Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 47~Jebakan


__ADS_3

"Kumpul di basecamp jam tujuh malam. Kalau gak datang, gue obrak-abrik rumah klean!" Isi pesan singkat dari si Bos di grup chatt.


Indra mengerutkan keningnya menatap layar ponsel. "Haish, si Bos mau ngebahas apa sih nih?!" tanya Indra pada Geri yang sedang memodifikasi mobil pelanggan.


"Gue ya gak tahu juga, dodol." jawab Geri tak menoleh padanya.


Indra mencibir Geri dengan mulut mengerucut. "Gue tanya si Entong aja dah," Indra pun menscrol layar ponsel dan mencari nama si Entong. Setelah itu ia melakukan panggilan vidio. "Ntong, lu di mane?" tanya Indra ketika wajah Dika sudah terlihat.


"Gue lagi di pasar nganter si engkong beli burung," sahut si Entong.


"Burung mulu yang diurusin. Tuh aki-aki kagak ngurus yang laen apa ye?" perkataan Indra membuat si entong terkekeh. "Elu buka chat gak?" Indra bertanya lagi.


"Kagak! Gue terlalu sibuk hanya untuk sekedar buka hape doang," sahut si Entong dengan suara agak keras karena di sana rame.


"Kek pegawe kantoran aje lu, Tong!" cibir Indra. "Baca dulu bentaran!" kata Indra sedikit memaksa.


"Bacain aja dah. Gue gak sempet buka chatingan," Dika sedikit berteriak.


"Terselah lu dah, yang penting elu bisa dateng ke basecamp jam tujuh malem nanti. Perintah Bos dilarang ngebantah," Indra ikut berteriak.


"Oke!" hanya itu yang keluar dari bibir si Entong sebelum ia menutup sambungan telponnya.


Sambungan panggilan pun berakhir setelah Dika berkata "Oke!" dan Indra menekan warna merah di ponselnya.


Geri melirik Indra yang tengah menatap ponselnya. "Gimana, Bro? Dia tahu kalau kita ditunggu si Bos jam tujuh nanti?!"


"Dia bilang oke tanpa mendengar perkataan gue selanjutnya," sahut Indra.


"Kebiasaan emang. Dah lah biarin, entar dia juga hubungi lagi. Yuk buruan, beresin kerjaan kita! Nih mobil mau diambil sama yang punya," Geri menarik tangan si Jalu.


"Gue males banget sebenarnya, lagi kangen pengen manja-manjaan sama Iren tapi dianya sibuk mulu. Haish, bikin gue ngedrop aja ih!" Ia mengikuti tarikan tangan Geri.


"Makanya, gue udah bilang jangan pacaran dulu, nanti aja kalau udah nikah baru pacaran sama bini lu. Jadi, elu gak bakal kesiksa sama si Rindu. Kata si Dilan aja Rindu itu berat. Gue mau usul, kenapa kita kagak gotong saja tuh rindu biar gak berat," Geri terus menarik tangan Indra.


"Elu mau gotong si Rindu ke mana?" tanya Indra. "Gue yakin nih ya, kalau elu udah kenal sama yang namanya jatuh cinta, elu bakalan kena siksaan si Rindu juga." tutur Indra.


"Gue mah ogah jatuh cinta. Pasti sakit kan yang namanya jatuh itu?" Kata Geri. "Mending kek gini aja, jomblo. Hahaha," lanjutnya sambil tertawa.


"Ckk, nasib jomblo aja lu bangga." cibir Indra.


"Hei kang! Jomblo itu bukan nasib, tapi sebuah pilihan. I'am single and happy. Gak kek elu, galon terus kerjanya!" ledek Geri.

__ADS_1


Dengan malas Indra mengerjakan pekerjaan mereka lagi. "Bodo amat lah,"Katanya sambil mengotak-ngatik body mobil.


"Hahaai, deuh," Geri tertawa meledek.


Sementara mereka sedang pada sibuk kerja, si Entong sibuk nemenin engkongnya nyari burung, si Bos malah lagi sibuk nyari tempat kost baru sahabatnya.


"Elu di mana, dodol? Gue udah muter kek gangsing gini malah gak nemu tempat kost elu sih!" sembur Alena pada sahabatnya lewat sambungan telpon.


Renita bertanya balik. "Elu di mana sekarang?"


"Gue nanya, elu malah balik nanya kek si King Ice aja." keluh Alena kesal. "Gue di deket perempatan nih," lanjutnya.


"Perempatan lampu merah? Masih jauh dodol. Maju lagi dikit, entar belok kiri jalan lagi dikit, lalu belok kanan terus lurus aja dikit lagi, turun, lalu jalan lurus dikit lagi, nyampe deh!" Panjang lebar kali tinggi penjelasan Iren. "Gang," lanjutnya diakhir kalimat.


Alena berdecak sebal. "Ckk. Kenapa dari tadi elu ngomongnya dikit-dikit mulu, tapi nyatanya segitu banyak! Haish, elu itu bener-bener kaya ngejelasin rumus." keluh Alena. "Udah ah, gue tunggu aja di jalan depan Alfamart deket belokkan kedua. Ogah gue harus pusing mikirin rumus jalanan ke tempat kost elu," tuturnya kemudian.


"Oke!"


Karena sahabatnya sudah menunggu, Iren pun bergegas membereskan pekerjaannya dan menemui Alena yang menunggu di depan Alfamart.


Nafasnya tersengal karena Iren setengah berlari untuk menjemput Alena yang sudah menunggu di perempatan.


"Gue capek!" rengek Iren ketika sampai di sana.


"Yeeeaah, makan! Tau aja kalau gue lagi laper habis nyuci." seru Iren antusias saat memasuki kedai itu.


Di pesannya dua porsi bakso dengan dua gelas jus jeruk untuk mereka. Keduanya makan dengan sangat lahap.


"Gue kenyang banget nih." kata Iren sembari mengusap perutnya.


"Gue juga, Ren. Yuk, kita ke basecamp! Kita ada pertemuan hari ini," ajak Alena.


Renita menggelengkan kepala cepat. "Kagak bisa! Gue harus beresin kerjaan malem ini. Si Bos minta dikirim besok pagi, supaya hari senin udah bisa dikejar." tolak Iren.


Bagaimanapun Alena membujuk, Iren tetap pada pendiriannya. Ia tak bisa pergi dengan alasan pekerjaan dan Alena pun tak bisa memaksanya.


Iren pun melambaikan tangan ke arah Alena yang sedang menyalakan mesin mobil. Setelah mobil sport merah itu pergi, Iren pun melangkahkan kaki kembali ke gang menuju tempat kostnya.


Belum jauh ia melangkah, pemilik kedai memanggilnya seraya mengulurkan sesuatu di tangan. "Mbak ... Mbak. Ini ponselnya tertinggal,"


"Hah? Ponsel?" Iren menerima ponsel itu yang ternyata milik Alena. "Oh ya ampun. Ini milik teman saya, Pak. Terima kasih!" ucap Iren pada pemilik kedai. Ia pun berlari mengejar mobil Alena yang sudah semakin jauh. "Haish, gimana ini?" Iren menilik ponsel Alena. "Nanti aja deh gue balikin kalo udah beres kerjaan gue," Ia pun mengantongi ponsel Alena.

__ADS_1




Di basecamp.


Dika baru saja sampai di sana dan dia adalah orang pertama yang datang tanpa jam karet. Padahal, Dika itu biasanya datang paling akhir kalau ada janji seperti ini. Entah kenapa hari ini dia datang lebih awal. Indra dan Geri yang mengajaknya pun belum terlihat batang hidungnya.


"Pada kemana mereka?" Dika celingukan ke sana-ke mari.


Tak lama kemudian, Zidan datang dan menyapa Dika. Keduanya saling diam tanpa berniat mengobrol satu sama lain.


Dika tahu jika Alena kini dekat dengan Zidan, hingga ada rasa jengkel serta iri di hatinya terhadap pemuda di depannya itu. Begitupun Zidan yang kesal kepada Dika karena dirinya tahu jika pemuda di hadapannya itu menyukai Alena.


Karena suasananya begitu canggung, Zidan memilih pergi ke toilet setelah bertanya terlebih dulu letak toilet di basecamp.


Selepas kepergian Zidan, Dika bisa bernafas lega. Sesungguhnya ia pun merasakan kecanggungan di antara mereka dan jujur saja jika ia merasa terintimidasi oleh aura dingin yang dipancarkan Zidan.


Ponsel Zidan terus berbunyi mengusik ketenangan Dika yang tengah bernafas lega. Ia terus melirik ke arah kamar mandi untuk memastikan jika Zidan sudah selesai dengan urusannya. Tapi, pemuda itu tak muncul juga.


Dering ponsel berhenti, digantikan notifikasi pesan singkat lewat aplikasi hijau berlogo telpon. Karena penasaran, Dika pun membuka pesan tersebut dengan menarik layar ke bawah.


Mata Dika membelalak sempurna ketika melihat pesan yang ada dalam ponsel Zidan.


Tanpa berpikir panjang, ia melangkahkan kakinya dan mengendarai kendaraannya melesat di jalan beraspal dengan kecepatan penuh.


Sesampainya di sana, ia berlari menuju tempat yang di informasikan.


"Dimana dia?" gumamnya seraya terus berlari menyusuri lorong itu.


Seorang pelayan wanita menghampirinya. "Tuan, dia disini" kata wanita tersebut.


Dika mendobrak pintu ruangan yang tertutup. "Bebaskan dia!" teriaknya.


Seorang pria tengah duduk di kursi dengan kaki selonjor di meja. Wajahnya menyeringai menampakan senyuman culas, "Minum dulu ini, baru aku akan membebaskannya."


Tanpa berpikir panjang, Dika langsung menyetujuinya. "Baiklah!" ia pun meminum minuman pemberian pria tersebut lalu terjatuh seketika dengan tubuh yang lemas tak berdaya.


Bruukk


"Kalian??"

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2