
Mereka yang berada di lantai itu pun menyaksikan keromantisan Bos dan seorang gadis cantik di dalam lift.
Apa itu pacar si Bos?
Rian yang baru sampai pun menoleh dengan menatap jengah ke arah keduanya. "Bisa-bisanya mereka berciuman dalam lift, sampai semua orang tak dihiraukan!" cibiran Rian membuat mereka tersadar. "Gue kan masih jomblo," rengek Rian kemudian.
Zidan langsung melepaskan pangutannya dan melipat bibirnya ke dalam, sedangkan Alena menundukkan wajahnya yang merona karena malu.
"Ekhem!" Zidan berdehem sembari melangkahkan kakinya keluar lift menuju ruangannya.
Sedangkan Alena masih menunduk dan berjalan mengekor di belakang. "Haish, malu nya!"
Rian mendekati Alena, lalu berbisik. "Bibir kamu sedikit bengkak, Kakak Ipar. Apa dia senakal itu kalau kalian cuma berdua saja?" ledeknya sambil terkekeh geli.
"Diem lah! Gak usah ngeledekin gue," kata Alena ketus sembari melemparkan tatapan tajamnya.
Rian semakin cekikikan di belakang setelah puas mengerjai Alena, gadis yang membuat Zidan melanggar semua aturannya sendiri.
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan Zidan mengikuti langkah si empunya.
Sesampainya di dalam ruangan, Zidan langsung duduk di kursi kebesarannya dan kembali menjadi King Ice, si Raja Es. "Kemari lah!" ucapnya singkat.
Melihat mereka hanya diam menatap ke arahnya, Zidan pun mengulang perkataannya. "Kemari lah!"
Alena dan Rian saling pandang, sebelum bertanya serempak. "Siapa?"
Helaan nafas pendek terdengar. "Kamu, gadis berisik." Ditunjuknya sofa kemudian Alena, pertanda ia menyuruhnya duduk. Alena yang mengerti akan itu pun langsung duduk. "Katakan!" kata Zidan singkat sambil melangkah menghampiri gadis itu.
"A-a-apa?" Gadis itu menjadi sangat gugup.
Zidane melambaikan tangan ke arah Rian dan menyuruhnya untuk memeriksa tangan Alena.
Rian sudah mengerti akan perintah Zidan hingga ia pun lekas berjongkok di hadapan Alena. Setelah itu, Rian memeriksa pergelangan tangan Alena dan mengusapkan obat pereda nyeri.
__ADS_1
Ia terus menggenggam tangan Alena walau pun sudah selesai mengobatinya. "Apa kamu mau jadi istriku?" tanya Rian tiba-tiba dengan wajah dibuat serius. Dokter muda itu sengaja menggoda Alena di hadapan Zidan untuk sekedar melihat reaksinya saja.
Benar, sesuai dugaan. Si tampan terlihat marah dan langsung memukul kepala Rian dengan keras. "Aku menyuruh kamu untuk memeriksa tangannya, bukan melamarnya!" ketus Zidan
Rian pun mengusap kepalanya sambil tersenyum setelah mengaduh kesakitan. "Aku tahu kau sedang cemburu, Tuan Muda. Katakan lah!" ledek Rian. "Lagi pula, aku kan bercanda. Tapi, sebenarnya posisi seperti ini itu enaknya buat ngungkapin perasaan sih!" elak Rian sambil terkekeh.
Tanpa memperdulikan ledekan Rian, Zidan bertanya tentang luka di pergelangan tangan Alena, dan Rian menjawab tidak ada yang serius. Luka di pergelangan tangan Alena hanya memar dan sedikit lecet akibat tarikan kuat kedua satpam tadi, hingga kulit putih itu terlihat memerah.
"Keluar!" perintah Zidan singkat.
"Hah?" Rian menatapnya bingung.
"Keluar!" Zidan sengaja memperlambat nada bicaranya sambil melirik Rian sekilas.
Rian yang paham akan perkataan Zidan langsung saja beranjak dari duduknya. Ia berpesan kepada Alena sebelum benar-benar keluar dari ruangan tersebut. "Semoga sukses, Kakak Ipar! Jangan banyak bergerak agar dia tak menjadi marah," perkataan Rian tak dimengerti keduanya. "Aku tutup pintunya dan akan bilang tidak boleh ada yang masuk kesini." ujarnya lagi seraya keluar dari ruangan Zidan.
Keduanya saling menatap kemudian melirik pintu yang tertutup sempurna. "Apa yang dikatakan dokter gila itu?" mereka saling pandang tak mengerti.
Zidan mengalihkan perhatian Alena. "Sudah, lupain dia. Katakan apa mau mu?!"
"Aku tidak bisa!" tolak Zidan.
Alena langsung menggenggam tangan Zidan sambil memohon. "Please, King Ice! Gue gak ada model buat iklan baju rancangan gue, sedangkan acaranya besok. Ayo dong, bantuin gue!" Ia merengek manja seperti anak kecil untuk memohon pada Zidan. Sementara Zidan terlihat cuek, membuat Alena tak punya pilihan.
Gadis itu menghela nafas, lalu berdiri dan langsung mendorong tubuh Zidan ke sandaran sofa, kemudian ia duduk di paha Zidan sambil menghadap padanya dengan tangan melingkar ke leher. "Aku mohon!" desisnya.
Zidan gelagapan dengan tingkah Alena saat ini. "A-apa yang kamu lakukan?"
"Aku sedang memohon!" sahut Alena polos.
"Ya Tuhan. Apa ini cara dia memohon kepada seseorang?" geram Zidan dalam hati.
Tanpa berkata, Zidane langsung membalikkan tubuhnya dan kini Alena yang terkurung di bawah. "Apa kamu sengaja menggodaku supaya menerima permintaan mu?" bisik Zidan sangat lirih hingga Alena memiringkan kepalanya.
__ADS_1
"Eng-enggak, kok! Gue cuma memohon supaya elu mau bantuin ... mmm," lagi-lagi gadis itu tak dapat menyampaikan perkataannya karena Zidan sudah membungkam mulutnya.
Mungkin dia memang dingin, tapi perasaannya jauh lebih hangat untuk gadis yang satu ini. Bibir Alena bagaikan candu untuk Zidan, hingga tak ada niat untuk melepaskannya sedikit pun.
Tangannya terus mengusap telinga dan juga pipi Alena, juga lidahnya tak berhenti untuk berselancar bebas di dalam rongga mulut gadis cantik itu.
Tanpa disadari, Alena mengalungkan tangannya ke leher Zidan membuat pemuda itu semakin bersemangat. Ciuman mereka harus terhenti karena mendengar sesuatu.
Perut Alena berbunyi cukup nyaring membuat keduanya melepaskan pagutan dan saling menatap.
Alena tak sempat makan apa pun karena memikirkan masalah model untuk rancangannya, hingga ia terburu-buru pergi mendatangi Zidan bermaksud meminta bantuan si tampan.
"Apa ciumanku ini membuat mu lapar, nona Bramasta?!" bisik Zidan lirih.
Alena mendongakkan kepalanya. Ia pun malu dengan hal tersebut sampai mendorong tubuh Zidan lalu berdiri dan melangkah.
Zidan menarik tangan Alena agar gadis itu berbalik menghadap dirinya. "Hei, kamu mau ke mana?"
"Gu-gue mau balik lah!" sahut Alena ketus, tapi terlihat gugup dan tak memandang wajah Zidan.
Zidan pun tersenyum sambil mengulurkan tangan mengusap bibir Alena yang basah. "Oke, aku akan datang besok!" ucapnya hingga Alena langsung menatapnya lekat. "Setidaknya begitulah sikap yang baik. Pandang lah lawan bicaramu," lanjutnya kemudian.
Alena menepis pelan tangan Zidan yang barusan mengusap bibirnya yang basah akibat ulah Zidan. "Terima kasih!" ucapnya sebelum melangkah pergi dan menutup pintu.
Zidan tersenyum sambil mengusap bibirnya saat tubuh kecil Alena hilang di balik pintu yang tertutup.
Sedangkan Alena. Perasaa gadis itu tak karuan setelah kejadian barusan. Dia berlari sambil memikirkan kejadian-kejadian saat Zidan memperlakukannya tadi. "Oh, ya ampun. Bisa-binya gue melakukan itu? Dan tadi ... Tadi ... aahh. Kenapa perut gue bunyi disaat menegangkan seperti itu.
Haish, malunya gue." Ia terus berlari sambil memukul keningnya.
Tanpa ia sadari, semua orang memperhatikan tingkahnya yang aneh.
Di saat mereka berpikir keras tentang Alena, Presdir yang terhormat keluar dengan tersenyum sambil mengusap sedikit bibirnya.
__ADS_1
Pemandangan yang sangat langka, melihat Tuan Muda Zidan Prasetyo tersenyum setelah bertemu dengan kekasihnya, pikir para karyawan.
...Bersambung ......