Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 43~Terluka


__ADS_3

Sesampainya di restoran, keduanya segera memesan makanan. Zidan makan apapun yang dipesankan Alena untuknya. Entah dia sedang kerasukan setan apa. Yang pasti, Zidan makan dengan lahap bahkan makanan yang ada di piring Alena hingga gadis itu cemberut seketika.


"Elu itu kenapa sih? Kalo masih laper ya tinggal pesen lagi. Masa makanan gue dilahap juga," cibir gadis itu.


Zidan tak perduli dengan cibiran Alena dan memilih menghabiskan makanannya dengan cepat. Alena hanya bisa pasrah diam tak bersuara melihat cara makan Zidan yang menurutnya aneh.


Selesai makan, Zidan segera melangkah keluar setelah membayar bill tagihan makan mereka.


"Hei, bukannya gue yang harus bayar?" teriak Alena pada Zidan yang sudah berlalu.


Zidan menoleh ke belakang, sambil melambaikan tangan supaya Alena cepat mengikutinya. "Hari ini aku yang bayar. Tapi besok kamu harus membayar semua makanan yang aku pesan," ujarnya kemudian kembali melangkah.


Zidane berjalan berdampingan dengan Alena menuju parkiran, lalu ia naik ke kursi bagian kemudi dan membiarkan Alena termenung menatapnya.


"Kok elu yang nyetir sih?!" protes Alena saat Zidan dengan santainya duduk di kursi kemudi.


"Kenapa? Aku tidak mau mempertaruhkan nyawaku di tanganmu," sahut Zidan cuek.


"Cih, tadi aja gue yang bawa. Lagi pula mobil gue gak bakal nurut sama orang lain," tuturnya meremehkan sambil duduk di samping kemudi dengan kedua tangan terlipat di dada.


Zidan tak menghiraukan cibiran gadis itu dan memilih menyalakan mesin mobil, lalu melaju di jalanan beraspal. Dia memiringkan senyum kala Alena memujinya.


"Wah, hebat lu ya. Biasanya mobil gue gak mau jalan lho jika bukan gue yang bawa. And the genk aja suka ngerengek klo bawa mobil gue yang tiba-tiba mogok tengah jalan," puji Alena.


Zidan terlihat biasa saja dengan pujian gadis di sampingnya. Padahal jauh dalam lubuk hatinya, ia sangat senang dan mengakui pendekatannya sama mobil kesayangan Alena.


"Wajar aja sih. Suatu hari nanti aku yang bakalan bawa dia," ujar Zidan tanpa menoleh.


Alena menautkan kedua alisnya karena tak mengerti perkataan Zidan barusan. Entah bodoh atau berpura-pura tak tahu.


Ketika Alena akan bertanya, mobil tiba-tiba berhenti karena Zidan ngerem mendadak. Decitan ban mobil yang bergesekan dengan aspal terdengar nyaring memekakkan telinga, seiring gerakan tubuh yang hampir terbentur jika bukan karena selbelt.


"Apa-apaan sih lu? Kalo gak bisa bawa mobil biar gue aja yang nyetir," cerocos Alena tanpa henti. Tapi, Zidan tak memperdulikannya dan keluar dari mobil.


Alena mengikuti langkah kaki Zidan yang tertuju ke arah sebrang jalan. Terlihat Rian sedang dikeroyok tujuh orang preman jalanan. Entah apa masalahnya sampai Rian babak belur seperti itu.

__ADS_1


"Lepaskan dia!" suara Zidan mengintimidasi seiring aura dingin yang keluar.


Para preman pun menoleh ke arah sumber suara. "Hei, Nak! Jangan ikut campur dengan urusan kita, jika kamu tak ingin bernasib seperti dia!" ujar salah satu preman itu.


"Benar! Pergilah minum susu dan segera tidur di pelukan ibumu. Hahaha!" cibir mereka lagi sambil tertawa terbahak, namun Zidan tak menghiraukan dan terus maju mendekati mereka.


"Sepertinya dia juga minta diberi pelajaran, Bang!" seru salah satunya.


"Hei, Nak! Lekas pergilah dari sini sebelum kami marah," cetus pemimpin preman.


Zidan menatap mereka satu-persatu dengan tajam. Tangannya terkepal memperlihatkan urat nadi di pergelangan tangan pertanda dirinya sangat marah.


Alena tiba-tiba turun menghampiri mereka dengan tergesa. "Dokter Rian, lu gak apa-apa?"


Seketika semua mata menatap padanya. Wajah cantik dengan tubuh seksi, menjadi tontonan mereka terutama para lelaki hidung belang itu. Padahal, Alena tak mengenakan pakaian seksi seperti dress mini, tapi tetap saja mereka tergoda akan kecantikan gadis tersebut.


"Baiklah anak muda. Kita setuju untuk melepaskan pemuda ini. Ayo, berikan gadis cantik itu pada kami!" salah satunya mendekat ke arah Alena membuat gadis itu mundur seketika.


"Haish. Kenapa dia turun sih?!" gerutu Zidan kesal sebab Alena malah ikut campur dalam masalah tersebut. Tubuh jangkungnya berusaha menghalangi pandangan mereka terhadap Alena agar semua mata tak terus melihat gadis itu.


"Ayo manis, jangan takut! Kita akan bersikap baik padamu, sayang." tangan salah satu pria itu terulur ke arah Alena berusaha untuk menyentuhnya.


Sebelum menyentuhnya, Zidan sudah menangkap tangan nakal itu dengan mencengkeramnya kuat hingga dia berteriak kesakitan.


"Aaaaarrrggghhh!"


Semua terkejut dengan apa yang dilakukan Zidan tersebut hingga tangan si preman tadi patah.


"Matilah, kalian! Gue aja gak berani menyentuh Kakak Ipar, seperti apa yang kalian kalian! Dia tidak akan membiarkan tangan kotor kalian menyentuhnya seujung kuku pun," desis Rian menatap simpati.


"Kurang ajar kau anak muda. Sebaiknya segera menyerahlah sebelum kami bertindak lebih jauh!" ancamannya tak mempengaruhi Zidan yang masih berdiri dengan santai dan cuek.


"Rian, kemari lah!" Zidan meminta Rian untuk menghampirinya.


Rian pun berdiri dan melangkah, namun langsung ditahan oleh dua orang.

__ADS_1


"Kalau kau menginginkannya, tukar dengan gadis itu. Cepat!" Pemimpinnya berteriak. "Ayo, kalian paksa gadis itu dan berikan pemuda ini!" Perintahnya lagi.


Anak buahnya ragu, mereka takut bernasib seperti teman mereka itu.


"Kenapa diam saja? Cepat!"


Dengar ragu-ragu, ketiga dari anak buahnya menghampiri Alena yang berada di belakang Zidan.


"Jangan pernah berpikir untuk menyentuhnya seujung kuku pun!" nada bicara yang dingin itu mengintimidasi.


"Hehh, kalau kau tak ingin dia disentuh maka segera lah pergi dari sini." Mereka meremehkannya.


"Aku inginkan dia, baru akan pergi dari sini." Kata Zidane menunjuk pemuda yang sudah babak belur itu.


Rian berteriak. "Pergi lah, Zidan! Bawa Kakak Ipar dari sini. Gue gak mau mereka menyentuhnya barang sedikit," tutur Rian.


Para preman tertawa mengejek. "Kakak Ipar?Jadi dia istrimu, Nak?bHahaha, itu lebih bagus lagi. Ayo, berikan istrimu pada kami dan kami akan melepaskan saudaramu!"


"Iya benar, tidak ada yang salah jika menukar istri sendiri dengan saudara mu, Nak" Perkataan mereka langsung memancing kemarahan Zidan.


Zidan yang sudah terpancing emosi pun seketika lepas kendali. Terjadilah baku hantam antara kelima preman itu dengan dirinya.


Hanya beberapa menit saja mereka sudah berjatuhan di tanah akibat kemarahan Zidan. "Lepaskan dia sekarang juga!" Zidan menghampiri bosnya.


Si bos menjadi takut melihat wajah garang Zidan. "Mundur, atau aku tembak?!" Ia mengancam dengan menodongkan sebuah pistol namun Zidan tetap maju.


"King ice, jangan!" Alena buru-buru mendekat dan memegang lengan Zidan sembari menggelengkan kepalanya.


"Hahaha. Ikuti kata istrimu, Nak." Ia tertawa meledek Zidan yang masih tak bergeming dari posisinya. "Baiklah jika itu mau mu." Bos preman itu mengarahkan pistol pada Zidan, lalu menarik pelatuknya dan melesatkan peluru ke arah Zidan.


"Jangan!" Alena berbalik memeluk tubuh Zidan untuk menghalangi peluru itu.


Dorrrr


"Tidak!" Zidan dan Rian berteriak ketika letusan senjata api itu terdengar.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2