?" Mereka menatap tubuh lemah itu dengan perasaan masing-masing.


Zidan menjadi geram. Ia lantas menurunkan tubuh Alena perlahan, kemudian berlari ke tengah jalan dan merentangkan kedua tangannya untuk menghentikan kendaraan. Ia tak memperdulikan teriakan ketiga teman Alena yang terus berteriak memanggilnya.


Zidan terus berdiri tanpa rasa takut saat mobil Pick-up melintas di jalan itu dan melaju kencang ke arahnya. Zidan tak bergeming sedikit pun saat laju mobil tersebut semakin dekat.


"Aaaaaaaarrrrggghhhh!"


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2