
Geri yang langsung menerjang tubuh Indra agar terhindar dari tembakan penjahat itu. Keduanya terjatuh di tanah dengan saling berpelukan.
"Indra. Lu baik-baik aja kan! Jawab gue," Geri menepuk pipi Indra karena melihat matanya terpejam.
Indra membuka sebelah matanya sambil meringis. "Tubuh gue remuk ditindih lu, anjir!" sahutnya seraya mendorong tubuh Geri.
Helaan nafas terdengar sebelum tangannya terulur untuk menarik tangan Indra agar bangkit. "Sialan. Gue udah takut banget lu mati," sarkas Geri namun membuat Indra terkekeh.
"Bangsad. Lu nyumpahin gue mati,"
Tubuh Indra berdiri dengan tegak dibantu Geri. Lengan kirinya masih mengeluarkan darah, hingga ia terus meringis kesakitan.
Alena segera menghampiri keduanya dengan cemas, namun tangannya keburu dijegal penjahat itu. "Mau ngapain kalian?" hardiknya meronta keras.
"Kamu harus ikut kami!"
"Ogah. Ngapain gue ikut sama kalian? Lepasin!" Alena terus meronta.
Geri dan Indra melirik ke arah mereka. Sontak keduanya membelalakkan mata dengan sempurna diikuti kepanikan. "Hei, lepasin dia!"
"Apa? Mau jadi pahlawan?" cibir mereka. "Sebelum kalian berdua menyelamatkan gadis ini, selamatkan dulu nyawa kalian dari mereka." kata si penjahat yang diduga pemimpin mereka. "Serang keduanya. Bila perlu sampai mati!" titahnya kepada beberapa anak buah yang sudah memegang tongkat dan samurai.
Indra dan Geri menatap sekeliling. "Matilah kita," desis keduanya.
Saat mereka sedang kebingungan, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara sirine mobil polisi.
"Polisi ... Polisi!" teriak anak buahnya.
Si pemimpin panik menatap sekeliling, karena para anak buahnya berlarian ketakutan. "Hei, kalian mau ke mana?"
"Kita harus menyelamatkan diri, Bos!" sahut mereka.
"Brengsek. Pengecut kalian semua," bentak si pemimpin namun ia pun ikut lari.
Para polisi berlarian mengejar para penjahat itu. Mereka dihubungi oleh si supir taksi yang bersembunyi karena ketakutan.
__ADS_1
Beruntung ia selamat dari kejaran para penjahat, sehingga supir taksi itu bisa menghubungi polisi dan mengatakan posisi mereka saat itu.
Alena segera melepaskan diri dari cengkraman kuat si pemimpin itu. Setelah terlepas, ia pun berlari menghampiri Dika yang tergeletak tak berdaya, diikuti Indra dan Geri di belakang. Matanya terpejam dengan tubuh bersimbah darah.
"Dik, Dika!" seru ketiganya sembari menepuk pelan pipinya, namun si empunya tak sedikitpun membuka mata.
"Ayo gaes, bawa dia ke Rumah Sakit!"
Bergegas Dika dibawa ke Rumah Sakit oleh ketiganya dibantu supir taksi tadi.
Sesampainya di Rumah Sakit, Dika lekas dibawa ke dalam ruang IGD untuk segera mendapatkan pertolongan. Begitupun dengan Indra yang dibawa untuk mengeluarkan peluru yang masih bersarang di lengan kirinya.
Alena dan Geri segera menghubungi keluarga Dika dan Indra, tentu tak lupa dengan Renita.
Kedua orang tua mereka pun datang segera ke Rumah Sakit, takut terjadi sesuatu kepada putranya.
•
•
Di kamar perawatan, Dika yang baru membuka matanya setelah melakukan operasi kecil pengeluaran peluru yang bersarang di kaki serta luka sayatan di punggung yang harus mendapat jahitan sekitar lima puluh dua jahitan.
Dika mengulas senyum, kemudian berusaha untuk duduk. Tapi, gerakannya tertahan karena luka di punggungnya yang cukup lebar, hingga membuat ia terjatuh kembali.
Enya jadi khawatir. "Tong. Gimane keadaan lu sekarang? Udah bae'an kan?" tanya si Enyak sambil memijat kaki anaknya yang baru siuman.
"Alhamdulillah udah agak mendingan, Nyak. Tapi punggungnya masih sakit ini," rengek Dika kepada ibunya. "Argh!"
Babeh menimpali. "Elu itu kudu kuat, Tong. Masa anak laki cemen sih! Ape kate dunia?Kalo anak Babeh Sabeni ketauan nangis gegara kena peso doang!" seru si Babeh yang meledek anaknya.
"Dikate peso? Si Entong kena pedang Babeh, bukan peso!" ralat si Enyak.
"Same aje tuh benda tajem 'kan?" Babeh keukeuh dengan ucapannya."Oh iye Tong, Bebeh mau pulang dulu buat beresin belanjaan pesenan Mpok Halimeh. Gak enak kan kalo kagak diberesin. Duitnye udeh di kasih, barang kagak dianter. Entar kagak mau belanja di toko sembako kite lagi," jelas si Babeh.
"Lah emang si Romi ame si Darto kemane sih, Beh? Kenape semue kerjaan Babeh yang Handle," desis si Entong.
__ADS_1
"Bang Romi, Tong!" ralat si Enyak. "Udeh berape kali sih Enyak bilangin, dia entuh Abangnye elu. Kagak bae panggil namenye langsung!" seru Enyak.
"Iye ... iye ah, bawel." ucap Dika malas.
"huh, elu kalo dibilangin." Babeh yang kesel menjewer kuping anaknya.
"Aduh, sakit Beh!" rengek anaknya.
Terjadilah drama keluarga bahagia si Entong, dengan Babeh dan Enyak yang terus mengoceh gegara anak bontotnya yang selalu memanggil nama kepada kakaknya.
•
Meninggalkan Dika dengan drama keluarganya, berpindah drama ke kamar pasien yang lain.
Indra yang sudah siuman, membuat kedua orang tua dan kekasih tercinta senang bukan main. Pasalnya Indra adalah anak semata wayang Abah dan Emaknya.
Padahal, dia hanya tertembak di lengan kirinya dan tak terluka parah seperti Dika. Tapi, tetap saja namanya juga terluka, pasti membuat kedua orang tua sangat cemas.
Renita terlihat khawatir setelah Alena menghubunginya, jika Indra masuk Rumah Sakit. "Kamu udah sadar Ay?" tanya Renita kepada sang kekasih yang hanya ditanggapi ringisan kecil olehnya. "Apanya yang sakit?" tanya Iren lagi.
Indra merajuk dengan wajah memelas. "Badanku sakit semua, Yank. Terutama ini," sahutnya sembari menunjuk pipi yang memar.
"Masih sakit? Aku tiupin ya?" ucap Iren sambil mengelus pipi Indra dan meniupnya.
Indra cemberut. "kalo dicium kayaknya langsung sembuh, deh!" Indra terkekeh dengan menaik turunkan kedua alisnya, sedikit menggoda Iren.
Mendengar perkataan anaknya, si Emak langsung bereaksi. "Huhh! Itu mah maunya kamu, Jalu!" tanpa sadar Emak memukul lengan Indra yang terluka, hingga anaknya mengaduh kesakitan.
"Aduh, Mak! Sakit ini. Bukannya ngobatin, Emak malah nambah penderitaan Ujang." rengek Indra manja.
"Atuh maneh mah aya-aya wae, Jang! Jeung hayang dicium sagala ku si Neng Iren deuih!" (lagian kamu itu ada-ada aja, Jang! Malah mau dicium segala sama si Neng Iren lagi) Si Emak dengan logat sundanya mencubit gemes pipi Indra.
Indra mengelak. "saeutik mah meunang atuh, Mak. Meni ulah we, ningali budak atoh teh!" (sedikit boleh dong, Mak. Gak boleh aja liat anaknya bahagia)" ucap Indra gak terima.
"Teu menang, can muhrimna! Awas lamun Emak ningali Ujang nyium si Neng, komo di hareupeun Emak. Rek dicangcang eta si Jalu di kandangna!" (Gak boleh, belum muhrimnya! Awas kalau emak lihat Ujang nyium si Neng, apalagi di depan Emak. Bakal diikat itu si Jalu di kandangnya!)" ancam si Emak kepada si jalu, eh anaknya. Hehehe.
__ADS_1
Indra melongo seketika. "Waduh!"
...Bersambung ......