
Mata Dika membelalak sempurna ketika melihat pesan yang ada dalam ponsel Zidan.
Tanpa berpikir panjang, ia melangkahkan kakinya dan mengendarai kendaraannya melesat di jalan beraspal dengan kecepatan penuh.
Sesampainya di sana, ia berlari menuju tempat yang diinformasikan.
"Dimana dia?" gumamnya seraya terus berlari menyusuri lorong itu.
Seorang pelayan wanita menghampirinya. "Tuan, dia disini" kata wanita tersebut.
Dika mendobrak pintu ruangan yang tertutup. "Bebaskan dia!" teriaknya.
Seorang pria dewasa tengah duduk dengan kaki selonjor di meja. Wajahnya menyeringai menampakan senyuman culas, "Minum dulu ini, baru aku akan membebaskannya!"
Tanpa berpikir panjang, Dika pun menyetujui perkataannya. "Baiklah!" ia pun meminum minuman pemberian pria tersebut lalu terjatuh seketika dengan tubuh yang sangat lemah.
Bruukk
"Kalian??" Dika menatap dengan tatapan sayu. Dadanya sesak, hawa tubuhnya meningkat panas, juga rasa tak nyaman seketika menyerangnya.
Reaksi obat perangsang tersebut sangat cepat, sehingga Dika tak bisa mengontrol emosinya.
Melihat kondisi Dika yang sudah tak karuan, mereka tersenyum jahil dan menyuruh para wanita malam untuk memapahnya ke ranjang yang berada di ruangan tersebut.
Dika berusaha mengontrol diri dengan terus menggelengkan kepala agar kesadarannya tetap terjaga. "Jangan sentuh gue!" peringatan Dika tak dihiraukan para wanita malam tersebut. Mereka semakin gencar menggoda pemuda tampan tersebut karena mengira jika pemuda itu adalah Tuan Muda Prasetyo.
"Tuan Muda. Kami akan memuaskan kamu malam ini," cetus salah satu wanita dengan tersenyum nakal.
"Benar! Jangan berusaha menahannya, Tuan! Lepaskan semua hasrat dirimu pada kami. Kami janji tak kan menolak," timpal yang lain terkekeh.
Dengan sisa tenaganya, Dika mendorong ketiga wanita itu. "Menyingkir lah! Jangan bikin gue marah!" bentaknya lagi, namun tak dihiraukan oleh ketiga wanita itu.
Pria dewasa yang sedari tadi memperhatikannya tertawa terbahak. "Selamat bersenang-senang, Tuan Muda!" ucapnya sembari melangkahkan kaki keluar ruangan, meninggalkan para wanita itu untuk beraksi.
Dika menggertakkan gigi dengan rahang yang mengeras. "Kurang ajar! Mereka memberiku obat," Ia pun menekan daftar nomor seseorang yang ada di panggilan terakhir.
Ketika sambungan telponnya diangkat, Dika pun berkata. "Tolong!" ucapnya lirih.
"Lu kenapa?" suara seorang gadis terdengar khawatir. "Dika ... Dika!" tapi si pemilik nama tak menyahut sama sekali membuatnya semakin khawatir.
Bergegas gadis itu beranjak dari tempatnya ketika tak mendapati sahutan dari Dika. Ia mencari keberadaan Dika lewat GPS handphonenya yang dilacak sebelumnya.
Setelah menemukan lokasi keberadaan Dika, gadis itu berlari menuju sebuah klub malam. Dia berlari menyusuri setiap lorong sembari memeriksa titik lokasi di ponselnya.
Ketika sedang memeriksa, tak sengaja ia mendengar sebuah suara teriakan dari kamar tak jauh dari posisinya berdiri. Suara yang berasal dari orang yang dikenalinya tengah membentak para wanita di dalam kamar tersebut.
Gadis itu bergegas masuk, lalu memukul para wanita tersebut dengan sangat keras hingga tubuh mereka tersungkur ke lantai.
"Argh. Siapa kamu?" teriak para wanita itu.
"Gue malaikat maut," sahutnya sembari melayangkan beberapa tendangan ke wajah mereka hingga para wanita tersebut kocar-kacir dibuatnya.
__ADS_1
Setelah para wanita itu pergi, gadis tersebut menghampiri Dika yang tengah duduk dengan nafas memburu seperti menahan sesuatu. "Lu kenapa?" bertanya dengan khawatir.
Tanpa menoleh, Dika menjawab. "Tolongin gue. Mereka memasukkan obat itu," ucapnya dengan napas yang berat
"O-obat? Obat apaan?"
Belum sempat pertanyaannya terjawab, Dika sudah melompat menyerang gadis itu sambil berkata, "Maaf!"
Gadis tersebut sangat terkejut mendapat serangan dadakan dari Dika, yang dengan brutalnya menyerang dirinya. "Di-kaaaaaahhh!" ia melenguh ketika Dika menyerang titik sensitifnya.
Tenaganya kalah jauh dengan Dika yang sedang dikuasai hasrat membara karena pengaruh obat.
Gadis tersebut hanya bisa pasrah ketika mendapati serangan dari benda pusaka milik Dika yang terus merangsek masuk ke dalam goa miliknya. Jeritan kesakitan tak dihiraukan Dika yang sudah diliputi gairah.
Pemuda itu terus memacu laju benda pusaka yang lambat laun semakin membuatnya tegang hingga mengerang. Sang gadis pun menikmati permainan Dika seiring berjalannya waktu.
"Alena. I love you!" bisik Dika lirih sambil menuntaskan hasratnya.
Gadis itu menggelengkan kepala dengan tangan terulur menyentuh wajah Dika. "Hei! Pandang gue, lihat mata gue, siapa gue?" kata si gadis dengan berurai air mata.
Dika terkejut mendapati wajah cantik yang berada di bawah kungkungan nya. "Hah? Ya Tuhan! I'm so sorry," ucapnya lirih ketika sudah mengetahui siapa gadis yang tengah dipeluknya. Ia pun melepaskan pelukannya, kemudian beranjak dari posisinya.
Namun, sebelum Dika beranjak untuk melepaskan pelukannya, gadis itu menahan tubuh polos Dika dengan melingkarkan tangan di pinggang pemuda tersebut. "Tidak, jangan lepaskan! Elu pernah nolongin nyawa dan kehormatan gue, dan kini saatnya gue membalasnya." pungkas gadis itu.
Dika menatap lekat wajah cantik di hadapannya. Ia pun memeluk serta mencium bibir ranum yang sudah dicicipinya tadi. "Maaf! Maafin gue, Ren!" hanya kata itu yang keluar dari mulut Dika.
Renita hanya bisa pasrah membalas serangan dari Dika yang terus memacu kecepatannya lagi dan lagi.
•
•
Kejadian sebelumnya ...
Setelah dari tempat kost Iren, Alena dihadang para preman di pertengahan jalan menuju pulang.
Beberapa orang berbadan besar itu menghentikan mobilnya yang sedang melaju dengan cara melemparkan paku-paku kecil supaya terlindas oleh ban mobil.
Alhasil, mobil sport merah yang sedang melaju kencang pun melambat dan berhenti di tengah jalan.
Para preman bayaran itu langsung menghampiri Alena saat dirinya keluar untuk mengecek kondisi mobilnya. Ketika sedang menunduk untuk mengecek apa masalah yang di derita mobilnya, saat itu para preman beraksi.
Krup
Sebuah karung hitam masuk dan menggulung tubuhnya yang sedang tidak siap untuk apa-apa. Ia pun meronta namun tubuh dan tangannya langsung diikat dengan tali.
Tubuhnya pun digotong dan dimasukkan kedalam sebuah mobil jeep, lalu dibawa entah kemana.
"Lepasin gue! Dasar kurang asyem, kalian!" Ia terus meronta namun tak dihiraukan oleh para preman itu.
Tangan Alena diikat ke belakang oleh salah satu dari mereka.
__ADS_1
Karung penutup itu pun dilepaskan saat mereka telah sampai di tempatnya.
"Kita ambil gambar dulu untuk mengancam si Tuan Muda! Dia tidak akan berani macam-macam kalau istrinya ada di tangan kita. Hahahaaa..." Preman itu tertawa.
Cekrek ... cekrek ...
Fhoto Alena saat dirinya tak berdaya karena tali pengikat yang kuat, dikirimkan ke nomor ponsel Zidan bermaksud mengancam si Tuan Muda tersebut atas perintah kakeknya.
"Kalau mau selamatkan istrimu, datanglah ke klub city sekarang juga. Kami tidak ada waktu bermain denganmu," pesan tersebut langsung terkirim ke nomor ponsel Zidan beserta gambar Alena.
Alena terus meronta berusaha melepaskan diri. "Lepasin gue! Siapa yang nyuruh kalian buat nyulik gue?" bentak Alena seraya terus meronta.
"Kamu tidak perlu tahu, Nyonya Muda. Karena kami akan memperlakukanmu dengan sebaik mungkin," sahut salah satu preman.
Alena mengerutkan kening mendengar panggilan mereka padanya. "Nyonya Muda?Jangan-jangan ini ulah musuh si King Ice!" batin Alena mengira-ngira. Kemudian, ia mencari cari untuk bebas dengan berusaha memberikan penawaran. "Gue akan bayar kalian seperti yang mereka berikan bahkan bisa lebih, asalkan kalian melepaskan gue!"
Para preman terkekeh mendengar penawaran Alena. "Kami tahu kalo kamu bisa membayar kami dengan lebih, Nyonya Muda. Tapi, bukan cuma uang yang kami inginkan, kami menginginkanmu untuk melayani kami semua seperti yang telah dijanjikan Tuan kami. Bagaimana? Kamu mau menerimanya, Nyonya Muda?" kata mereka dengan senyum nakal.
"Tuan? Benar dugaan gue, pasti musuh si King Ice." batin Alena seraya menatap mereka satu persatu. "Kalian ingin dilayani?Oooohh, baiklah! Gue akan melayani kalian semua dengan senang hati. Tapi, lepasin dulu tangan gue! Sakit," desis Alena dengan nada manja sambil tersenyum.
"Benarkah, Nyonya Muda? Waaaah, kalau dari tadi kamu begitu menurut, mungkin kami tidak akan susah payah mengikat tanganmu segala." tutur salah satunya sambil melepaskan ikatan tangan Alena.
"Bodoh," Alena tersenyum penuh arti.
"Aku kan cuma gadis yang lemah dan tak berdaya. Bagaimana aku bisa melawan kalian semua dengan tubuh kecilku ini, hemm?" Ia sengaja berkata dengan bersikap manja membuat para preman tersebut luluh seketika.
"Baiklah, Nyonya Muda. Kami akan memperlakukanmu dengan baik dan tidak akan kasar kok. Asalkan kamu nurut dan tak memberontak," Preman itu berkata seraya berjalan mendekat ke arah Alena.
Alena tersenyum masih dengan sikap manjanya. "Bagaimana aku melayani kalian semua? Mau satu persatu, atau semua sekaligus?" tanya Alena kemudian.
"Waaah, kamu ternyata nakal juga. Kalau kita meminta kamu melayani semua sekaligus, apa kau sanggup?" tatapannya mulai berbinar mendengar pertanyaan Alena.
"Dengan senang hati," sahut Alena sembari menyeringai penuh arti.
Mereka yang mulai terpancing langsung memegang tangan Alena. Namun, sedetik kemudian preman itu kesakitan karena ulah gadis tersebut.
Krekkkk ...
Tangan si preman dipelintir oleh Alena hingga ia menjerit kesakitan. "Argh!"
"Uppsss, sorry! Kekencengan ya," Alena menutup mulutnya dan berpura-pura meminta maaf.
"Hei, dia berbohong. Ayo, seret gadis itu dan tunjukkan padanya bagaimana sikap yang baik untuk melayani kita!" salah satunya mendekat dan diikuti dua orang lagi dibelakangnya.
Alena menyeringai menampakkan senyum penuh arti. Tenaga para preman di hadapannya itu tak ada apa-apanya jika dirinya tengah siap melayani. Tak lama kemudian, para preman yang berjumlah lima orang itu tersungkur di lantai berdebu dengan wajah babak belur.
"Bagaimana? Apa kalian masih sanggup melayaniku, hemhhh?" Alena masih bersikap manja.
Para preman bersimpuh dibawah kaki Alena dengan ketakutan. "A-ampuni kami, Nyonya Muda. Kami tidak akan melakukkannya lagi," ucap mereka sungguh-sungguh.
Melihat mereka sepertinya sudah tak bisa melawan, Alena pun mendekat sambil menarik salah satunya, untuk diancam. "Katakan! Siapa yang menyuruh kalian?" tanya Alena dengan nada dingin membuat mereka ketakutan.
__ADS_1
...Bersambung ......