
Setelah diusut tuntas oleh kepolisian, ternyata jasad yang diduga Alena itu adalah seorang gadis yang diculik anak buah Agus dan dibuang ke jurang setelah dilecehkan sebelumnya.
Nasib malang itu diterimanya sebab ayah dari gadis itu tak mau diajak kerja sama oleh Agus, hingga pria tua itu nekat menculik putrinya dan membuat rekan bisnisnya itu menyesal.
Pihak kepolisian pun segera menangkap Agus dan anak buahnya dengan bukti-bukti kuat.
Setelah kasus itu selesai, mereka semua bisa bernafas lega dan perusahaan yang dicuri Agus sebelumnya dari rekan-rekan bisnisnya pun dikembalikan kepada pemilik aslinya termasuk milik Reno.
Agus dijatuhi hukuman dua puluh tahun penjara serta denda uang sejumlah enam triliun rupiah atas ganti rugi kepada para pemilik perusahaan atas kasus penipuan yang dilakukan olehnya.
...• • • •. •...
Tok tok tok
Pintu kamar Alena diketuk berkali-kali oleh Dika. Namun, sepertinya si pemilik kamar tidak terganggu oleh ketukannya.
Dika memutar handle dan melangkah masuk ke dalam kamar Alena. Setelah di dalam kamar, ia terkejut dengan keadaan kamar yang berantakan. "Ada apa ini? Kenapa kamar dia berantakan kek gini?"
Kembali ia dibuat terkejut lagi dengan tetesan darah yang menetes di lantai. "Ya ampun! Apa Alena terluka?" Dika bergegas mencari keberadaan si pemilik kamar. "All ... Alena! Lu di mana?" teriak Dika dengan panik.
Terdengar gemericik air dari arah kamar mandi, dan pastinya Alena berada di sana.
Dika mengetuk pintu kamar mandi dengan keras sembari berteriak memanggil namanya.
Alena pun keluar dari kamar mandi dengan hanya berbalut handuk yang melilit ditubuh bagian dada sebatas paha. Ia berjalan santai dengan pincang ke arah lemari untuk mengambil pakaian.
"Ada apa sih ribut mulu?!" Alena melirik sekilas ketika melewati Dika yang terlihat menunduk dengan raut wajah memerah.
Dika mengumpat dalam hati. "Gadis bodoh. Apa dia tidak tahu kalau itu membahayakan!"
__ADS_1
"Ditanya malah diem. Lu ngapain ke sini?" tanya Alena lagi sembari berjalan ke arah ruang ganti yang pintunya tepat di samping tubuh Dika.
Dika menelan ludahnya dengan kasar. Kentara sekali jika ia sangat gugup saat ini. "Gue ... gue ..." Dika tak bisa berucap apapun.
Alena pun menggelengkan kepalanya sambil berdecak sebal. Dia segera masuk ke dalam ruang ganti dan mengabaikan Dika yang masih termenung dalam lamunannya.
Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Alena pun keluar untuk menemui Dika. Pemuda itu kini sedang duduk di tepi ranjang setelah membereskan pecahan kaca yang berserakan.
"Apa ini semua, Beb?" tanya Dika menunjuk tong sampah.
Alena melirik sekilas sebelum menjawab."Gue terpeleset sampe vas bunganya kesenggol. Pas mau beresin, eh pecahannya keinjek kaki gue." sahutnya.
Dika menjadi panik. "Lukanya dalem gak? Sini, gue obatin!" Ia menengadahkan tangan bermaksud menyambut kaki Alena yang terluka.
Tapi, gadis itu menggelengkan kepalanya bermaksud menolak. Ia beralasan jika lukanya hanya luka kecil dan itu tak berarti apa-apa untuknya.
Dika tetap keukeuh meminta Alena untuk menjulurkan kakinya agar ia bisa memeriksa lukanya. Namun, tiba-tiba kakinya yang tertembak itu terasa sakit kembali akibat tertekuk. Akhirnya, Dika jatuh dengan memeluk tubuh Alena ke atas ranjang.
Berada di posisi tersebut, tak sadar Dika memajukan wajahnya hingga kening mereka menyatu. Dika memejamkan mata sembari bergumam lirih. "Elu cantik banget, Beb. Gue cinta sama lo," desisnya terdengar jelas Alena.
Gadis itu menatap lekat kedua mata teduh Dika, hingga mereka memejamkan mata secara bersamaan. Dika memiringkan wajahnya bermaksud menempelkan bibirnya di atas bibir pink Alena.
Saat bibir Dika hampir menyentuh bibirnya, Alena mendorong tubuh Dika sambil berkata. "Elu berat banget sih!" gerutunya kesal.
Tubuh Dika terjungkal karena dorongan Alena yang kuat. Ia meringis menahan sakit karena luka di punggung belum sembuh sepenuhnya. "Argh, wasyem!"
Alena tersadar dengan sikap kasarnya. Bergegas ia menghampiri Dika yang terduduk di lantai sembari menunduk. Dengan panik ia segera memeriksa punggung Dika untuk memastikan luka jahitannya tidak robek lagi.
Kaos yang dikenakan Dika segera ia tarik ke atas, dan meneliti luka di punggung putih tersebut. Luka yang memanjang dari bahu kiri hingga di atas pinggang bagian kanan terlihat masih basah dengan bekas jahitan di sana.
__ADS_1
Luka tersebut juga sedikit mengeluarkan darah yang merembes. Alena menyentuh luka itu bermaksud mengelap darah yang merembes. Tapi, aksinya itu malah membuat Dika semakin meringis kesakitan.
"Argh!"
"Maafin gue, Dika! Gue gak sengaja," Alena merasa sangat bersalah hingga ia terlihat cemas dan panik.
Dika terlihat sedih. "Gak apa-apa, Beb! Luka gue bakal sembuh jika__" Dika sengaja menggantung ucapannya sembari tersenyum culas. Alena menatap serius menunggu perkataan Dika selanjutnya. Namun, seketika bola matanya memutar jengah sembari beranjak setelah mendengar perkataan selanjutnya. "Jika elu cium pipi gue dengan sayang!" Dika terkekeh mengucapkannya.
"Ckk, dasar lu!" Alena berdecak sebal, namun ia tetap mencium pipi Dika sekilas. "Cepet sembuh kesayangan gue!" desisnya seketika membuat senyum Dika mengembang.
Dika mesem-mesem dengan salah tingkah. Ia tak mengira jika Alena akan menuruti keinginan Dika untuk mencium pipinya. Padahal, seharusnya tadi dia minta cium bibir aja kalau gitu. Nyesel kan jadinya, pikir Dika miris.
"Yah, coba aja kalau tadi gue minta diciumnya bibir. Elu pasti nurutin ya pan," Dika cemberut seperti sedang merajuk karena menyesal.
Mendengar perkataan Dika, Alena pun bereaksi dengan melayangkan pukulan. "Maunya elu, Tong!" Keduanya pun tertawa setelah saling menatap sengit.
•
Di rumah Zidan.
Si Tuan Muda itu tampak sedang mengamati sesuatu di layar laptop miliknya yang ada di atas meja. Wajahnya terlihat serius menatap layar datar tersebut sembari sesekali mengusap dagunya.
Helaan nafas berat terdengar berhembus dengan kepala yang menengadah serta punggung yang bersandar di sofa. Tangannya menyilang di belakang leher, kemudian ia bergumam. "Aku harus pergi lagi ke Amsterdam. Ckk, Kakek selalu saja mempersulit pekerjaanku!" keluhnya kemudian.
Zidan segera menghubungi seseorang lewat ponselnya. "Siapkan tiket pesawat untukku besok pagi ke Belanda. Aku akan berangkat bersama Feri,"
Setelah panggilan terputus, ia bergegas menutup laptop, kemudian melangkahkan kaki ke ranjangnya. Tubuhnya segera direbahkan dan matanya pun terpejam. Tak lama kemudian, Zidane pun tertidur lelap.
Rasanya sungguh lelah tubuhnya seharian bekerja dan bekerja. Semenjak kedua orang tuanya meninggal, beban perusahaan ditanggung Zidan dan ia harus mengembangkan perusahaan serta menghidupi ratusan bahkan ribuan karyawannya.
__ADS_1
...Bersambung ......