
Alena, Dika, Indra, dan Geri, yang pulang dengan menggunakan taksi. Mereka meminta supir taksi untuk mengantarkan sampai ke alamat tujuan, yaitu basecamp mereka di Jalan Bunga Seroja.
Awalnya perjalan mereka seperti biasa, lancar tanpa hambatan. Namun kali ini ada yang berbeda. Sebuah mobil van hitam mengikuti dari belakang, kemudian menyalip taksi yang ditumpangi mereka ketika memasuki jalur sepi.
Ciiiiiittt
Ban mobil mendecit keras karena bergesekan dengan aspal. Sang supir mengerem mendadak ketika van tersebut tiba-tiba berada di depan. "Apa-apaan orang itu?!" gerutu sang supir sembari melongokan kepala keluar jendela. "Hei, cari mati ya!" sentak supir taksi.
Mereka yang berada di dalam mobil van itu pun keluar, lalu menghampiri. Para pria bertubuh besar dengan wajahnya yang terlihat sangar, menarik handle pintu mobil taksi dengan keras. "Keluar!"
Keempat remaja yang berasa di dalam pun seketika terkejut, termasuk sang supir taksi. Mereka saling menatap satu sama lain, sebelum keluar dari dalam mobil taksi.
"Ada apa ini?" tanya Dika memberanikan diri.
Para pria tersebut tersenyum culas, kemudian menodongkan senjata api yang dikeluarkan mereka dari balik jaket, lalu menengadahkan tangan ke arah mereka. "Serahkan barang berharga kalian, maka kami akan biarkan kalian pergi!" pintanya kemudian.
Alena dan kawan-kawan mengerutkan kening menatap tak percaya, kemudian berdecih seraya menggelengkan kepala. "Oh, rampok!" cetus mereka serempak.
"Begal," ralat Dika.
Para preman itu menautkan kedua alis mereka melihat ekspresi yang ditunjukan para anak muda di hadapannya. "Kalian tidak takut? Pistol ini bisa memuntahkan pelurunya, hingga menembus tubuh belakang kalian. Apa kalian masih tidak takut?!" ancam mereka.
Namun, keempat anak muda tersebut hanya mengedikan kedua bahu bersamaan.
Melihat hal itu, mereka merasa diejek. Para pria tersebut langsung beraksi dengan melayangkan pukulan ke arah calon mangsa mereka. Tapi, keempat anak muda itu segera bergerak dengan cepat untuk menangkis serangan dari para penjahat.
Terjadilah saling adu pukulan dan tendangan dari kedua lawan tersebut, hingga supir taksi berlari ketakutan. Ia sampai bersembunyi di balik mobil untuk menghindari serangan dari keduanya.
Bagh ... bugh ...
Hantaman demi hantaman saling dilayangkan oleh kedua belah pihak. Tak ada yang mau berniat mengalah satupun dari keduanya, sebab mereka saling menyerang dan melindungi diri.
Kemampuan keempat muda itu tak bisa diremehkan. Baik Alena, Dika, Indra, dan Geri memang mempunyai kemampuan bela diri, hingga mereka mampu melindungi diri dengan kemampuannya.
Para penjahat dibuat kewalahan melawan Alena dan kawan-kawan, sebab gerakan mereka sangat gesit dan sulit ditebak lawannya.
__ADS_1
Karena para penjahat itu kesulitan melawan Alena and the genk, mereka pun memanggil teman-temannya untuk datang ke tempat tersebut.
Ada yang aneh menurut Alena and the genk. Para penjahat itu seperti bukan mengincar harta bendanya, melainkan nyawa keempatnya.
"Sepertinya mereka dikirimkan seseorang untuk mengikuti dan membunuh kita, deh!" seru keempatnya sependapat.
Mereka tak sedikitpun diberikan waktu untuk rehat barang sejenak, mungkin tujuannya agar mudah mengalahkan keempatnya jika mereka kelelahan. Namun, para penjahat itu salah, sebab Alena and the genk masih bisa mengatasi mereka semua dengan kemampuan masing-masing.
Para penjahat yang membawa senjata tajam, mengarahkan senjata tersebut ke arah Dika, ketika pemuda itu sedang lengah karena terkecoh salah satu penjahat yang menjadi lawannya.
Crash
"Argh!" pekik Dika terkejut sembari meringis kesakitan. Darah segar merembes dari balik kaos yang ia kenakan, karena punggungnya terkena sabetan senjata tajam.
"Dika!" Ketiga kawannya segera menghampiri, namun langkah mereka terhenti karena suara tembakan dari salah satu penjahat.
"Berhenti di tempat atau ku tembak kalian semua!" peringat penjahat tersebut, seketika membuat Alena, Indra, dan Geri terdiam.
Para penjahat itu tertawa mengejek, kemudian mengarahkan pistol tersebut kembali ke arah Dika yang tengah menunduk kesakitan karena punggungnya yang terluka.
Dor
"Dika!" Alena, Indra, dan Geri berlari menghampiri. Namun, tembakan kedua kalinya membuat Indra lumpuh dengan tersungkur di aspal.
Dor
"Aarrrgghh!" Indra memekik kesakitan, setelah satu peluru menembus lengan kirinya.
"Indra!" Alena dan Geri berbalik ke belakang.
"Hahaha!" Penjahat itu tertawa lepas melihat mereka panik.
Alena berdiri menatap sengit ke arah lara penjahat itu. "Kalian mau apa sebenarnya? Gue yakin yang kalian incar bukan barang berharga kami, melainkan ..."
Ucapan Alena segera dipangkas salah satunya, "Nyawa kalian!"
__ADS_1
Keempat anak muda tersebut membelalakan mata mendengar ucapan darinya. Itu berarti jika para penjahat tersebut diperintahkan untuk membunuh mereka.
"Siapa yang menyuruh kalian?" Geri bertanya dengan nada tinggi.
"Kami tidak akan menjawabnya, karena itu tidak penting. Yang terpenting bagi kami yaitu bayaran," sahut mereka dengan tertawa lepas.
Tangan Alena dan Geri mengepal sempurna. Rahang keduanya mengeras dengan gigi yang menggertak. "Kurang ajar kalian,"
Keduanya pun kembali berlari dan menerjang ke arah penjahat yang sedang membawa senjata. Tendangan mereka pun berhasil melemparkan jauh senjata yang sedang digenggamnya, hingga keduanya bisa melumpuhkan penjahat tersebut.
Namun, salah satu penjahat menghentikan kembali aksi perlawanan Alena dan Geri dengan menginjak tubuh Dika di bagian yang terluka, hingga pemuda itu meringis kesakitan.
"Aaaaaaaaarrrgghhhh!" Dika menjerit dengan keras, sebab punggungnya diinjak oleh salah satu penjahat.
Darah kembali merembes dan kali ini keluar cukup banyak, sebab mendapat tekanan kuat dari di bagian luka tersebut. Akibat ulah si penjahat, nafas Dika pun memburu dengan pandangan yang mulai kabur. Injakan yang kuat itu membuat ia sesak dan kesulitan untuk bernafas. Bukan cuma bernafas, ia pun kesakitan dengan kehilangan banyak darah.
Dika menatap sayu ke arah Alena. "Ma-afin gue, Beb!" lirihnya sebelum menutup mata. Dan tak lama kemudian, Dika pun menutup mata dengan sempurna.
"Dika!" seru Alena dan Geri berlutut di tanah.
Indra berjalan perlahan sembari memegangi lengannya yang mengeluarkan darah akibat luka tembakan. "Gaes, kita gak mungkin melawan mereka! Sebaiknya, elu berdua lari dari sini dan mencari pertolongan!" titah Indra.
Alena dan Geri menoleh serempak. "Apa lu bilang? Kita lari dan ninggalin kalian? Elu mau kita pergi gitu aja dan ninggalin kalian dalam keadaan terluka?!"
Indra mengangguk pasti. "Tolong dengerin omongan gue kali ini. Pikirkan keselamatan kalian," cetus Indra lagi.
Alena dan Geri menggelengkan kepala. "Gak! Kita gak mungkin ninggalin elu sama Dika dalam keadaan seperti ini,"
"Please, Alena, Geri! Ini demi kita," cetus Indra kembali dengan nada memohon.
Para penjahat yang melihat Indra berkumpul dengan teman-temannya pun tak tinggal diam. Ia kembali mengarahkan pistol ke arah Indra, bermaksud menembak pemuda tersebut di bagian dadanya agar Indra mati.
Beruntung Geri melihatnya, hingga ia pun melompat ke arah Indra dan membuatnya jatuh bersama di tanah.
"Indra! Geri!" Alena terkejut melihat kedua kawannya tergeletak di tanah.
__ADS_1
...Bersambung ......