Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 46~Mati lampu


__ADS_3

Malam semakin larut, udara terasa begitu dingin. "Hiks ... hiks ..." terdengar sayup-sayup suara tangisan seseorang.


Alena terbangun karena terganggu dengan suara tangisan itu. "Siapa yang malem-malem nangis?" Ia melangkah keluar dari kamarnya dan turun menuju ke ruangan tengah.


"Hiks ... hiks ... huhuhu ..." tangisan itu kembali terdengar.


Gadis itu pun mempertajam pendengarannya dan memperhatikan sekeliling. "Gak ada siapa pun di sini!" Ia kembali melangkahkan kakinya memperhatikan sekeliling.


Tepat saat dia sedang berjalan, tiba-tiba lampu di rumah mati membuat ia terkejut. "Heh? Kenapa tiba-tiba lampu di rumah mati sih?!" Alena meraba sekitaran untuk menggapai dinding atau pegangan lain yang menuntunnya agar bisa berjalan di kegelapan.


"Mommy ... Daddy ... Mbok Iyem ... Bi Murni ... Pak Tejo!" Alena mengabsen satu persatu penghuni rumah mulai dari kedua orang tua hingga asisten rumah tangga. "Mommy ... Daddy!" teriaknya lagi tapi tetap tak ada yang merespon. "Haish. Pada kemana nih semua orang?" Ia terus berjalan dengan meraba sekitaran.


Saat tangannya terulur ke depan, sesuatu tertangkap olehnya membuat dirinya terhenyak penasaran. Dirabanya permukaan yang tersentuh telapak tangannya_mirip seperti hidung, kedua mata, dan mulut. Naik sedikit ke atas_seperti helaian rambut panjang. "A-apa ini?" Alena merinding seketika.


Rasa penasaran namun takut membuatnya, mundur beberapa langkah ke belakang hingga tak sengaja bokongnya menabrak meja dengan vas bunga di atasnya.


Prang


Vas bunga tersebut jatuh hingga pecahannya berserakan di lantai. Alena yang terkejut lantas menoleh ke belakang, tapi ia tak bisa melihat apapun karena lampu sedang mati.


Jantungnya berdetak tak karuan, seperti sedang memasuki Goa yang gelap gulita karena tak ada penerang.


Duuuaaaarrrrr


Tiba-tiba saja, hujan turun sangat deras diiringi sambaran petir menggelegar. Kilatan cahaya petir masuk menampakan sosok wanita dalam kegelapan yang tengah berdiri menatap Alena dengan tangan terulur ke arahnya. "Tolong!"


"Aarrrgghh! Mommy ... Daddy!" teriak Alena ketika sosok tersebut mendekat ke arahnya.


Gadis itu mencoba menjauh dengan terus mundur ke belakang, namun naas telapak tangannya terkena pecahan beling dari vas bunga yang terjatuh tadi. "Argh, sial!" keluhnya.


Sosok tadi terus maju dan menghampirinya sehingga Alena terus mundur dengan terduduk, walaupun telapak tangannya terasa nyeri.


"Ja-jangan de-deketin gu-gue!" Ia terus mundur untuk menghindar dari sosok wanita yang terus maju mendekat ke arahnya. "Be-berhenti! Jangan ke sini!" peringatnya dengan nada gugup.


Sosok tersebut terus maju dengan tangan terulur di depan. "Tolong!" lirihnya semakin membuat Alena takut.


"Jangan mendekat! Ka-kalau gak, gue lempar lu pake ini!" ancamnya seraya mengacungkan sesuatu yang ditemukan olehnya di kegelapan tersebut. Sandal jepit.

__ADS_1


Namun, sosok itu terus menghampirinya sampai Alena pun tak ada pilihan lain selain melemparkan sendal di tangannya.


Plak ... Plak..


"Aduh!" sosok itu mengaduh karena sendal yang dilempar gadis itu mendarat tepat di wajahnya.


"Wehh?!" Alena merasa heran, kenapa sosok itu mengaduh karena lemparannya? Apa dia ...?


"Kenapa kamu melemparkan itu?" tanya sosok tersebut pada Alena yang melongo.


Sejenak Alena mengerutkan keningnya, menatap bingung. "Gue takut lah! Makanya gue lempar," sahut Alena tegas. "Lagian, elu nakutin gue sih!" lanjutnya.


"Kenapa harus itu?" tanya sosok itu lagi.


Alena pun bingung. Kenapa sosok tersebut terus bertanya kek sedang ikutan kuis? Bukankah dia hantu?!


"Yang ada cuma itu, ya gue lempar itu lah. Coba kalau yang ada di sini tuh batu atau alat berat, pasti elu benjol.


"Justru itu yang bikin aku nangis. Hiks ... hiks." sosok tersebut semakin terisak.


Sebelum sosok tersebut menjawab, lampu ternyata sudah menyala kembali hingga semuanya jelas terlihat_terang.


Klik


Sambil terisak dan menyibakkan rambut yang menutupi wajahnya, sosok itu pun berkata dengan lirih. "Soalnya tuh sendal ada kotor*n ayamnya. Nih lihat, kena hidung gue 'kan bau tahu!" sosok wanita itu terisak sambil mengelap sisa kotor*n di hidungnya menggunakan pakaiannya.


Alena menahan tawa dengan menutup mulutnya menggunakan telapak tangan. "Bhahaaaa!" akhirnya gadis itu tak bisa menahan tawa dan terbahak-bahak hingga berguling-guling di lantai, ia melupakan sakit di telapak tangan gegara lihatin wajah wanita itu yang belepotan kena t*i ayam.


"Huuaaaaaa ... dia ngetawain gue," rengek wanita tersebut menangis sangat keras hingga Alena harus menutup telinganya.


"Hahaaaa...asyem lu, setan gokil. Tadi bikin gue takut setengah mati, sekarang malah bikin gue sakit perut sampai pengen ngompol." Alena terus tertawa dan tak memperdulikan tangisan wanita yang dikiranya hantu tadi.


Tak lama kemudian, ibu dan ayah serta pelayan rumah Alena pun datang menghampiri setelah mendengar teriakan serta tawa darinya.


Ketiganya bertanya apa yang terjadi dan Alena pun menjelaskan kejadian sebelumnya pada mereka. Mbok Iyem pun lekas mengobati luka di telapak tangan Alena dan segera membersihkan pecahan beling yang berserakan.


Selang beberapa menit, datanglah Bi Murni menghampiri mereka lalu memeluk tubuh wanita tadi.

__ADS_1


Sebenarnya, sosok wanita tersebut adalah keponakan Bi Murni, Devi. Ia adalah seorang instruktur senam di pusat kebugaran terkenal di kota. Devi sangat disenangi para wanita mau pun pria, entah itu orang dewasa atau pun para remaja karena sikapnya yang ramah pada siapa pun.


Di lain sisi, ada orang yang iri dengan kemahiran atau kedekatannya dengan semua orang sebab dirinya selalu diundang para emak untuk menjadi instruktur senam di kelurahan atau di kecamatan.


Orang yang iri itu ingin dirinya lah yang melatih senam para emak-emak, karena ia mengira melatih senam itu mudah dan tidak perlu tekhnik apapun.


Cuma bermodalkan musik, gerak sana dan sini serta memberi aba-aba, sudah dipastikan dapat duit. Tapi, dia tidak tahu kalau senam itu ada tekhnik dasar atau tingkatan sesuai pelatihannya.


Para instruktur harus bisa menguasai tingkatan-tingkatan dan mereka pun tak mudah hanya dengan melihat gerakan orang lain. Mereka juga belajar lagi di kelas khusus untuk menguasai semua teknik, bukan asal-asalan gerak saja.


Dari mulai pemanasan sampai pendinginan dan teknik dasar untuk pemula sampai teknik yang sulit untuk yang sudah mahir.


Instruktur yang sudah lulus dalam semua tahapan, bisa mendapatkan sertifikat resmi dari pusat kebugaran, barulah ia bisa melatih senam di manapun.


Devi pun akhirnya sering melatih bukan hanya para remaja saja, melainkan para emak dan bapak yang suka berolahraga dan ingin hidup sehat.


Ia selalu ramah dan tak mengharapkan imbalan apapun. Namun, mereka sendiri yang sadar dan selalu memberikan uang iuran untuk Devi setiap ikut dalam kegiatan senam.


Orang yang iri selalu memanfaatkan kelemahan orang lain saat dirinya lengah.


Itulah yang terjadi pada Devi.


Mereka berpura-pura baik dan ramah supaya bisa mengikuti kemana pun Devi pergi untuk melatih senam.


Uang iuran selalu diambil oleh mereka yang iri dan tidak memberikannya pada Devi, tapi mereka selalu bilang kepada warga kalau Devi menginginkan lebih.


Para warga pun mulai tak suka dengan sikap Devi yang sekarang ini. Mereka tak percaya dengan perubahan sikap wanita itu yang dikenal selalu ramah dan sopan.


Tapi, orang yang iri pada Devi terus memfitnahnya hingga akhirnya ia pun di benci warga dan tidak melatih senam lagi.


Devi tak memiliki pekerjaan lagi. Wanita itu meminta bantuan kepada Bi Murni untuk mencarikan pekerjaan untuknya, dan Bi Murni pun membawanya kemari sore tadi.


Tepat tengah malam, Devi keluar kamar bermaksud ingin ke kamar mandi. Tapi, ketika selesai dari kamar mandi ia lupa untuk kembali ke kamarnya dan terjatuh di lantai akibat tersandung.


Devi tak bisa berjalan karena kakinya terkilir. Tepat setelah itu lampu di sana mati dan ia pun hanya bisa menangis karena takut kegelapan.


...Bersambung ......

__ADS_1


__ADS_2