
Sepanjang perjalan dari kampung halaman Alya menuju kota, mereka berlima terus bercanda riang. Saling meledek satu sama lain, karena memang itu kebiasaan mereka. Tapi, mereka tetep akur kok setiap harinya
Alena yang mulai bosan karena perjalanan yang dirasa lambat, sehingga ia protes kepada Dika sang supir.
"Lu bawa mobil kek keong sih, Dik. Biar gue aja deh yang bawa," ejek Alena menawarkan diri.
"Hei! Lu gak tahu peribahasa, Alon-alon asal selamet." Dika berkata sembari melirik Alena.
Renita menimpali. "Perasaan waktu berangkat tadi cepet, giliran pulang lama banget."
"Iya nih Dika, lelet!" sambung Alena.
Merasa terpancing, Dika pun mencolek pipi Alena. "Sesuai perintah lu, gua bakal ngebut kali ini. Bahkan, lebih cepat dari pembalap F1!" seru Dika langsung menancap gas.
Mobil bergerak lebih cepat dari tadi. Mereka sampai berteriak histeris karena kelakuan bocah sengklek bernama si Entong itu.
"Bisa pelan gak sih, Tong! Gua pengen muntah," rengek Iren sambil membekap mulutnya.
"Kagak bisa! Lu berdua minta cepetan 'kan. Ya gue turutin lah," Dika tertawa cekikikan.
"Gua bisa mati muda ini mah!" teriak Iren lagi yang tak bisa menahan debaran jantungnya karena laju mobil yang begitu cepat.
Sementara itu, Alena hanya tertawa melihat Iren yang ketakutan dengan wajah pucat pasi. "Peluk Indra apa Geri, gitu!" ledeknya.
Iren membulatkan mata mendengar candaan temannya. "Ogah. Bisa langsung mati kalau peluk mereka!"
"Mati karena jatuh cinta sama gue, ya gak apa juga kali Ren!" ledek Indra.
Iren langsung menoleh ke arah Indra. "Maksud, lu? Hello, Indra! Kita gak sedekat Alena sama Dika yang panggilannya udah Bebeb. Tapi gue sangsi sebenernya, All. Dika panggil Beb bukan kependekan dari bebek 'kan?" cibirnya pada kedua orang yang berada di jok depan.
Dika sekilas menoleh. "Hus, ngawur lu. Beb itu artinya gue sayang sama Alena." kata Dika tak terima.
__ADS_1
Alena tersenyum dengan mata berkedip seperti mata Barbie. "Elu sayang sama gue?" Dika mengangguk dengan pertanyaan Alena. "Iiih, so sweat. Gumus, deh!" Alena memukul pelan lengan Dika dengan wajah sok imut.
Indra dan Geri melengos mendengar rayuan Dika. "Jangan bangga kalau disebut sayang ama Dika, All. Kemaren aja, gue maen ke rumahnya pas dia makan kue. Kuenya Jatoh ke lantai, dia pungut lagi. Katanya, sayang ... belom lima menit!" ucap keduanya terkekeh meledek Dika.
Dika mendelik sebal. "Terus aja terus, ledek gue ampe modyar. Elu berdua kagak bisa dukung usaha gue," Dika memberengut kesal.
Geri tertawa melihat tingkah lucu Dika. "Hahaha. Maafin kita, deh. Kita gak tahu kalau ada yang mau pedekate. Iya gak, say?!" Tangan Geri merentang ke belakang Iren, membuat gadis itu maju sedikit ke depan.
"Say apaan, lu? Sayur? Sembarangan!" ketus Iren tak terima.
"Kenapa sih, Bu? Sensi amat ama gue. Alena aja yang dipanggil Beb seneng, kok elu nyolot sih!" perkataan Geri malah mendapatkan pukulan di kepalanya. Bukan ulah Renita, melainkan tangan Indra yang mendarat dengan mulus.
"Aduh woy, sakit dodol. Elu mah kekerasan mulu ih. Kalo ada kantong ajaib Doraemon, gue mau minta pintu ke mana saja. Terus, gue melambaikan tangan ke kamera. Gue nyerah deh," ucap Geri sedikit berlebihan.
Dika malah tertawa melihatnya. "Hahaha. Udah lah, Ger. Kita itu harus saling mengerti. Jangan kaya tukang parkir yang sedikit-sedikit teriak, balas ... balas. Itu tandanya pendendam," lerai Dika.
"Balesnya tukang parkir, jelas dia lagi markirin. Lah elu, kalo gue bales jitak elu geplak. Gue cubit, elu jambak. Mainannya udah kaya emak-emak komplek tukang gelut, jambakan mulu." Perkataan Geri di sambut tawa oleh mereka semua.
"Gue sering liat tetangga gue kalo suaminya ketahuan lagi ama cewek. Tuh cewek di jambak ma istrinya, terus mereka saling bales lah!" jelas Geri.
Renita ikut menimpali. "Gak asik banget tuh emak-emak, gelut kok jambakan! Aturan mereka perang bawa tembakan, sekalian tembak aja tuh suaminya yang tukang selingkuh."
"Anjay, sangar bener lu Ren. Gue ngeri kalo jadi suami lu," Indra bergidik takut.
Mereka serempak tertawa mengejek Indra yang berekspresi ketakutan. Sementara Renita terlihat mencibirnya.
Mereka berlima memang sahabat dari kecil, hingga dewasa kini tetap berteman. Namun, soal hati mana tahu. Siapa sangka dengan kedekatan mereka, timbul rasa cinta di hati untuk sang sahabat.
Dika, Alena dan Geri tahu, jika Indra memiliki perasaan lebih kepada Renita. Begitupun sebaliknya, Renita juga mencintai Indra. Namun, karena mereka bersahabat, jadi keduanya sama-sama malu untuk mengungkapkan perasaannya.
Seperti Dika kepada Alena. Pemuda itu juga memiliki perasaan khusus untuk Alena. Namun sebaliknya, Alena hanya menganggap Dika sebagai sahabat, sama seperti Indra dan Geri.
__ADS_1
"Itu jurus jitu anti pelakor," ujar Renita menatap Indra. "Lagian, siapa juga yang mau jadi istri lu. Jadian aja belom udah jadi istri aja," lanjutnya kemudian.
Seketika keempat lainnya berdehem, dengan Indra yang langsung tersenyum sumringah. "Gimana kalau gue langsung jadiin elu jadi menantu di rumah Abah?"
Renita mengerutkan dahinya, menatap Indra dengan serius. "Maksud lo?" dia bersikap polos, tak mengerti perkataan Indra.
"Percuma lu kuliah tinggi, kalo gitu aja kagak tau!Itu kode, Nyai!" ucap Geri gemes.
Renita tersipu mendengar ledekan Geri. "Haish, apaan sih lu? Ya gue gak ngerti lah. Secara omongannya udah nyangkut menantu aja!Pacaran aja belum, udah jadi mantu." Renita terlihat malu-malu.
Sontak mereka tertawa meledek. "Uhuy, roman-romannya ada yang bakal jadian nih,"
"Jangan lupa pajak jadiannya, ya." tambah mereka lagi.
Indra mendelik sebal. "Dih, pajak jadian. Kenapa sih apa-apa kudu ada pajak segala. Lama-lama bisa kere gua kalo bayar pajak mulu,"
"Kagak tiap hari ini, Ndra. Lu traktir kita cuma pas jadian ama Iren doang, gak bakal kere dah. Gue jamin," seloroh Geri menepuk dadanya.
Indra cemberut kesal. "Terserah elu semua dah. Noh, di depan ada Restoran. Yuk, makan!" ajak Indra pasrah seraya menunjuk Restoran di depan sana.
Semua mata menatap ke depan, melihat arah yang di tunjuk Indra. "Waaah Restoran. Kita datang!" seru ketiganya serempak.
Kelimanya turun dari mobil, kemudian melangkah memasuki Restoran Sunda yang berada di pertengahan jalan menuju kotanya. Semua terlihat antusias menatap menu yang tertera di papan menu, dan itu sungguh menggugah selera.
Mereka langsung memesan makanan sesuai keinginan, dengan porsi jumbo. Perjalanan panjang ini membuat semua kelehan dan juga kelaparan, hingga mereka pun perlu mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan pulang.
"Selamat makan!"
Mereka langsung mencomot makanan yang sudah tersaji di meja makan.
Indra melirik Renita yang menunduk malu, kemudian membuka dompetnya. "Yaelah, dompet gue menipis kali ini," gmamnya sedih.
__ADS_1
...Bersambung .......