
Tangan Rian yang menggantung di udara segera diraih Zidan yang langsung menariknya ke arah Alena. Dia mendudukkan tubuh Rian di bawah ranjang, dan menarik tangan Alena hingga terduduk. "Periksa dia!" titahnya singkat.
Rian mengerutkan keningnya. "Hah? Periksa?" Zidan mengangguk pasti. "Apanya yang harus diperiksa? Apa gadis ini sudah tak perawan lagi, sampai dia susah payah menyuruhku datang hanya untuk memeriksa hal tersebut?" batin Rian bertanya-tanya.
Zidan mendengus kesal melihat Rian hanya diam tanpa melakukan apapun. "Cepat periksa dia! Kenapa bengong aja?!"
Rian tersentak kaget. "Oke!" sahutnya singkat. Tanpa bertanya lagi, Rian langsung menyingkap rok Alena hingga ke atas, membuat gadis itu maupun Zidan naik pitam.
Alena berteriak sembari menghentikan tangan Rian yang berusaha menyingkap roknya. "Aaaaaaaarrrgghhhh! Apa-apaan sih ini?"
Zidan menarik tangan Rian hingga Dokter muda itu berdiri. "Hei, Dokter gila! Kamu mau ngapain?" Zidan bertanya kesal.
"Eh, kan tadi kamu yang bilang kalau aku harus memeriksanya. Bukan begitu, Tuan Muda?!" Rian berusaha membela diri.
"Maksud kamu?" Zidan serta Alena bertanya dengan bingung.
"Tadi 'kan kamu yang bilang harus memeriksa. Aku sedang melakukan perintah dirimu, untuk memeriksa bahwa Kakak Ipar masih perawan atau tidak. Aku tahu, kesucian seorang wanita sangat berharga. Maka dari itu, aku akan membantumu dengan membuktikannya." Rian menjelaskan dengan santai. Dia bahkan menepuk pundak Zidan sebagai dukungan penyemangat untuk si King Ice.
Alena melotot. "Apa? Ya Tuhan. Satu pria dingin saja udah bikin gue naik darah, ditambah temannya yang gila." Alena berdecak kesal. "Hei, Dokter! Berani sekali lu berpikiran seperti itu tentang gue," lanjutnya kemudian.
Zidan pun menepuk keningnya pelan, serta menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia marah kepada Rian, karena Dokter itu tak bertanya dulu tentang apa yang diinginkannya. Zidan menjelaskan kepada Rian bahwa dirinya harus memeriksa kondisi Alena, karena gadis tersebut mendapatkan beberapa luka di sekujur tubuhnya.
Rian cengengesan menanggapi penjelasan Zidan. Ternyata, dia salah paham atas perintah Zidan yang menyuruhnya memeriksa gadis di hadapannya itu.
Dengan segera Rian memeriksa kondisi Alena, serta mengobati lukanya. Alena pun menjulurkan kakinya ke arah Dokter Rian, kemudian dengan perlahan Rian memeriksanya.
Namun, tanpa sengaja Rian menekan bagian tubuh Alena yang terluka, membuat gadis itu memekik kesakitan.
Ringisan Alena mengundang tatapan dari Zidan. Tangan pemuda itu melayang ke arah kepala Rian, mendaratkan pukulan hingga Dokter muda itu berteriak kesal.
"Yang bener kalau kerja," Zidane berkata dengan nada datar dan santai setelah memukul kepala Rian.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" tanya Rian tak terima. "Aku mengerjakan tugasku dengan benar," sanggahnya.
Zidan menoleh sekilas pada Alena, kemudian ke arah Rian. Ia pun duduk di samping gadis itu dan menarik kaki Alena serta menaruhnya di pangkuan. Kaki yang bengkak itu ia elus perlahan sebelum mengoleskan obat pereda nyeri di sana.
Rian hanya memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan Zidan pada gadis yang baru dikenalnya itu. Ia tertawa dalam hati setelah melihat sikap lembut Zidan pada seorang gadis.
Untuk yang pertama kalinya Rian melihat Zidan bisa bersikap manis kepada seorang gadis seperti sekarang.
Selain kaki, wajah Alena pun terdapat beberapa luka lebam akibat pukulan para penjahat, serta tangannya yang tergores benda tajam.
Alena tidak sadar jika memiliki luka sebanyak itu di sekujur tubuhnya. Sementara Zidan yang memperhatikan sekilas, bisa tahu bahwa gadis itu terluka di bagian punggung juga.
Ketika duduk di dalam truk, tangan Zidan tak sengaja menyentuh punggung Alena. Gadis itu terlihat meringis walaupun sedang dalam keadaan tertidur.
Dari situ Zidan tahu bahwa Alena terluka di bagian punggungnya. Oleh sebab itu ia ingin mengobati luka tersebut, namun ia kebingungan dengan cara melakukannya.
Setelah Zidan membantu Rian untuk mengobati seluruh luka di bagian yang terlihat, tak lama kemudian Rian disuruh keluar dari kamarnya.
Rian yang tak mengerti pun ingin protes, tapi Zidan melayangkan tatapan tajam hingga ia tak berani membuka suara lagi.
Setelah menyuruh Rian keluar, Zidan segera menyuruh Alena untuk membuka pakaiannya. "Bukalah!" ujar Zidane singkat.
Alena melotot mendengar perkataan Zidan. "Eh, mau apa lu?" tanyanya panik.
"Gak usah banyak tanya!" ketus Zidan lagi.
Alena menyilang kan tangan di dadanya. "Jangan macem-macem, ya!"
Zidan pun mendengus kesal, kemudian membalikkan tubuh Alena untuk membelakanginya. Tanpa banyak kata lagi, Zidan segera menarik kaos oblong yang dikenakan gadis berisik itu ke atas, hingga Alena menjerit karena terkejut.
"Whoooaaa! Dasar mesum," pekiknya akan berbalik lagi, tapi Zidan menahannya.
__ADS_1
Awalnya Zidan yakin akan melakukannya. Namun, setelah melihat punggung mulus dengan sebuah kain bertali yang melilit tubuh Alena sebagai pembungkus bakpao, seketika tubuhnya terpaku.
Zidan tak bisa bergerak karena tubuhnya membeku, menatap kain hitam pembungkus walaupun dari belakang. Ditambah kulit yang putih bersih, seketika mengundang sesuatu yang mendesak ingin keluar.
Zidan pria normal yang menginginkan sesuatu seperti pria pada umumnya. Melihat pemandangan indah di depannya, hatinya mendesir hangat.
"Hei, mesum! Kenapa elu diem? Apa yang sebenarnya ingin lu lakuin sama gue?" suara cempreng Alena membuyarkan fantasi liar di pikiran Zidan.
Pemuda tampan itu berdehem sebelum berkata. "Aku akan mengobati punggungmu yang terluka," sahutnya.
"Memangnya punggung gue kena ... Akh, pelan sedikit!" Alena melenguh sebab rasa perih menjalar di bagian yang terluka setelah terkena tetesan antiseptik.
Tubuhnya bahkan bergetar menahan sakit yang luar biasa. Alena tak bisa untuk tidak berteriak sembari mencengkram tepian ranjang. "Bisa pelan sedikit? Itu sungguh menyakitkan," desisnya lirih.
Melihat Alena yang meringis kesakitan, Zidan berinisiatif meniup luka tersebut sembari terus menyapukan obat di atas luka yang lain.
Merasakan hembusan nafas Zidan di punggungnya, tanpa sadar Alena memejamkan matanya. Sensasi luar biasa ketika tangan mulus Zidan terus merayap, mengusap punggung Alena.
"Jika kamu mau cepat sembuh, sebaiknya jangan banyak gerak terlebih dulu." ujar Zidan memperingatkan.
Alena mengangguk patuh. Dia tak seperti biasa, selalu cerewet dan banyak protes.
Setelah selesai, Zidan kembali menurunkan kaosnya ke bawah. Rasa gugup tadi, dipendamnya rapat-rapat agar tak terlihat jelas oleh Alena si gadis bodoh.
"Udah selesai. Sekarang, kamu beristirahatlah di kamarku!" ucap Zidan sembari beranjak.
Gerakan Zidan terhenti ketika tangannya digenggam Alena dengan erat. "Mau ke mana? Gue takut," rengeknya dengan manja.
Entah apa yang membuatnya seketika bertingkah aneh setelah mendapat perlakuan Zidan, hingga pemuda itu terkekeh pelan.
"Dasar gadis bodoh yang manja!" umpat Zidan kesal, sambil duduk kembali.
__ADS_1
Sementara Alena nyengir menanggapi kekesalan Zidan, tapi tetap menuruti.
...Bersambung ......