Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 44~Salah Tingkah


__ADS_3

Zidan memeluk tubuh Alena erat, "Hei, kenapa kamu melakukan itu?" Ia menepuk pipi Alena karena mata gadis itu terpejam.


Rian pun menghampiri. "Kakak Ipar? Apa yang kamu lakukan?" suaranya terdengar panik dan cemas.


"Tidak ... tidak! Aku mohon bangun lah," Zidan menggoyangkan tubuh Alena dengan perasaan tak karuan.


"Come on Kakak Ipar. Jangan membuat kita takut, please!" Rian ikut menepuk pipi Alena.


Zidane berteriak, "Hei, bangun! Kalau tidak, aku akan__" belum sempat Zidan melanjutkan ucapannya, Alena sudah membuka mata sambil menatapnya sendu.


"Emh, apa gue masih hidup, atau udah di surga?" Ia berdiri tegak dan memperhatikan kedua pemuda di hadapannya itu. Tangannya terulur menyentuh wajah tampan Zidan. "Tapi, gue bisa nyentuh wajah lu!"


Terlihat mata Zidan berkaca. Tanpa berkata, ia langsung memeluk tubuh Alena lagi dengan erat. "Jangan membuatku takut!" lirihnya.


"Hah?" Alena menegang dengan mata mengerjap, tak mengerti akan perlakuan Zidan padanya.


Rian bertanya dengan cemas. "Kamu gak apa-apa, Kakak Ipar?"


"Gue gak apa-apa?" sahut Alena setelah melepas pelukan Zidan.


Ketiganya saling pandang_tak mengerti apa yang telah terjadi. Tak berselang lama, perhatian ketiga teralihkan dengan pemandangan di depan sana. Tubuh si bos preman itu tergeletak dengan bersimbah darah.


Ketika mereka ingin bertanya, terlihat sosok pria berpakaian seperti preman yang tengah memegang pistol. Senjata tersebut terarah kepada si penjahat dan sudah pasti dialah yang menembak penjahat itu sebelum si penjahat melepaskan timah panas ke arah Zidan.


"Kak Dani!"


Kapten Dani segera menghampiri diikuti anak buahnya untuk menangkap para penjahat itu. Mereka tak bisa kabur lagi karena polisi segera menyergapnya. "Hai, dek! Kamu gak apa-apa?" tanyanya kemudian.


"Heemh. Aku gak apa-apa, Kak!" sahut Alena.


Zidan dan Rian melihat penampilan pria itu, dari atas hingga bawah seperti seorang preman. Keduanya bertanya, "Dia??"


"Polisi Intel bagian pusat. Namanya Kapten Dani Herdiawan," Alena yang menjawab.


Zidan mengangguk tanpa tersenyum, sedangkan Rian mengulurkan tangan untuk sambil tersenyum. "Senang bertemu denganmu, Kapten. Saya Steven Riandi dan dia ini Zidan Prasetyo,"


Dani terlihat mengerutkan keningnya, mengingat-ingat kedua pria muda di hadapannya tersebut. "Bukankah Anda ini Dokter Spesialis di Rumah Sakit Kota?" tunjuk nya pada Rian, lalu pada Zidan. "Dan Anda ... Si Raja bisnis itu, Tuan Muda Prasetyo!"


Zidan terlihat biasa saja, tidak seperti Rian yang mengangguk sambil tertawa.


Alena tersenyum canggung melihat interaksi ketiga pria di hadapannya itu. Sebetulnya ia ingin bertanya maksud dari perkataan Dani barusan tentang Zidan. Dani bilang Zidan adalah si Raja Bisnis. Apa dia sehebat itu?!

__ADS_1


Para preman tadi ditangkap dan digiring ke mobil patroli untuk dibawa ke bui. Mereka adalah para penjahat yang selama ini meneror warga sekitar dan meresahkan pengguna jalan.


Maka dari itu, polisi tak butuh bukti lagi untuk menangkap para penjahat tersebut. Dapat dipastikan bahwa mereka langsung di penjara.


Setelah berterima kasih pada Kapten Dani, ketiganya pun pergi dari tempat tersebut. Sebelum berpamitan, Rian meminta bantuan Dani dan anak buahnya untuk menemukan mobil.


Zidan berkata tanpa melirik. "Sepertinya pemotretan kita batalkan dulu, karena aku harus mengurus dokter gila ini."


"Ya, gak apa kok! Nanti biar gue telpon Kak Aisyah buat batalin semuanya," sahut Alena.


"Aku akan mengganti kerugian mu untuk hal ini, setelah mengantar kamu ke butik." ujar Zidan masih tanpa menoleh sedikitpun.


Alena menggelengkan kepala seiring lambaian tangan. "Enggak perlu ke butik! Kita pulang saja ke rumah lu. Kasihan Rian nahan sakit gitu," Ia melirik Rian yang duduk di belakang. "Biarin gue yang urus masalah di butik." sambung Alena lagi.


Sepanjang perjalanan, ketiganya terdiam tak bersuara. Mereka berada dalam lamunan masing-masing. Zidan fokus menyetir, Alena termenung menatap kendaraan yang berlalu lalang, dan Rian yang tengah merasakan kesakitan.


Ketika mobil berbelok di jalanan area perbukitan, Alena baru tersadar bahwa mobil tak menuju arah rumah Zidan melainkan jalan lain. "Lho kok jalannya beda?!" Alena melirik Zidan yang tetap fokus menyetir. "Lu salah belok kali,"


Rian menimpali. "Ini jalan ke rumah pribadi,"


Alena pun menoleh ke belakang."Hemh, dia punya rumah berapa?" tanya Alena penasaran.


Rian mengangkat lima jari karena tak mau menyebutkan jumlahnya sebab Zidan selalu marah jika menyangkut hal kekayaan.


"Haish Kakak Ipar. Kenapa kamu sebutin jumlahnya! Aku cuma ngangkat jariku saja sebagai kode, tak perlu kamu berteriak!" Rian takut dengan tatapan Zidan.


"Waah, dia kaya dong!" cetusnya sembari menepuk bahu Zidan.


"Dia itu horang kayah, tajir melintir, rumahnya ada di mana-mana dan itu baru di Indo, belum yang di Amsterdam sama di London!" tutur Rian yang keceplosan membuat Alena menganga.


Zidan mengerem mendadak seraya berkata.


"Turun!" Ucapnya singkat.


Rian yang mengerti maksud perkataan Zidan hanya bisa merengek. "Oh, ya ampun! Tuh kan, aku keceplosan lagi. Kakak ipar sih mancing mulu," Dia menepuk jidatnya sendiri.


"Gak usah nyalahin orang lain dan lekas turun!" Kata Zidan lagi.


"Tolonglah Tuan Muda! Apa kamu tega kepada dengan keadaanku yang seperti ini?!" Rian merengek sambil melirik Alena.


Alena menepuk lengan Zidan sedikit keras. "Haish, lu ini gimana sih? Dia kan sedang sakit. Dasar gak punya perasaan," belanya.

__ADS_1


"Tapi dia ...!"


"Udah sih, gitu aja marah. Yuk, buruan kita obatin dia!" perintah Alena langsung di turuti Zidan dan itu membuat Rian memekik kegirangan, sebab sekarang ada yang bisa mengalahkan keegoisan gunung es tersebut.


Mobil Alena melaju perlahan di jalan setapak menuju ke area perbukitan. Sepanjang jalan terdapat pepohonan teh hijau dan juga pohon pinus. Bau teh tercium wangi di indra penciuman mereka, pertanda mobil tersebut sudah memasuki kawasan perkebunan teh.


Setelah lama menempuh perjalan, mobil merah itu berhenti di depan sebuah rumah jaman dulu dengan hiasan modern.


Netra mutiara itu membelalak sempurna, melihat keindahan di depan mata. Gadis itu bergegas turun sambil berteriak antusias. "Waaah, rumahnya bagus sekali!" tubuhnya berputar menatap sekeliling. "Sederhana tapi elegan," desisnya lagi.


Rian pun ikut tersenyum. "Kakak Ipar begitu senangnya dibawa kemari!"


Zidan turun dan berjalan ke arah mereka dan tersenyum ketika melihat wajah berbinar Alena. "Kamu suka?"


"Iya, gue suka." sahutnya sembari menatap Zidan. "King ice, gue kayaknya betah deh tinggal di sini!" cetusnya masih dengan senyuman.


"Kalau kamu betah, kamu boleh kok tinggal di sini!" Rian yang berbicara dengan sengaja.


Zidane melirik Rian yang tersenyum meledeknya. "Cih, dasar anak nakal!" Ia melangkahkan kakinya menuju taman belakang dan diikuti oleh mereka.


Di taman belakang, terlihat dua orang tua yang sedang duduk di kursi rotan sambil menikmati secangkir teh dan makanan cemilan.


"Eh, siapa mereka?" tanya Alena ketika melihat kedua orang tua tersebut.


"Mereka itu kepala pelayan di rumah utama Zidan, saat orang tuanya masih ada. Mereka juga orang yang mengasuh dan membesarkannya," bisik Rian.


Zidan tetap melangkah menghampiri keduanya. "Selamat sore, Kakek, Nenek!"


Kedua orang tua itu menoleh ke arah sumber suara. Keduanya terkejut dengan kedatangan tamunya itu. "Tuan Muda! Ya ampun, kami tidak tahu Anda akan kemari!" Mereka langsung berdiri dan menghampiri Zidan.


"Apa kabar, Tuan Muda? Lama tidak kemari,"


Pria muda dingin itu langsung meraih tangan keduanya untuk dicium sambil berkata dengan lembut. "Kabar ku baik, Kek, Nek." sahutnya. "Kenapa masih memanggilku Tuan Muda? Panggil seperti biasa aja," ucapnya sedikit merengek. "Lagi pula, dia bukan orang lain!" lanjutnya menunjuk Alena.


Mereka pun melirik Alena yang terlihat bingung. "Baiklah, Nak Tyo!" Mereka pun terkekeh. "Lalu, siapa gadis cantik ini?"


Alena tersenyum simpul sembari meraih tangan keduanya. "Namaku Alena, Nek, Kek!"


"Nama yang cantik, secantik orangnya." puji keduanya. "Jadi, dia calon istri yang kamu bilang itu?!"


"Hah?" Alena terkejut, Rian tersenyum, sedangkan Zidan terlihat biasa saja. "Ma-maksudnya apa?" Gadis itu mendadak gugup_salah tingkah.

__ADS_1


......Bersambung .........


__ADS_2