Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 45~Tak bisa tidur


__ADS_3

Alena duduk dengan hati dag-dig-dug-der, seperti sedang mengambil kelulusan. Setelah kedua orang tua yang dianggap kakek dan nenek oleh Zidan itu mempersilahkan masuk, senyum di wajah Alena mendadak tertahan dengan suara yang tercekat di tenggorokan. Ia tak bisa berkata apapun serta duduk dengan tidak tenang.


Rian duduk di sofa tunggal sambil menahan sakit di sekujur tubuh akibat lukanya. Sementara Zidan melangkah masuk ke dalam untuk mengambil kotak obat dan semangkuk air hangat.


Pemuda itu duduk di meja dengan tangan terulur ke wajah Rian. "Sini, biar aku obati lukanya!" kata Zidan dengan menyapukan kain ke wajah Rian.


Dengan telaten, Zidan membersihkan serta mengobati luka di wajah Rian membuat Alena terharu.


Ternyata dia perhatian juga walaupun ucapannya sering ketus atau nada bicaranya yang dingin. Tapi, kepribadiannya hangat membuat orang nyaman.


Alena tersenyum memperhatikan Zidan.


"Kenapa? Apa ada sesuatu di wajahku sampai kamu terus menatapku seperti itu?" tanya Zidan tanpa menatap Alena.


"Hah? Eemmhh ... enggak kok! Geer," Alena langsung berpaling ke arah lain.


"Kalau suka, bilang suka dong Kakak Ipar. Jangan diem aja!" ledek Rian.


"Tuan Muda kita memang tampan kok, Neng! Lihatlah! Dia sangat sempurna," kata Nenek dan kakek itu sembari terkekeh melihat raut wajah malu Alena. "Kami akan mendukungmu," lanjut mereka membuat Alena semakin menunduk malu.


Rian ikut meledek. "Ciieeeee, dia malu tuh! Wajahnya ampe merah gitu,"


Alena melotot. "Gue ... eh, a-aku biasa aja kok!" ia salah tingkah. Mereka semakin meledek Alena yang tersipu malu.


Melihat Alena yang semakin terpojok, Zidan pun menjadi tak tega. Dia sengaja menekan luka Rian hingga Dokter muda itu meringis kesakitan.


Kakek dan nenek terkekeh melihat ketiga anak muda tersebut. Sungguh, pemandangan tersebut sangat indah bagi kedua pasangan yang sudah lanjut usia tersebut.


Keduanya bisa melihat senyum di wajah pemuda yang sedari kecil diasuhnya. Mengingat kesedihan Zidan sewaktu ditinggalkan kedua orang tuanya, rasanya itu menyakitkan hati keduanya.


Mereka tahu betul bagaimana kehidupan Zidan sesungguhnya. Di balik penampilan yang dingin dan angkuhnya, sebenarnya sifat Zidan itu ramah dan periang. Dia berubah setelah ditinggalkan kedua orang tuanya, dijauhi keluarganya yang lain, terutama kakek dari ibunya.


Kakek satu-satunya yang tertinggal itu hanya menginginkan warisan dari ayah Zidan untuk dikuasainya. Dia dan Hendri, paman atau adik kandung dari ibunya itu berusaha menyingkirkan Zidan agar seluruh harta kekayaan peninggalan ayah Zidan bisa dimilikinya.

__ADS_1


Alena cemberut karena semua orang terus meledeknya. Ia pun merajuk layaknya anak kecil yang meminta jajan. Tapi, justru itu malah membuatnya menjadi bahan ledekan terus.


"Ih, ngambeknya Kakak Ipar lucu kek bocah minta permen." ledek Rian sambil terkekeh.


"Apaan sih lu? Enak aja gue kek bocah," ketus Alena kesal sembari melotot ke arah Rian.


Zidan pun menimpali. "Ngapain dia ngambek minta permen? Orang dia gak doyan permen,"


"Terus, doyannya apaan?" serempak ketiga yang lainnya bertanya diikuti lirikan tajam Alena.


"Dia doyannya ..." Zidan tak melanjutkan ucapannya, melainkan berkata lewat gerakan mengerucutkan bibir seperti orang sedang mencium.


Sekali lagi, ketiga yang lainnya membulatkan mulut lalu tersenyum meledek Alena.


Alena membulatkan mata. "King Ice!" teriakan Alena disambut tutup telinga berjamaah oleh mereka sambil tertawa.


"Hahahaha!"


▪▪▪▪


Gadis itu pulang kembali ke Ibukota ditemani Zidan yang mengantarnya ke rumah. Namun, mobilnya terpaksa dibawa oleh Zidan untuk pulang ke rumahnya. Alena tak mempermasalahkan itu sebab Zidan sepertinya bisa mengendarai mobilnya dengan baik, tak seperti teman-temannya yang terkadang sulit untuk mengendarai mobil sport merahnya itu.


Alena melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang sudah sunyi sepi. Ia disambut serta dibukakan pintu oleh Mbok Iyem yang terbangun karena bel rumah yang ditekannya.


"Mom and Dad sudah pada tidur, Mbok?" tanya Alena sembari melangkah pelan di depan Iyem.


"Sudah, Non. Ini kan sudah setengah sebelas malam, jadi Tuan dan Nyonya sudah beristirahat di kamar." sahut Iyem. "Lagian, Non Alena dari mana sih, jam segini baru pulang?" tanya Iyem kemudian.


"Abis nganter teman yang terluka, rumahnya jauh dari pusat kota. Jadi, ya pulang terlambat deh!" jawab Alena sebelum berkata lagi. "Ya udah, Mbok tidur lagi. Maaf ya ganggu tidurnya," ucapnya kemudian.


"Enggak apa-apa, Non. Oh iya, mau Mbok siapin makan dulu atau ...?" pertanyaan mbok Iyem langsung dipangkas olehnya.


"Gak usah, Mbok! Aku tadi udah makan sama teman, mau langsung tidur aja!" pungkas Alena.

__ADS_1


"Baiklah, Non. Kalau gitu Mbok pamit undur diri," ucap Mbok yang dijawab iya seraya mengangguk oleh Alena.


Mbok Iyem pun melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Sedangkan Alena langsung menaiki tangga menuju kamar atas, yaitu kamarnya sendiri.


Ia langsung memasuki kamar mandi setelah mengambil handuk di tempat jemuran khusus handuk yang ada di kamarnya.


Selesai mandi, ia pun membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur empuk setelah memakai piyama tidurnya.


"Ah, nyamannya." gumamnya lirih.


Alena berusaha memejamkan mata untuk memasuki alam mimpi, tapi matanya tak urung terpejam juga. Tubuhnya hanya berguling ke sana-kemari tak jelas, sembari memeluk guling.


Pikirannya menerawang ke dalam lamunan, mengingat kejadian tadi siang sewaktu di rumah Zidan. Seketika wajah Alena memerah dengan gerakan bibir yang tersungging tiba-tiba.


Ia terkekeh mengingat perkataan kakek dan nenek pengasuh Zidan, yang mengatakan bahwa keduanya mendukung hubungan Alena dan Zidan. Padahal, mereka belum menyatakan jadian.


"Argh, gue gak bisa tidur!" lirihnya seraya menumpuk bantal menutupi kepalanya.




Di tempat lain, seorang pria dewasa tengah mengamuk karena laporan bawahannya. "Kurang ajar. Di mana dia menyimpannya?" Orang itu membanting semua benda di meja.


"Ampuni aku, Bos! Aku sudah menunggui rumahnya selama dua hari, tapi tak menemukan apapun yang Bos minta!" kata sang bawahan sambil menunduk takut.


Pria dewasa itu tak lain adalah Hendri. Pria itu mencari surat kepemilikan mutlak perusahaan yang Zidan pimpin di dalam maupun luar negri. Ia berusaha mendapatkan surat kuasa tersebut atas perintah dari sang ayah, yaitu kakek Zidan.


Tangannya terkepal dengan rahang yang mengeras. "Cari sampai dapat! Aku ingin surat kuasa itu berada dalam genggaman tanganku bagaimana pun caranya," cetusnya.


"Baik, Bos!" bergegas anak buah Hendri pergi untuk menjalankan tugas dari bosnya tersebut.


Selepas kepergian anak buahnya, Hendri termenung dengan kedua tangan bertumpu di sandaran sofa. Kilatan matanya menyiratkan kebencian yang teramat sangat kepada keponakannya itu, karena Zidan tak mau menyerahkan apa yang dimintanya tersebut.

__ADS_1


"Zidan Prasetyo. Selama kamu gak mau memberikan apa yang aku inginkan, maka aku gak akan membiarkanmu hidup dengan tenang!" gumamnya dengan mengepalkan tangan.


...Bersambung ......


__ADS_2