
Seluruh tubuh Alena sudah terasa dingin membuat keempat pemuda itu menjadi khawatir sekaligus cemas dengan keadaannya.
"Ya Tuhan, apa yang harus kita lakukan?" Mereka menatap tubuh lemah itu dengan perasaan masing-masing.
Zidan menjadi geram. Ia lantas menurunkan tubuh Alena perlahan, kemudian berlari ke tengah jalan dan merentangkan kedua tangannya untuk menghentikan kendaraan. Ia tak memperdulikan teriakan ketiga teman Alena yang terus berteriak memanggilnya.
Zidan terus berdiri tanpa rasa takut saat mobil Pick-up melintas di jalan itu dan melaju kencang ke arahnya. Zidan tak bergeming sedikit pun saat laju mobil tersebut semakin dekat.
"Aaaaaaaarrrrggghhhh!"
Cekkiiiiitttt..
Gesekan ban di jalan beraspal itu terdengar memekik telinga.
Dengan marahnya sang supir turun dan menegur Zidan sambil marah-marah. "Kamu sudah gila apa? Kenapa berdiri di tengah jalan? Apa kamu ingin mati, hahh?" bentak sang supir meluapkan amarahnya.
Tanpa rasa takut, Zidan maju ke arah sang supir pick-up itu. "Pak, tolong kami!" ucapnya lirih.
"Kenapa aku harus menolong kamu, hah!" Supir itu tak sedikitpun menurunkan nada bicaranya.
"Nyawanya dalam bahaya. Dia harus segera ditolong." Geri menghampiri supir itu.
Sang supir melirik ke pinggir jalan.Terlihat seorang gadis dengan wajah yang sudah pucat pasi karena kehabisan darah. "Kenapa dia?"
"Dia terluka. Kalau diceritain gak bakal cukup waktunya. Tolong lah, Pak. Kami mohon!" Dika menangkup kedua tangan di dada.
Supir tersebut pun menjadi tak tega melihat keadaan gadis yang terlihat lemah itu.
"Haish, ayo cepat angkat dia! Saya akan mengantarkan kalian ke rumah sakit!" Dia pun akhirnya setuju.
"Terima kasih, Pak!" ucap mereka serempak.
Dengan perasaan gembira, mereka mengangkat tubuh lemah Alena ke atas mobil pick-up dengan perjalanan membutuhkan waktu dua jam agar bisa sampai ke rumah sakit kota.
Sesampainya di rumah sakit, Zidan langsung turun dan menggendong tubuh lemah Alena tanpa memperdulikan ketiga teman gadis itu.
Setelah memberikan uang sebagai ganti ongkos antar, ketiga teman Alena itu pun menyusul ke dalam rumah sakit.
Zidan berlari dengan menggendong tubuh lemah Alena menuju ruang gawat darurat. Ia tidak memperdulikan apapun lagi kecuali keselamatan si gadis berisiknya. "Dokter ... Dokter, tolong selamatkan dia!" Zidan menghampiri seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang pemeriksaan.
__ADS_1
"Tuan Muda Zidan?" Dokter itu mengenalinya. "Kenapa dengannya, Tuan?" Ia bertanya karena penasaran setelah melihat Zidan sendiri yang menggendongnya.
Zidan tidak menjawab pertanyaan dokter tersebut, melainkan berkata ketus padanya. "Enggak usah banyak nanya, Dokter. Cepat , selamatkan aja nyawanya!"
Dokter itu pun tak mampu bertanya lagi saat melihat tatapan dinginnya. "Ba-baiklah, Tuan! Suster, ayo ikut saya ke ruang gawat darurat!" Diajaknya kedua suster yang sedang berjaga di depan.
Suster itu pun mengekor di belakang dokter dengan diam. Mereka tak mampu bertanya atau mengucapkan kata apapun karena melihat tatapan tajam si Tuan Muda.
Saat Zidan akan masuk, suster itu pun melarangnya. "Maaf, Tuan Muda! Anda tidak boleh masuk karena ini prosedur rumah sakit," ujar suster tersebut.
"Tapi, aku gak bisa ninggalin dia gitu aja, Sus!" tolak Zidan tidak mau diusir. Dokter pun mengangguk ke arah suster.
Setelah memeriksa kondisinya, dokter pun segera menyuruh kedua suter itu untuk bersiap. Sepertinya kondisi Alena benar-benar kritis "Siapkan alat-alatnya, Sus! Kita ambil tindakan," kata dokter itu kepada suster.
"Baik, Dok!" Alat-alat medis pun segera dipasangkan di tubuh Alena mulai dari jarum impusan, hingga alat pernapasan .
"Denyut nadinya melemah, Dok." kata suster memberitahu.
"Ambil tindakan!" kata dokter singkat. Mereka pun mengambil tindakan untuk menyelamatkan gadis yang dibawa oleh si Tuan Muda.
Segala upaya dilakukan oleh dokter dan suster untuk menyelamatkan gadis itu. Mereka tidak mau melakukan kesalahan apapun karena si Tuan Muda terus memperhatikan pekerjaannya.
"Seluruh tubuhnya sudah dingin sekali, wajahnya pun mulai memucat. Apa dia bisa di selamatkan, Dok?" bisik suster pada dokter.
Walaupun berbisik, ternya Zidan tetap mendengarnya. "Jangan bicara sembarangan kamu. Lakukan pekerjaan mu dengan benar untuk menyelamatkan nyawanya. Kalau tidak, akan ku pastikan kamu pindah ke pulau terpencil!" ancam Zidan.
"Ti-tidak, Tuan! Maafkan saya." Suster terkejut mendengar bentakan Zidan. Ia pun kembali bekerja dengan fokus tanpa menoleh ke arah mana pun.
Setelah mereka cukup lama berusaha, namun takdir berkata lain. Alena ternyata tak bisa diselamatkan.
Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittttt...
Alat pendeteksi jantung melemah dan akhirnya menunjukkan garis lurus.
"Dokter ... Dokter. Dia sudah ..." Suster itu terkejut dengan kondisi pasien. Dia takut nyawa pasien yang satu ini tak tertolong, hingga membuatnya kehilangan pekerjaan karena ancaman Zidan tadi.
"Apa maksud dari bunyi alat itu, Dokter?" Zidan memotong ucapan si suster.
Dokter sudah berkeringat dingin melihat kondisi pasiennya. Tanpa menjawab, ia pun meminta suster untuk menyiapkan alat-alat yang dibutuhkan. Ia lebih memilih bekerja dibandingkan mengatakan sesuatu yang nantinya akan disalahkan oleh si Tuan Muda.
__ADS_1
Alat kejut jantung atau defibrillator ditempelkan di dada Alena untuk memacu kerja jantungnya kembali.
Satu ... dua ... tiga
Alat itu terus ditekan di dada Alena namun gadis itu tak meresponnya. Lagi dan lagi, Dokter berusaha menyelamatkan gadis si Tuan Muda, namun takdir berkata lain.
Dokter pun menggelengkan kepalanya pertanda mereka sudah menyerah. "Maafkan saya, Tuan Muda! Saya tidak bisa menyelamatkan nyawa kekasih Anda!" Dokter menunduk lesu dan tak berani menatap wajah Zidan.
Zidane mundur beberapa langkah ke belakang. Ia tak mau mempercayai ucapan dokter sambil menggelengkan kepalanya. Ia pun maju lagi dan mencengkram kerah baju si dokter. "Lakukan lagi! Selamatkan dia sekarang juga!" teriak Zidan kepada dokter.
"Tuan, jika Anda ingin mengeluarkan saya dari pekerjaan, saya pun ikhlas Tuan. Tapi tetap saja, Dokter mana pun tak akan bisa menyelamatkan pasien jika kondisinya sudah seperti ini." jelas dokter itu. "Dia sudah kehabisan waktu, Tuan." lanjutnya kemudian.
Zidan pun melepaskan cengkeramannya. Memang benar jika Alena terlambat dibawa kemari karena banyak sekali hambatan yang harus dilalui mereka.
Zidan mendekat ke ranjang pasien, lalu menggenggam erat tangan Alena sambil menitikkan air mata. "Maafkan aku yang gak bisa menjagamu dengan baik!" desisnya menangis dengan menempelkan kening di kening Alena.
Baru kali ini Zidan menangis setelah dua puluh tahun yang lalu saat kehilangan kedua orang tuanya. Kali ini ia menangisi gadis berisik yang belum lama dikenali dan selalu mengganggu pikirannya.
Air mata Zidan menetes membasahi wajah cantik Alena yang terlihat pucat pasi. Saat air mata itu mengalir melewati pipi Alena, seketika alat pendeteksi jantung berbunyi kembali.
Elektrokardiogram (EKG) berbunyi lagi.
Tit ... tit ... tiiiit
Pertanda jantung Alena kembali memacu.
"Dokter, lihat! Alatnya kembali berbunyi. Dia kembali lagi, Dok!" seru suster yang kegirangan saat melihat alat pendeteksi itu menunjukkan garis naik turun di layar monitor.
"Iya suster, ini keajaiban. Selamat Tuan Muda. Dia hidup kembali," ujar Dokter menepuk bahu Zidan perlahan.
Zidan menaikkan wajahnya sedikit menjauh dari Alena, lalu menatap wajah cantik si gadis berisiknya. "Jangan pernah ninggalin aku! Awas aja kalo kamu berani melakukannya lagi" Ia mengecup kening Alena sedikit lama lalu melepaskannya. "Periksa kembali kondisinya!" perintahnya pada dokter.
Dokter pun langsung maju dan memeriksa kondisi Alena dengan lebih teliti. Setelah memeriksa kondisi pasiennya, ia nampak tak senang dan gelisah. Dokter itu pun kembali menundukkan wajahnya di hadapan si Tuan Muda. "Maafkan saya lagi, Tuan Muda! Dia memang kembali, tapi karena kondisinya sedikit parah, bisa dipastikan ia akan tertidur untuk sementara." tutur dokter menjelaskan.
"Maksudnya apa dengan tidur sementara?" Zidan menaikkan kembali nada bicaranya.
"Umm, anu Tuan. Itu .. anu ..." Dokter bingung cara menjelaskannya membuat Zidan mengerang kesal. "Kemungkinan dia akan mengalami koma," ucap dokter dengan rasa takut.
"Apa?"
__ADS_1
...Bersambung ......