
Aldrian dan Renita pergi ke cafe yang disebutkan kliennya tadi di telpon. Keduanya menyapu pandang ke sekeliling, mencari keberadaan klien yang dimaksud.
Tak jauh dari posisi mereka berdiri, terlihat seorang pria dewasa dengan wajah pucat pasi, menatap sendu ke arah mereka. Lelaki itu terlihat menyedihkan dengan keadaannya.
Aldrian mengerutkan keningnya setelah mengamati pria tersebut. Dia pun berbisik kepada Renita. "Kamu gak salah informasi kan, Ren?!"
Renita menggelengkan kepala karena tidak mengerti dengan situasinya saat ini. "Entahlah, Pak! Aku juga gak ngerti," sahutnya kebingungan.
Pria dewasa itu pun segera menghampiri Aldrian dan Renita yang terlihat kebingungan. "Pak Aldrian Bramasta,"
"Iya,"
Pria tersebut terlihat tersenyum sembari mengulurkan tangannya. "Perkenalkan. Nama saya, Reno Kusumo. Saya pemilik PT Antareksa yang asli," ucapnya memperkenalkan diri.
Aldrian dan Renita semakin kebingungan. Keduanya saling pandang sebelum berkata, "Maksud Bapak apa?"
Reno mempersilahkan keduanya untuk duduk, kemudian memesankan minuman untuk keduanya. Ia pun membuka percakapan setelah minuman pesanannya datang. "Begini, Pak Aldrian. Sebelumnya saya mau minta maaf, karena telah lancang minta bertemu dengan Anda di tempat ini. Jika saya datang ke kantor Anda, takutnya ada mata-mata yang mengawasi," ujarnya kemudian.
Aldrian semakin bingung dengan perkataan Reno ini. "Baiklah, saya tidak masalah Anda meminta bertemu dengan saya di sini! Tapi, yang saya tidak mengerti adalah perkataan Bapak yang menyebutkan identitas diri sebagai pemilik PT Antareksa yang asli. Bukankah pemilik Antareksa adalah Pak Agus Subagja?!"
Reno menggelengkan kepala. "Mungkin Anda tidak akan percaya, tapi ini kenyataannya. PT tersebut sebenarnya diambil alih oleh Agus setelah menipu saya dua tahun yang lalu."
Pria tersebut pun menceritakan kronologi kejadian dua tahun lalu yang melibatkan para preman suruhan Agus untuk mengobrak-abrik isi rumahnya, hanya untuk mengambil sertifikat perusahaan.
Awalnya Agus meminta bekerja sama dengan perusahaan yang dipimpin Reno, dengan mengiming-imingi keuntungan berlimpah dari hasil penjualan produk mereka jika terjalin kerja sama.
Bulan pertama berjalan lancar dan keuntungan yang diraup cukup banyak, membuat Reno percaya penuh kepada Agus. Tapi, bulan kedua dan seterusnya, omset penjualan menurun drastis. Banyak barang yang tak terjual karena gagalnya produksi. Kesalahan itu dilimpahkan Agus kepada Reno sebagai pemasok barang.
__ADS_1
Merasa tak terima, Reno pun mengajukan diri untuk menanggung kerugian dan menjual barang produksi dengan sistem marketing sendiri, untuk menutupi kerugian Agus.
Ia sudah menggadaikan barang berharga untuk menutupi kerugian, dan membayar upah karyawan. Tapi, ia tak tahu jika semua itu memang permainan Agus yang menjebak Reno agar menjual semua termasuk saham perusahaan kepadanya.
Reno yang mengetahui itu lantas melaporkan kejahatan Agus kepada pihak berwajib. Namun, tuntutan Reno tidak terbukti dan pihak Bank menyita rumah serta mobilnya.
Reno berusaha mati-matian untuk mencari dana bantuan kepada keluarga dan teman-temannya. Tapi, tak satupun ada yang menolongnya hingga ia harus terpaksa keluar dari rumah besarnya bersama istri dan kedua putranya.
Sebelumnya juga, para preman datang untuk meminta sertifikat perusahaan dan tandatangan Reno sebagai bukti yang kuat, karena ia telah memberikannya kepada Agus.
Akhirnya Reno keluar dari rumah dan perusahaannya karena Agus telah menguasai seluruh harta kekayaan yang dimilikinya.
"Saya dengar kalian mempunyai hubungan kerja sama yang baik. Namun, saya datang kemari hanya ingin memperingatkan Anda saja, supaya membatalkan kontrak kerja sama dengan Agus secepatnya." ujar Reno serius.
Aldrian dan Renita saling pandang, kemudian menatap tajam ke arah Reno. Mereka tidak mungkin percaya begitu saja kepada pria asing yang baru saja dikenalnya tersebut. Namun, dari raut wajahnya, dia terlihat meyakinkan.
"Apa ucapan Bapak ini dapat dipercaya? Sekarang marak kasus penipuan yang saya juga tidak yakin bahwa Anda melakukan itu terhadap saya," cibir Aldrian.
Cukup lama terdiam, akhirnya Reno menceritakan kejadian pilu yang menimpa dirinya serta keluarga tanpa ada yang ditutupi.
Sebenarnya, Agus adalah adik sepupu dari istrinya Reno. Karena iri dengan kekayaan milik Reno, Agus pun mencari cara untuk mengambil alih semua aset kekayaan keluarga Reno.
Hidup yang menderita dengan perekonomian di bawah rata-rata, membuat Agus nekad untuk menjadi seorang penipu ulung.
Dengan bermodalkan ucapan dan janji manis, ia berhasil menjerat beberapa mangsa yang percaya akan ucapannya, termasuk Reno.
Karena melihat kehidupan Agus yang maju tanpa tahu dari mana asal kekayaannya, Reno pun percaya bahwa Agus bekerja keras untuk mendapatkan seluruh kekayaan yang dimilikinya.
__ADS_1
Reno ikut senang jika saudara sepupunya itu kini hidup lebih maju. Ia pun berniat membantu dan membimbing Agus untuk lebih maju dalam mengembangkan bisnis.
Namun, kebaikan Reno dimanfaatkan oleh Agus yang berniat jahat padanya. Ia ingin menguasai seluruh harta kekayaan milik Reno.
Setelah mendapat seluruh harta milik Reno, ia pun mengusir pemilik aslinya dan menggantinya dengan namanya sendiri.
Kini, Agus menjadi pemilik PT Antareksa setelah menjebak Reno untuk melakukan pinjaman besar-besaran sebagai penutup ganti rugi. Dan ternyata, aksi tersebut malah membuat dirinya kehilangan segala-galanya.
Reno memperlihatkan gambar dirinya ketika masih menjabat sebagai Presdir di PT tersebut, dan gambar rumah yang dulu mereka tempati.
Aldrian dan Renita memperhatikan dengan serius gambar tersebut sebelum berkomentar lagi. "Jadi, Anda benar-benar pemilik asli PT Antareksa?" Reno mengangguk. "Kalau begitu, buktikan kepada saya jika Anda pemilik aslinya!" pinta Aldrian masih tak percaya.
Bisa saja Reno berbohong dan menipu demi keuntungan sendiri. Berpura-pura lemah hanya untuk menarik perhatian Aldrian.
Mendengar perkataan sinis Aldrian, Reno pun kembali tersenyum. Dia sudah tahu jika meyakinkan orang lain akan sangat sulit dilakukan. "Jika Anda masih tak percaya, Anda bisa menyelidikinya terlebih dulu sebelum menandatangani kontrak. Saya mohon, jadikan pengalaman saya sebagai contoh. Saya tidak mau ada korban lagi,"
Renita mengangguk dengan usulan dari Reno tersebut dan menyarankan Aldrian untuk mengikutinya. Dengan begitu mereka tak kan mengalami kerugian dan juga terhindar dari segala bentuk kejahatan Agus, Presdir PT Antareksa yang baru tersebut.
Setelah pertemuan dengan Reno itu, Aldrian tidak kembali ke kantor dan memutuskan untuk ke butik milik istrinya. Ia ingin membicarakan hal ini dengan adik tercintanya, sebab Alena kini sedang berada di butik kakak iparnya.
"Gak apa-apa kan kalo kamu ikut Kakak ke butik Aisyah?" tanya Aldrian.
Renita mengangguk. "Iya, gak apa-apa, Pak! Lagipula, aku udah lama gak ketemu Alena. Terakhir kali bertemu dua minggu lalu, ketika mengantar Alya pulang ke kampung halaman." sahut Renita sopan.
Aldrian mendesah pelan, "Kenapa bahasanya formal? Udah, biasa aja sih kalo kita lagi di luar gini." protesnya.
"Kebiasaan, Pak. Eh, Kak!" Renita meringis sembari nyengir.
__ADS_1
"Hah, kamu itu ya!"
...Bersambung ......