Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 19~Istri Tuan


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan cukup lama, akhirnya mereka sampai di sebuah mension besar milik si King Ice.


Zidane membawa turun Alena dengan cara menggendongnya. Ia tak sedikitpun menurunkannya, walaupun para penjaga berlarian menghampiri ketika melihat Tuannya turun dari truk.


"Tidak usah! Biar aku yang menggendongnya sendiri," tolak Zidan ketika penjaga rumahnya menengadahkan tangan.


Sejenak mereka melongo, kemudian menunduk. "Baik!"


Zidan kembali menoleh. "Berikan mereka hadiah!" perintahnya pada para penjaga, membuat kedua pengemudi itu senang.


"Wah. Terima kasih banyak, Tuan. Semoga Tuan diberkahi," ucap mereka kegirangan.


Para penjaga pun memberikan sejumlah uang, namun mereka memukulinya terlebih dahulu.


Kedua pengemudi itu tak terima atas perlakuan dari pengawal Zidan. "Tuan. Kenapa kami dipukuli? Bukankah kami telah menolong dirimu dan juga istrimu?!"


Para penjaga terdiam dengan saling pandang satu sama lain. Mereka memikirkan hal yang sama, "Istri?" batin keempatnya bertanya.


Zidan menoleh ke belakang sebelum melangkah masuk ke dalam mansion tanpa menoleh lagi. "Itu karena kalian mempunyai pikiran buruk sebelumnya pada gadis ini. Jika aku tidak duduk bersamanya, mungkin kalian akan melecehkan dia!"


Setelah menjelaskan alasan dibalik pemukulan para penjaganya, langkah kaki jenjang Zidan benar-benar memasuki mansion tanpa berbalik lagi. Ia ingin segera menurunkan tubuh Alena di ranjang, agar gadis itu dan dirinya bisa beristirahat.


Walaupun tubuh Alena ramping, tapi tetap saja Zidan merasa pegal terus menerus menggendongnya sepanjang jalan. Dan kini, ia menggendongnya sampai ke lantai atas rumahnya.


Para penjaga Zidan memberikan ancaman kepada kedua pengemudi truk. "Ingat! Jangan pernah mengatakan pada siapapun, jika Tuan kami menumpang di truk butut mu!"


"Ba-baik! Kami tak akan menceritakan pada siapa pun," ucap mereka takut. Keduanya buru-buru menyalakan mesin mobil, kemudian pergi dari sana.


Keempat pria berbadan tegap itu menghela nafas panjang sebelum saling berbicara "Haish. Apa Tuan Zidan tak takut jika ada reporter yang membuntutinya?" kata salah satu penjaga.


"Iya. Tapi, eh tunggu! Supir truk bilang dia memberikan tumpangan pada Tuan dan istrinya. Apa yang dimaksud mereka itu gadis yang digendong Tuan Zidan?"


"Apa benar itu istri Tuan Zidane? Tapi, kapan Tuan menikah?" Mereka serempak memikirkan hal yang sama.

__ADS_1


Ketika keempat pria itu sedang memikirkan perkataan supir truk tentang tuannya, tiba-tiba terdengar suara seseorang menginterupsi. "Istri? Zidane sudah punya istri?" tanya seseorang mengejutkan keempatnya.


Terlihat, pria muda dengan setelan jas putih, yang menandakan bahwa dia seorang dokter. Pemuda tersebut melangkah setelah turun dari mobilnya.


"Eh, Dokter Rian. Anda mengejutkan kami saja," para penjaga menunduk setelah melihat sosok yang datang tersebut.


Rian kembali bertanya tanpa mengabaikan ucapan keterkejutan mereka. "Tadi kalian bilang, Zidan bawa pulang seorang istri?Benar begitu!"


Para penjaga saling pandang, kemudian menjawab dengan ragu. "Itu ... anu, Dok. Tuan muda memang membawa pulang seorang gadis cantik. Supir truk bilang, kalau itu istrinya."


"Seorang gadis cantik?!" Rian menatap tak percaya.


Dia tak pernah mendengar bahkan melihat Zidan dekat dengan gadis manapun. Mendengar pernyataan para penjaga membuatnya penasaran sekaligus terkejut_tak percaya.


"Iya, Dokter. Saat kami akan mengambil alih untuk menggendong gadis cantik itu, Tuan tak mengizinkannya. Ia menggendongnya sendiri ke dalam," sahut mereka.


Rian terlihat antusias. "Hemh, posesif sekali! Curiga gue," gumam Dokter Rian.


Pantas saja Zidan memintanya untuk segera datang ke mension sesegera mungkin. Ternyata ini alasan dari titahnya tersebut, batin Rian.


Penjaga tersebut segera menangkap kunci mobil yang dilempar Rian ke arahnya, sebelum ia berlari masuk ke dalam mension.


Dokter Rian adalah Dokter pribadi keluarga Prasetyo, sekaligus teman sekolahnya Zidan. Keduanya sangat dekat layaknya saudara kandung.


Dengan kondisi keduanya yang sama-sama yatim piatu, hubungan mereka pun sangat erat karena saling mengerti satu sama lain. Baik Zidan maupun Rian, keduanya sama-sama tak sungkan untuk sekedar meminta pendapat atau pertolongan.


Dokter Rian masuk ke dalam, kemudian melangkahkan kaki menuju lantai atas. Baginya, keluar masuk mension mewah itu sudah biasa dan tak ada kecanggungan sama sekali.


Ketika sampai di atas, ia berpapasan dengan pelayan. Ia pun bertanya sambil sesekali menggoda pelayan yang terlihat masih muda. "Hai, cantik! Di mana Tuan Muda sekarang?"


Pelayan tersebut tersenyum malu ke arah Rian. "Eh, Dokter Rian. Tuan Muda di kamarnya. Tapi ...!" Ia menggantung ucapannya.


Rian tahu apa yang dipikirkan pelayan tersebut. Ia menepuk pundak si pelayan sebelum memasuki kamar Zidan. "Nanti aku cari tahu sendiri," ucapnya kemudian.

__ADS_1


Pelayan itu terkekeh karena Rian bisa menebak apa yang akan diucapkannya. Dia pun segera turun untuk menyiapkan makanan, sesuai permintaan tuannya.


Rian melangkah kembali menuju kamar Zidan setelah pelayan turun. Rasa penasaran akan siapa dan bagaimana rupa gadis yang dibawa Zidan pun terus mengusik pikirannya. Sehingga ia pun sangat bersemangat untuk masuk ke dalam kamar tersebut.


Namun, langkah Rian terhenti ketika mendengar suara dari dalam kamar.


"Akh, pelan sedikit! Kenapa kasar sekali?" suara rengekan gadis terdengar.


Zidan terdengar bersuara. "Kamu itu bisa diem gak, sih? Aku bahkan belum menyentuhnya," bentaknya kesal.


Alena merengek lagi. "Pelan sedikit napa? Itu sakit sekali,"


Lagi-lagi Zidan mendengus kesal karena Alena terus merengek sambil menjauhkan tubuhnya. Ingin sekali Zidan mengikat tubuh Alena agar ia diam dan menuruti perkataannya.


Suara rengekan dan ******* si gadis membuat Rian yang berada di balik pintu menjadi salah paham. Ia mengira jika Zidan sedang bermain di ranjang.


Walaupun itu benar di ranjang, tapi bukan seperti yang sedang Rian bayangkan.


Karena rasa penasaran dan naluri lelaki Rian menggebu, ia pun mendobrak kamar Zidan hingga si penghuni kamar terlonjak kaget. Keduanya terjatuh berbarengan ke atas kasur dengan posisi yang intim, membuat Rian semakin salah paham.


Mata Rian melongo menatap keduanya yang terlihat sedang melakukan sesuatu. Senyumnya tersungging semakin lebar dengan gerakan tangan mengarahkan kamera ponsel ke arah Zidan dan Alena. "Pemandangan langka," desisnya kemudian.


Melihat hal bodoh yang dilakukan Rian, Zidan segera beranjak dari posisinya dan segera menghampiri Rian. Ia merebut ponsel Rian dan membantingnya ke lantai dengan keras.


Prang


"Apa-apaan kamu?" ketus Zidan menatap tajam Rian.


Rian menatap ponselnya yang hancur berkeping tanpa memperdulikan tatapan Zidan padanya. "Ponselku!"


Tangan Rian yang menggantung di udara segera diraih Zidan yang langsung menariknya ke arah Alena. Dia mendudukkan tubuh Rian di bawah ranjang, dan menarik tangan Alena hingga terduduk. "Periksa dia!" titahnya singkat.


Rian mengerutkan keningnya. "Hah? Periksa?"

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2