
Serangan Rara, membuat Indra tak bisa bergerak sama sekali. Tubuhnya seperti terpaku saat bibir Rara menyerangnya. Bukan cuma mencium, tapi juga menggigit bibir Indra, sehingga membuat si empunya membuka mulut. Dengan bebasnya, lidah Rara bergerak menyusuri rongga mulut pemuda itu. Ciuman itu beralih ke telinga dan kemudian menuju leher, membuat Indra semakin tak karuan.
Tangannya berusaha membuka kaos Indra, dengan cara menariknya ke atas. Sehingga, terekspose lah dada bidang yang kekar dan berotot tersebut.
Dengan cepat, Rara menjatuhkan tubuh Indra di atas kasur dan menindihnya. Walaupun ia termasuk pria yang gagah, tapi tetap saja Indra kalah karena aksi brutal Rara yang terus menerus menyerangnya dengan gencar, membuat si jalu semakin meronta dan berdiri tegak.
Karena sudah terpancing, si jalu menjadi blingsatan sampai berbuat nekad. Tangannya menarik handuk Rara sampai memperlihatkan bukit kembar yang indah itu. Tanpa membuang waktu, ia langsung melakukan aksinya menggunakan tangan dan lidahnya untuk menjelajahi bukit kembar tersebut.
Suara kecil terdengar dari mulut Rara, karena Indra mencium titik sensitifnya dengan sangat liar. Permainan Indra semakin menantang Rara, sehingga dengan beraninya Rara membalikkan tubuh Indra sampai di bawah kungkungan.
Saat Indra sudah terpancing gairahnya, tiba-tiba wajah Rara berubah menyeramkan. Rambut yang sebahu tadi, kini berubah panjang dan berantakan. Gigi yang rapih berubah menjadi taring panjang serta runcing. Dari perut ratanya, keluar usus yang terburai membuat orang bergidik ngeri bila melihatnya.
Melihat perubahannya, dengan cepat Indra mendorong makhluk itu dan berlari menjauh darinya. Namun, makhluk itu mengulurkan tangannya yang panjang dan menarik tubuh Indra kembali ke arahnya. Dari jari tangannya, keluar kuku panjang serta hitam dan mencengkram leher Indra dengan kuat sampai dia tak bisa bernapas.
Makhluk itu menyeringai menampakan gigi taringnya dan tertawa cekikikan. Kemudian, ia hendak mendekati leher Indra untuk menghisap darahnya. Tapi aksinya harus terhenti, karena mencium bau seperti ...??
"Elu ngompol, ya?" suara serak itu bertanya kepada pemuda yang sedang ketakutan.
"Hahh?" Indra termenung dengan mode dodolnya.
"Elu ngompol, ya?" tanya makhluk itu yang suaranya berubah seperti suara Dika. Makhluk itu pun memukul kepala Indra dengan keras.
"Argh, sakit gobl*ok." Indra protes.
"Sialan, elu ngompol di kasur gue!" kini suaranya terdengar seperti Geri.
Indra yang masih belum sadar, tentu saja hanya bergumam kebingungan. "Hah, kasur?"
"Woi, bangun!" teriakan Dika dan Geri mengejutkan Indra sampai membuatnya jatuh terguling.
"Sialan," Indra terbangun sembari mengusap kepalanya yang terpentok ubin. "Asyem. Apa-apaan sih kalian?"
"Woi, elu ngompol Bro!" Dika menunjuk celana Indra yang basah.
__ADS_1
"Ngompol? Enggak ah," elak Indra yang masih belum sadar.
Geri geram menunjuk kasur yang di tempati mereka untuk tidur bersama. "Kasur gue basah, Mamen! Noh liat, hasil karya ciptaan lu!" tunjuk Geri kesal ke arah kasur yang sudah basah dan pasti bau pesing.
Dika berdiri sambil menunjuk celananya. "Elu liat nih, celana gue basah dan yang pasti celana elu juga!" timpal Dika.
"Emang basah karena apa sih?" tanya Indra masih belum sadar.
Dika kembali berdecak. "Elu cium sendiri tuh bau apaan?!"
Indra pun mengendus celananya, kemudian terlihat mual. "Wasyem, bau pesing!" cetusnya mengerutkan hidung.
"Emang," Dika dan Geri serempak menyahut.
Geri kemudian berdiri, lalu menarik selimut yang terkena hujan lokal dari Indra. "Elu ngompol ampe seember keknya. Selimut gue juga ikut terkena hujan si Jalu," keluhnya seraya melempar selimut ke dalam keranjang tempat cucian.
"Hooh. Celana gue juga basah dan bau. Gimana gue balik kalo celana gue basah gini?!" Dika ikut menimpali.
"Lagian, elu mimpi apaan sih pake bisa ngompol segala?! Mimpi mesum ya," seloroh Dika terkekeh geli.
Geri ikut tertawa mendengar gurauan Dika. "Wah, parah lu. Si jalu udah gak perjaka lagi ini."
Indra membulatkan mata mendengar ejekan mereka. "Kagak, lah! Suudzon aja sih, elu berdua. Gue mimpi ketemu setan tadi. Makanya, gue ketakutan ampe ngompol. Sorry ya, Ger!" Indra cengengesan memberikan alasan.
"Ah, gue kagak percaya. Soalnya, tadi gue liatin dia kayak orang lagi keenakan." ujar Dika menirukan suara Indra saat mimpi tadi.
Indra mendelik sebal dengan Geri yang terlihat kesal. "Terserah lu mimpi apaan. Yang pasti, kasur ini elu jemur besok dan jangan lupa kasih pewangi. Gue kagak mau ya, nanti kasur gue masih bau pesing!" peringat Geri.
Indra pun mengalah mengiyakan perintah Geri. "Iya ... Iya. Dasar bawel,"
•
•
__ADS_1
Hari minggu adalah hari untuk semua orang bersantai, tapi tidak berlaku di rumah Alena. Sang ayah harus bekerja walaupun hanya di ruang kerjanya, untuk mengecek keuangan kantor yang diserahkan sekretarisnya.
"Daddy, kok masih sibuk aja! Ini kan hari minggu!" Alena berkata sambil melingkarkan tangan di leher sang ayah.
Ayahnya langsung melirik ke samping. "Iya sayang, sebentar lagi. Daddy harus mengecek ulang berkas ini biar tak ada kesalahan. Kasihan kan yang udah kerja lembur!" kata ayahnya dengan lembut.
"Kan udah ada kak Al yang ngurusin kerjaan kantor. Daddy istirahat saja! Kasihan kan mommy yang selalu dianggurin. Walaupun sebenarnya buah anggur lebih enak dari pada buah apel, tapi lebih baik diapelin dari pada dianggurin." Alena tertawa kecil setelah berkata pada ayahnya.
Ibunya muncul dari balik pintu dengan cibiran nya. "Huh, mommy jadi alesan. Bilang aja kalau kamu mau dimanja sama daddy," ucapnya gemas sambil mencubit pipi putrinya.
"Ih mommy, sakit tahu!" rengeknya dengan menghentakkan kaki.
"Idih, gitu aja sakit!" cibir ibunya.
Tiba-tiba, muncul pria tampan yang menggandeng tangan seorang anak kecil, ikut mencubit pipinya dengan gemas. "Anak manja ya kayak gini," cicitnya yang kemudian memberi salam kepada kedua orang tuanya.
Alena menepis tangan kakaknya yang jahil itu. "Iiih, kak Al bikin kesel aja!" teriaknya dengan nada tinggi, yang hanya ditanggapi tawa oleh mereka. "Huh, kesel ... Kesel ... Keseeeel!" Alena menghentakkan kaki sambil ngedumel.
"Hahaha!" Mereka tertawa melihat tingkah Alena yang seperti anak kecil.
Mereka memang seperti itu. Setiap kali berkumpul, selalu ada saja yang membuat mereka tertawa. Terkadang, Reihan yang menjadi bahan candaan mereka karena tingkah menggemaskan bocah lima tahun tersebut.
Namun, seringnya Alena lah yang menjadi bahan candaan mereka karena sifat manjanya itu.
Tuan Yoga tak pernah berkata kasar dan selalu memanjakan kedua anaknya, apalagi si bontot. Pria paruh baya tersebut selalu menuruti segala keinginan putri bungsunya. Apapun yang diinginkan oleh gadis itu, maka ia berusaha memenuhinya.
Sehingga terciptalah karakter manja dan kolokan Alena yang melekat sampai saat ini. Tapi walaupun begitu, ia itu sangat baik hati dan juga tidak sombong.
Setiap ada teman yang membutuhkan, Alena akan siap siaga untuk membantu. Terutama untuk sahabatnya, And the genk. Mereka yang selalu setia di sampingnya, menemani dalam keadaan apapun. Mereka itu bagaikan sahabat kepompong.
Kalian mau tahu artinya kepompong? Kepompong itu artinya ya kepo, ya rempong. Ya, begitulah mereka. Hehehe.
...Bersambung ......
__ADS_1