Dia Yang Posesif

Dia Yang Posesif
Bab 23~Menyelamatkan


__ADS_3

Zidan sudah bersiap berangkat ke Amsterdam pagi ini. Namun, sesuatu terjadi padanya.


Ketika di jalan, mobil Zidan dihadang beberapa preman dan mereka berusaha melenyapkannya. Zidan yakin jika para preman itu adalah orang suruhan kakeknya.


Pria tua itu tak membiarkan Zidan pergi ke Belanda, sebab dia tahu Zidan pasti bisa menyelesaikan semua masalah yang ada di perusahaan cabang di sana. Maka dari itu, sang kakek berniat menggagalkan rencana cucunya agar tujuan utamanya tercapai, yaitu memiliki anak cabang perusahaan itu untuk dirinya sendiri.


Benar-benar licik si kakek tua itu. Cucunya sendiri pun harus dicelakai demi tercapai tujuannya. Namun, Zidan selalu berusaha menggagalkannya dengan semua kemampuannya.


Tapi kali ini, nasib sial menimpa Zidan. Saat hendak melawan, tiba-tiba beberapa peluru menembus perutnya setelah tembakan itu dilepaskan mereka.


Dor


"Argh!"


Darah segar merembes keluar dari balik luka tembakan tersebut, diiringi nafas yang memburu. Zidan meringis menahan sakit di perutnya akibat tembakan yang dilakukan anak buah kakeknya.


Beruntung, tembakan-tembakan itu tak mengenai organ vitalnya, hingga Zidan masih bisa selamat. Namun, jika tak langsung dibawa ke rumah sakit, kemungkinan ia akan mati perlahan karena kehabisan darah.


"Tuan!" Feri berteriak sembari menghampiri tuannya. Ia berusaha melindungi tuannya agar Zidan tak celaka. Namun, penyerangan dadakan ini seketika mengejutkannya hingga pria itu tak bisa melakukan apapun lagi selain bersabar menunggu bantuan.


Tangannya terkepal seiring amarah yang meluap. Feri menyerang kembali secara membabi-buta sebelum akhirnya ditumbangkan oleh sebuah tikaman benda tajam di perutnya. "Argh!"


Tubuhnya langsung tersungkur di tanah dengan darah segar terus menetes dari luka tusukan tersebut.


Zidan yang melihatnya pun lantas berdiri dan menghampiri dengan susah payah. Bagi Zidan, tak ada yang bisa menghalanginya jika itu untuk menolong asisten pribadi sekaligus teman kecilnya.


"Feri ... Feri!" Zidan terus memanggil nama asistennya tersebut, namun tak ada respon sedikitpun darinya.


Tak lama kemudian, tubuh Zidan pun terjatuh ke tanah menyusul Feri yang sudah memejamkan mata sempurna. Nafas keduanya memburu, kemudian tak ada gerakan sedikitpun dari Zidan maupun Feri.


Beberapa preman suruhan kakeknya itu tertawa satu sama lain, lalu saling mengangguk. Mereka sudah tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya tanpa diperintah lagi.


Tubuh Zidan dan Feri diseret hingga ke pinggir jembatan di atas laut. Mereka berniat melempar keduanya dari atas jembatan agar tubuh keduanya tenggelam, dan tak selamat.

__ADS_1


Kebetulan, Alena dan kawan-kawan diantar Aldrian, akan menuju ke rumah sakit. Karena jalur utama macet, Aldrian pun memilih lewat jalur sepi agar mereka cepat sampai di tujuan.


Mereka ingin memeriksa kondisi Dika yang memburuk akibat aksi tak sengaja yang dilakukan Alena kepada pemuda itu. Luka di punggung Dika robek setelah Alena mendorong keras tubuhnya ke lantai setelah drama romantis pagi tadi.


Dika harus dilarikan lagi ke rumah sakit sebab lukanya selain mengeluarkan darah, di area sekitar luka tembakan pun membengkak karena Dika yang terlalu banyak bergerak.


Merasa khawatir, akhirnya Aldrian sebagai penanggung jawab kondisi teman adiknya itupun segera mengambil tindakan. Dengan cepat, Aldrian membawa Dika untuk mendapat penanganan Dokter diantar adik dan teman-temannya.


Saat melintas, tak sengaja mereka menyaksikan kejadian yang menegangkan. Percobaan pembunuhan terhadap dua pemuda yang salah satunya adalah penolong Alena.


"Itu si King Ice!" seru Alena menunjuk Zidane yang sedang di merangkak menghampiri tubuh temannya.


Semua mata menoleh, kemudian mereka membaca situasi saat itu. Sudah dipastikan bahwa para preman mengincar nyawa kedua pemuda itu.


"King Ice siapa?" tanya Aldrian diikuti tatapan keempat teman Alena, Dika, Indra, Geri, dan Renita.


Alena menjelaskan bahwa si King Ice itu adalah penyelamat nyawanya ketika dirinya dikejar penjahat waktu itu di hutan.


Mendengar pernyataan adiknya, hati Aldrian tergerak untuk membantu. Selain karena berhutang budi setelah menyelamatkan adik tercintanya, Aldrian pun merasa ini adalah sebuah pertolongan kemanusiaan.


Tak lama kemudian para polisi datang tanpa pemberitahuan agar mereka tak terkejut dan kabur. Sehingga, polisi bisa menangkap para penjahat tersebut.


Di sisi jembatan, para preman sudah siap melempar tubuh kedua pemuda yang harus mereka singkirkan sesuai perintah bosnya. Namun, sebelum tubuh keduanya dilempar ke laut, terdengar suara menginterupsi.


"Hei! Turunkan mereka!"


Para preman menoleh seketika. Tak jauh dari posisi mereka, beberapa orang datang bersama polisi yang mengacungkan pistol ke arah para preman tersebut.


"Angkat tangan kalian dan menyerah lah!" teriak beberapa polisi.


Para preman itu hanya menyeringai penuh arti. Tak lama kemudian mereka mengarahkan pistol kepada para polisi.


Dor ... Dor ... Dor

__ADS_1


Adu tembak tak terelakan_para preman melawan para polisi. Suara tembakan itu menggema memekakkan telinga yang mendengar. Mereka berlarian saling mengejar dengan saling menembak.


Mobil dijadikan tempat bersembunyi. Begitupun Alena and the genk yang bersembunyi sambil menutup telinga karena bisingnya suara tembakan.


Setelah keadaan cukup tenang, mereka bergegas menggotong tubuh Zidan serta Feri ke dalam mobil, lalu pergi tanpa diketahui para pembunuh bayaran itu.


Biarkan polisi yang menangani mereka, setidaknya itu yang dikatakan Hendri sebelumnya.


Ya. Para polisi itu adalah anak buah Hendri yang langsung datang setelah Aldrian menghubunginya.


Karena tujuan mereka sama, yaitu rumah sakit. Aldrian membawa mobil dengan kecepatan penuh, ketika melihat kondisi kedua pemuda itu kritis.


Luka tembak dan tikaman benda tajam di perut keduanya terus mengeluarkan darah hingga membuatnya tak sadarkan diri.


Alena dan kawan-kawannya terlihat khawatir saat mendengar erangan kesakitan dari kedua pemuda tersebut. Sungguh mustahil untuk keduanya selamat. Tapi, Alena berharap mereka berdua bisa selamat bagaimana pun caranya.


Sesampainya di rumah sakit, keduanya dibawa ke ruang IGD untuk mendapat penanganan khusus. Alena dan Aldrian, dan Renita mengantar Zidan dan asistennya, sedangkan Dika diantar Geri dan Indra.


"Tolong tunggu di luar!" kata Suster saat Alena mencoba masuk.


"Tapi, Sus. Itu ... anu_"


"Jangan khawatir, Nona! Dokter akan menanganinya," sergah Suster lagi.


Alena pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam ruangan tersebut, dan hanya mondar-mandir sambil menatap pintu yang tertutup rapat.


"Ya Tuhan. Semoga dia baik-baik saja," lirihnya sembari menengadahkan tangan.


Aldrian mengusap punggung Alena lembut sebelum memeluknya dari samping. "Semoga Tuhan mengabulkan doamu, Dek! Aamiin!"


Alena mengangguk membalas pelukan kakaknya. "Dia udah nyelamatin nyawa aku, Kak. Aku merasa sangat sedih jika dia tak selamat," cetusnya.


"Jangan berkata seperti itu! Optimis aja," Aldrian terus memberikan dukungan untuk adiknya tersebut.

__ADS_1


...Bersambung ......


__ADS_2